Memasuki Sepertiga Terakhir Ramadhan

Tidak terasa Ramadhan kali ini berjalan seolah dengan kecepatannya sendiri. Rasanya sepertiga terakhir Ramadhan datang tiba-tiba. Bagi saya dan muslim yang memulai Ramadhan pada tanggal 20 Juli, malam ini merupakan malam ke-21.

Sebenarnya kabar bagus bagi yang ingin segera merayakan lebaran. Apalagi bagi teman-teman yang ingin segera mudik lebaran dan merayakannya di kampung halaman bersama sanak keluarga dan handai taulan. Saya sendiri di satu sisi merasa senang karena akhir perjuangan (akhir?) akan segera tercapai. Di sisi lain saya merasa belum optimal beribadah selama Ramadhan ini. Target #onejuzaday saya saja yang seharusnya sudah menginjak juz ke-21 malah masih berjuang di juz 19. Baca lebih lanjut

Launching Telkomsel Siaga 2012: Peduli dan Berbagi untuk Indonesia

Malam Minggu (4 Agustus 2012) kemarin merupakan Buka Puasa Bersama (bukber) pertama saya pada Ramadan 1433 Hijriah ini. Saya diundang oleh Telkomsel untuk berbuka bersama di Pandan Perak Resto Monjali. Apa yang membuat acara buka bersama pertama saya ini istimewa dan menarik adalah kepekaan konsep acara buka bersama yang merupakan rangkaian launching Telkomsel Siaga 2012.

Launching Telkomsel Siaga 2012 yang digelar serentak di 3 kota yaitu Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar ini sekaligus membawa semangat berbagi sebagai tanggung jawab sosial perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Dalam acara launching Telkomsel Siaga 2012  kali ini, Telkomsel berbagi kebahagian dengan mengajak berbuka puasa bersama ratusan anak yatim. Dan di Yogyakarta sendiri Telkomsel mengajak berbuka dan memberi santunan untuk anak-anak yatim yang dikelola dan tergabung dengan Himmatu (Himpunan Insan Muslim Mandiri Tumpuan Umat ).

Sore itu ketika saya diajak oleh  Cak Ipho untuk berbuka bersama dengan anak-anak yatim, mulanya saya mengira kalau anak-anak yatim ini merupakan anak-anak yang dikelola oleh panti asuhan atau pondok pesantren. Ternyata tidak demikian.

Hampir semua dari anak-anak yatim ini merupakan anak-anak yang orang tuanya meninggal dunia sebagai korban Gempa Jogja tahun 2006 yang lalu. Begitu banyaknya anak yang mendadak menjadi yatim piatu pada saat itu membuat anak-anak ini tidak bisa tertampung di Panti Asuhan maupun Pondok Pesantren. Anak-anak yatim ini diasuh oleh penduduk di daerahnya masing-masing. Sementara Himmatu -lah yang mengatur penggalangan dana sampai ke penyalurannya secara tepat.

Penggalangan dana untuk anak-anak yatim ini bukanlah hal yang mudah. Karena umumnya, donatur dan para dermawan lebih mudah untuk menyalurkan bantuan mereka ke Panti dan Pondok Pesantren. Inilah alasan Telkomsel memilih menyalurkan santunan kepada mereka. Anda pun bisa menyalurkan kepedualian dengan menghubungi sekretariat Himmatu di nomor telepon: (0274) 8290679

Bapak Maryanto Menyerahkan Tali Kasih Telkomsel Siaga 2012 Secara Simbolis

Bapak Maryanto Menyerahkan Tali Kasih Telkomsel Siaga 2012 Secara Simbolis

Peluncuran Telkomsel Siaga 2012 kali ini tidak dilakukan dengan gegap gempita. Melainkan dilakukan ditengah-tengah senyum dan keceriaan adik-adik kita yang kurang beruntung, terlahir dan tumbuh sebagai anak yatim. Ada kepekaan dan kepedulian di sini.

Pukul 16:30 WIB, Bapak Maryanto (Head of Branch Yogyakarta) memberikan sambutan sekaligus menabuh gong tanda Telkomsel Siaga 2012 resmi diluncurkan.

Bapak Maryanto Menabuh Gong Tanda Peluncuran Telkomsel Siaga 2012

Bapak Maryanto Menabuh Gong Tanda Peluncuran Telkomsel Siaga 2012

Dalam sambutannya, Pak Maryanto melanjutkan bahwa Telkomsel Siaga merupakan program berkesinambungan yang diselenggarakan setiap tahun untuk menjawab kebutuhan pelanggan selama Ramadan hingga Lebaran. Baca lebih lanjut

Mencoba Esia Max D di Gunungkidul

Kali ini saya sedang mencoba layanan internet mobile dari provider Esia Max D yang beroperasi di jaringan cdma 1xEV-DO rev A. Bukan layanan internet baru sebenarnya. Seorang teman saya sudah sejak beberapa waktu yang lalu mempromosikan produk Bakrie ini di jejaring sosial, hehe

Toh, begitu sampai sekarang saya belum mencoba membeli produk ini, walaupun saya sebenarnya memerlukan provider kedua, provider alternatif. Saya ingin menduakan Telkomsel Flash yang sudah saya pakai selama kira-kira 5 tahun. Maksud saya apabila satu produk sedang ada masalah saya bisa menggunakan produk cadangan. Atau ketika saya kehabisan kuota Telkomsel Flash yang makin lama makin pelit kuota.

Modem Esia Max D yang saya pakai uji coba kali ini adalah milik teman saya. Teman saya ini kesulitan untuk menggunakan modem Esia Max D di laptopnya yang bersistem operasi Ubuntu Sabily sehingga meminjamkan ke saya untuk dicoba-coba di Ubuntu 11.10 di laptop saya. Saya pun mencobanya.

Modem Esia Max D tipe EC 156, buatan Huawei ini ternyata langsung terdeteksi oleh Network Manager. Sayangnya, modem tidak bisa terkoneksi setelah dicoba beberapa kali. Saya mulai googling dan menemukan solusi untuk mengoneksikan modem ini dari terminal, dengan wvdial. Menurut saya ini tidak praktis untuk teman saya yang bukan seorang linux savy. Dia merupakan pengguna biasa Ubuntu Sabily.

Saya mulai melihat-lihat setting default yang diberikan Network Manager -nya Ubuntu untuk modem ini. Username dan password pada setting mobile broadband ternyata tidak terisi. Nah di sini saya mulai mencoba beberapa setting. Sampai akhirnya saya menemukan username dan password yang bisa digunakan adalah Username: aha dan Password: aha

Modem sekarang bisa langsung dikoneksikan melalui Network Manager. Tidak perlu repot-repot membuka terminal dan menjalankan wvdial. 🙂

Penasaran  akan kecepatan Esia Max D, saya segera membuka http://speedtest.net. Dari beberapa percobaan test kecepatan, hasilnya tidak mengecewakan sekaligus tidak terlalu memuaskan. Seperti umumnya layanan mobile broadband yang lain, kadang hasil test kecepatan menunjukan hasil bagus, kadang-kadang pula kurang. Lokasi test kecepatan di Jalan Wonosari-Jogja Km 3 Siyono, Wonosari, Gunungkidul. Berikut salah satu hasil test kecepatan:

Nah, selanjutnya saya jadi penasaran untuk mencoba Esia Max D ini di rumah saya. Apabila di rumah saya saya bisa mendapatkan kecepatan seperti ini, saya tertarik untuk membelinya sebagai cadangan. Semua sudah tahu bagi Internet Mobile, Posisi Menentukan Prestasi.

Selain itu Esia Max D menawarkan paket Internet Mobile dengan harga yang relatif kompetitif dengan variasi paket dan isi ulang yang ditawarkan yang membuatnya cocok untuk diadopsi. Daftar harga dan paket data bisa dilihat di: http://max-d.myesia.com/max-d/tarif/default.aspx

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Keberuntungan Dalam Sebuah Foto

Selain kemampuan teknis dan artistik beserta dukungan alat (kamera, lensa, dan lain-lain), ada satu hal lagi yang menentukan gambar-gambar bagus ditampilkan dalam foto. Yaitu keberuntungan.

Foto di atas saya ambil di tempat biasa. Di atas persawahan tidak jauh dari rumah saya. Di tempat ini saya sering kali melihat pemandangan bagus. Langit yang berseri-seri dengan warna biru yang bersih dan awan yang menawan.

Namun pada pagi hari ini saya juga kurang beruntung. Ketika saya sedang membawa kamera yang siap digunakan, langit malah kelihatan pucat. Langit sedang murung. Mendung dan awan yang muncul pun nampak biasa-biasa saja.

Langit ceria dan keberuntungan tidak sedang menghampiri. Jadi pagi ini tidak bisa saya gandeng dan ajak ke sini untuk saya pamerkan ke Anda sekalian.

Semoga lain waktu keberuntungan yang menjemput saya. Eh saya ya yang harus menciptakan keberuntungan untuk diri saya sendiri. 🙂

Sepertiga Pertama Ramadhan 1433H

Sore ini saya menjelang waktu berbuka puasa untuk yang kesepuluh kalinya. 10 hari insya Alloh akan genap saya tempuh pada Ramadan 1433 H ini. Sementara saudara-saudara saya seiman yang lain yang memulai Ramadhan pada tanggal 21 Juli 2012 insya Alloh petang ini akan menikmati kebahagian buka puasa untuk yang kesembilan kalinya. Pendek kata, sepertiga puasa hampir terlampaui.

Sampai sepertiga pertama Ramadan ini, ada beberapa hal yang saya amati terjadi di tengah umat di lingkungan dimana saya tinggal. Yaitu:

Puasa kali ini terasa lebih sederhana. Tenang dan tidak ada hingar-bingar. Puasa yang terjadi di tengah-tengah musim kemarau yang kering dan dingin.

Sejak pertama Ramadhan, jamaah di masjid-masjid tidaklah sama ramainya dengan tahun-tahun sebelumnya. Saya masih ingat beberapa tahun lalu jamaah meluber sampai ke halaman masjid. Yang sama adalah jumlah jawaah yang tiap malam makin berkurang.

Ceramah Tarawih dan Kuliah Subuh. Sepanjang yang saya ingat dan saya ikuti, di masjid dimana saya mengikuti jamaah isya, tarawih dan jamaah subuh baru satu kali mendengarkan ceramah tarawih dan satu kali kuliah subuh. Barangkali pemuka agama sekarang memandang berdakwah di social media dan blog dianggap lebih tepat, hehehe. Atau program Ramadan di media TV, radio, dan lain-lain sudah mereka anggap memenuhi kebutuhan jamaah. 🙂

Tadarus Al Qur’an. Di kedua masjid dimana saya gunakan selang seling berjamaah, tidak ada lagi remaja dan jamaah yang bertadarus bersama. Saya jadi rindu tahun-tahun sebelumnya dimana kami bisa saling menyimak bacaan dan membenarkan bacaan-bacaan yang dieja belum tepat. Kali ini saya bertadarus sendiri di rumah saja.

… apa lagi ya. Mungkin ada beberapa hal yang kemudian perlu saya tambahkan.

Apa pun semoga Ramadan kali membawa banyak maghfirah dan kesan mendalam untuk kehidupan kita selanjutnya. 🙂 Sekarang waktu berbuka puasa di sini kurang sekitar 40-an menit lagi. 🙂

Selamat menunaikan ibadah-ibadah Ramadan.

Tidur Pagi Setelah Subuh

Jam di ponsel saya menunjukan 06:12 wib ketika saya terbangun dari tidur yang tidak pulas. Dengan nyawa belum genap saya tergesa ke kamar mandi. Kali ini mandi saya saya cukupkan dengan beberapa siraman air, memakai face wash ala kadarnya dan membusai tubuh dengan sabun secara kilat. Hari ini di pabrik ada pekerjaan yang harus di selesaikan, dan sampai saya istirahat menulis blog ini pekerjaan saya itu belum selesai. Ada banyak hal yang secara mendadak sangat penting segera dirubah, secepatnya.

Tidur setelah pagi subuh tidak baik itu sepenuhnya saya percayai. Ayah dan ibu saya tidak bosan-bosanya menasehati anak-anaknya untuk tidak tidur. Dan bila pun anak-anak ibu bapak nekad biasanya mereka akan berusaha membangunkan dengan segala cara. Saya kira hampir semua orang sepakat bila tidur setelah subuh itu tidak baik. Bahkan agama saya dalam suatu Hadits meriwayatkan,  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ya Allah berikanlah berkah kepada umatku di pagi hari mereka”. Ini adalah doa yang agung yang  Rasulullah panjatkan agar umatnya memberi perhatian yang besar kepada waktu pagi.

Namun tadi pagi saya terpaksa mengorbankan beberapa target saya untuk tidur pagi. Saya tidak bisa shalat subuh berjamaah di Masjid, tidak bisa melanjutkan Tadarus pagi, masih ingat dengan program One Juz A Day saya, bukan? Dan beberapa nikmat pagi yang lain.

Kalau boleh beralasan, saya tadi tidur pagi karena kelelahan. Kemarin mulai pagi sampai menjelang sore banyak pekerjaan yang ditargetkan seyogyanya selesai, lebih dari itu saya harus mengebut target-target harian saya, kemudian di tengah kelelahan saya semalam ada beberapa hal trivial yang membuat saya tidak bisa tidur nyanyak sampai jam satu. Dilanjutkan saya harus bangun di antara pukul 02:30 wib – Subuh untuk shalat Tarawih, makan sahur, dan lain-lain. Sampai akhirnya keputusan shalat Subuh sendirian menjadi akhir sebelum saya tidur pagi. 😦

Nampaknya, hari-hari belakang ini, di tengah-tengah saya menjalankan kewajiban berpuasa, banyak pekerjaan yang tidak mudah yang menjadi tanggung jawab saya untuk menyelesaikan. Ya, pekerjaan dan tanggung jawab merupakan bagian dari ibadah puasa saya. Dan rasa kantuk di siang hari ini pun sebenarnya apabila saya tidur akan dihitung sebagai ibadah juga ya?

Puasa dalam arti yang sebenarnya barangkali memang sederhana. Untuk menyebut hal ini saya lebih suka dengan istilah dalam bahasa Jawa yaitu: prasaja.

Selamat Melanjutkan ibadah puasa. 🙂

Membicarakan Kendala Teknis pada Uji Kompetensi Guru (UKG) Online

3 hari yang lalu, kami dikabari oleh pihak Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) untuk membantu secara teknis pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) online yang akan diselenggarakan pada tanggal 30 Juli – 4 Agustus 2012. Mendadak sekali pemberitahuan itu. Kurang dari 1 Minggu dari hari H.

Apa yang perlu kami lakukan sebenarnya sederhana, yaitu menyiapkan sejumlah komputer yang terhubung dalam suatu jaringan lokal dan jaringan lokal itu terhubung ke internet. Kemudian menginstall aplikasi UKG online di masing-masing komputer serta menyiapkan satu buah server lokal untuk UKG online.

Menginstall software baik server lokal maupun UKG online beserta klien di masing-masing komputer yang akan dipakai di jaringan lokal sebenarnya sangat mudah. Oleh Tim IT UKG Online di Jakarta telah disipakan intaller yang siap pakai dan dirancang bisa diinstall semudah mungkin.

Di sini saya hanya akan membiacarakan masalah teknis di tempat pelaksanaan UKG. Saya kira sebenarnya ada masalah yang tidak kalah rumitnya yang terbentang di antara Baca lebih lanjut

Akhirnya Surat Balasan Itu Tiba

Surat Pos

Surat Pos

Masih ingat dengan cerita saya tentang surat pos yang saya kirim untuk teman saya di Lampung beberapa waktu? Bila sudah lupa, silakan baca di sini. Surat yang saya tempeli perangko Rp 2.500,- itu memerlukan waktu 8 hari untuk sampai dengan selamat di tangan si penerima. Alhamdulillah … surat saya tidak tercecer di suatu tempat di antara Wonosari – Lampung.

Saya ucapkan Alhamdulillah sekali lagi sebagai ungkapan rasa senang saya akan surat balasan untuk surat yang saya kirim itu tiba di meja saya siang hari ini. Terimakasih Pak Pos yang telah bertanya kepada tetangga karena siang tadi rumah saya sedang tidak ada orang.

Surat ini memang sudah saya tunggu-tunggu. Si pengirim surat yang sudah menanyakan nasib suratnya beberapa waktu lalu membuat ketidaksabaran saya naik beberapa strip. Sebagai kata penghiburan, saya mengatakan kepada ketidaksabaran saya, jarak Lampung – Wonosari lebih jauh dari jarak Wonosari – Lampung. Jadi dengan perangko yang sama-sama Rp 2.500,- surat itu sampai dalam waktu kira-kira 19 hari. Surat dikirim pada tanggal 5 Juli 2012 dan baru sampai pada tanggal 24 Juli 2012.

Sudah ah, saya akan membaca surat itu sekali lagi sebelum waktu berbuka puasa tiba …

Sakit Telinga

Sudah lima hari telinga kanan saya sakit. Rasanya ngilu sekali. Apalagi bila malam menjelang tidur. Atau ketika sudah tidur dan secara tidak sengaja posisi tidur saya miring ke kanan. Sakit ini tidak kunjung sembuh barangkali karena saya sengaja tidak mengobatinya. Pikir saya sakit telinga ini akan sembuh dengan sendirinya.

Ternyata sampai sekarang belum dan saya memutuskan untuk mengobati sakit telinga ini.

Sakit telinga ini mulanya hanya terasa gatal agak ngilu. Kemudian saya iseng-iseng mengorek telinga dengan cotton bud. Ketika dikorek dengan cotton bud rasanya agak gimana gitu, jadi saya mengulang lagi dan lagi. Saya tidak ragu-ragu/tidak takut melakukanya karena posisi gatal agak ngilu adalah di bagian bukan terdalam telinga. Pikir saya masih termasuk rongga luar.

Sampai akhirnya sekarang saya merasakan karena hal sepele mengorek telinga menjadi radang yang rasa sakitnya meluas. Saya jadi ingat apa kata Mas Cahya beberapa waktu lalu. Dengan alasan apa pun, mengorek telinga bahkan dengan cotton bud secara medis tidak bisa dibenarkan.

Rasa sakit telinga seperti ini dulu pernah saya alami. Bedanya dulu berpenyebab jerawat di dalam telinga. 🙂 Ceritanya di: SINI.

 

Buku” Pewarta Warga” dan “Buku Pegangan Jurnalisme Independen”

Pewarta Warga dan Jurnalisme Independen

Pewarta Warga dan Jurnalisme Independen

Kedua buku ini adalah buku-buku yang ingin saya baca pada minggu-minggu ini. Kedua buku itu saya dapatkan secera gratis. Buku Pegangan Jurnalisme Independen oleh Deborrah Potter merupakan pemberian dari teman saya Anandita Puspitasari (@nonadita) di PPTIK UGM pada tahun 2009 yang mana pada saat itu saya belum terlalu tertarik dengan topik Jurnalisme Independen. Baru tahun-tahun belakangan ini saja saya merasa perlu dan alhamdulillah buku ini masih dengan baik tersimpan dan bisa saya baca-baca dengan nyaman. Sedangkan Buku “Pewarta Warga” adalah pemberian Hendri Destiwanto (@mashendri) pada awal tahun ini. Saya ucapkan terimakasih kepada keduanya. Semoga menjadi amal sholeh mereka.

Saya sekarang merasa memerlukan membaca kedua buku ini bukan karena saya ingin menjadi wartawan di media. Bukan cita-cita saya pula untuk menjadi kontributor berita lepas di media masa. Baca lebih lanjut