Stephen Covey, Bapak The 7th Habits Meninggal

Dini hari tadi, twitter mengejutkan saya dengan berita meninggalnya Stephen R Covey. Stephen Covey adalah penulis dari buku laris The 7 Habits of Highly Effective People (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif) dan beberapa buku lain yang terjual jutaan salinan.

The 7 Habits of Effective people

The 7 Habits of Effective people

Penyebab meninggalnya Dr Covey, Baca lebih lanjut

Iklan

Gosip-Gosip Pilkades

Tahun 2014 masih 2 tahun lagi. Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) atau  Pemilihan Lurah Desa (Pilurdes) di desa dimana saya tinggal masih cukup lama. Namun saya tidak tahu ada fenomena apa ketika secara tidak sengaja  mulai terdegar di gardu ronda, di tempat-tempat nongkrong di perempatan-perempatan desa di malam hari dan di beberapa tempat lain ada beberapa orang sudah membicarakan hal ini. Masih sebatas ngobrol-ngobrol santai yang terlalu dini sebenarnya untuk dikatakan sesuatu yang serius.

Dan bisa jadi juga bukan hal serius yang perlu diseriusi. Bisa juga hanya angin lalu yang menghalau kebosanan akan isu-isu nasional yang saban hari disuapkan oleh televisi dan media. Bisa pula sebaliknya.

Hehe, saya malah ngomong apa sih di sini. Sebagai bukan seorang yang punya kompetensi untuk menganalisis peristiwa-peristiwa sosial, ada beberapa hal yang mungkin berhubungan: Pilkada Jakarta yang menarik jutaan bola mata dari sepenjuru negeri (1), Pilkades yang baru saja diselenggarakan di desa sebelah (2), Pilurdes yang akan diselenggarakan di beberapa desa tetangga (3),  Kepala Desa incumbent yang sudah dianggap terlalu lama, dua kali masa jabatan (4), Masyarakat yang menginginkan perubahan (5)…. apa lagi (6) hehehe

Seumur hidup, saya sudah menyaksikan 2 kali Pemilihan Kepala Desa di desa dimana saya tinggal. Pada tahun 1997 ketika saya belum mempunyai hak pilih dan pada tahun 2002 yang mana Pilkades saat itu dimenangi oleh kepala desa incumbent. Dan dua tahun lagi mudah-mudahan saya bisa menyaksikan peristiwa yang ketiga.

Coba kita lihat apa yang berbeda dengan Pilkades pada era internet sudah menjadi penduduk tetap di desa dibanding pilkades sebelumnya. 😀

Semut Juga Perlu Minum

Saya heran dengan gelas dan tempat minum yang saya gunakan yang belum berapa lama saya tinggalkan baik di meja maupun di bangku di teras mengapa akhir-akhir ini sering dikerumui semut. Padahal air yang saya minum tidak mengandung pemanis. Air jernih saja. Bukankah biasanya semut hanya mengerumuni air yang berpemanis atau apa pun yang mempunyai kadar manis tertentu.

Dugaan saya sebelumnya, barangkali ada bekas makanan atau bekas manis dari bibir saya yang ikut menempel di bibir gelas.

Sampai kemudian saya menemukan tempat penyimpanan air minum di rumah juga dikerumi semut. Di tempat air minum yang satunya juga terdapat kerumunan semut. Sampai di sini saya jadi berpikir, barangkali semut-semut ini bukan mencari gula/rasa manis/makanan, melainkan memang mencari air untuk minum.

Pada musim kemarau yang kering seperti sekarang, barangkali semut kesulitan mencari air permukaan/air tanah untuk mereka gunakan untuk minum. Semut juga perlu minum. hehehe.

Memang makhluk hidup asa sih, selain barangkali jin dan setan yang bisa bertahan hidup tanpa air. 😀 Seharusnya mengamati semut yang perlu minum sudah saya lakukan pada saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar atau Taman Kanak-Kanak. Bukan sekarang. hihihi

Klik IT, Solusi Ribet Stop Kontak

Andai dari dulu colokan seperti yang di atas sudah ada, maka kita tidak perlu ribet dengan colokan dibawah ini:

Ribet Stop Kontak

Ribet Stop Kontak

Foto di atas saya ambil ketika saya saat itu sedang mengalami frustasi akibat panitia workshop yang sedang saya ikuti tidak menyediakan fasilitas kepada peserta workshop secara layak. Dari tempat yang digunakan untuk workshop dan pelatihan software database saja pada saat itu sudah tidak memenuhi syarat. Panitia memaksakan menggunakan suatu ruang rapat untuk digunakan workshop sehari yang berpeserta kira-kira 50 orang. Masing-masing peserta workshop membawa laptop sendiri-sendiri.

Stop kontak/colokan listrik seperti di atas merupakan apa yang bisa disediakan oleh panitia untuk memberikan aliran listrik untuk laptop masing-masing peserta.

Nah, bukannya workshop pada saat itu fokus ke materi, malah-malah waktu dihabiskan untuk Baca lebih lanjut

Proses, Hasil dan Ruang

Pikirkan masak-masak. Persiapkan sampai matang benar. Kerjakan dengan cara yang benar, sebenar-benarnya. Bukanlah janji  untuk sebuah keberhasilan. Itu semua baru menawarkan peluang yang sedikit lebih untuk sesuatu yang disebut berhasil.

Itu berlaku dalam banyak hal, kalau tidak mau disebut untuk semua hal.

Pun ada kalanya hal-hal itu dikerjakan ala kadarnya pun terkadang  terlihat menuai malah sebaliknya, bukan ala kadarnya. Ada keberuntungan dan ketidak beruntungan yang bermain dengan cara yang belum bisa dipahami oleh setidaknya pikiran saya. Ada ketidakterdugaan, ketidaksengajaan, randomness or whatever you name it.

Bagi saya sendiri arti persiapan dan proses yang merupakan satu-satunya hal yang bisa campuri dan kendalikan adalah dengan berusaha melakukanya sebaik-baiknya tidak akan meninggalkan sesal dibelakang apa pun hasilnya apa pun yang terjadi.

Bila ada ruang diantara proses dan hasil mungkin disitulah Tuhan memainkan peran-Nya. Eh tidak demikian ya. Kendali Alloh jauh melebihi luas yang bisa dibayangkan akal pikiran makhluk. 🙂

Teh dan Gula Aren

Gula Aren

Gula Aren

Kali ini saya mencoba membuat teh dengan pemanis gula aren. Bukan dengan gula pasir atau gula batu seperti biasa. Saya membuat teh dengan cara “ditubruk”, maksudnya teh diseduh langsung di galam gelas/mug, tidak “didekok” dengan teko atau pembuat teh. Gula aren pun diseduh langsung.

Menurut saya, rasa teh berpemanis gula aren ini unik. Saya mengatakan unik ya karena saya sendiri belum menemukan deskripsi yang pas untuk rasa teh seperti ini.

Saya melanjutkan menikmati teh berpemanis gula aren di sore yang nyaman dan penantian ini. 🙂

Mencari Aplikasi Mobile Untuk Belajar Baca Qur’an

Belakangan ini, menjelang datangnya bulan Ramadhan, saya melihat ada banyak tawaran aplikasi (mobile apps) untuk membantu ibadah Ramadhan. Isi dari aplikasi itu pun sudah sangat beragam. Mulai dari jadwal imsakiyah, kumpulan doa, belajar baca Al Qur’an, tip sehat berpuasa sampai belanja lebaran, dan sebagainya.

Namun dari sekian banyak aplikasi itu saya belum menemukan aplikasi yang dilengkapi dengan fitur belajar membaca Al Qur’an yang sesuai keinginan saya. Saya ingin di mobile apps itu dilengkapi dengan speech recognition untuk membantu pembelajar untuk membantu belajar tajwid, maad dan qalqalah.

Gambaran saya akan peran technology speech recognition itu begini:

Orang yang sedang belajar Al Qur’an mengikuti suatu petunjuk/cara baca. Kemudian pembelajar itu mengucapkan apa yang dibaca itu di dekat perangkat mobile device, mobile device bisa berupa smart phone, tablet, atau syukur-syukur fitur phone yang tidak terlalu canggih, nah kemudian aplikasi itu menilai pengucapan/pelafalan dari si orang yang sedang belajar apakah sudah betul, 80%betul, kurang betul atau sama sekali salah. Agar si pembelajar terus menerus berlatih sampai mendapatkan pengucapan/pelafalan yang sesuai.

Saya sendiri bukan seorang developer, tetapi saya kira aplikasi impian saya itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dibuat dengan teknologi saat ini. Ingat sudah berapa lama kita mengenal SIRI atau google voice. Sebenarnya teknologi untuk menilai pengucapan/pelafalan ini sudah saya lihat sejak lama. Kalau tidak salah sudah lama digunakan oleh Tell Me More. Program bantu belajar bahasa yang berjalan di PC. 🙂

Bagaimana, ada yang tertarik mengembangkan ide ini?

Menginjak Bayang-Bayang

Bahkan sebelum Maghrib sore tadi udara di desa dimana saya tinggal sudah terasa dingin. Untuk mandi saja perlu ketegasan untuk iya atau tidak. Sampai akhirnya saya memaksakan diri.

Masih tentang musim kemarau. Bagi kebanyakan orang hampir tidak ada hal istimewa yang bisa dinikmati di daerah dimana saya tinggal. Mungkin semua biasa-biasa saja. Namun bagi saya ada yang berbeda dan saya nantikan untuk terjadi tiap musim kemarau. Dan malam ini saya menemukannya terjadi.

Sangat sederhana. Apa yang saya nikmati. Dan barangkali hanya saya yang menikmati adalah, ketika saya malam-malam sendirian berjalan melewati jalan desa yang sepi –saya tadi memilih jalan yang sepi menuju ke masjid– dan kaki saya menginjak bayang-bayang pohon jati yang meranggas. Bayang-bayang lembut itu terjadi tentu saja karena bulan. Melengkapi pengalaman “magis” ini adalah ketika kaki-kaki saya juga menginjak daun-daun kering yang berserakan dan terkadang suara patah ranting-ranting kering yang jatuh.

Pengen Upgrade Tapi Takut

Tiap kali saya menggunakan update manager untuk menyegarkan dan membarukan linux ubuntu saya, langsung terlihat tawaran untuk update distro seperti pada screen shoot yang membuat saya tidak tahan kepengen. Tapi kepenginan saya itu tidak cukup membuat saya yakin untuk menekan tombol upgrade.

Apa yang saya takutkan adalah bila saya benar -benar melakukan upgrade distro maka beberapa hardware saya tidak akan terdeteksi atau mempunyai masalah compatibility dengan Ubuntu 12.04. Terutama adalah USB 3G Modem. Ya sudah, saya nrimo ing pandum dulu dengan tetap istiqamah menggunakan Ubuntu 11.10 🙂

Membakar Sampah

Sepulang dari shalat Isya berjamaah di masjid tadi malam, di jalan yang saya lalui menuju rumah, saya terganggu oleh bau asap pembakaran sampah yang menyengat. Bau menyengat yang oleh orang Jawa disebut “sangit”. Ada tetangga yang membakar sampah dalam jumlah banyak di pekarangan.

Sampah itu bukanlah sampah rumah tangga. Sampah itu berupa daun-daun yang digugurkan oleh pohon yang sedang meranggas. Saat ini di desa dimana saya tinggal sedang berada di musim kemarau yang sangat kering yang memaksa pepohonan untuk seirit-iritnya menggunakan air di tanah yang sangat terbatas.

Membakar sampah dedaunan di pekarangan sudah turun temurun terjadi di desa dimana saya tinggal. Saya tidak tahu apakah ada orang lain yang merasa terganggu dengan asap pembakaran ini sebagaimana yang saya rasakan. Bila pun atau yang merasa atau pun tidak, barangkali yang tetap perlu diubah adalah cara memperlakukan sampah daun, sampah organik seperti ini menjadi lebih baik dan lebih ramah lingkungan.

Kalau tidak bisa mengolah sampah organik menjadi semacam pupuk organik, kalau bisa mengolah menjadi pupuk organik tentu menjadi berharga di desa pertanian, setidaknya tidak dibakar yang mengakibatkan pencemaran lingkungan. Misalnya dengan mengubur sampah-sampah daun itu dipekarangan tanpa perlu khawatir sampah daun mencemari tanah.

Memang, tidak mudah untuk bahkan sekedar menawarkan ide manajemen pengelolaan sampah lingkungan di pedesaan. …