Pernik-Pernik Ujian Nasional 2012

Dari tahun ke tahun, Ujian Nasional tidak pernah habis untuk dibicarakan, didiskusikan dan dijadikan bahan bergunjing dimana-mana. Posting saya kali ini bukan bermaksud ikut memperdebatkan pro kontra diadakan atau tidak pentingnya Ujian Nasional bagi pendidikan bangsa. Kalau dibilang ikut bergunjing ya silakan.

Saya hanya akan mencatat di sini dua peristiwa menarik yang baru saya dengar terjadi pada Ujian Nasional pada tahun 2012. Ukuran menarik di sini bukanlah ukuran yang sebenarnya bisa dipertanggung jawabkan. Ini adalah pendapat subyektif saya.

Peristiwa menarik yang paling utama adalah diwajibkanya siswa siswi membuat surat pernyataan kejujuran yang dimaksudkan agar siswa siswi tidak berbuat curang dalam menjalankan Ujian Nasional. Hal ini mungkin dilandasi karena kejujuran merupakan persoalan bangsa. 😀

Peristiwa kedua yang menggelikan adalah apa yang saya lihat diberitakan di TV One pada beberapa petang yang lalu. Siswa siswi suatu Sekolah Menengah menggelar/mengikuti istighosah di makam ulama agar lulus Ujian Nasional. Entah apa yang menyebabkan Ujian Nasional sebagai sumber galau nasional, yang jelas banyak upaya dilakukan untuk mengendalikan kegalauan termasuk doa doa bersama menjelang UN yang dilaksanakan dimana-mana.

Sebagai hal yang menurut saya menarik, istighosah agar lulus UN ini seketika itu saya posting di Facebook. Dalam beberapa saat, posting itu mendapat tanggapan beragam dari teman-teman saya. Ada yang lucu dalam komentar itu. Kira-kira begini: Bila mereka ternyata tidak lulus UN, semoga makam ulama itu tidak mereka rusak.

Ada-ada saja yah!

Merusak Botol Bekas Air Mineral

Baru saja di ruangan dimana saya numpang mengerjakan kerjaan editing terjadi peristiwa yang membuat agak risih. Seorang bapak-bapak karyawan masuk ruangan dan meminta beberapa botol minuman bekas. Saya tanya untuk apa, katanya botol itu mau diloakkan, dijual gresek.

Rasa risih itu bukan karena saya pelit dengan botol-botol bekas minuman itu. Apa yang segera terlintas di kepala adalah akan dipakai untuk apa botol bekas itu pada akhirnya. Untuk digunakan lagi? Atau untuk mengemas produk-produk minuman palsu? Secara bapak itu hanya meminta botol yang masih bagus secara fisik.

Ini memang kesalahan saya sendiri. Akibat saya malas merusak botol-botol bekas minuman ini sehabis dipakai dan segera membuangnya di tempat sampah. 😦

Masih Tentang Makanan Enak

Saya menduga cara kita menilai enak dan tidaknya suatu makanan atau suatu tempat makan adalah ketika pertama kali kita mencoba suatu makanan atau suatu makanan di tempat makan tertentu. Dengan kata lain, enak dan tidak enak adalah sebuah kesan pertama. 😀 Yang benar saja. Karena kita tidak akan atau enggan kembali ke tempat makan yang sama bila kesan pertama yang kita dapatkan sudah tidak sesuai selera.

Apa yang di tweet pakdhe Nukman di atas sebenarnya hal yang sering kita dengar. Saya sendiri jarang mendengar ada komentar tentang rumah makan kesukaan begini, “Soto pak Soleh sekarang lebih enak dari dulu”. Kesan ‘enak to the max‘ ada pada kesan pertama. Kalau komentar begini, “Soto pak Anu sekarang sudah tidak seenak dulu” sih sering saya dengar. Rupanya menjaga kualitas (cita rasa) juga merupakan masalah umum dimana-mana. 🙂

Selamat hari Senin. Sudah sarapankah hari ini?

Belajar Mewarnai Anime Dengan GNU GIMP

Beberapa hari yang lalu saya perlu mewarnai suatu sket dengan software. Sket itu bukan sket yang dibuat digital natively, melainkan sket dibuat pada skecth book dan kemudian didigitalisasi (di-scan). Permasalahanya, di komputer di rumah saya tidak terinstall Photoshop. Saya belum mampu membeli Photoshop. Software alternatif pilihan adalah Gimp.

Software ini memang telah sejak agak lama saya gunakan untuk retouching foto-foto yang saya ambil maupun ketika saya sedang cape menghayal dan ingin menvisualisasikan khayalan ke suatu pixel. Namun mewarnai sket bergenre anime yang dibuat orang lain itu tidak tiba-tiba mudah.

Untunglah, ada banyak tutorial mewarnai sket dan anime di youtube. Berikut ini adalah video tutorial yang menurut saya bagus 🙂

Baca lebih lanjut

Hanya Curhat, Tidak Penting!

Orang yang sedang sakit akan lebih baik bila beristirahat dengan nyaman agar tubuh bisa lebih cepat memperbaiki diri. Sebagaimana seharusnya ketika pada hari Selasa dan Rabu kemarin saya memutuskan untuk beristirahat tidak keluar rumah. Sebenarnya bukan sakit yang berbahaya, “hanya” flu dan radang tenggorokan. Pikir saya, daripada kelamaan dan keterusan sakit akan lebih mengganggu produktivitas.

Halah! Memangnya produktivitas apaan 😀

Kenyataanya ketika sendirian berdiam diri di rumah sambil tiduran saja membuat saya merasa tidak betah. Seolah-olah ada yang salah dengan keputusan saya untuk beristirahat. Apakah kurang tidur selama beberapa hari itu tidak cukup menjadi alasan beristirahat. Akhirnya, setelah Selasa itu saya tidur berjam-jam, berikutnya pada hari Rabu, saya memilih untuk membaca-baca buku yang seharusnya sudah saya baca beberapa minggu sebelumnya.

Bosan membaca-baca beberapa buku dan majalah, saya teringat dengan salah satu kerjaan saya. Pekerjaan itu deadline nya masih lama, tetapi seharusnya sudah mulai saya kerjakan sejak minggu lalu. Pekerjaan itu sengaja saya tunda dulu karena saya merasa belum siap. Pekerjaan itu terlihat cukup rumit dan prediksi saya memerlukan waktu serius setidaknya dua minggu.

Di tengah kebosanan, saya malah memulai pekerjaan rumit itu. Data, data dan data lagi. Processing data lagi. Entah karena saya pada Rabu itu tidak merasa terbebani target untuk melakukan pencapaian sekian-sekian, saya melakukanya sebatas sebagai pengusir kebosanan. Saya mencoba beberapa skenario sederhana dan sedikit tweak and tune.

Ahaaaa. Tak diduga tak dinyana saya menemukan solusi untuk pekerjaan itu. Hari itu ‘pekerjaan rumit’ itu saya anggap 80% selesai. Tinggal finishing dan merias-rias untuk saatnya dipresentasikan kelak. Santai. Berhenti jeda di sini dulu. Bukankah masih beberapa minggu lagi deadline nya? hihi.

Merasa senang “fly”, saya meneruskan dengan melakukan ini itu sampai malah lupa waktu lagi. Sampai malam harinya saya hampir tidak bisa tidur. Dan tahu sendiri apa akibatnya. Kamis saya belum benar-benar sembuh, akan tetapi saya harus melakukan aktifitas sehari-hari sebagaimana biasanya. Saya tidak mau merasa bersalah lagi …

Tulisan ini sudah panjang. Dan saya sendiri bingung apa lesson learned yang bisa dipetik dari kejadian yang saya ceritakan ini. Tidak apa-apa. Namanya curhat, kalau tidak dituntaskan malah bikin sesak hati. 😀

Blog di Posterous Hilang

Hari ini, Kamis pagi tanggal 12 April 2012, saya tidak bisa mengakses photo blog saya di posterous yang beralamat URL http://jarwadi.posterous.com  Saya kaget sekaligus penasaran, kenapa blog posterous saya tiba-tiba bisa hilang. Atau sedang tidak bisa diakses saja?

Saya mencoba login ke dashboard posterous. Melalui http://posterous.com Dari sini saya bisa login, seperti tangkapan layar berikut:

Dashboard Posterous yang sedang error

Dashboard Posterous yang sedang error

Fyuh, apa-apan ini? Apa gara gara ada tulisan We’ve been acquired by Twitter di sebelah atas itu. Apalah berarti saya harus segera ancang-ancang dengan mendownload semua konten yang saya unggah ke posterous dan balikan lagi ke Tumblr?

Sebelum bermain-main posterous, saya telah lebih dulu mainan di http://jarwadi.tumblr.com.

update:

Masalah ini kemungkinan hanya masalah ISP saya yang ngaco, ternyata photoblog saya bisa dibuka oleh Mas Alfian. Begitu ia memberi tahu saya langsung mencoba dengan browser pada BB. Dan hasilnya bisa dibuka. 🙂

Menyikapi Informasi Bencana Gempa

Beberapa jam yang lalu sampai sekarang, di timeline twitter saya dipenuhi dengan kabar terjadinya gempa berkekuatan 8,7 SR. Bagi saya ini suatu kabar yang mengagetkan sekaligus mengerikan. Seketika apa yang terbayang di kepala saya adalah gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 2004 dan gempa yang berkuatan enam koma SR yang terjadi di tempat tinggal saya pada tahun 2006.

Saya memang seketika panik. Akan tetapi saya tadi berusaha menenangkan diri dan mencoba membaca timeline twitter dengan lebih teliti. Saya berusaha membedakan mana tweet yang merupakan retweet, mana tweet yang berasal dari media mainstream, kapan tweet itu di-tweet dan yang paling penting siapa dan dimana orang yang men-tweet suatu kabar pertama kali.

 

Sejujurnya, jari-jari tangan saya terasa gatal untuk segera me-retweet suatu tweet. Dan saya me-retweet beberapa tweet yang menurut saya bisa dipercaya dan layak tweet. Sampai beberapa tweet saya memutuskan untuk lebih selektif lagi dalam men-tweet dan lebih baik tidak nge-tweet dulu. Lebih baik mengamati informasi yang mengalir di twitter. Pertimbangan saya: biarlah timeline twitter dialiri oleh informasi yang benar-benar berkualitas sehingga memudahkan orang-orang yang mengikuti kabar terkini melalui timeline.

Pengalaman saya sendiri, tidaklah mudah untuk memilih mana informasi yang layak dipercaya dan mana informasi sampah. Media main stream, sependek ingatan saya sama sekali tidak bisa dijadikan patokan terkait akurasi informasi. Masih kuat di ingatan saya tentang gempa Jogja 2004 dimana pada saat itu kami menderita kemiskinan informasi. Ceritanya di sini. Dan bencana Erupsi Merapi yang kebanjiran informasi dan kebanjiran informasi sampah. Salah satu ceritanya ada di sini.

Jadi menurut saya, bagi kita yang tinggal jauh dari lokasi kejadian, lebih baik berhati-hati dalam merespon, menanggapi dan meneruskan suatu informasi. Jangan mudah menyebarkan informasi yang mengandung/menyebabkan kesedihan. Lebih baik kita menenangkan diri, mendinginkan kepala dan berdoa.

Link terkait:

Lomba Blog Promosi Wisata Daerah

Saya perhatikan saat ini di blogosphere Indonesia sedang marak berbagai macam lomba blog. Ada banyak sekali. Salah satu yang menarik untuk saya komentari adalah Lomba Blog Promosi Wisata Daerah.

Menariknya, lomba-lomba ini mampu menarik minat yang sangat besar bagi blogger. Makin banyak yang berpartisipasi makin banyak pula konten positif di internet tentang tempat wisata dan apa yang menarik untuk diwisatakan di suatu daerah. Sehingga diharapkan orang-orang akan lebih mudah mendapatkan informasi yang sesuai dan menimbulkan minat untuk berwisata ke suatu daerah yang sebelumnya belum dikenal dengan baik.

Hal yang tidak kalah menarik sebagai dampak lomba-lomba semacam ini adalah mendorong pertumbuhan dunia blogging itu sendiri. Seperti yang kita ketahui, dunia blogging di Indonesia mengalami masa penurunan yang cukup signifikan begitu jejaring sosial, media sosial, semakin populer. Diakui atau tidak, pada jamannya, blog juga memainkan peran sebagai media sosial untuk berinteraksi. Minimal interaksi antar sesama blogger.

Kembali ke tujuan semula tentang kemauan dan keinginan berbagai pihak untuk mempromosikan wisata daerah melalui media online, terutama blog, mungkin ada sedikit yang terlewat.

Begini, ketika saat ini lomba blog promosi wisata daerah makin marak, dengan berbagai hadiah yang sangat menggiurkan, kenapa saat ini setidaknya saya belum banyak mendengar adanya reward yang diberikan kepada blogger wisata. Menurut saya blogger yang rajin menulis wisata daerah baik ada maupun tidak ada lomba adalah mereka yang sebenarnya peduli dan lebih tulus. Dan umumnya merekalah yang lebih mengerti tentang bagaimana sebaiknya menulis dan membagikan pengalaman berwisata yang sebenarnya. Bukan untuk berburu hadiah semata. 🙂

Tidak Posting Bukan Karena Sibuk

Kemarin saya tidak membuat tulisan untuk One Post A Day seperti yang saya rencanakan pada awal tahun lalu. Permasalahanya adalah bukan karena saya sibuk sampai tidak punya waktu untuk menulis. Bukan pula karena tidak punya ide menulis. Sepanjang hari Jum’at kemarin saya bisa dibilang ‘selo‘, luang. Tidak ada hal-hal penting sekaligus genting yang harus selesai hari itu juga.

Permasalahan yang sebenarnya adalah karena saya suka menunda-nunda. Nanti juga ada waktu, begitu tiap kali saya berkata untuk diri sendiri. Sampai di akhir hari rasa malas semakin menumpuk yang terus menjadi penghalang yang akhirnya tidak bisa saya lewati.

Hal ini mengingatkan saya akan nasihat Fauzan, sahabat karib saya, yang ia katakan pada sekitar tahun 1998 kalau bukan tahun 1999. Kurang lebih begini kata Fauzan, “Serahkan pekerjaan kepada orang sibuk, bukan kepada orang yang tidak sibuk. Karena orang sibuk akan selalu mencari waktu luang untuk menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan orang tidak sibuk, orang selo, akan selalu mencari kesibukan untuk mengisi waktu luangnya.”

Benar juga yah! Nah, sekarang saya lebih tahu dan sadar permasalahan. Namun bukan berarti saya bisa langsung meningalkan kebiasaan dan tabiat buruk ini. Bisa saja tahu atau tidak tahu hanya akan sama saja bagi diri saya. 🙂

Produktifitas dan Rapat Tidak Penting

Beberapa waktu lalu saya diundang untuk mengikuti suatu rapat yang menurut saya tidak penting. Sebagian peserta rapat itu sebenarnya sepakat kalau itu bukanlah rapat penting, bisa dibilang tidak terlalu berguna. Tetapi rapat itu harus ada dan harus dihadiri.

Kenapa tidak penting? Karena topik dan permasalahan yang akan dibahas di ruang rapat itu sebelumnya sudah “dirapatkan” secara online selama beberapa hari oleh sebagian peserta rapat yang biasanya aktif. Aneka gagasan, usulan, skenario dan permasalahan sudah dibahas sampai dihasilkan suatu solusi yang kami anggap matang. Palu maya sudah diketok mengikuti beberapa keputusan strategis.

Tetapi kenapa rapat “tidak penting” itu harus ada dan harus dihadiri? Kalau tidak ada rapat fisik mana ada uang transport untuk rapat. Kedengaran lucu ya. 😀 Belakangan diketahui, permasalahanya bukan hanya ada di uang transport. Dalam menyusun anggaran tahunan, instansi itu merencanakan dan menganggarkan beberapa kali rapat. Masing-masing rapat yang direncanakan idealnya menurut mereka harus dilaksanakan dan ada bukti fisiknya. Dalam hal ini diskusi online, seberapa baguspun ide dan solusi yang dihasilkan tidak akan atau belum bisa dijadikan bukti untuk dijadikan bagian dari laporan program kerja tahunan ala birokrat.

Sebenarnya apa susahnya sih menghadiri rapat fisik yang didukung acara banyak makan-makan. Begitu saja kok repot. 😀 Sebenarnya lagi saya ingin memasang foto-foto makanan di sepanjang rapat itu, tetapi biar lidah saja yang tahu apa yang kami makan. Alasan tidak jadi memajang foto makanan adalah karena melihat dari makanannya itu akan mudah menebak instansi apa yang saya maksud. 😀