Harga Berbanding Kualitas?

Beberapa waktu yang lalu, saya main ke rumah seorang teman lama. Kebetulan saat itu teman saya sedang menyetem/tune gitar akustik miliknya. Sayang ada beberapa senar gitar yang sudah rusak. Ada yang putus dan ada yang kusut. Gitar itu pun kemudian digantung lagi.

Hari berikutnya, kebetulan saya ke kota. Teringat gitar teman saya yang belum bersenar, saya pun mampir ke toko alat-alat musik untuk membeli senar gitar. Di toko alat-alat musik itu saya ditanya mau beli senar nomor berapa. Lupa senar nomer berapa di gitar teman saya yang rusak/kusut, saya pun ingin membeli satu set senar gitar. Penjaga toko pun menyodorkan banyak jenis senar gitar dari harga termurah sampai yang mahal.

Bingung set senar gitar mana yang sebaiknya saya beli. Saya tidak tahu bagaimana cara memilih senar gitar yang bagus kualitasnya. 😀 Penjaga toko itu pun enggan menyarankan saya mana set senar gitar yang baik. 

Orang Jawa bilang, “Ana rega ana rupa“. Ada harga ada kualitas. Menggunakan kaidah ini maka set senar yang paling mahal adalah yang bagus kualitasnya. Kaidah ini benar ngga sih? Yaudah, kalau ragu diiyakan saja. 😀

Namun kali ini saya tidak membeli set senar yang paling mahal. Kaidah orang Jawa di atas masih saya tambahkan parameter kedua saya, yaitu yang kemasannya bagus, yang desain kemasannya lebih saya sukai. Jadilah saya membeli set senar gitar yang harganya nomer dua dari atas tetapi yang desain kemasannya terbaik menurut saya. Ini subyektif ya?

Nah, Ini nih suara senar gitar seharga Rp 42.500. Ada yang tahu apa judul lagu yang dicoba dimainkan oleh teman saya ini?

 

Memperbaiki Power Amplifier Rakitan

2 akhir pekan terakhir ini saya disibukan dengan hobby baru saya, yaitu ngoprek elektronika. Bukan benar-benar hobby baru sebetulnya karena sejatinya ini adalah hobby saya sejak kecil. Bahkan akhirnya saya pun sekolah jurusan elektronika. Jadi jangan heran ketika saya keasyikan ngoprek sampai-sampai blog ini terlantar. Sepi posting, hehe.

Niatan ngoprek saya kali sebenarnya bukanlah murni ingin bersenang-senang dengan tenol dan solder. Ini karena kebetulan Power Amplifier yang saya rakit (DIY (Do It  Yourself) Amplifier) sudah beberapa lama mangkrak, tidak terurus. Kebetulan pula saya membutuhkan sebuah Power Amp karena kangen dengan musik yang diputar dengan volume keras-keras. Dipikir-pikir daripada membeli Power Ampli baru, Amplifier DIY lama ini bisa diberdayakan kembali.

Berbekal peralatan seadanya, saat ini saya sudah tidak punya perlengkapan ngoprek proyek elektronika seperti dulu, alat-alat seperti multitester sudah lupa siapa yang pinjam kalau saya telah lupa dimana dulu menaruhnya. 😀 Saya mula-mula memeriksa kerusakan berbekal pengamatan visual saja. Tentu saja cara ini sangat tricky karena kebanyakan kerusakan pada komponen elektronika tidak bisa diamati secara visual. Bisanya bila kita mengujinya dengan serangkaian pengukuran.

Langkah pertama yang saya lakukan dengan power amplifier saya adalah dengan membukanya dan membersihkan dari debu-debu yang menggumpal. Setelah itu baru memeriksa tiap sambungan, konektor dan pengabelannya. Kamudian saya mencoba menghubungkan Amplifier ini dengan speaker dan input saya sambungkan ke laptop, karena ternyata saya sudah tidak ada head unit di rumah. 

Setelah semua tersambung, rupanya Amplifier ini masih berbunyi. Meski beberapa masalah langsung ketahuan. Masalah ini diantaranya adalah suara sember. Yang setelah saya cek ternyata speaker saya yang lama tidak terpakai sudah robek-robek. :-D. Masalah selanjutnya adalah ketika saya mencoba mengatur volume, bass, treble dan balance. Masalah yang ini pun solusinya mudah, karena kerusakan ini bisa dipastikan Potensiometer yang aus/kotor yang akhirnya perlu diganti.

Saya pun segera ke toko elektronika untuk membeli potensio meter dan speaker. Suara menjadi lebih baik setelah speaker dan potensio saya ganti. Tapi tetap saja suaranya belum seperti yang saya inginkan. Saya pun melakukan pemeriksaan lanjutan sampai saya memutuskan penggantian beberapa elco, resistor, capasitor dan yang paling mahal adalah IC STK 443. Sampai langkah terakhir ini, power amplifier telah sembuh dari sakitnya dan bisa kembali mengalunkan suara musik yang volume nya mampu memenuhi kamar saya. 😀

[[Playing : Queen – Love of My Life]] jreeeeeeeeng!

Lurah Desa Grogol Habis Masa Jabatan

Pada pertengahan tahun 2014 ini, Lurah (atau disebut juga kepala desa) desa dimana saya tinggal telah habis masa jabatannya. Bila umumnya tiap lurah lama habis masa jabatannya segera dilangsungkan pemilihan kepala desa baru, pada tahun ini agak berbeda. Pemilihan Kepala Desa baru atau Pilkades ditunda diselenggarakan karena tahun 2014 ini bertepatan dengan tahun politik, tahun dimana negara sedang menyelenggarakan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden. Ini barangkali demi alasan stabilitas politik.

Karena lurah lama sudah habis masa jabatannya, sedangkan lurah baru rencananya baru akan dipilih pada tahun depan, tahun 2015, maka ketugasan kepala desa saat ini dipegang oleh seorang Plt (pelaksana tugas). Plt yang dipilih adalah salah seorang perangkat desa, yaitu Ngadiyono. Ngadiyono sehari-harinya merupan seorang perangkat desa yang memegan peranan Kaur Pembangunan.

Hingar bingar Pemilu 2014 ini membuat peristiwa penting di desa Grogol ini tertutupi. Tidak banyak masyarakat yang tahu tentang periode pergantian kepemimpinan di desa ini. Bahkan saya pun baru mengetahui hal ketika seorang teman memposting kabar ini di group pengguna Facebook untuk desa dimana kami tinggal. Kabar tentang adanya acara perpisahan lurah lama dengan warga dan perangkat desa pun baru saya ketahui melalui posting di sosial media Facebook.

Bagi saya, teman-teman pemuda pemudi yang sebagaya dan masyarakat, di desa dimana saya tinggal, habisnya masa jabatan kepala desa ini adalah sesuatu yang dinanti, harapan yang dinanti-nantikan. Kami menginginkan kepala desa yang lebih baik yang bisa memimpin perubahan ke arah kemajuan.

Adanya pergantian kepemimpinan di desa Grogol kami harapkan merupakan pintu masuk untuk tampilnya generasi muda untuk tampil menjadi pemimpin perubahan.

 

Gaya Hidup Sederhana

Beberapa hari yang lalu ada suatu posting yang terbaca menarik di beranda Facebook saya. Posting ini datang dari teman FB saya yang kebetulan menjadi kepala desa tetangga, tepatnya kepala desa Logandeng. Posting menarik itu adalah foto suatu rapat ibu-ibu PKK yang dijelaskan mengusung tema “Sosialisasi Gaya Hidup Sederhana”.

Hidup Sederhana

Hmm.. sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan “gaya hidup sederhana”?

Berbicara tentang gaya hidup sederhana mengingatkan saya pada pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Di sekolah dasar dulu, saya dan teman-teman oleh ibu guru diajari bahwa hidup sederhana itu sesuai kemampuan, tidak berlebihan, tidak mewah. Ada pengertian lain?

Namun kemudian saya malah berpikir begini: bila gaya hidup sederhana adalah hidup tidak mewah apakah sekarang ini hidup mewah telah menjadi begitu mudahnya sehingga perlu diperangi sampai ke desa-desa? hehe

Selamat Hari Senin man teman 🙂

 

Madam Tan Ristorante, Italian Feast with Indonesian Twist

Bila pada siang hari beberapa bulan yang lalu saya menikmati Nasi Bakar Tangkuban Perahu yang gurih dan tenggorokan saya disegarkan oleh siraman minuman ber-es di Madam Tan Wok Bar di jalan C Simanjuntak Yogyakarta (baca ceritanya di SINI),  pada akhir pekan lalu untuk kedua kalinya saya ke Madam Tan Resto. Bedanya akhir pekan lalu saya tidak ke Wok Bar, tetapi ke Madam Tan Ristorante yang terletak di Hotel Aston Garden di Jalan Urip Sumoharjo 37, Yogyakarta.

Tentu saja di Madam Tan Ristorante saya tidak akan menemukan Nasi Bakar yang rasanya gurih banget itu dan masakan yang sangat Indonesia lainnya sebagaimana di Wok Bar yang di Jalan C Simanjuntak. Sesuai namanya Madam Tan Ristorante –ristorante merupakan kata dalam bahasa Italia yang berarti Restoran–, di sini akan tersedia semua jenis pizza dan pasta.

Sabtu, 17 Mei 2014, saya dan beberapa teman blogger dan onliner di Jogja memang diundang oleh Madam Tan Ristorante pada acara icip-Icip/food tasting. Acara icip-icip yang di selenggarakan di halaman yang luas di bawah tenda yang sangat besar itu dipandu secara langsung oleh seorang chef yang bertanggung jawab terhadap semua menu dan cita rasa di Madam Tan Ristorente. Adalah chef Fuuzi atau Muhammad Fuuzi, seorang pria yang sebelumnya berprofesi sebagai chef di Amerika ini yang kemudian membeberkan semua menu secara lengkap mulai dari ide, proses, bahan-bahan sampai suatu masakan tiba di meja penyajian.

Apabila menu makanan merupakan sebuah produk budaya, maka apa yang saya tangkap dari presentasi chef Fuuzi, Madam Tan Ristorente mengusung konsep akulturasi budaya, yaitu budaya Italia (dengan pizza dan pasta) dengan budaya (masakan) Indonesia. Beberapa menu yang diperkenalkan kepada kami adalah Pizza Rendang, Pizza Tuna Rica-Rica, Piza Semur, Roast Baby Chicken, Spaghetti Ayam Rica-Rica dan menu penutup Mango Tango.

Menurut chef Fuuzi semua menu di sini tidak hanya istimewa karena menggunakan topping dan taste Indonesia tetapi juga semua bahan-bahan yang digunakan semua berasal dari Indonesia. Istimewanya untuk memperkuat taste Indonesia, semua pizza di sini tidak dimasak menggunakan oven listrik atau oven berbahan bakar gas, kayu bakar oleh chef Fuuzi dipercayai memberikan keunikan rasa tersendiri. Keyakinan chef Fuuzi tetap menggunakan kayu bakar ini mengingatkan saya kepada nenek saya dulu yang selalu lebih suka ribet dalam memasak yang mana kayu bakar dibilangnya tidak tergantikan, memasak dengan kompor minyak/kompor gas tidak enak. Sedangkan untuk memasak spaghetti, chef Fuuzi mengawinkan 3 budaya (memasak) yang berbeda, yaitu budaya Itali dengan speghettinya, budaya Indonesia dengan kayu bakarnya dan budaya Cina dengan alat masaknya. Saya lupa apa nama alat memasak Cina yang sering kita lihat di TV sampai apinya masuk membakar.

Nah, setelah berdiri dan motret motret, semua peserta icip-icip dipersilakan kembali ke meja dan tempat duduk masing-masing.

Chicken Quesadillas

Ini merupakan makanan yang pertama kali dihidangkan, sebagai makanan pembuka. Begitu porsi Chicken Quesadillas sampai di meja saya, saya tertarik dengan penyajianya dengan taburan beberapa jenis sayur. Lapisan Quesadillas nampak tidak terlalu kering tetapi juga tidak nampak lembek. Kita saya mencicipi pertama kali, gurih yang pas terasa nyaman di lidah. Melumat dan menelannya pun terasa enak. Sayur-sayuran sebagai bagian dari Quesadillas ini memberikan tambahan rasa renyah ketika dikunyah-kunyah.

Spaghetti Ayam Rica-Rica

Menu kedua ini hadir dengan warna merah cabe yang menantang di atas mie yang warnanya kuning agak putih namun terkesan bersih dan mewah. Mulanya saya ragu apakah saya akan mencicipi Spaghetti Ayam Rica-Rica ini apa tidak. Saya sendiri memang cenderung menghindari makanan pedas karena lambung saya yang sensitif. Mie juga saya hindari mengingat maag saya juga tidak cukup ramah dengan mie.

Namun sejenak kemudian, nafsu menanggalkan kehati-hatian saya akan makanan. Pikir saya sekali-kali tidak apa. Saya pun segera mengambil garpu, memilin mie dan pelan-pelan menikmatinya dengan sedikit was-was. Sampai ketika saya sampai pada bagian yang berlumar saos merah saya merasa lega. Saos rica-rica ini tidak sepedas warnanya. Bahkan bisa dikatakan tidak pedas. Syukurlah aman.

Pizza Rendang, Pizza Tuna Rica-Rica dan Pizza Semur

Sebenarnya saya bukanlah penggemar Pizza. Saya bukanlah orang yang bisa menikmati makan pizza. Saya biasanya memesan Pizza hanya untuk menemani atau ‘nglegani‘ teman-teman.

Tetapi Pizza Rendang Madam Tan yang konon menggunakan resep dari chef Wiliam Wongso ini mengakomodasi lidah saya yang sangat njawani. Rasa gurih daging sapi dan rempah-rempah beresepkan Rendang dari Sumatra di atas roti pizza seolah menjadi penyesuai pizza dengan syaraf-syaraf lidah saya. Sementara Pizza Tuna Rica dan Pizza Semur saya tidak bisa mengomentarinya lebih banyak, yang jelas ketiga jenis pizza rasa Indonesia yang disajikan ke saya bisa habis tanpa sisa.

Yang jelas bila kelak ada teman-teman saya yang ingin mengajak makan pizza maka saya akan memilih yang di Madam Tan Ristorante. Terserah teman-teman saya mau memesan pizza yang seperti apa, yang jelas pizza rendang -lah yang akan saya pilih untuk diri saya sendiri. 😀

Roast Baby Chicken

Ngomong-ngomong, olahan daging ayam merupakan makanan yang paling sering saya pesan. Saya suka semua olahan ayam, baik itu masakan Jawa, Indonesia, Asia, Eropa maupun fast food macam KFC dan Mac D. Saya senang langsung senang ketika tahu salah satu yang dihidangkan untuk dicicipi adalah Roast Baby Chicken. Padahal apa tidak sudah kenyang coba dengan telah melahap Chicken Quesadillas, Spaghetti Ayam Rica, dan 3 jenis Pizza.

Roast Baby Chicken ala Madam Tan ini disajikan dalam presentasi yang sangat fotogenic. Jadi jangan heran bila saya malah sibuk memotret dengan ponsel alih-alih segera mencicipinya.

Roast Baby Chiken ini mempunyai rasa yang unik dengan saos seperti saos kacang yang kita jumpai ketika membeli sate ayam Madura. Tapi percayalah saos untuk Roast Baby Chicken Madam Tan ini mempunyai rasa yang berbeda. Ketika kamu menanyakan kepada Chef Fuuzi dibuat dari apa, rupanya chef Fuuzi tidak mau sedikit buka-buka rahasia dapurnya. Jangan menebak-nebak chef Fuuzi menggunakan minyak babi ya, semua makanan di Madam Tan itu 100% halal.

Karena menggunakan ayam yang memang muda, kata chef Fuuzi dengan ayam yang bobotnya kurang dari 500 gram per ekor membuat daging ayamnya terasa empuk, mudah dikunyah dan tidak mudah tertinggal di gigi. Ini penting bagi yang gigi nya tak rapi. 😀

Mango Tango

Sebagai dessert adalah Mango Tango. Dari namanya mudah ditebak makanan ini berbahan apa dan berbentuk seperti apa. Tapi bukan Madam Tan kalau tidak menyajikannya dalam presentasi yang fotogenik.

Sekali lagi karena perut saya tidak ramah dengan segala makanan asam, saya agak paranoid sebelum mencoba mencicipi Mango Tango yang aromanya saja langsung menembus dinding otak. Apa akhirnya tentu sekali lagi saya tidak bisa untuk menahan diri dari godaan Mango Tango. Untuk mengkonfirmasi enaknya Mango Tango ini.

***

Madam Tan Ristorante yang terletak di komplek Hotel Aston Garden yang beralamat di Jalan Urip Sumoharjo no 37 Yogyakarta tentu saja tidak hanya menawarkan ke-enam menu yang kami cicipi. Keenam menu di atas hanyalah sebagian yang kami cicipi sebagai menu baru.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai menu makanan dan minuman yang menjadi andalan Madam Tan Ristorante silakan langsung saja membuka halaman web http://madamtan.com atau mengikuti akun twitter dan instagram: @MadamTanResto

Sedikit kabar baik yang saya bocorkan di sini adalah bahwa semua makan enak dengan Italian style ini berharga sangat Jogja, cukup terjangkau untuk kantong orang kebanyakan, termasuk saya. Untuk menikmati satu loyang pizza topping daging rendang berdiameter 28 cm bisa didapatkan dengan harga kurang dari empat puluh ribu rupiah.

 

 

Pemilu 2014 Brutal

Saya sendiri datang ke TPS bukan untuk mencoblos calon legislatif pada Pemilu 2014 yang berlangsung pada tanggal 9 April 2014 yang lalu. Saya datang ke TPS bermaksud untuk merusak/menggugurkan kartu suara yang menjadi hak saya. Saya merusak kartu suara dengan cara mencoblos logo KPU dan mencoblos tanpa membuka kartu suara. Ini saya pikir penting agar surat suara yang tidak tercoblos, tidak digunakan oleh pemilih tidak disalah gunakan.

Pada pemilihan legislatif 2014 ini saya memang memutuskan untuk golput, untuk tidak memilih calon anggota legislatif. Karena menurut saya tidak ada calon anggota legislatif dan partai yang baik yang bisa mewakili suara saya di DPR/MPR/legislatif. Jangankan memilih caleg yang bagus, yang baik, memilih yang tidak terlalu jelek dari yang jelek-jelek sekalipun saya tidak punya ide. It is almost impossible  to determine even the lesser evil.

Betapa tidak, tiap hari kita melihat tontonan banyak anggota DPR yang ditangkap KPK karena kasus korupsi, anggota DPR yang tertangkap media berselingkuh, janji-janji yang mereka ingkari, tidak ada terlihat niat baik dan keberpihakan para anggota DPR kepada pemilih mereka sendiri, tidak ada keperpihakan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat yang konon mereka wakili. Para “wakil rakyat” itu pasti lebih taat pada kepentingan partai daripada yang ingin disuarakan masyarakat. Juga tingkah banyak anggota DPR yang memamerkan watak kekanak-kanakan mereka di sembarang tempat.

Jadi apa salahnya bila saya menggunakan hak pilih saya untuk memilih untuk tidak memilih. Untuk memilih tidak mempunyai wakil sama sekali di gedung DPR.

Pemilu Paling Brutal

Entah kata apalagi yang tepat saya gunakan untuk menyebut Pemilihan Umum kali ini. Kali ini saya menyebutnya sebagai Pemilu yang paling brutal yang pernah saya alami. Sesuatu yang bahkan tidak saya lihat atau baca pada Pemilu-Pemilu pada jaman orde baru.

Kebrutalan itu adalah penularan kebatilan yang dilakukan oleh para anggota DPR dan para calon anggota DPR. Saat ini mengenai bobroknya para anggota DPR seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Sudah jelas, cetha wela-wela, begitu kata orang Jawa. Harapan orang-orang yang hampir putus asa dengan tingkah para anggota DPR adalah hendaknya jangan menularkan kebobrokan itu kepada masyarakat. Tabiat korupsi dan rendah moral itu “pek pek’en dhewe”. Kenyataannya tidak demikian. Cela-cela itu ditularkan dari para calon anggota DPR kepada masyarakat dengan cara politik uang, dengan cara bagi-bagi duit secara terang-terangan tanpa tedheng aling-aling, dengan cara menyuap Panitia Pemilihan untuk memanipulasi hasil penghitungan suara, dan lain-lain.

Yowis, sudahlah …

Prajurit Kraton Kenapa Tua-Tua

Prajurit Kraton di Flyover Janti

Prajurit Kraton di Flyover Janti

Gambar-gambar prajurit kraton yang terpapar dalam ukuran sangat besar di pilar-pilar jembatan layang ini menarik perhatian saya. Alih-alih melanjutkan perjalanan, saya malah mendekat ke pilar jembatan mengamati lebih dekat gambar-gambar prajurit kraton itu. Kemudian memotretnya dengan iPhone saya.

Ruang-ruang publik seperti pilar jembatan layang digunakan untuk menempatkan simbol-simbol budaya menurut saya bagus. Lebih bagus daripada sekedar dijadikan lahan mencari uang oleh Pemerintah Kota. Namun yang sebenarnya menarik bagi saya adalah penggambaran prajurit kraton itu sendiri. Kenapa prajurit kraton digambarkan berukuran besar sebagai sosok yang tua-tua? Mengapa prajurit kraton tidak digambarkan sebagai sosok pemuda yang gagah berani. Sosok yang siap berperang melawan musuh.

Prajurit kraton yang digambarkan sebagai orang-orang tua yang berpakaian prajurit itu memang sebenarnya menggambarkan realita, kenyataan bahwa saat ini prajurit kraton, sepanjang yang saya tahu, memang diisi oleh bapak-bapak yang sudah berusia tidak muda lagi. Setidaknya memang demikian yang kita lihat ketika menyaksikan parade (iring-iringan) Prajurit Kraton pada acara-acara tertentu seperti Grebeg Maulud dan lain-lain.

Parade Prajurit Kraton di Upacara Grebeg Maulud

Parade Prajurit Kraton di Upacara Grebeg Maulud

Parade Prajurit Kraton di Acara Grebeg Maulud

Parade Prajurit Kraton di Acara Grebeg Maulud

Saya tidak tahu apakah prajurit kraton memang dipilih pria yang sudah senior atau pemuda sekarang kurang tertarik menjadi prajurit kraton. Saya hanya membayangkan bila yang digambarkan dijembatan layang adalah sosok prajurit yang muda, gagah, ganteng dan kelihatan pintar.

 

Musim Panen di Gunungkidul

Saat ini semua penduduk di desa dimana saya tinggal sedang menikmati masa-masa bahagia. Bukan bahagia menyambut Pemilihan Umum yang jatuh pada tanggal 9 April kelak tentu saja. Musim panenlah yang membuat penduduk desa berbahagia.

Musim panen kali ini tentu disyukuri. Panen Jagung melimpah. Apalagi panenan padi, lebih melimpah. Curah hujan yang bagus dari musim tanam sampai menjelang musim panen padi adalah penyebab bagusnya panen padi kali ini. Begitu juga pola tanam para petani yang sudah lebih baik. Panenan padi yang melimpah di Gunungkidul ini semoga bisa menjadi tambahan cadangan pangan ketika panen padi di daerah-daerah lumbung seperti di Sukabumi, di Pantura dan lain-lain sedang menurun akibat dilanda banjir bandang.

Beban kerja para petani di musim panen memang selalu meningkat. Betapa tidak ketika para petani harus berburu dengan waktu untuk memastikan padi, jagung, kedelai dan panenan lain terselesaikan dengan baik dan cepat agar bisa segera menanam untuk musim berikutnya. Tak heran terkadang saya mendengar para petani sedikit berkeluh karena kelelahan. Mendengar ada petani mengeluh demikian, biasanya saya menimpali, “Selelah-lelahnya orang bekerja ekstra mengurus panen, orang-orang yang tidak panen tentu akan lebih lelah, cape hati cape pikiran :)”

Memotret Lukisan

Memotret dan melukis adalah sama-sama cabang dari seni rupa. Sama-sama menuangkan kreatifitas imajinasi dalam bentuk visual. Banyak orang mengira benda-benda yang terlihat oleh mata adalah obyek foto. Sebenarnya apa yang dipotret oleh seorang fotografer bukanlah apa yang nampak oleh mata setiap orang. Sebenarnya mereka memotret apa yang ada di ruang imaji fotografer. Atau rekaan fotografer untuk menyampaikan suatu pesan tertentu dalam bentuk karya visual. Begitu juga dengan pelukis. Kita sering kali melihat obyek lukisan yang sepintas susah dicerna, nampak sureal. Karena memang apa yang terlukis di atas kanvas adalah buah cipta dan khayal sang pelukis.

Perbedaan memotret dan melukis menurut saya tipis. Melukis itu menggunakan media seperti cat air, acrylic, pastel, pensil dan sejenisnya. Sedangkan bagi saya, memotret adalah melukis dengan cahaya. 😀

Beberapa malam yang lalu, dengan Mas Joko saya menonton suatu pameran yang bertajuk “Cerak Watu Adoh Ratu” di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, Gunungkidul. Suatu pameran yang diselenggarakan oleh Ikatan Perupa Gunungkidul (IPG). Sayangnya malam itu saya datang pada waktu yang kurang tepat. Pada waktu ketika karya-karya yang dipamerkan sudah mulai diturunkan karena malam itu pameran sudah hampir tutup. Sedikit penghiburan untuk saya adalah beberapa karya lukis yang masih terpajang.

Dari lukisan-lukisan yang masih terpajang itu, saya pun mengamati satu per satu sambil memotretnya. Berikut ini adalah lukisan yang saya potret yang paling menarik perhatian saya. Saya pikir lukisan ini bisa ditafsirkan secara luas dalam perspektif kita masing-masing.

Silakan kedua foto di atas Anda nikmati dan tafsirkan.

Foto-foto lukisan yang lain bisa Anda tengok di Album Google+ saya di SINI.