Menghasilkan Uang Dengan Blog

Seorang teman lama saya, dalam suatu percakapan di facebook chat, menanyai saya, apakah blog saya sudah produktif (menghasilkan uang)?

Pertanyaan teman saya ini mungkin karena membaca di profil facebook saya dimana saya mencantumkan blogger sebagai pekerjaan saya. Asumsi dia, mungkin setiap pekerjaan seyogyanya menghasilkan uang. Pekerjaan sebagai mata pencarian.

Asumsi seperti itulah yang membuat teman saya itu bingung mendengar jawaban saya.  Jawaban saya, sejak awal saya tidak punya niat untuk mencari duit dari nge-blog. Nge-blog ya nge-blog saja. Kalau perlu malah mengeluarkan uang untuk nge-blog.

Teman saya itu pasti akan tambah bingung bila ia pernah membaca buku atau ikut seminar menjadi kaya raya dengan nge-blog. 😀

Kok mau ya melakukan pekerjaan yang tidak menghasilkan uang. Saya sendiri juga tidak tahu. Mungkin teman saya itu perlu merasakan sensasi beternak dan menggembalakan blog seperti saya.  hehe

Mas Kuniman Menikah

Telah menikah pada hari ini Minggu, 4 Maret 2012, seorang sahabat saya Mas Kuniman. Adalah saudari Sumiyati, putri pertama bapak Subarsono yang bertempat tinggal di dusun tentangga, dusun Senedi, yang akhirnya dipilih untuk dipersunting oleh Kuniman, sekaligus dipinangnya menjadi bagian dari keluarga besar bapak Madiko.

Pernikahan Mas Kuniman dan Sumiyati

Pernikahan Mas Kuniman dan Sumiyati

Saya turut berbahagia dan turut mendoakan semoga pernikahan ini benar-benar menjadi pintu gerbang menuju keluarga samara. Aamiiiin.

Semoga Mas Kuniman Menjadi Keluarga Samara

Pernikahan Mas Kuniman merupakan acara pernikahan kedua yang saya jadikan sebagai posting blog setelah pada tahun lalu saya menulis pernikahan Mas Slamet Haryanto di sini. Saya memang hanya memposting pernikahan orang-orang yang benar-benar istimewa saja. Ayo pernikahan siapa yang akan menjadi posting pernikahan ke-3 di blog ini? 🙂

Belajar Mengerjakan Soal Ujian

Baru-baru ini saya dimintai tolong oleh anak-anak SMA untuk membantu mereka belajar Matematika. Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa datang ke saya. Saya sendiri tidak pintar Matematika.

Ketika mereka menyodorkan contoh soal ujian nasional matematika, saya menggelengkan kepala. Kalau dulu belum bisa, sekarang saya sudah lupa? 😀 Namun apa yang terlintas di kepala saya adalah mencari bacaan tentang kalkulus dasar. Soal yang diajukan itu masih sebatas persamaan deferensial, sebenarnya. Saya dengan cepat bisa menemukan bacaan yang saya perlukan di internet.

Beberapa saat mengingat kembali topik kalkulus dengan bacaan di internet tadi, saya bisa menemukan pemecahan soal tadi dan beberapa soal terkait. Baru kemudian mulai bersama-sama anak SMA tadi belajar memecahkan beberapa soal dalam bendel lembar contoh soal UN.

Sedikit-sedikit anak-anak SMA itu saya lihat mulai paham. Akan tetapi, kemudian mereka meminta saya untuk menunjukkan ‘cara cepat’ mengerjakan soal-soal matematika. Mereka melihat seolah saya bisa mengerjakan dengan cepat dan menggunakan ‘trik tertentu’. Saya tidak nge-trik. Saya hanya paham saja dan keterampilan matematik jaman masih muda dulu masih ada sedikit tersisa. Belakangan mereka meminta saya mengajari menyelesaikan soal Matematika dengan cara ‘bimbingan belajar’.

Tidak paham apa maksud mereka, sampai mereka menunjukan trik cara cepat mengerjakan soal matematika yang didapatkan dari guru mereka di sekolah dan guru guru bimbingan belajar. Hah, saya melongo, ini buat saya cara asing. Cara yang setelah saya amati sangat tidak matematika. Saya iseng memberikan soal yang berbeda untuk topik yang sama. Saya ingin melihat apa ‘cara cepat’ itu bisa menyelesaikan soal ini. Ternyata tidak.

Kemudian datang seorang teman sebaya saya, Fransisca, yang kemudian bergabung. Melihat apa yang kami lakukan, teman sebaya saya itu berkomentar, anak-anak ini tidak perlu belajar Matematika, yang mereka perlukan adalah bisa mengerjakan soal Matematika. Menurut teman saya itu, tidaklah perlu untuk bagus menguasai konsep-konsep dasar pada Matematika. Itu terlalu lama. Bukankah soal Ujian Nasional dan SMNPTN itu itu-itu saja.

Menurut Sisca, kebanyakan anak-anak sekarang memang malas mempelajari sesuatu yang konseptual, mereka kebanyakan lebih suka memaksakan diri untuk menghafal. Makanya ada benarnya juga bila anak-anak ini tiap hari mengerjakan banyak soal matematika walaupun menggunakan cara yang “tidak matematika”. Dengan mengerjakan banyak soal latihan UN/SMNPTN tiap hari perlahan-lahan mereka akan ‘hafal’. Bukankah tujuan belajar mereka agar mendapat nilai bagus Ujian Nasional dan lolos SMNPTN.

OK. Saya hanya bisa senyum-senyum seolah saya bisa mengerti! 😀

Etika Menulis Email

Saya menghela nafas mendapatkan email yang saya tulis dengan santun, dengan sistematika, dengan kalimat dan typo yang dicermati, oleh suatu organisasi dijawab dengan beberapa kalimat singkat yang bertabur kata-kata singkatan. Pikir saya ini email bukan sms yang harus hemat karakter.

Itu beberapa waktu dulu. Sekarang saya tidak kaget lagi. Sudah biasa.

Rupanya etika menulis email yang saya pelajari di bangku sekolah dulu itu sekarang sudah tidak sepenuhnya berlaku. Harus diakui sekarang orang maunya ‘to the point’, tidak punya waktu untuk berbasa basi lagi. Penyingkatan kata dan kalimat mungkin penting bagi mereka yang menjawab atau menulis email dari mobile device.

Namun saya sendiri masih enggan untuk meninggalkan cara klasik menulis dan membalas email. Saya tidak ingin menulis “Dear Prof XYZ … Thanks you so muuch”

Yes! I am so 90’s 😀

2012 BBM Naik Lagi

Untuk yang kesekian kalinya dalam 10 tahun terakhir, pemerintah kita akan menaikan harga bahan bakar bersubsidi. Dengan alasan yang sama dengan tiap kenaikan harga BBM bersubsidi tahun-tahun sebelumnya. Harga minyak dunia yang melambung yang membuat anggaran negara tidak cukup kuat menanggung beban subsidi yang berlipat. Katanya kali ini harga minyak dunia berkisar US$ 150. Sementara asumsi harga minyak dunia APBN … (berapa?)

Seperti pada kenaikan harga bahan bakar minyak sebelumnya, kenaikan harga BBM kali ini pun mendapat tanggapan penentangan dimana-mana. Tidak di TV, tidak di warung kopi, tidak di gardu ronda, semua orang jadi pandai menemukan 1001 dampak buruk keputusan pemerintah yang tidak populer ini. Semua orang seolah menemukan semua alasan untuk gelisah dan semua alasan untuk gagal. Kenaikan harga BBM seolah menghembuskan badai pesimisme yang sangat dahsyat.

Eh, benar ya? Saya sendiri merasa berat dengan tiap kali kenaikan tarif angkot yang tiap hari saya tumpangi tiap kali terjadi kenaikan harga bensin bersubsidi. Seperti ketika tarif angkot yang biasanya Rp 2.000,- mendadak menjadi Rp 3.000. Besok kalau bensin dinaikan sebesar 30% akan persis menaikan tarif angkot menjadi Rp 4.000,- 😀

Memang, adalah tugas pemerintah dan fungsi negara untuk memikirkan bagaimana caranya meminimalisasi dampak buruk tiap kali kenaikan harga bahan bakar bersubsidi ini dilakukan. Termasuk tugas pemerintah untuk mengurangi pesimisme di tengah-tengah masyarakat.

Permasalahannya: Untuk mengurangi pesimisme itu diperlukan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap pemerintah. Apakah pemerintah saat ini cukup punya deposit kredibilitas yang memadai. Baca lebih lanjut

Cangkriman ing TVRI Yogyakarta

Wonten ing kalodangan meniko keparengo kulo nyerat posting mawi boso Jawi. Sedherengengipun kulo nyuwun agunging pangaksami mbokbilih kathah lepat wonten ing saklebeting seratan meniko. Nyuwun sewu meniko awit kulo piyambak ingkang awis-awis nyerat mawi boso Jawi, ugi cubluking seserapan babagan olah krida boso Jawi.

Mekaten, nembe mawon kulo,  bapak lan simbok kesengsem kalian bagus Angger Sukisno. Sinten Angger Sukisno meniko? Angger Sukisno injih meniko satunggaling pranata cara ing adicara Cangkriman ingkang kagiaraken dening TVRI stasiun Ngayogyakarto saben dinten Rabu tabuh enem sonten dumugi tabuh pitu. Injih Cangkriman meniko sakwijinipun acara arupi kuis kados ingkang limrah dipun pirsani wonten ing TV-TV nasional ingkang langkung kawentar.

Ingkang andamel Cangkriman benten lan peni katimbang kuis sanesipun, nggih meniko ing saklebeting kuis, Cangkriman dipun dherekaken nganggem boso Jawi kromo inggil saking purwo dumugi wusana tanpa sinelingan basa Indonesia punapa malih basa Inggris lan saben-saben kairingan dening sekar keroncong Jawi. Baca lebih lanjut

Jarwadi Blog di Nokia Ovi Store

Akhirnya saya menghadirkan aplikasi di Nokia Ovi Store. Nama aplikasi yang saya pajang di ovi adalah Jarwadi Personal Blog. Sesuai namanya, aplikasi ini berisikan  konten yang terdiri dari blog ini  dan photo blog  saya di sebelah. Hal yang tidak kalah membanggakan selain nama saya bisa nampang di Ovi store adalah aplikasi ini saya buat dengan tangan saya sendiri. 😀

Kok tiba-tiba saya jadi pinter membuat aplikasi di handphone (mobile application)? Sabar. Nanti saya bagi rahasianya. hihi

Sekarang, bila Anda mempunya ponsel Nokia yang tidak jadul-jadul amat, tolong bantu saya test aplikasi ini. Aplikasi bisa di download di:

http://store.ovi.com/content/257500

Sejujurnya, saya membuat aplikasi ini sebatas bertujuan untuk mencoba layanan Nokia Ovi yang berfungsi untuk menfasilitasi agar semua orang, baik itu programer, developer, bukan keduanya, maupun rakyat jelata seperti saya bisa membuat aplikasi yang bermanfaat dengan mudah. Baca lebih lanjut

84th Academy Award 2012

Robert Altman, Meryl Streep, Lily Tomlin

Robert Altman, Meryl Streep, Lily Tomlin

Gambar diambil dari sini.

Daftar nominasi dan pemenang Academy Award ke 84 tahun 2012 yang diselenggarakan pagi tadi (minggu malam waktu Amerika sono) dapat dibaca di The 84th Annual Academy Awards.

Hihi, karena tidak langganan TV kabel sekaligus jam-jam tadi itu adalah jam kerja saya, maka saya pun hanya bisa sedikit-sedikit  melirik kegaduhan dan kesakralan academy award kemegahan itu melalui linimasa twitter.

Konon, Indosiar, TV lokal yang bisa ditangkap oleh antenna UHF dari tempat saya tinggal akan menyiarkan tayangan ulang (re-run). Masalahnya kapan jam berapa? Semoga saya bisa menonton Meryl Streep si Iron Lady.

Republik Twitter #republiktwitter

Poster Republik Twitter

Poster Republik Twitter

Cinta. Mondar-mandir di timeline. Kemudian turun ke hati. Begitulah yang terjadi pada Sukmo (Abimana Arya). Mahasiswa tingkat akhir di Jogja, twitter addict yang nekad ke Jakarta mengikuti logika hati untuk kopdaran dengan seorang wartawati tambatan hati yang bekerja di majalah Linimasa. Ia di twitter dikenal dengan jurnalis bawel, @dyahhanum.

Bukan sebuah perjalanan mulus menemukan cinta, alih-alih Sukmo malah menemukan keminderannya ketika di suatu Cafe dimana mereka janjian ketemu, ia melihat Dyah Hanum (Laura Basuki) jauh melebihi ekspektasinya. Cantik, sangat Jakarta dan terlihat  strata sosial tinggi. Sedang disamperin  cowo berkelas lagi. Ngga level, pikir Sukmo.

Sukmo pun mundur teratur urung menemui Hanum. Ia menjatuhkan diri dalam kegalauan. Dalam keputus asaan ia hanya bisa lunthang-lanthung, menumpahkan segala kekecewaanya dengan twit-twit galau.

Tanpa bermaksud mengejek Sukmo, saya diam-diam senyum-senyum seorangan di dalam gelap ruang bioskop sambil membatin, salah si Sukmo sendiri kenapa sejak awal memilih menggunakan account twitter @LoroSukmo. Dalam bahasa Jawa, loro sukmo berarti sakit jiwa. Baca lebih lanjut

Menilai Uji Kompetensi

Oleh corporate dimana biasanya saya nongkrong, saya dimintai bantuan untuk mewakili mereka memenuhi permintaan beberapa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) untuk menjadi assessor eksternal (penguji dari industri) untuk Uji Kompetensi Produktif. Uji Kompetensi Produktif itu semacam tugas akhir untuk siswa-siswi kelas 3 SMK sebagai salah satu penentu kelulusan.

Menjadi penguji yang kerjanya menilai dan membubuhkan tanda tangan dan angka-angka itu seolah pekerjaan yang mudah. Menurut saya tidak demikian. Apalagi nilai-nilai yang akan diberikan ini sedikit banyak berpengaruh terhadap masa depan seseorang. Apalagi kali ini yang akan dinilai adalah kompetensi Multimedia. Yang mana sebagian yang dinilai adalah kemampuan seni. Bukan hanya teknik mengoperasikan software multimedia.

Jadi bagian kerja assessor adalah menilai karya seni siswa-siswi SMK? Ini mirip dengan mencicipi makanan. Selera (dan preferensi)  sangat menentukan. Jadi bagaimana bisa memberikan penilaian yang obyektif. 🙂 Ini menjadi beban moral tersendiri. Baca lebih lanjut