“Did you forget fo comb your hair before giving presentation, sir?”
The so very quote I had written on my facebook’s wall years ago just spoken by supervisor of another project.
“Does it make point, Madam? Doesn’t it? “
“Did you forget fo comb your hair before giving presentation, sir?”
The so very quote I had written on my facebook’s wall years ago just spoken by supervisor of another project.
“Does it make point, Madam? Doesn’t it? “
Sebagai penyedia layanan blogging, saya akui WordPress.com sangat rajin dalam memanjakan penggunanya dengan fitur-fitur yang ciamik. Fitur menawan ini memikat pandangan mata ketika saya sedang iseng melihat statistik pengunjung dari blog yang tidak ramai ini.
Fitur keren sebelumnya menurut saya adalah comment notification, new visitor chart dan reblog. Menurut Anda fitur baru apa yang paling menarik. 🙂
Peran teman sangat penting dalam muamallah dan pembentukan pribadi seorang muslim. Pertemanan turut mempengaruhi arah keberhasilan seseorang. Pun bisa membawa ke arah kegagalan. Sehingga khotib khotbah Jum’at siang tadi merasa perlu untuk menyampaikan pesan akan seperti apa orang yang tidak layak dijadikan teman/sahabat, yaitu:
Sengaja urutan nomor satu dari ciri-ciri orang yang tidak layak dijadikan teman ini saya letakkan di urutan paling bawah, karena Baca lebih lanjut
Seorang teman lama saya, dalam suatu percakapan di facebook chat, menanyai saya, apakah blog saya sudah produktif (menghasilkan uang)?
Pertanyaan teman saya ini mungkin karena membaca di profil facebook saya dimana saya mencantumkan blogger sebagai pekerjaan saya. Asumsi dia, mungkin setiap pekerjaan seyogyanya menghasilkan uang. Pekerjaan sebagai mata pencarian.
Asumsi seperti itulah yang membuat teman saya itu bingung mendengar jawaban saya. Jawaban saya, sejak awal saya tidak punya niat untuk mencari duit dari nge-blog. Nge-blog ya nge-blog saja. Kalau perlu malah mengeluarkan uang untuk nge-blog.
Teman saya itu pasti akan tambah bingung bila ia pernah membaca buku atau ikut seminar menjadi kaya raya dengan nge-blog. 😀
Kok mau ya melakukan pekerjaan yang tidak menghasilkan uang. Saya sendiri juga tidak tahu. Mungkin teman saya itu perlu merasakan sensasi beternak dan menggembalakan blog seperti saya. hehe
Beberapa waktu lalu, seorang teman saya mengeluhkan kekecewaannya terhadap website-website pemerintah di Gunungkidul. Akses yang lambat, data yang ditampilkan tidak update, navigasi yang tidak instuitif, dan tidak menampilkan informasi-informasi yang banyak dicari masyarakat.
Tujuan pemerintah membuat website itu bukankah sebagai layanan untuk memudahkan masyarakat ketika sedang membutuhkan informasi tertentu secara cepat.
Saya sendiri pagi ini sedang membuka-buka beberapa website milik dinas dan pemerintah kabupaten Gunungkidul. Tumben. Benar apa yang dikeluhkan teman saya beberapa waktu lalu itu. Akses lambat, data-data banyak yang tidak update, broken link, dan … dari segi desain seolah tidak peduli dengan perkembangan teknologi. Navigasi, Menu dan tampilan yang dipakai masih persis seperti yang saya lihat ketika website itu dulu pertama kali diluncurkan.
Saya tidak tahu apakah hal semacam ini hanya terjadi di website-website di lingkungan pemerintah kabupaten Gunungkidul. Atau permasalahan ini umum terjadi di semua pemerintahan di Rebuplik Indonesia.
Barangkali apa yang perlu dipedulikan adalah: Apa sebenarnya kesulitan pemerintah dalam mengelola website beserta isinya? (data dan informasi yang ada di dalamnya). Apakah:
Untuk menemani saat santai, membaca atau menyelesaikan kerjaan, saya suka mendengarkan musik. Boleh itu musik pop, keroncong, slow rock, heavy metal, blues, jazz, klasikal maupun uyon-uyon gendhing jawa. Asal bukan dangdut dan boyband/girl band kekorea-koreaan.
Bagi saya musik bisa membantu memecahkan kesuntukan ketika kerjaan yang dipikirkan dari pagi hingga siang menemui kebuntuan melulu. Mendengarkan musik bisa membantu mengurangi stres saya ketika otak dituntut untuk memikirkan ini itu. Bisa memperlancar aliran darah di otak dan seolah-olah otak lebih enak dipakai. Ini mungkin mitos karena kecanduan saya akan musik sudah sampai ke urat nadi.
Namun sesuka-sukanya saya dengan musik, siang ini saya merasakan dengan kepala sendiri, tidak semua lagu bagus cocok digunakan teman untuk menyelesaikan kerjaan yang perlu dukungan otak secara intensif. Lagu yang tidak saya cocoki untuk teman kerja kali ini ternyata bukan lagu-lagu yang jelek yang tidak saya suka. Lagu-lagu ini adalah lagu-lagu yang sebenarnya saya suka yang relatif baru dipendengaran. Lagu yang baru pertama kali saya dengar, atau lagu yang baru dua atau tiga kali masuk telinga.
Alih-alih saya memikirkan kerjaan, malah perhatian otak saya terbagi, terdistraksi, sebagian otak tersandera oleh lagu baru yang harusnya hanya menjadi sound track kisah kerja. Barangkali ini kenapa radio yang membidik pendengar bekerja memilih memutar lagu-lagu jadul pada jam kerja. 😀
Nah, setelah saya jeda sebentar dan menyelingi siang dengan menulis posting ini, saya akan segera mengganti playlist di media player dengan lagu-lagunya Norah Jones dan Beyonce saja.
Lagu siapa saja yang Anda suka sebagai musik teman kerja? 😉
Peraturan Lalu Lintas di Indonesia mewajibkan setiap pengendara sepeda motor di jalan raya untuk memakai helm keselamatan. Kewajiban itu berlaku baik kepada pengemudi maupun pembonceng. Kita umumnya akan kena semprit tilang polisi bila ketahuan tidak mengenakan helm keselamatan ketika berkendara dengan sepeda motor di jalan-jalan raya.
Itu bila baik pengemudi maupun pembonceng adalah orang yang sudah dianggap tidak anak-anak lagi oleh polisi. Namun bila pembonceng itu anak-anak, saya sering melihat polisi lalu lintas membiarkan begitu saja. Menegur pengendara pengemudinya (yang memboncengkan) saja tidak.
Bukankah tujuan peraturan mengenakan helm selama mengendarai sepeda motor itu demi keselamatan pengendara itu sendiri bila ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Apakah anak-anak tidak perlu diperhatikan keselamatanya? Apakah kepala anak-anak tidak riskan dari benturan ketika katakanlah terjadi tabrakan atau kecelakaan lalu lintas yang lain?
Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengomongkan hal ini dengan seorang teman. Teman saya mengakui hal ini sebenarnya sangat berbahaya. Meskipun ia sendiri sering menjemput putranya sepulang sekolah dan tanpa melengkapi anaknya dengan helm keselamatan. Bahkan ia juga mengakui sering memboncengkan beberapa anak sekaligus ketika menjemput anak dari sekolah.
Menurut teman saya itu, helm yang wajib dipakai selama mengendarai sepeda motor di jalan raya adalah helm yang memenui Standard Nasional Indonesia (SNI). Penggunaan helm selain yang berstandard SNI dianggap pelanggaran lalu lintas. ‘Helm Ciduk‘ yang dulu populer sekarang sudah tidak ada yang memakai di jalan raya.
Permasalahannya, sekarang ini teman saya itu belum melihat ada helm anak-anak berstandard SNI. Mungkin itu alasan kenapa polisi seolah enggan dan membiarkan anak-anak tanpa helm pengaman diboncengkan sepeda motor.
Ini sebenarnya pantas menjadi perhatian banyak pihak, pengendara sepeda motor sendiri, pembuat peraturan lalu lintas, penegak aturan lalu lintas (polantas). Sekaligus peluang inovasi untuk mendesain helm yang aman, nyaman, portable, mungkin perlu desain satu helm anak untuk semua ukuran kepala anak-anak. Tidak kalah penting, harus terlihat trendy dan bagus secara desain agar anak-anak suka memakainya. Dan mungkin tidak dengan memenuhi semua persayaratan itu, tapi harga helm tetap terjangkau (murah) 🙂
Ulang tahun ke-4 Wonosari.com yang baru saja selesai dirayakan di area wisata minat khusus Air Terjun Sri Gethuk pada pagi hingga siang hari tadi menggingatkan ternyata keanggotaan saya di forum diskusi onliner di kabupaten Gunungkidul ini sudah cukup lama. Sudah 4 tahun. Saya mendaftar forum wonosari.com pada tanggal 8 Juni 2008 dan kopdar pertama saya terjadi satu bulan kemudian, tepatnya tanggal 6 Juli 2008.
Nah, sejak kebersamaan saya dengan wonosari.com ini membuat saya melihat geliat pertumbuhan pengguna teknologi informasi dan internet di kabupaten Gunungkidul yang sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Anggota forum wonosari.com yang tumbuh pesat pada saat itu membuat saya optimis. Ada antusiasme dan semangat melek teknologi yang tinggi di Gunungkidul.
Dari forum ini juga saya melihat rupanya penetrasi internet di Gunungkidul itu unik. Sependek pengamatan saya, member aktif wonosari.com mulanya adalah orang-orang Gunungkidul yang sedang berada di tanah rantau. Wonosari.com sendiri lahir dari inisitaif Tipna Sultan yang sedang merantau di Semarang. Dan member aktif pada saat itu kebanyakan tinggal di Jakarta bahkan di luar negeri seperti Jepang, Korea dan Hongkong. Saat itu saya mengenal Blacky, Iwan, Kawaii Onna dan lain-lain yang sedang menjadi pahlawan devisa di negeri Sakura. Setelah forum ini menjadi ramai dan lebih dikenal maka member yang berdomisili di kampung halaman seperti saya semakin banyak yang bergabung.
Di sepanjang kiprahnya sampai memasuki tahun ke-4 ini, wonosari.com tidak hanya berhenti menjadi tempat diskusi online. Gerakan online wonosari.com telah banyak melahirkan kegiatan-kegiatan offline di tengah-tengah masyarakat, seperti syawalan, bakti sosial, arisan dan kegiatan-kegiatan sosial yang lain. Tentang FKOG (Forum Komunitas Online Gunungkidul) sendiri bisa dibaca di sini.
Ada hal menarik terkait dengan wonosari.com. Baca lebih lanjut
Telah menikah pada hari ini Minggu, 4 Maret 2012, seorang sahabat saya Mas Kuniman. Adalah saudari Sumiyati, putri pertama bapak Subarsono yang bertempat tinggal di dusun tentangga, dusun Senedi, yang akhirnya dipilih untuk dipersunting oleh Kuniman, sekaligus dipinangnya menjadi bagian dari keluarga besar bapak Madiko.
Saya turut berbahagia dan turut mendoakan semoga pernikahan ini benar-benar menjadi pintu gerbang menuju keluarga samara. Aamiiiin.
Pernikahan Mas Kuniman merupakan acara pernikahan kedua yang saya jadikan sebagai posting blog setelah pada tahun lalu saya menulis pernikahan Mas Slamet Haryanto di sini. Saya memang hanya memposting pernikahan orang-orang yang benar-benar istimewa saja. Ayo pernikahan siapa yang akan menjadi posting pernikahan ke-3 di blog ini? 🙂
Baru-baru ini saya dimintai tolong oleh anak-anak SMA untuk membantu mereka belajar Matematika. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa datang ke saya. Saya sendiri tidak pintar Matematika.
Ketika mereka menyodorkan contoh soal ujian nasional matematika, saya menggelengkan kepala. Kalau dulu belum bisa, sekarang saya sudah lupa? 😀 Namun apa yang terlintas di kepala saya adalah mencari bacaan tentang kalkulus dasar. Soal yang diajukan itu masih sebatas persamaan deferensial, sebenarnya. Saya dengan cepat bisa menemukan bacaan yang saya perlukan di internet.
Beberapa saat mengingat kembali topik kalkulus dengan bacaan di internet tadi, saya bisa menemukan pemecahan soal tadi dan beberapa soal terkait. Baru kemudian mulai bersama-sama anak SMA tadi belajar memecahkan beberapa soal dalam bendel lembar contoh soal UN.
Sedikit-sedikit anak-anak SMA itu saya lihat mulai paham. Akan tetapi, kemudian mereka meminta saya untuk menunjukkan ‘cara cepat’ mengerjakan soal-soal matematika. Mereka melihat seolah saya bisa mengerjakan dengan cepat dan menggunakan ‘trik tertentu’. Saya tidak nge-trik. Saya hanya paham saja dan keterampilan matematik jaman masih muda dulu masih ada sedikit tersisa. Belakangan mereka meminta saya mengajari menyelesaikan soal Matematika dengan cara ‘bimbingan belajar’.
Tidak paham apa maksud mereka, sampai mereka menunjukan trik cara cepat mengerjakan soal matematika yang didapatkan dari guru mereka di sekolah dan guru guru bimbingan belajar. Hah, saya melongo, ini buat saya cara asing. Cara yang setelah saya amati sangat tidak matematika. Saya iseng memberikan soal yang berbeda untuk topik yang sama. Saya ingin melihat apa ‘cara cepat’ itu bisa menyelesaikan soal ini. Ternyata tidak.
Kemudian datang seorang teman sebaya saya, Fransisca, yang kemudian bergabung. Melihat apa yang kami lakukan, teman sebaya saya itu berkomentar, anak-anak ini tidak perlu belajar Matematika, yang mereka perlukan adalah bisa mengerjakan soal Matematika. Menurut teman saya itu, tidaklah perlu untuk bagus menguasai konsep-konsep dasar pada Matematika. Itu terlalu lama. Bukankah soal Ujian Nasional dan SMNPTN itu itu-itu saja.
Menurut Sisca, kebanyakan anak-anak sekarang memang malas mempelajari sesuatu yang konseptual, mereka kebanyakan lebih suka memaksakan diri untuk menghafal. Makanya ada benarnya juga bila anak-anak ini tiap hari mengerjakan banyak soal matematika walaupun menggunakan cara yang “tidak matematika”. Dengan mengerjakan banyak soal latihan UN/SMNPTN tiap hari perlahan-lahan mereka akan ‘hafal’. Bukankah tujuan belajar mereka agar mendapat nilai bagus Ujian Nasional dan lolos SMNPTN.
OK. Saya hanya bisa senyum-senyum seolah saya bisa mengerti! 😀