Zenfone 3 Max, Smartphone Stylist Berbatere Jumbo

Zenfone 3 Max Gold

Zenfone 3 Max Gold

Kebutuhan smartphone satu orang berbeda dengan kebutuhan smartphone untuk orang lain. Saya penyuka mobile photography. Adik saya mobile gamer. Kebutuhan kami berbeda.

Berbeda pula dengan dengan kebutuhan kepala kantor saya yang sering bepergian ke luar kota. Beliau menggunakan smartphone utamanya untuk aplikasi messaging, terutama whatsapp, untuk mengkoordinasikan pekerjaan anak buahnya di kantor, untuk berkomunikasi dengan keluarga dan untuk berkomunikasi dengan komunitas dimana beliau aktif.

Bagaimana saya bisa tahu karakter pak bos kepala kantor? Baca lebih lanjut

Menikmati iOS 10 di iPhone 5s

14370217_10209824828284718_4211363568912638091_nMemutuskan memasang iOS 10 di iPhone 5s berarti harus siap dengan segala resikonya. Bila nasib baik menghampiri bisa jadi saya akan menikmati fitur-fitur baru yang diusungnya. Jika nasib buruk menghadang kemungkinan iPhone saya akan menjadi “brick”. Resiko terburuk, iPhone tidak akan bisa digunakan selamanya.

Saya memutuskan untuk mengambil resiko ini. Baik nasib baik maupun nasib buruk semuanya bisa saya ceritakan di blog ini. Dengan berbagi setidaknya saya tidak akan merugi. Apa pun yang terjadi.

Bismillah … Baca lebih lanjut

Apple Watch Nike+ vs Garmin Forunner 235

Apple Watch Nike+ Edition

Apple Watch Nike+ Edition

Jika beberapa waktu lalu saya belum menganggap Apple Watch sebagai sebuah gadget yang fungsional dibanding sportwatch semacam Garmin Forunner 225, kehadiran Apple Watch 2 yang diumumkan pekan lalu cukup membuat saya mungkin berubah pikiran. Watch yang membuat muka saya berpaling kembali adalah Apple Watch 2 Nike+.

Fitur baru itu adalah dibenamkannya GPS di dalam Apple Watch dan integrasinya dengan Nike+ Running Club. Sejujurnya saya adalah seorang pelari rekreasional/casual runner yang sudah bertahun-tahun merasa terbantu dengan aplikasi Nike Running Club, yang dulunya bernama Nike+ Running. Saya harus berterimakasi kepada Nike+ Running karena tanpanya barangkali saat ini saya belum mampu mengumpulkan mileage sejauh hampir 1500 km. Baca lebih lanjut

Asus Zenbook 3, Notebook Premium Berprocessor Intel Kabylake

Asus Zenbook UX390UA Gold at Asus Zenvolution Nusa Dua Convention Center

Asus Zenbook UX390UA Gold at Asus Zenvolution Nusa Dua Convention Center

Salah satu produk premium  yang ingin saya coba pada event ASUS Zenvolution di Bali Nusa Dua Convention Center adalah Zenbook 3. Saya ingin merasakan secara langsung inovasi yang diberikan Asus di Ultrabook ini dibanding dengan Zenbook UX303UB yang saya pakai sehari-hari.

Di meja demo Asus Zenvolution ada beberapa Zenbook 3 dengan warna yang berbeda-beda. Bergantian dengan pengunjung lain, saya mencoba-coba Zenbook 3 warna Rose Gold dan Royal Blue.

Zenbook 3 Rose Gold sebelum dibuka sepintas nampak mirip dengan Zenbook milik saya. Ada logo ASUS di tengah-tengah, dan dikelilingi oleh pola lingkaran Zen Circle yang menjadi identitas Zenbook. Namun garis besel warna emas yang lebih tegas membuat Zenbook 3 berbicara lebih mewah. Baca lebih lanjut

Zenfone 3 Deluxe, Dedikasi ASUS untuk Mobile Videographer

Zenfone 3 Deluxe on Asus Zenvolution Bali Nusa Dua Convention Center

Zenfone 3 Deluxe on Asus Zenvolution Bali Nusa Dua Convention Center

Popularitas konten video di internet tidak serta merta mendorong kebanyakan orang untuk turut memproduksi konten video. Apa yang menjadi masalah kebanyakan orang ketika ingin memulai membuat konten video adalah: rempong.

Membuat konten video sederhana umumnya dimulai dengan merekam footage video dengan camcorder, memindahkannya ke komputer, menyuntingnya dengan software video editing di desktop, mengkonversi hasil video ke format yang tepat, dan terakhir mengunggahnya ke platform video online seperti youtube, vimeo dan sejenisnya.

Langkah-langkah seperti ini selain membutuhkan banyak perangkat, juga sangat menghabiskan waktu, time consuming. Bayangkan, berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menyalin video fHD berdurasi 30 menit ke komputer. Belum berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk transcoding dan uploading ke internet. Baca lebih lanjut

Wow Incredible Asus Zenvolution

Asus selalu saja menghadirkan kejutan. Masih terperangah dengan satu kejutan, seolah kita dibuat wow dengan kejutan baru berikutnya. Kejutan-kejutan itu dibuat oleh Asus dalam tiap produk canggih yang diluncurkan maupun dengan gelaran event yang dibuatnya.

Mendapatkan private invitation untuk mengikuti Zenvolution event yang dihelat di Bali Nusa Dua Convention Center Bali membuat kami senang, bangga, sekaligus penasaran, kira-kira kejutan apa yang akan dibuat Asus di sana. Saya sendiri tahu untuk berpartisipasi dalam event itu apa yang harus disiapkan adalah jantung yang kuat. Agar bila di sana jantung tidak kebablasan berhenti berdetak bila dibuat amat terkejut.

Blogger dari Jogja Siap Meriahkan Zenvolution di BNCC Nusa Dua Bali Foto : Bagus Gowes

Blogger dari Jogja Siap Meriahkan Zenvolution di BNCC Nusa Dua Bali Foto : Bagus Gowes

Dari Jogja saya berangkat bareng narablogger tersohor, sebut saya Om Yahya, Om Gojeg, Om Afit, Mas Toro, Bagus Gowes, dan lain-lain. Baca lebih lanjut

Review Ultrabook: ASUS Zenbook UX303UB

Asus Zenbook UX 303 UB

Asus Zenbook UX 303 UB

Dua minggu yang lalu saya meminang sebuah notebook baru. Sebuah Ultrabook. Asus Zenbook UX303UB. Banderolnya Rp 14.999.000,-.

Sebenarnya uang Rp 15 juta sudah cukup untuk membeli sebuah Macbook Air 2015. Ditambahkan sedikit juta lagi sudah dapat sebuah New Macbook 2016. Kali ini alasan saya memilih Zenbook dibanding Macbook adalah karena saya membutuhkan sebuah notebook yang cukup portable sekaligus cukup powerful.

Memang New Macbook mempunyai semua portabilitas itu. Sayangnya penggunaan processor Intel Core M saya pikir membuatnya kurang bertenaga untuk menyelesaikan proyek yang seyogyanya akan saya kerjakan dengan notebook baru ini. Begitu pula Macbook Air, ia masih menggunakan processor Broadwell core i5 yang kurang begitu bertenaga. Layarnya pun masih menggunakan panel jenis Fn dan belum retina display. Belum memenuhi standard minimal resolusi layar yang saya kehendaki.

Di atas kertas ASUS Zenbook UX303UB mempunyai spesifikasi yang lebih menjanjikan. Processor Intel Skylake core i7 6500U, RAM 8 GB, IPS LCD 1980 x 1020 dan graphic nVidia 940. Bobotnya pun cukup ringan, sekitar 1,4 kg saja.

Secara fisik Zenbook mempunyai desain unibody yang “menarik”. Saya menyebutnya ke-Macbook-Macbook-an. Sejujurnya Aluminium Unibody Zenbook yang membuatnya amat mirip dengan Macbook ini yang membuat saya mengubah keputusan pembelian sebelumnya. Maksudnya?

Sejujurnya sebelum memilih UX303UB saya seolah sudah mantab ingin membeli ASUS Pro B8430 yang memang dirancang sebagai profesional notebook. Kebetulan kali ini anggaran saya untuk membeli notebook memang leluasa. Memilih Zenbook dari AsusPro ini berdampak ada selisih anggaran yang nominalnya lumayan yang bisa saya tabung dulu. Kelak kalau proyeknya usai siapa tahu bisa dicarikan tambah untuk membeli Macbook Pro baru, hihi.

Rupanya pengantar yang saya tulis sudah sangat panjang. Baiklah. Review dimulai … Baca lebih lanjut

Asus Smart Gesture di Zenbook UX 303 UB

Asus Zenbook UX 303 UB

Asus Zenbook UX 303 UB

Sebuah laptop untuk bekerja yang baik menurut saya harus mempunyai kebagusan di 3 bagian ini: layar, keyboard dan touchpad.

Ketika bekerja, layar adalah bagian yang akan paling lama saya tatap. Bukan keyboard, bukan charger, bukan pula karyawati baru di sebelah meja yang punya bola mata cantik. Layar yang baik harus bisa menampilkan detil, warna dan kenyamanan. Itulah alasan saya kenapa kali ini saya memilih Asus Ultrabook UX 303 UB yang memiliki layar wide viewing angle IPS LCD dan resolusi yang cukup tinggi, 1920 x 1020 pixel.

Keyboard. Saya bekerja setiap hari dengan data, data dan data. Semuanya, sebagian berupa text. Saya memasukkan data-data ini dan berinteraksi dengan komputer melalui input device berupa keyboard.

Keyboard yang buruk, yang tidak presisi dan tidak sesuai dengan karakter mengetik saya akan memberikan efek samping berupa typo yang barangkali bertebaran. Itu baru typo. Bila salah entry data, hasilnya adalah frustasi.

Nah, tidak ketinggalan adalah touchpad. Dari sini semua pengalaman bekerja yang menyenangkan akan ditentukan. Keyboard dan Touchpad bagi saya mempunyai implikasi yang hampir sama. Sama-sama bisa membuat frustasi bila keduanya buruk (poor).

Mengadopsi sebuah notebook yang tidak terbilang murah, Zenbook UX 303 UB ini harganya Rp 15 juta kurang seribu, tidaklah berlebihan bila saya mengharapkan mempunyai trackpad yang bagus. Saya mengharapkan setidaknya setara dengan apa yang ada di Macbook. Toh harganya tidak terpaut begitu jauh. Baca lebih lanjut

Iseng Mencoba Spotify Premium

Spotify Premium 01

Biaya berlangganan Spotify Premium sekitar Rp 50 ribu cukup mahal. Setidaknya cukup mahal bagi saya. Karenanya selama ini saya mendengarkan Spotify gratisan, yang tanpa berlangganan.

Namanya juga gratisan, tanpa berlangganan saya mau tidak mau harus ikhlas mendengarkan lagu-lagu dengan diselang-selingi iklan, tidak bisa menyimpan lagu-lagu kesukaan di perangkat (device) saya dan tidak bisa menggunakan sejumlah fitur premium lainnya. Pikir saya, yang penting saya bisa streaming-an, bisa menikmati aneka musik dan lagu baik baru maupun lama secara legal.

Terkait lagu (musik dan album), mahal dan tidak mahal itu sebenarnya relatif. Atau lebih tepatnya tergantung niatnya. Saya teringat akan jaman analog dulu, saat itu toh saya tidak merasa berat mengeluarkan uang Rp 20 ribu untuk membeli sebuah kaset album kesukaan saya saat itu. Rp 20 ribu pada tahun 90 an untuk sebuah album yang rata-rata berisi 12 lagu, paling banyak 15 lagu pasti jauh lebih mahal dibandingkan biaya berlangganan Spotify Premium yang menyediakan jumlah lagu yang jumlahnya teramat sangat banyak itu. Ada yang tahu berapa jumlah lagu dalam database Spotify? Baca lebih lanjut

Puma Trac, Pendamping Lari yang Menyenangkan

Puma Trac, Aplikasi Pendamping Lari yang bisa bikin meme lucu

Puma Trac, Aplikasi Pendamping Lari yang bisa bikin meme lucu

Kebanyakan pelari hobi seperti saya kemungkinan sudah familier dengan aplikasi-aplikasi semacam Runtastic, Endomondo, Strava, Nike Running+ dan sejenisnya. Kehadiran aplikasi-aplikasi ini bagi saya sendiri sangat membantu dalam menjaga komitmen, kualitas dan kemampuan lari pribadi sampai sejauh ini.

Baru-baru ini ada sebuah aplikasi latihan lari baru, Puma Trac. Baru dalam arti saya baru tahu. Baru-baru ini beberapa teman saya di facebook membagikan aktivitas latihan larinya menggunakan aplikasi Puma Trac. Sebagai orang berpribadi penasaran dan suka mencoba-coba, saya pun memasang aplikasi Puma Trac di iPhone.

Proses instalasi Puma Trac di iPhone berlangsung cepat dan mudah. Cukup mengunduhnya dari Appstore (bagi pengguna Android bisa mengunduhnya dari Playstore), proses instalasi berlangsung secara otomatis. Proses registrasi pun sama mudahnya. Agar lebih mudah lagi, saya mendaftar menggunakan akun Facebook. Dengan cara ini saya tidak perlu mengunggah lagi foto profil, foto cover dan data-data pribadi lainnya. Seingat saya, saya hanya perlu menambahkan informasi berat badan dan tinggi badan. Informasi ini akan berguna untuk menghitung jumlah kalori terpakai ketika berlatih lari nantinya. Baca lebih lanjut