Temperatur yang Kontras : Tantangan Kebugaran

Beberapa Minggu ini, cuaca malam di desa saya menjadi sangat dingin. Sementara di siang harinya Temperatur kembali menukik. Ini merupakan tantangan bagi kebugaran tubuh. Terutama tubuh yang kemampuan adaptive nya tidak maksimal seperti tubuh saya.

Bila cuaca boleh dikambing hitamkan, maka paling tidak perubahan temperatur yang kontras antara siang dan malam telah menyakiti kesehatan saya sehingga terpuruk meler selama seminggu. Tetapi, alhamdulillah, mulai saya menulis posting ini, tanda tanda perbaikan kesehatan telah mulai terasa.

Kemudian seiring memasuki lebih jauh musim kemarau, tantangan kesehatan yang tidak kalah ganasnya adalah debu musim kemarau yang menyertai musim kering berangin. Ini merupakan signal intelegen yang harus dapat saya terjemahkan menjadi sesuatu yang kongkrit berupa tindakan antisipasi agar kesehatan dan aktifitas saya tidak sampai terganggu dan melumpuh 😀

Sumber :

http ://bmg.go.id
http ://weather.com

Tiket Menuju TPS

Berbekal Kartu Undangan ini saya tadi dipersilahkan untuk menggunakan hak pilih sebagai warga negara. Terserah bagaimana saya menggunakannya sepanjang tidak mengganggu hak hak orang lain. Asas Pemilu luber dan jurdil ya?

Blogged with the Flock Browser

Ingat ini : Ging Gang Golly

Di Radio, kemarin malam, lagu ini memperdengarkan untuk saya suasana puluhan tahun silam ketika bersama teman teman sekolah menengah pertama menuju ke Bandung untuk studi wisata.

Lagu itu memang istimewa untuk saya. Istimewa karena memang saat itu terdengar pas ber beat dan bernuansa riang, meskipun tidak mengerti kata kata apa yang dipakai, apalagi maksud lagu itu. Bahkan  berjudul apa dan siapa yang menyanyi juga tidak tahu. Yang penting senang begitu saja. Buktinya saya masih mengingatnya sampai sekarang.

Sekarang judul lagu ini dapat saya pinjam sebagai judul posting ini karena jasa baik paman google yang telah menunjukan. Beberapa kata yang dapat di tangkap oleh telinga yang saya konsultasikan ke paman google ini mereferensikan ke Ging Gang Gooly. Kemudian versi yang saya unduh dibawakan oleh Inner Kneipe.

Kalau Mas Eko membaca posting ini, mudah mudahan juga mengingatkan ke kita semua warga III B SMP Playen kita.

Salah Diagnosa di Rumah Sakit : Wajarkah?

Managemen penanganan Pasien da Penyakit di Rumah Sakit adalah sesuatu yang mana saya awam terkaitnya. Seandainya saya sedang sakit, sebagai seorang awam, maka apa yang saya lakukan adalah berobat ke dokter atau Rumah Sakit yang saya percaya. Selebihnya saya hanya akan percaya dalam kapasitas saya dan berpikir positif agar bisa lebih kooperatif dengan tim medis untuk mempermudah penanganan kesehatan. Apa yang saya pikir menjadi kewenangan saya sekaligus menjadi kewajiban yaitu mebayarkan biaya pengobatan/perawatan sesuai yang ditagihkan pihak manajemen Rumah Sakit.

Tadi siang ketika saya menjenguk seorang teman yang telah melewatkan waktu beberapa hari di Rumah Sakit. Teman saya itu di punish mengidap usus buntu dan harus menjalani proses operasi. Karena operasi merupakan tindakan yang paling umum untuk mengendalikan usus buntu maka pihak keluarga pun turut pada prosedur. Termasuk menyiapkan biaya dan membeli perlengkapan operasi seperti apa kata pihak RS.

Pengalaman pribadi menjelang masa masa operasi beberapa tahun yang silam memudahkan untuk memahami bagaimana ketakutan dan kecemasan seseorang yang sedang menunggu proses surgery. Teman saya ini saya duga juga sedang memerangi ketakutan akan ruang operasi yang telah menunggu.

Dan ..

Teman saya ini (mungkin merasa) beruntung. Karena ketakutan yang ada di ujung ruang sana tidak jadi terjadi.  Dokter memutuskan –dalam keputusan terakhir– bahwa ternyata penyakit pasien ini bukan usus buntu, melainkan masalah pencernaan. Dan tidak perlu operasi. Dan pada siang tadi dipersilahkan pulang.

Alhamdulillah dan semoga teman saya yang satu ini lekas sembuh dan dapat menikmati aktifitas sedia kala. Amin.

***

Kasus kesalahan diagnosis seperti yang di alami teman ini bukanlah yang pertama kali saya dengar. Sebagai orang awam apa yang bisa berusaha saya pahami adalah bahwa diagnosis merupakan suatu input akan sebuah proses. Nah dari seperti apa input ini baru kemudian diputuskan seperti apa proses yang relevan untuk mendapatkan output yang tepat. Dalam hal ini, output dari proses tindakan medis adalah “sembuh” atau “menjadi sehat”. Prosesnya bisa berupa pemberitan obat yang tepat, suntikan, terapi atau operasi. Bila proses tidak relevan dengan data inputnya maka output “sembuh” tidak terjadi atau terjadi tetapi dengan efek atau resiko tertentu.

Memang, saya berusaha mengerti bahwa proses diagnosis bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak memerlukan keahlian, input device yang bekerja baik, prosedur, dan sumber daya pengambil keputusan. Kesalahan pada salah satu atau beberapa dari mata rantai akan mempengaruhi mata rantai berikutnya.

Pun demikian, umumnya “pasien”lah yang lebih banyak menanggung resiko dari “kepercayaan” yang telah dikuasakan kepada institusi medis dalam hal ini Rumah Sakit. Resiko itu bisa berupa biaya, perasaan, rasa cemas, efek samping, ketidak sembuhan atau yang paling fatal kematian. Sangat jarang Rumah Sakit yang turut menanggung konsekuensi dari cacat pada mata rantai tindakan medis.

***

Saya belum mengerti apa yang disebut dengan malpraktek dan kaitanya dengan prosedur penangatan kesehatan di institusi Rumah Sakit.

Buku tebal lebih cantik dari Pidato Panjang …

Mendengarkan itu sulit. Saya setuju dengan kalimat pernyataan ini. Meskipun dalam praktisnya saya butuh untuk lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara. Dan, memang, saya juga tidak banyak berbicara.

ComputerBooksSaya harus melakukan usaha lebih keras untuk menyerap informasi melalui mendengarkan. Usaha yang lebih lebih itu sering terjadi ketika saya mendengarkan ceramah  atau pidato  panjang dengan materi yang rumit.

Kecuali yang sedang khotbah adalah Obama.

Karena kesulitan itu sampai jatuh pada kesimpulan (yang tidak berdasar) bahwa melewatkan waktu untuk mendengarkan pidato itu tidak efeksif jauh dari efisien. Jujur saya lebih suka meng input informasi dengan membaca.

Sederhananya, saya dapat mengatur sendiri kecepatan saya menyerap informasi. Dipercepat atau diperlambat sesuai kebutuhan. Dengan  membaca saya juga bisa mengulang bagian bagian dimana saya kurang paham. Atau dibantu dengan banyak ilustrasi berupa penebalan, format, warna, grafik, chart, dan lain – lain. Atau berhenti kapan saja sesuka hati. Apalagi dengan kehadiran internet, website dan blog, saya menjadi bisa berinteraksi dengan penulis dan pembaca pembaca lainnya.

Kelebih mudahan saya dalam memahami bacaan dari   ceramah mungkin karena setiap harinya saya melewatkan waktu lebih banyak untuk membaca dibanding mendengarkan. –Saya lebih suka mendengarkan musik dari pada ceramah. Saya serius berusaha mendengarkan dengan khusuk hanya  setiap khotbah di hari Jum at sekali sepekan, selebihnya sangat jarang.

Atau kenapa ya? Hihihi 😀

Gambar di pinjam dari sini :

http://www.seruyange.com/metadeveloper/ComputerBooks.jpg

.

Bebaskan ibu Prita Mulyasari

Awalnya saya tidak tahu menahu tentang kasus ini ketika diundang oleh Tika Banget untuk mengikuti cause di Facebook untuk dukungan kepada Prita Mulyasari yang ditahan pihak penegak hukum karena dituduhan pencemaran nama baik kepada RS Omni Internasional dengan email keluan yang dia kirimkan.

 

Flu, Penyakit Sejuta Ummat

Berapa kali dalam setahun anda terjangkit flu? Kalau sering, berarti derita anda mirip dengan apa yang saya derita. Dan sama dengan yang di derita banyak orang lainnya. Terutama orang – orang Indonesia.

Hampir setiap hari saya mendapati atau mendengar kabar adanya teman – teman saya yang sedang pusing pusing dan merasa kinerjanya terganggu karena deraan virus flu ini. Keluhan pengidap flu ini paling tidak saya dapati kemarin ketika saya melihat lihat status FB yang di posting teman teman

Dari sekitar 550 an senarai facebook dalam jaringan pertemanan saya, paling tidak dengan status yang seringkali mereka posting dapat saya jadikan semacam polling gratis untuk mengamati apa apa yang sedang dan menjadi tren. Salah satunya yaitu tren virus flu yang hampir tidak terputus menjangkiti dari satu orang ke orang lain.

Yah … Flu, penyakit sejuta ummat …

**btw apakah anda setuju kalau penggunaan facebook itu lebih banyak mudhorot daripada maslahatnya seperti apa kata para ulama ulama itu ya?

Benar benar tidak terjadi “apa apa”

Alkisah, ketika menghabiskan semalaman untuk coding amatiran, dengan rasa ngantuk lelah mendera, ia mandi tergesa gesa, mengenakan pakaian sekenanya. Tidak terlalu menganggap code dress hari Rabu ini.

Ketika ia sedang dipertengahan perjalanan menempuh rutinitas, dia merasa ada yang tidak enak dan agak gimana dengan mulutnya. Kalau pakaian yang dikenakan tak rapi itu malah tidak masalah.

Dia menahan mulutnya. Diam. Dan Diam

Sesampai di suatu ruang dimana ia menuju. Dia menyobek tisu dan mengambil sesukanya. Menuju Toilet. Dia berkumur. Dan menggosok gosokan sobekan tisu yang dipilin sebagai pembalasan atas kelupaannya menggosok gigi.

Sebelum mengetik dan memposting blog ini. Dia mempresentasikan beberapa hal untuk the big boss dengan pede seolah tidak pernah terjadi apa apa. Dan dia memang benar benar tidak menggosok gigi.

Tantangan Integritas Pribadi

Integritas Keputusan. Tidak mudah untuk mengambil sebuah keputusan tanpa tarik ulur kompromi dan ketidak nyamanan jangka pendek. Keputusan yang berintegritas menurut hemat saya hanya bisa di bangun di atas pondasi prinsip prinsip yang telah teruji kebenarannya dan kemudian saya yakini, kemudian di susun  dengan serangkaian asumsi logis.

Meskipun saya dibesarkan selama lebih dari dua puluh tahun untuk mengikuti nilai nilai rasionalitas dan logika, namun demikian tidaklah selalu mudah untuk sepenuhnya me nisbi kan pengaruh “ewuh pekaweh” sebagai nilai nilai ke jawa an yang melekati interaksi di sekitar lingkup hidup habitat saya.

Diperlukan penguatan diri untuk senantiasa dapat meniti jalan yang lurus sesuai prinsip dan keyakinan pribadi yang berpadu dan tercerminkan dari segala apa yang menjadi keputusan. Upaya penjagaan diri itu terasakan menemukan dinamika unik antara lain ketika berupaya melepaskan diri dan membebaskan rasionalitas dari segala belenggu yang berpotensi membengkokan dan menggelincirkan arah laju kematangan tingkat integritas dan independensi dan ke depan nya inter dependensi. Akan karena itu, saya tidak suka melakukan lobby atau di lobi (lobbied). Gelas – gelas uji  di lab perlu di sterilisasi dari segala macam hal dan sifat – sifat lobbying.

Jebakan dan tarik menarik yang terjadi dalam diri selama beberapa menit pagi tadi merupakan tantangan sekaligus pengukuran luas ruang antara stimulus dan respon yang mana saya meyakini ada banyak yang dapat di pilih. Saya berdiam untuk mengingat kembali serangkaian prinsip – prinsip dasar karakter dan menggunakan kemampuan keterampilan untuk mendapatkan hasil hitung termungkin yang dapat di terima.

Hasil hitung ter – rasional, akhirnya dapat menunjukan untuk saya nilai dan prioritas serta kemungkinan kemungkinan dari masing masing opsi. Saya melangkah dengan kekuatan keputusan. ( yang  berprinsip )

Hikmah selama saya berlatih olah raga dan latihan Karate cukup berlaku di sini. Bahwa rasa sakit dan rasa berat dalam margin tertentu akan memberikan penguatan dan kualitas di masa yang akan datang.

*** Komposisi dari tulisan ini terdiri antara lain dari ide ide acak berupa kata kata kunci :

prinsip, tantangan, integritas, tekad, keputusan, ya, tidak, ewuh, pakewuh, interaksi, ke jawa an, toleransi, kemanusiaan, aku, kamu, dia, dan dia

.

Makanan dan Kesehatan

SAYA salut atas perhatian, kasih sayang  dan pengorbanan yang diberikan oleh ibu kepada para anak  dengan tanpa rasa pamrih tak  mengenal waktu. Rasa syukur sekaligus terima kasih yang teramat sangat kepada beliau karena hingga pada usia se – dewasa ini, beliau belum sepenuhnya melepaskan hal hal penting untuk sepenuhnya saya atur sendiri.

Apa yang sulit bagi ibu dilepaskan dari ‘ruang perhatian’nya adalah diantaranya sarapan dan makan. Dalam keluarga kami, sarapan merupakan salah satu aktifitas penting dan ‘harus’ sebelum memulai rutinitas keseharian. Sebelum beliau bekerja dengan sawah, tanaman dan kambing kambing piaraan. Sebelum saya dan adik dulu akan ke sekolah atau saat ini sebelum saya bekerja untuk membantu penafkahan keluarga.

Keberuntungan bagi orang – orang –termasuk saya — yang dapat menikmati sarapan dan memenuhi kebutuhan gizi dan vitalitas dengan makanan yang disediakan dan dimasak sendiri oleh se orang ibu di rumah. Syukur Alhamdulillah. Rasa syukur dan mengerti ini, utamanya saya rasakan ketika karena dengan keterpaksaan akan suatu hal perlu untuk buru buru meninggalkan rumah sebelum sarapan siap atau terlambat pulang.

Beredarnya kabar tentang flu unggas dan flu babi yang mewabah akhir akhir ini membuat saya merenungkan isu kesehatan, makanan dan penyakit menular. Kemarin siang saya makan di sebuah warung makan swa saji. Di Rumah Makan Padang yang mana pembeli mengambil sendiri nasi beserta menu lauk pauk yang di etalase pajangan.

Di tempat tempat makan umum seperti ini, pengunjung akan berjubel pada jam jam makan siang dalam antrian yang sangat padat. Di kebanyakan rumah makan ini biasanya jumlah meja dan kursi yang terbatas dan di tata  rapat. Antar pemakan pembeli yang duduk berdempet dempet dan saling senggol itu menjadi pemandangan yang wajar. Susah dibayangkan akan seperti apaselera makan kita jadinya andaikan ada orang lain yang sedang bersin bersin, bersendawa, atau kentut. Atau adab kebiasaan kebanyakan orang yang semaunya sendiri seperti tidak segan segan menyulut rokok atau ber cuap cuap keras semaunya sendiri.

Higienitas. Membicarakan masalah higienitas, kesehatan adalah barang mahal di sini. Mudah di tebak bila suasana front end saja sudah seperti itu. Apa lagi di bagian bagian yang tidak terjamah pembeli

***bersambung karena konsentrasi sudah OOF –out of focus