Siapa Saja Yang Boleh Mengritik?

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman – teman saya berdebat, lebih tepatnya berdiskusi, tentang baik atau buruknya memberikan kritik terhadap suatu produk. Produk itu katakanlah sabun colek, minyak goreng, film yang tengah beredar di Cinema atau Undang – Undang yang baru saja disahkan oleh DPR.

Teman saya ada yang bilang, daripada mengritik akan lebih baik bila kita menunjukan  karya kita yang lebih baik.

Ehmmm … . Sekarang analogi-nya begini. “Kamu programmer kan?” saya melanjutkan, “Kenapa kita tidak berterimakasih bila ada seseorang yang bisa menunjukan bug pada program buatan kita meskipun orang itu tidak bisa bugs fix sekalipun.

Atau kita masih mau menunggu masalah lebih besar biar datang …”

Lakalantas Pagi Bikin Hilang Mood

Saya sering menjadi hilang mood tiap kali melihat korban kecelakaan lalu lintas pada pagi hari. Seperti pada pagi tadi.  Di perempatan Playen, perempatan arah Dengok, saya melihat seorang remaja berseragam Pramuka terkapar akibat kecelakaan lalu lintas. Saya hanya melihat sekilas dan tidak merasa tahan melihat wajah dan hidungnya yang berdarah. Hingga anak remaja berseragam Pramuka itu dievakuasi dengan mobil Katana untuk mendapatkan pertolongan medis.

Memang di perempatan ini termasuk tempat rawan kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Kecelakaan serupa sudah terjadi sejak saya masih SMP yang mana pada saat itu populasi kendaraan (sepeda motor) belum sepadat sekarang. Biasanya kendaraan dari arah Dengok melaju kencang sesukanya mengira kalau jalan melintang utara – selatan sedang tidak ada kendaraan. Padahal itu karena tidak kelihatan saja karena view-nya yang kurang terbuka. Mungkin lampu lalu lintas sedikit – sedikit bisa mengurangi lakalantas. Tetapi ya kembali pada mental pengguna jalan itu sendiri untuk menjaga etika dan keselamatan di jalanan.

Ngomong – ngomong masalah kebiasaan berlalu lintas yang abai terhadap keselamatan sesama pelalu lintas seperti yang sudah sering saya ceritakan. Kontributor besar kecelakaan  lakalantas di jalanan di Wonosari, Playen, Paliyan dan sekitarnya adalah kebiasaan anak – anak sekolah dan beberapa oknum karyawan kantoran yang sering berangkat kerja pada menit – menit terakhir menjelang jam masuk sekolah dan kantor. Mereka pikir mereka bisa sampai dengan memacu kendaraan mereka. Dan jadilah jam 06:45 WIB – 07:30 sebagai jam rawan lakalanatas. Untuk penyebab lakalantas yang kedua ini memang hanya bisa dikurangi dengan “penyadaran”. Dan sangat sulit.

 

Gnome Shell 3.0 Masih Error di Ubuntu 10.10 64 bit

Gnome shell on Ubuntu 10.10 64 bit

Gnome shell on Ubuntu 10.10 64 bit

Penasaran dengan Gnome 3.0 atau yang disebut dengan Gnome Shell yang release hari ini, saya mencoba menginstallnya di Ubuntu 10.10 Maverick Meerkat 64 bit pada laptop. Karena di website gnome3 belum menyediakan versi untuk ubuntu, baru tersedia untuk Fedora dan OpenSUSE, saya menginstall versi beta-nya dari PPA.

Sayang ketika menjalankan gnome shell dari terminal melihatnya masih tertatih tatih dengan banyak sekali error. Kalau sudah begini saya jadi malas mencoba – coba. Rasanya lebih sreg menunggu versi yang “lebih official” Error itu seperti : Baca lebih lanjut

Terbiasa Mouse, Males Pakai Trackpad

Agar lebih praktis, sebuah laptop  saat ini pasti sudah dilengkapi dengan trackpad. Tidak tanggung – tanggung trackpad pada saat ini membawa banyak kemudahan seperti multi touch, easy scrolling, dll. Penggunaan mouse, oleh desainer laptop dianggap merepotkan.

Untuk kebutuhan umum sehari hari seperti olah dokumen dan presentasi, keberadaan mouse sudah benar – benar tergantikan. Beberapa yang belum bisa digantikan, terutama saya rasakan sendiri adalah untuk image editing atau menjalankan aplikasi yang penggunaan interface GUI sangat intens.

Hal lain yang menurut saya membuat fungsi mouse sulit tergantikan sebenarnya adalah kebiasaan pengguna. Kebanyakan user yang enggan meninggalkan mouse malah kebanyakan bukan pemakai baru komputer. Mereka sudah menggunakan komputer setidaknya lebih dulu dari saya. Mereka lebih memilih lebih repot daripada sedikit demi sedikit merubah kebiasaan. Mungkin kejadian mouse yang tertukar pada presentasi penting dan tidak ada orang yang bisa dipinjami mouse bisa merubah sikap mereka terhadap teknologi yang sudah seharusnya tidak pada tempatnya 😀

Gambar dipungut dari sini.

Sekolah Mahal ya :(

 

Sedih ... Pendidikan Mahal

Sedih ... Pendidikan Mahal

Kemarin, ketika pagi – pagi saya naik angkudes (semacam angkot tapi di pedesaan) bareng anak – anak  berangkat sekolah, seorang bapa – bapa bertanya,”Sekarang berapa uang sekolah bulanan?” Ada yang menjawab 70 ribu/bulan, kalau di SMK N 1 Rp 100 ribu/bulan. Penumpang lain menjawab kalau di SMA Negeri 250 ribu/bulan.

“Wah mahal ya ….” celetuk bapak – bapak itu. Kemudian bapa – bapa itu diam. Dan saya diam – diam mengambil foto ini. 🙂

Review Opera mini 6.0 untuk Blackberry OS 5

Telat. Biar saja. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Beberapa menit setelah mengintall Operamini 6.0 pada blackberry jadul, Blackberry saya masih menggunakan Operating System 5.0.0.822 , dan menggunakannya beberapa saat membuat saya gatal untuk berlama lama mobile browsing.

Terutama tampilan yang enak dimata dan font, yang saya rasa, lebih sesuai adalah nilai dari update dari versi 5.2 sebelumnya. Desain tampilan ini berhasil mendorong saya untuk menggunakan lagi Operamini setelah agak lama saya  merasa kurang nyaman dan menggunakan browser default pada ponsel. Baca lebih lanjut

Muhamad Yunus : Belajar Mempercayai Apa Yang dilihat

Awal bulan Maret lalu, saya sekilas membaca nama Muhammad Yunus muncul di timeline twitter. Muhamad Yunus dipecat dari Grameen Bank, begitu salah satu twit. Karena Grameen Bank bangkrut? Karena kepercayaan Yunus yang berlebihan terhadap orang – orang miskin di Bangladesh?

Baru tadi malam saya sempat, eh ingat untuk mencari tahu penasaran saya akan berhentinya Muhamad Yunus dari Grameen Bank yang ia dirikan di Bangladesh pada tanggal 2 Oktober 1983. Akhirnya saya mendapatkan jawaban tentang Yunus dari sini. Dari halaman berita BBC News Indonesia. Menurut BBC News, Muhamad Yunus diberhentikan dari Direktur Pelaksana Grameen Bank karena menurut Undang Undang di Bangladesh, usia wajib pensiun adalah 60 tahun, sedangkan Yunus berumur 70 tahun. Sudah sangat jompo untuk ukuran pejabat di Bangladesh. Spekulasi lain yang dimuat di BBC News menuliskan pemberhentian ini akibat Yunus berseberangan dengan pemerintahan Liga Awani. Dia pecah dengan PM Sheikh Hasina tahun 2007 ketika berusaha membentuk partai baru. Saham pemerintah sebesar 25% di Grameen Bank cukup untuk mengistirahatkan Profesor Muhamad Yunus.

Untuk mengenal lebih Prof Muhamad Yunus bisa dibaca di halaman wiki di sini.

Tidak penting untuk berpanjang lebar membahas kenapa Yunus berhenti dari Manajemen Grameen Bank. Saya lebih tertarik dengan ide – ide Yunus untuk membebaskan rakyat Bangladesh yang pada saat itu sangat miskin dengan hanya bermodal kemampuan untuk mempercayai orang – orang. Khususnya mempercayai orang – orang miskin untuk diberikan pinjaman mikro, kalau tidak boleh disebut nano 😀 Berikut ini adalah cerita Muhamad Yunus yang saya ambil dari buku The 8th Habits yang ditulis oleh Sthepen R Covey.

[ WARNING: Posting ini sangat panjang, jadi bila tidak tertarik silahkan di skip saja 🙂 ] Baca lebih lanjut

Yuk Daftar Kufoto.com : Produk Anyar Saling Silang

Kufoto adalah … Galeri fotografi dari kamera ponsel dan kamera saku. Kufoto.com mengajak kamu untuk berani menghasilkan karya foto dengan apapun jenis kameramu. Di sini akan kamu dapati kamera pada ponsel dan kamera saku pun mampu menghasilkan foto nan menakjubkan. Cukup daftar lalu unggah fotomu di sini. Temukan komunitas yang akan semakin membuatmu berani berekspresi.

Inilah definisi layanan kufoto dari website layanan baru milik konglomerat salingsilang yang tersohor yang bermarkas di Langsat itu. 😀 Saya sudah mendaftar layanan itu pada pekan lalu. Dan sudah mengunggah beberapa foto yang saya jepret dengan ponsel melalui email client di ponsel.  Baca lebih lanjut

Standing Party! Njamani Ning Ora Njawani

Posted with WordPress for BlackBerry.

Gmail Selalu Bisa Memaksa

Mengapa saya beberapa tahun lalu tergoda berpindah layanan email dari Yahoo.com ke Gmail adalah fitur POP/IMAP yang diberikan secara cuma – cuma. Fitur serupa pada Yahoo dipaketkan dalam layanan berbayar. Yahoo yang sejak saat itu sudah menawarkan kapasitas mailbox unlimited tidak saya lihat cukup seksi. Sekitar 6 Gb kapasitas mailbox yang diberikan Google Mail saya rasa cukup. Meski kemudian saya rasa tidak akan cukup lagi untuk beberapa tahun ke depan.

Dengan fitur POP/IMAP ini harapanya, saya tidak perlu untuk membuka browser hanya untuk membaca dan mengirim email. Maklum pada saat itu internet saya belum sebaik sekarang. Meskipun sekarang tetep saja saya rasa kurang wus wussssss. Fitur POP/IMAP pada saat itu memungkinkan saya bisa membuka email melalui handphone. Sekarang Blackberry hampir bisa membuka semua email tanpa embel embel POP/IMAP enable sekalipun.

Barangkali Gmail memang lebih banyak mendapatkan keuntungan dari iklan – iklan yang dipajang pada tiap – tiap layananya dari pengguna layanan berbayar mereka. Google tidak kurang akal untuk “memaksa” user untuk melihat iklan pada web service mereka dengan tetap memberikan gratis semua layanan POP/IMAP pada gmail. Dengan Email Client yang sudah tersetting rapi pun saya mengalami sendiri gatal gatal bila belum membuka Gmail web. Baca lebih lanjut