Mau Kulineran di Bandung, Ini Rekomendasi Hotel Dariku

traveloka01Jalan R.E.Martadinata atau Jalan Riau adalah kawasan yang wajib Anda kunjungi jika berakhir pekan di Bandung. Di sepanjang jalan ini, Anda akan menemukan beragam café, restoran Belanda, fast food, hingga aneka jajanan kaki lima seperti siomay, bakso, otak-otak, dan es durian.

Selain wisata kuliner, Jalan Riau juga terkenal sebagai surga belanja. Puluhan factory outlet yang menjual barang branded dengan harga miring berjajar di kedua sisi jalan. Toko perabotan antik dan gerai isi ulang parfum juga turut memadati kawasan ini.

Sayangnya, Jalan Riau cukup padat saat akhir pekan. Daripada harus membuang waktu terjebak kemacetan, sebaiknya Anda menginap di hotel dekat Jalan Riau. Tidak perlu khawatir soal harga karena terdapat hotel-hotel murah, apalagi sekarang banyak OTA, misalnya Wego dan Traveloka, yang gencar menawarkan hotel di Bandung dengan harga promo atau pun diskon.

Berikut ini adalah lima hotel murah yang dapat Anda temui di sekitar jalan Riau Bandung:

1. Hotel Anggrek Gandasari

traveloka02

Hanya dengan berjalan kaki sekitar 5 menit dari Hotel Anggrek Gandasari, Anda sudah sampai di jalan Riau. Jika ingin sekalian ke Dago, jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki. Gedung Sate juga dapat Anda capai dengan berjalan kaki sekitar 15 menit.

Hotel Anggrek Gandasari menyediakan layanan antar jemput ke bandara. WiFi tersedia di area umum hotel dan layanan kamar Anda sudah termasuk laundry.

2. Amaris Hotel Cimanuk

traveloka03

Meski hanya perlu 3 menit berjalan kaki menuju jalan Riau, sebaiknya Anda mengambil langkah santai sambil menikmati kerindangan pohon di sekitar sini. Lokasi Amaris Hotel Cimanuk juga sangat dengan Toko Coklat yang memiliki lebih dari 30 varian praline (coklat kecil dengan isi di dalamnya). Baca lebih lanjut

Tips Aman Berbelanja Online dengan Blanja.com dan Telkomsel TCash

Berbelanja online telah membawa pengalaman baru yang menyenangkan sekaligus memudahkan bagi banyak orang. Toko-toko online baru pun bermunculan setiap harinya dengan menawarkan kelebihan dan kemudahan masing-masing. Barang-barang yang diperdagangkan secara online pun menjadi semakin beragam.

Namun tidak sedikit orang yang saat ini masih enggan dan was-was untuk berbelanja secara online. Penjual-penjual online yang tidak jujur yang berkeliaran di jejaring sosial telah menciptakan ketidakpercayaan tersendiri. Apalagi ditambah dengan berita-berita tentang maraknya penipuan dan penyalah gunaan penggunaan kartu kredit dan transaksi tranfer bank.

Bagi pengguna Telkomsel sebenarnya ada fitur yang bisa digunakan untuk berbelanja secara online tanpa harus menggunakan Kartu Kredit atau pun tranfer bank. Tanpa perlu memasukkan nomer kartu kredit dan tanpa perlu memasukkan nomer-nomer rekening dan akun bank. Fitur itu adalah TCash. Sebuah rekening ponsel yang bisa dengan bebas kita isi sejumlah saldo. Saldo TCash hanya berkurang ketika kita gunakan untuk berbelanja, tidak dikenakan biaya bulanan dan tidak terhubung dengan rekening bank tertentu. Selengkapnya tentang TCash silakan dibaca di sini.

Ada banyak toko online yang bisa menerima pembayaran dengan TCash. Salah satunya adalah Blanja.com. Sebagai salah satu situs belanja terpercaya untuk bisa bertransaksi calon pembeli diwajibkan untuk mendaftar dengan mengisikan data-data yang valid. Kemudian calon pembeli akan dengan mudah melihat-lihat barang-barang yang akan dibelinya, membandingkan dengan toko-toko online lain kalau perlu, memilih barang-barang yang paling sesuai. Langkah terakhir adalah melakukan pembayaran. Seperti tangkapan layar di bawah ini:

tcash_blanja.com

Ada beberapa pilihan cara pembayaran di sini. Namun di sini kita akan berbelanja dengan menggunakan Tcash. Jadi pilih yang paling atas. Jangan lupa sebelum anda menggunakan Tcash, pastikan saldo anda mencukupi dengan mengeceknya melalui *800#. Bila saldo kurang anda bisa melakukan pengisian ulang saldo. Bisa di ini dari rekening bank atau cara-cara lain seperti yang tercantum pada website Telkomsel.

Langkah selanjutnya, cukup dengan mengisi konfirmasi seperti ini:


konfirmasi blanja

Semudah itu saja maka barang yang telah dibeli akan tiba di alamat yang diisikan.

Namun tunggu dulu, bagi pengguna Telkomsel masih ada benefit satu lagi yang diberikan bila berbelanja di Blanja.com. Pengguna Telkomsel bisa menukarkan poin-poin yang dimilikinya sebagai voucher belanja di Blanja.com. Saya sendiri menggunakan aplikasi My Telkomsel untuk mengecek dan menukarkan Telkomsel poin menjadi voucher belanja. Baca lebih lanjut

Qualcomm Snapdragon 801 Dalam Oppo N3

Suatu ketika seorang teman saya ada yang membawa sebuah ponsel baru, biasanya teman-teman saya akan ada yang bertanya, “Kameranya berapa mega pixel?”. Processornya sudah quad core apa masih dual core? Masih 3G atau sudah 4G” tanya teman saya yang lain. “RAM nya berapa giga byte? Kalau di-install Whatsapp, Line, BBM, Google Hangout, Skype sama WeChat suka nge-lag ngga? Dead Space dan Assassin’s Creed Pirates jalan di sini kah?” Sementara teman saya yang lain bertanya, berapa mAh kapasitas batere ponsel itu. Mungkin karena pengalamannya sehari-hari mengisi ulang batere ponsel sampai tiga kali sehari. Seperti minum obat saja.

Pertanyaan-pertanyaan teman-teman saya itu mudah terbaca sebagai cara mereka untuk menilai baik buruk suatu telepon pintar. Mereka mulai kritis terhadap spesifikasi sebuah ponsel. Bukan dengan cara “ponselmu merk apa?” yang mereka gunakan beberapa tahun lalu. Apakah ada yang salah dengan cara teman-teman saya ini menilai kualitas suatu telepon pinter?

Menurut saya mereka sudah berada di jalan yang benar. Saran saya agar mereka lebih jeli dan memeriksa lebih detil spesifikasi suatu telepon pintar.

Umumnya kamera dengan mega pixel tinggi akan menghasilkan kualitas foto yang baik. Akan tetapi jangan salah, kualitas lensa, lebar bukaan lensa, jenis sensor kamera dan Image Signal Processor merupakan penentu utama kualitas sebuah foto.

Ponsel yang ini angka mAh baterenya lebih banyak, kenapa dipakai browsing dan main game beberapa jam saja sudah mendapatkan notifikasi lowbatt? Batere dengan mAh yang banyak memang mempunyai kemampuan lebih dalam menyediakan daya bagi sebuah telepon pintar. Alih-alih memerlukan waktu pengisian yang lebih lama, tanpa didukung Power Managemen yang bagus ponsel pintar tidak akan bertahan cukup lama setelah dicabut dari colokan listrik.

Processor

Ini yang oleh teman-teman saya tadi kualitasnya baru dilihat dari jumlah core yang dimiliki oleh suatu processor, sudah quad core apa masih dual core (atau single core). Belum sampai Processor itu bekerja sampai frekuensi berapa Gigahertz, fitur yang diusung apa, hasil benchmarknya seperti apa, pengalaman pengguna yang ditawarkan semenakjubkan apa dan lain-lain. Masih jarang terdengar pertanyaan seperti ketika akan membeli komputer/laptop baru: memakai Processor Intel atau Processor AMD.

Processor merupakan penentu terpenting performa suatu ponsel pintar (smartphone). Kualitas kamera, kualitas audio, kemampuan memutar video HD dengan jernih dan mulus, kualitas dan kecepatan koneksi ketika terhubung ke jaringan, kemampuan menjalankan sistem operasi (Operating System) terbaru dengan mulus beserta aplikasi-aplikasi produktif, game dan entertainment semuanya tergantung kepada chip berukuran mungil ini. Daya tahan batere beserta seberapa cepat pengisiannya bisa dilakukan sangat bergantung kepada sebuah Processor.

snapdragon-801

Sama dengan yang terjadi di dunia PC/Laptop, pertumbuhan kebutuhan smartphone yang pesat secara global pada dekade terakhir ini menantang produsen-produsen semi konduktor untuk berlomba menawarkan kepada pasar produk Processor yang diharapkan bisa membawa pengalaman pengguna yang terbaik.

Kali ini saya akan membahas produk Processor dari Qualcomm. Kenapa Qualcomm bagi saya menarik diikuti karena berbeda dengan kompetitornya ia tidak hanya hanya menawarkan Processor untuk ditanam dalam sebuah ponsel. Qualcomm juga menawarkan solusi teknologi di sisi infrastruktur jaringan yang di Indonesia sendiri telah digunakan oleh operator-operator terkemuka: Telkomsel, XL Axiata, Indosat dan lain-lain. Bahkan untuk memaksimalkan pertumbuhan ekosistem DNA (Device, Network, Application) saat ini Qualcomm telah bekerjasama dengan developer dan komunitas developer sehingga lebih banyak aplikasi baru muncul dengan pengalaman pengguna yang tiada duanya. Bahkan untuk urusan teknologi, Qualcomm telah membawa solusi-solusinya ke ranah Open Source. Baca lebih lanjut

Meng-install Linux Ubuntu versi Lama

Alasan saya menging-install Ubuntu versi lama adalah: karena laptop dimana saya akan menginstallnya justru tidak compatible dengan ubuntu versi baru. Setidaknya saya sudah gagal mencoba memasang Ubuntu 14.04  Trusty Tahr dan Ubuntu 14.10 Utopic. Versi Ubuntu yang berhasil saya install di Laptop Samsung Ativ Book 2 ini adalah Ubuntu 13.04 atau Raring Ringtail. Versi ini saya anggap lama karena sudah tidak di-support lagi oleh Ubuntu.

Kebayang bagaimana akan lebih repot mengurus versi Ubuntu yang tidak lagi di-support.

Proses instalasi selesai. Ubuntu Raring Ringtail bisa booting dengan baik. Semua hardware di Ativ Book 2 bisa berjalan normal. Koneksi Wifi pun bisa saya sambungkan melalui network manager. Saya pun segera mengetikan: sudo apt-get update . Mendapati beberapa pesan error yang menginformasikan bahwa versi ini sudah tidak ditemukan di repository, saya sudah siap. Pikir saya: Saya bisa mendownload semua repository kemudian melakukan offline update. Tentu ini akan repot.

Saya kemudian mencoba googling terkait hal ini. Rupanya semua release lama Ubuntu tidak sepenuhnya dihapus dari repository online. Melainkan dipindahkan saja ke old-releases.ubuntu.com. Berarti dalam kasus saya saya bisa mencoba mengarahkan software sources ke repo old-releases.ubuntu.com. Cukup dengan menyunting file sources.list yang terletak di /etc/apt.

Saya mengedit file sources.list secara manual dengan mengganti setiap archive.ubuntu.com dengan old-releases.ubuntu.com

Cara lain yang lebih mudah adalah dengan mengetik:

sudo sed -i -e 's/archive.ubuntu.com\|security.ubuntu.com/old-releases.ubuntu.com/g' /etc/apt/sources.list

Nah, sekarang saya sudah bisa duduk manis sambil mengetik: sudo apt-get update && sudo apt-get upgrade

Menginstall aplikasi dan segala sesuatu yang kita butuhkan pun bisa dilakukan seperti biasanya. Hanya bila aplikasi yang didapatkan adalah versi lama, maka kita bisa mengunduh file *deb dari website aplikasi yang bersangkutan kemudian menginstallnya seperti biasa. Misalnya ketika saya mendapatkan Libre Office versi 4.0 di Raring Ringtail. Saya bisa menghapus terlebih dahulu Libre Office versi 4.0, mengunduh Libre Office versi 4.3.5 dari website Libre Office, kemudian mengekstrak file instalasi, terakhir adalah menginstallnya dengan perintah sudo dpkg -i.

Just Do It

Minggu pagi itu saya bangun lebih lambat dari biasanya. Jam 5 pagi lebih saya baru keluar untuk mengambil air wudlu, baru akan shalat subuh. Brrrr… air yang membasuh wajah ini terasa begitu dingin. Di atas nampak mendung menggelayut, gerimis-gerimis kecil jatuh. Saya menggalau. Seolah ini pertanda kurang baik. Saya ragu apakah cuaca Minggu pagi ini memungkinkan untuk lari apa tidak. Lari yang saya rencanakan sebagai latihan lari jarak jauh.

Setelah shalat subuh, saya keluar rumah lagi, memandangi langit lagi. Mendung masih sama pekatnya. Sambil menggerakan badan mulai melakukan peregangan dan sedikit pemanasan, saya bertekad: Aku harus lari. Iya harus lari, oh bila pun nanti hujan turun lebat saya bisa berteduh. Terpaksanya nanti berhenti di km ke-2 atau ke-3 itu sudah lebih baik.

Saya pun segera mengenakan pakaian lari, memakai sepatu, mengikatkan tali sepatu, mengoleskan sunblock di wajah, di tangan dan di kaki. Meraih ponsel dan menyalakan aplikasi lari: Nike Running+, kemudian menyelipkannya di armband di lengan kiri. Saya mulai berlari. Tidak terlalu cepat. Cukuplah untuk mengikis keraguan pagi itu.

Udara pagi yang bercampur gerimis segar. Pelan-pelan semangat saya pun mulai tumbuh. Menjelang km ke-3 sayangnya kaki kiri saya mulai terasa kram. Ini tidak biasa. Sambil mengira-ira apa penyebabnya, saya mengevaluasi gait/gesture saya dan mencoba memelankan langkah sambil berusaha membuat gesture sebaik mungkin. Ini tidak serta membantu mengatasi kram kaki kiri saya. Saya jadi berpikir apakah karena semalam kurang tidur yang berkualitas. Karena semalam saya minum teh dengan kawan sampai waktu larut. Apakah semalam saya terlalu banyak pipis sehingga cairan tubuh banyak berkurang.

Menjelang km ke-4 saya memutuskan untuk membeli minuman isotonik. Bila tubuh kurang hidrasi maka mudah-mudahan ini bisa membantu. Beberapa teguk cairan isotonik mengaliri kerongkongan saya yang terasa kering. Rasanya segar. Saya pun meneruskan pelarian, secara pelan-pelan. Kira-kira dengan pace 6:30 menit/km. 2 km kemudian merupakan bukit sodong. Tanjakan tertinggi yang biasanya menantang untuk saya taklukan.

Minggu pagi itu pun saya tertantang untuk menaklukan tanjakan ber-elevasi sekitar 200 meter itu. Kolaborasi antara otot dan andrenalin pada pagi itu berhasil mengalahkan jalan menanjak sepanjang 2km ber-elevasi 200 meter-an itu dalam waktu sekitar 15 menit. Bukan waktu terbaik yang pernah saya buat tapi ini cukup mengangkat semangat saya untuk terus berlari.

Sambil sesekali meneguk minuman isotonik, saya terus berlari. Saya tetap berusaha menjaga pace lari pada 6:20 menit/km – 7 menit/km. Saya tidak ingat kapan kram di kaki kiri saya menghilang. Seingat saya, saat itu saya sudah menempuh km ke-14 ketika botol minuman isotonik yang saya bawa sudah habis. Saya berusaha terus berlari. Sinar matahari pagi yang menerobos bukit yang menerpa wajah ini benar-benar membakar semangat di dalam dada.

Tidak mau dehidrasi mengganggu tubuh untuk terus berlari, di km ke-15 saya pun membeli sebotol air mineral 600 ml. Ah rupanya saya sudah berhasil berlari sejauh 15 km. Ini hanya terpaut 2,5 km dari lari terjauh yang pernah saya buat minggu lalu. Saya harus berlari lebih jauh dari minggu lalu, atau setidaknya sejauh minggu lalu. Toh saya merasa masih cukup kuat.

Km ke-15 dimana saya membeli air mineral tadi adalah di perbukitan sekitar Goa Maria Tritis, Giring, Paliyan. Ini rute lari yang pertama kali saya ambil. Gilanya lagi, saya kali ini berlari ke arah Pantai Baron. Kira-kira 7 km lagi.

Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang saya lintasi mempunyai kontur yang naik dan turunannya sangat menantang. Modal saya kali ini adalah sebotol air mineral dan rasa percaya diri yang mulai terbentuk. Bila pada lari-lari sebelumnya saya bersusah payah untuk menaklukan tiap tanjakan, kemudian menikmati bonus pada turunan yang mengikuti. Kali ini turunan pun harus diselesaikan dengan susah payah, bahkan lebih sulit dari tanjakan yang tinggi sekalipun. Mengontrol badan dan postur lari melintasi turunan yang ekstrim merupakan pengalaman baru. Kaki dan lutut saya seolah dipaksa menerima pelajaran hidup yang baru.

3 km menjelang pantai Baron, gerimis jatuh lagi, dengan butiran-butiran yang lebih besar. Hujan. Ini tantangan untuk daya tahan tubuh saya. Flu yang saya takuti bisa-bisa menyusup bersama hujan. Tapi saya harus terus berlari. Pahala besar sedang saya kejar. Terus berlari 3 km lagi adalah HM pertama saya. 21.2 km pertama saya.

Melalui earpod yang menyelip di telinga, Nike Running+ membisikan sesuatu. Intinya saya sudah sampai jarak 21.2 km dalam waktu 2 jam 17 menit. yay!

image1

Tenaga saya seolah bertambah. Saya jadi ingin terus berlari dan berlari. Saya berhenti berlari ketika ponsel saya memberi notifikasi bahwa batere tinggal 20%. Rupanya sebelum saya cabut dari charger nya tadi batere ponsel saya belum banyak terisi. Mau tidak mau saya harus berhenti sebelum sampai di bibir pantai. Toh saya sudah mencapai jarak terjauh saya selama 3 bulan berlatih lari.

image2

Dengan perasaan lebih baik, dengan perasaan senang, saya duduk dan meluruskan kaki di balai-balai bambu yang banyak terdapat di area pantai. Saya beranjak untuk mencari minuman isotonik dingin lagi setelah nafas dan detak jantung tertata. Kemudian saya menikmati minuman isotonik dingin di pasir putih pantai baron, menikmati wajah diterpa segarnya angin pantai.

selfood on the beach

 

Just Do it

Finish Strong

Mari lari

 

2 nd Birthday Run Indorunner Jogja

Sudah telat posting. Memang. Mau apa lagi. Birthday Run Indorunner Jogja atau lari ultah ke-2 komunitas lari Playon Jogja sebenarnya sudah dilangsungkan lebih dari 2 minggu yang lalu. Tepatnya Sabtu, 22 November 2014. Hihi, sekarang sudah Desember.

533

2 nd Birthday Run Playon Jogja mengambil rute di pusat kota Jogja. Ada 2 rute yang bisa dipilih peserta fun run kali itu. Rute untuk 11 K dan Rute untuk 22 K. Sebagai pelari ndeso sekaligus pelari pemula, saya memilih mengambil 11 K. Saya khawatir bila sekalinya ikut lari di kota dengan rute 22 K malah merepotkan panitia atau sesama peserta fun run. Rasanya akan tidak jadi fun run bila teman-teman menurunkan pace karena kasian melihat saya kecapean. Bila tidak sanggup meneruskan lari dan dibonceng motor panitia rasanya juga tidak lucu. Pikir saya lagi, berlari dengan rute di perkotaan tidaklah semudah rute-rute yang biasa saya gunakan untuk berlari di lingkungan desa dimana saya tinggal.

Pagi itu saya bangun lebih awal. Tidak banyak yang perlu saya persiapkan karena semua rasanya sudah saya siapkan malam hari sebelum tidur. Pukul 03:30 saya naik motor berangkat ke Jogja. Saya shalat subuh di Masjid di dekat Polsek Banguntapan baru kemudian menuju ke tempat dimana Playon Jogja akan start berlari.

Setibanya di sana beberapa peserta sudah berkumpul. Saya pun segera berganti pakaian. Sekitar pukul 5 briefing singkat dan pemanasan dimulai. Suasanya akrab, santai dan banyak canda tawa. Kemudian saya pun turut berlari mengikuti pacer pada saat itu.

Pacer nya sendiri enak diikuti. Berlari dengan tempo yang tidak membuat nafas ngos-ngosan. Sadar bahwa berlari di perkotaan yang banyak lalu lalang kendaraan berbeda dengan lari di jalan-jalan desa, saya pun mempelajari cara berlari teman-teman. Mereka sangat berhati-hati dalam berlari. Rombongan lari tidak menghabiskan badan jalan dan sangat waspada bila melintasi pertigaan, perempatan atau lampu lalu lintas.

Berlari dalam group terasa lebih menyenangkan. Bila berlari sendirian saya memanfaatkan musik untuk mengurangi lelah dan bosan, ngobrol dan mengamati gestur pelari lain rupanya jauh lebih menyenangkan. Lari sejauh 11 K jadi tidak terlalu melelahkan. Meski keringat tetap bercucuran.

Sesampainya di tempat finish (tempat dimana tadi digunakan untuk start), di sana panitia sudah menyiapkan air mineral dan pisang. Teman-teman yang sudah finish pun ada yang melakukan pendinginan, ada yang lari-lari kecil dan ada pula yang istirahat. Ngobrol-ngobrol itu pasti, dan menyenangkan.

Dalam 2nd Birthday Run Indorunner Jogja ini teman-teman dari komunitas lari Semarang dan Cepu juga turut berlari menyemarakan. Kalau sudah begini foto-foto merupakan hal wajib. Begitu pun bagi-bagi door prize yang dari sponsor. Sabtu pagi itu sekaligus merupakan hari beruntung saya. Saya mendapatkan door prize tutup kepala Eiger. Mendapat door prize secara undian benar-benar hal langka dalam hidup saya. Jadi layak disyukuri.

#MariLari

2 Bulan Berlari dengan Nike Pegasus 31

Alasan saya membeli sepatu lari yang agak mahal sebenarnya ini: agar bila saya sedang malas berlari, saya akan merasa merugi, sudah membeli sepatu mahal-mahal kok hasilnya tetap saja sama: malas berolah raga. Jadi saya harus terus semangat berlari agar tidak merugi.

Mahal dan tidak mahal untuk sebuah sepatu lari itu subyektif. Maka mahal ini adalah mahal berdasarkan standar saya. Saya menganggapnya mahal karena saya berlu mengumpulkan uang sedikit-sedikit sampai terkumpul uang sepatu ini.

Karena mendapatkan uang sepatu ini tidak mudah, maka sebelum memutuskan untuk membelinya saya melakukan riset kecil-kecilan. Agar uang itu terbelikan sepatu yang tepat. Saya memang sebelumnya sudah mempunyai preferensi sepatu lari sepatu apa yang ingin saya beli. Di samping untuk memastikan tidak salah pilih, saya browsing-browsing tentang sepatu lari dan review atau pendapat orang-orang tentang suatu sepatu lari.

Saya akan berlari di jalan aspal bukan di lintasan lari sintetis bukan pula trail. Karenanya saya tidak akan membeli trail running shoes. Trail running shoes ini menjadi pertimbangan saya setelah saya merasa teruji berlari di jalanan. hihi.

Pertimbangan penting berikutnya adalah bentuk telapak kaki. Melalui pengamatan sederhana dengan menempelkan telapak kaki yang dibasahi ke lantai, bisa saya ketahui jenis telapak kaki saya tergolong normal dengan agak high arch.

Pertimbangan berikutnya adalah gaya lari. Ini yang belum pernah saya perhatikan sebelumnya. Sebelumnya saya hanya yang penting berlari. Ini cukup memakan waktu sampai saya mengetahui saya termasuk tipe pronator.

Dalam beberapa tahun terakhir kebetulan saya menggunakan sepatu lari merk Nike. Yaitu Nike Airmax 2010 dan Nike Lunar Forever. Pertimbangan kenapa saya membeli sepatu itu adalah karena menurut saya bentuknya: keren. Begitu saja. Kali ini bentuk dan desain keren saya pikir tidak cukup. Selain bentuk dan desain keren, haruslah sepatu yang tepat juga.

Pilihan saya akhirnya jatuh kepada: Nike Zoom Pegasus 31. Saya membelinya di Nike Store di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta. Dengan harga 1.599.000,-. Nah, mahal? Jangan nyinyir meski bagi anda harga segini tidaklah mahal. Sekali lagi, ini mahal untuk standar saya sendiri.

Ada beberapa pilihan warna Peg 31 ini. Karena saya belinya sudah 2 bulan yang lalu, saya sudah lupa ada warna apa saja. Yang jelas, saya membawa pulang Peg 31 warna Biru Volt.

Saya mencoba sepatu ini pertama kali untuk berlari-lari kecil di landasan pacu Lapangan Udara TNI AU Gading. Saya pikir landasan pacu di Lapangan Udara jauh lebih bagus dari jalanan aspal di lingkungan saya, bebas kubangan, bebas batu dan kerikil, bebas asap kendaraan pula. Saya ingin pengalaman yang optimal.

Pegasus 31 menurut saya baru merasa nyaman di kaki setelah digunakan berlari 1 sampai 2 km. Sebelum mencapai 2 km rasanya foot strike saya aneh. Beberepa km berikutnya Peg 31 terasa nyaman. Apalagi dalam berlari saya terbiasa mendarat dengan bagian tengah kaki. (mid foot). Oh, iya. Untuk diketahui: berat badan saya sekitar 50 kg dan tinggi badan 165 cm. Kurus ya? 😀

Sedikit ketidak nyamanan Pegasus 31 bagi saya adalah: Peg 31 mempunyai bagian depan/ fore insole yang sempit. Ujung-ujung jari kaki saya rasanya terjepit ketika mengenakan sepatu ini. Ini juga yang saya curigai sebagai penyebab blister yang pertama kali saya alami. Blister di kedua kaki saya itu terjadi ketika saya berlari dengan Peg 31 sejauh 8,5 km di Lapangan Udara TNI AU Gading beberapa waktu yang lalu.

Mungkin kaki saya memang yang punya bagian depan yang melebar. Bagian depan sepatu yang terasa beruang sempit ini mungkin bisa diatasi dengan memilih sepatu yang satu ukuran lebih besar. Saya kemarin memilih Pegasus 31 yang berukuran 41. Kenapa, karena sebelumnya saya merasa nyaman dengan Nike Airmax 2012 dan Nike Luar Forever berukuran 41. Mungkin untuk Peg 31 harusnya saya memilih ukuran 42.

Jadi bimbang apakah akan membeli lagi Pegasus yang sama dengan satu ukuran lebih tinggi. Tentu saja saya harus sedikit sabar mengumpulkan uang lagi bila harus membeli Peg 31 ukuran 42. Lari berikutnya saya mencoba berlari dengan Peg 31 yang sama, tetapi tidak menggunakan kaos kaki. Ternyata Peg 31 juga sangat nyaman digunakan berlari tanpa kaos kaki. Sedikit yang mengganggu adalah bila kaki sudah berkeringat, di telapak kaki bagian tumit terasa lengket.

Kemudian saya berpikir untuk membeli kaos kaki baru yang tipis. Setelah melihat-lihat jenis-jenis kaos kaki di Planet Station, kemudian saya membawa pulang kaos kaki dry fit buatan Nike, yaitu: Nike Elite socks.

nike 1

Untuk berikutnya Peg 31 + Nike Elite Dry Fit saya coba untuk berlari downhill sejauh 8 km di perbukitan di lingkungan saya tinggal. Kali ini jari-jari dan ujung kaki saya tidak terasa begitu terjepit. Bahkan bisa dibilang lebih nyaman. Peg 31 + Elite Dry Fit ini sampai sekarang sudah saya gunakan berlari beberapa kali. Ah berarti saya tidak harus berganti ke ukuran 42. 🙂

Dalam 2 bulan berlari menggunakan Nike Pegasus 31, hari Minggu kemarin (16 November 2014) adalah lari terjauh saya, 15 km, meski masih dengan pace yang santai, yaitu 6 menit per kilo meter.

nike 2

Mampu berlari sejauh 15 km dengan pace 6’00” tentu saja menyenangkan bagi saya. Karena target saya ketika membuat komitmen lari 2,5 bulan yang lalu adalah bisa berlari sejauh 10 km pada penghujung 2014 ini. Berarti saya sekarang sudah over target. Satu setengah bulan tersisa ini barangkali bisa saya gunakan untuk berlatih memperbaiki pace. Kalau PB saya (Personal Best) untuk lari 10 km adalah 58 menit 12 detik menurut Nike Running+ di iPhone saya, mungkin saya akan menargetkan 10 km dalam 55 menit pada penghujung tahun. Atau saya perlu berlatih endurance dulu, agar saya mampu berlari sejauh 21 km terlepas berapa saja pace nya? hehehe.

IMG_0981

Saat ini di desa dimana saya tinggal sedang musim penghujan. Saya tidak ingin hujan menjadi penghalang bagi latihan lari. Saya malah membayangkan menikmati berlari trail di hutan sebelah barat desa saya. Untuk itulah saya sekarang berkeinginan mempunyai sebuah Traill Running Shoes. Sepasang sepatu The North Face Single Track Kayasa atau Nike Wild Horse. Hihi, uang saya belum ada tapi sudah berangan-angan.

Tahun berganti masih satu setengah bulan lagi. Tidak ada salahnya bila saya sedikit mengintip target saya tahun 2015. Minimal saya sudah harus mampu berlari Half Marathon. (21 km). Bila awal 2015 sudah mampu berlari HM entah dalam waktu berapa, saya ingin mensyukurinya dengan sebuah Nike Airmax 2014 atau Airmax 2015 bila sudah keluar di Nike Store. Tepok jidat. Uangnya menabung dulu ya. 🙂

***

Dan 5 tahun kemudian saya tidak pernah membeli Nike Airmax. Tetap setia berlatih dengan Pegasus dan telah membeli Nike Air Zoom Pegasus 36 warna hitam.

Apa Manfaat Health Kit di iOS 8?

Apa yang baru dari iOS 8 yang di-release oleh Apple beberapa waktu yang lalu adalah Health Kit (atau aplikasi kesehatan?). Di iPhone 5s yang saya update OS nya ke iOS 8, saya berkesempatan mencoba-coba Health Kit/ Health App ini.

Pertama kali membuka Health Apps bulan lalu saya merasa bingung dan tidak punya ide bagaimana cara menggunakan dan memanfaatkan aplikasi ini. Dibanding dengan aplikasi-aplikasi bawaan iOS 8 yang lain, Health Apps ini menurut saya merupakan aplikasi yang mempunyai menu (menu setting paling banyak). Dengan istilah-istilah kesehatan dan kebugaran yang tidak saya mengerti. Ini tambah membingungkan.

Mencoba mengutak-atik Health Apps, saya mencoba menambahkan sesuatu di dashboard aplikasi ini. Dashboard yang mulanya saya tambahkan adalah Walking+Running Distance dan Steps, kemudian Sleep Analysis. Ketika menambahkan ketiga dashboard itu saya tidak tahu bagaimana data bisa terupdate.

Beberapa waktu menggunakan iPhone 5s ber-iOS 8 sambil membawa-bawanya sambil sesekali membuka Health, rupanya Walking+Running Distance ini ter-update secara otomatis. Mungkin menggunakan GPS untuk menghitung seberapa jauh saya bergerak. Kemudian Steps juga terperbaruhi secara otomatis. Steps ini datanya mungkin mengambil menfaat dari co processor M7 di iPhone 5s saya. Nah bagaimana dengan Sleep Analysis? Ini rupanya tidak bisa terupdate secara otomatis. Kenapa? Karena saya tidak punya sensor atau perangkat fitness yang mampu mendeteksi kapan saya tidur dan kapan terjaga. Karenanya saya terpaksa mengisinya secara manual. Untung bisa diisi manual ya. 😀

Health Apps Dashboard

Health Apps Dashboard

Tampilan Dashboard Health Apps di atas cukup mudah dibaca. Sederhanya dalam satu bulan terakhir terbaca saya bergerak rata-rata 6,65 km per hari atau rata-rata 8.453 langkah per hari. Ingat ya data langkah ini terdeteksi ketika saya membawa iPhone saya. Padahal saya sering meletakkan iPhone saya. Artinya jumlah langkah saya yang sebenarnya pasti lebih banyak dari yang dibaca oleh Health Apps ini. Data jumlah langkah per hari ini mengingatkan saya pada iklan lama susu Anlene, yang menganjurkan agar kita bergerak sedikitnya 4.000 langkah per hari agar kita sehat dan tulang tidak keropos. Bila apa kata Anlene benar, maka saat ini jumlah langkah kaki per hari saya telah berada dalam angka aman, bahkan lebih dari cukup. Sleep Analysis pun menunjukan kalau dalam sebulan terakhir saya sudah cukup banyak tidur. Saya tidur rata-rata 6 jam 37 menit.

Nike Fuel yang ditampilkan pada dashboard ini saya kira tidak cukup akurat. Karena sumber datanya hanya dari Nike Running+ yang saya gunakan ketika saya lari. Sedangkan aktifitas saya yang lain tidak terlacak. Untuk melacak Nike Fuel secara lebih akurat mungkin saya harus menggunakan Nike Sport Watch atau Gelang Nike Fitness itu, atau Activity tracker yang lain yang compatible dengan iOS 8.

Health Apps Setting di iOS 8

Health Apps Setting di iOS 8

Nah, screen shoot di atas saya kira cukup menjelaskan komentar saya di awal yang menyebut Health Apps ini mempunyai setting yang banyak dengan istilah-istilah yang susah saya mengerti. Hanya ada beberapa data yang bisa saya isi manual seperti tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, tekanan darah yang diukur manual dengan tensi meter. Sementara yang lainnya saya biarkan kosong.

Mungkin Health Apps akan optimal digunakan ketika sudah didukung oleh penyedia aplikasi pihak ketiga dan perangkat fitness/kesehatan pihak ketiga pula. iPhone saja saya pikir belum mampu mengumpulkan data sebanyak itu. Sekalipun iPhone 6 hanya ada satu sensor baru yang ditambahkan, yaitu sensor altimetric barometer. Atau apa yang kelak akan bisa dilakukan Apple Watch untuk memaksimalkan Health Kit. Kita tunggu saja.

Ngomong-ngomong perangkat kesehatan apa saja sih yang sudah mendukung Health Kit di iOS 8? Juga aplikasi apa saja yang sudah dibuat yang memanfaatkan Health Kit ini. Saat ini yang saya tahu baru Nike Running+ dan Endomondo. hihi

Curhat: Angkutan Umum Murah itu Penting

IMG_0800Foto ini saya ambil di Pasar Trowono pada kemarin pagi setelah saya jogging.

Bagi banyak orang foto ini mungkin dianggap membawa pemandangan aneh. Apa gerangan yang dilakukan orang-orang ini dengan menaiki kendaraan open cab.

Mobil open cab berplat hitam ini bagi masyarakat ini dianggap dan berfungsi sebagai angkutan umum. Angkutan yang mengantarkan mereka dari dan ke pasar dari tempat tinggal mereka di pelosok-pelosok dan desa-desa.

Ini memang praktik ilegal. Menyalah gunakan kendaraan pribadi, kendaraan pengangkut barang berplat hitam untuk mengangkut penumpang manusia. Mereka tidak ambil pusing apa ilegal apa resmi. Toh ini satu-satunya sarana mobilitas. Sejak Indonesia konon merdeka sampai sekarang belum ada angkutan umum yang memadai yang bisa membantu kegiatan dan ekonomi mereka.

Peristiwa ini adalah potret masyarakat di sekitar pasar Trowono, Saptosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Tidak mustahil di sisi lain Indonesia pun masih terjadi.

Semoga Pak Jonan, Mentri Transportasi Kabinet Kerja sekarang ini bisa melihat foto saya ini. Agar bisa menjadi renungan. Syukur-syukur ada tindak nyatanya. Eh ngga mungkin ya Pak Jonan lihat foto ini. Beliau kan tidak berteman dengan saya.

PS: Posting saya kali ini sebenarnya adalah posting status Facebook kemarin. Saya repost di sini agar ramah Google dan mudah ditemukan. Agar mudah ditemukan Pak Jonan. hihi

Selamat Hari Blogger

Hihi, seharusnya sudah kemarin ya? Tidak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada tidak mengucapkan selamat sama sekali. Tanggal 27 Oktober adalah Hari Blogger. Diperingati setiap tahun. Kadang ada tahun dimana hari blogger diperingati secara meriah dengan tumpengan dan berbagai acara. Tahun ini hari blogger tidak dirayakan dengan begitu sangat meriah.

Saya sendiri memperingati Hari Blogger dengan mengucapkan selamat di Twitter. Loh kok malah di Twitter? Makanya pagi ini saya membuat posting ini di blog ini. 🙂

Indonesia barangkali satu-satunya negara yang mempunyai Hari Blogger. Hari Blogger kalau tidak salah ditetapkan oleh Menkominfo, Bapak Muhammad Nuh. Hari Blogger ditetapkan pada tanggal 27 Oktober 2007 di acara Pesta Blogger 2007 di Jakarta.

Ingat kapan Hari Blogger ditetapkan mengingatkan saya akan masa-masa dimana dunia blogging masih gayeng. Ditengah gayengnya dunia blogging saat itu, saya pun jadi ikut-ikutan ngeblog. Dari mulanya hanya ikut-ikutan, blog membuat keasyikan tersendiri, sampai bisa dibilang saya gila ngeblog pada saat itu. Kalau sekarang saya sudah mulai waras. (baca: makin jarang posting blog dan lebih sering Facebook-an dan Twitter-an) 😀

Saat ini saya sudah lupa apa nama blog yang pertama kali saya buat, mungkin platform nya adalah blogspot. Bukan yang http://jarwadi.blogspot.com ya. Kalau itu adalah blog yang kesekian kalinya saya buat pada tahun 2007 an juga. Blog-blog saya saat ini ada sebagian yang masih saya isi konten. Salah satunya ini, http://jarwadi.me. Kebanyakan sudah tidak saya isi konten meski saat ini layanannya masih jalan. Blog yang sudah mati layanannya seingat saya diantaranya: blogsome, posterous, multiply, friendster dan lain-lain.

Blogger datang dan pergi silih berganti. Ada blogger-blogger yang sudah pensiun, sudah tidak begitu produktif dan blogger-blogger baru yang membawa semangat berapi-api. Yang menurut saya membedakan blogger dulu dan kini saya rasa adalah “ketulusan”. Blogger jaman menulis saja dengan motif menumpahkan unek-unek sampai-sampai hal remeh temeh banyak yang ditulis serius-serius. Saya sih tetap menulisnya enteng-enteng saja. Kalau blogger-blogger sedang baik mood nya ya tentu saja mereka menulis dengan semangat sharing. Blogger jaman sekarang menulis dengan motivasi yang lebih beragam, selain untuk curhat dan sharing, kini blog juga bisa digunakan sebagai ladang mencari rejeki. Nah! Yang terakhir ini saya juga pernah mendapatkan sedikit rejeki. Misal dari menang lomba blog, memasang backlink dan advertorial.

Oh iya,  dulu ada yang bilang blog adalah trend sesaat! Bener ngga ya?

Setidaknya sekarang masih bermunculan blogger-blogger baru, banyak komunitas blogger yang masih eksis. Bahkan platform blog baru pun bermunculan. Sebut saja Medium dan sejenisnya. 🙂

Sekali lagi: Selamat Hari Blogger