Siang hari ini tadi saya rasakan sangat gerah. Saya terbangun dari tidur siang dengan tubuh bermandikan keringat. Mau tidur lagi, tapi suhu udara seperti ini membuat tidur siang jadi tidak enak. Oh, iya waktu menunjukan jam makan siang. Tapi lagi-lagi karena suhu gerah berlebih, rasanya saya jadi kurang berselera untuk makan siang. Saya memilih untuk banyak-banyak minum air jernih dulu.
Beberapa saat kemudian saya makan juga. Rasa lapar sudah tidak tertahankan. Kemudian saya ambil air wudlu di luar rumah untuk segera shalat Dhuhur. Di luar rumah matahari terik panas menyengat.
Rencananya setelah Dhuhur saya bersama-sama ayah, simbok, adik dan para tetangga akan memanen jagung di ladang Lor Cangkring, namun lagi-lagi karena panas gerah berlebih, saya menunda ke ladang setelah shalat Ashar. Sekaligus biar tidak tergesa-gesa terburu waktu ketika bekerja di ladang karena takut terlalu sore menunaikan Ashar. Akhirnya ke ladang dan kerjaan memanen selesai.
Langit berubah dari terik menjadi mendung pekat ketika kami dalam perjalanan angkut-angkut panenan jagung. Dan hujan turun beberapa saat setelah panenan jagung selesai diangkut ke rumah. Bress!
Karangmojo B : Mendung
Malah jadi postingan curhat. hehe! Berlanjut curhat berikutnya dalam posting terpisah selanjutnya. 🙂
Sepintas melihat, mata saya langsung terpikat dengan tombol kotak-kotak persegi yang tersusun rapi di layar handphone Nokia ini. Ingin rasanya tangan saya segera meraih ponsel itu, merabanya, dan kemudian ujung-ujung jari menekan tombol-tombol menu itu.
Tampilan kotak-kotak biru menyala dan desain unibody warna hitam di ponsel ini seolah ingin mengingatkan akan ponsel yang paling lama saya gunakan, yaitu Nokia 8210 saya yang legendaris. hehe. Tidak sebanding ya. 😀
Belakangan setelah nge-Bing sana nge-Bing sini, ponsel ini saya ketahui sebagai Nokia Lumia 800. Tombol menu kotak-kotak warna biru tersusun vertikal itu adalah antar muka Metro di atas Windows Phone 7.5 Mango. Berikut ini saya ringkaskan dari berbagai sumber, tentu saja opini dan preferensi saya yang paling dominan, apa yang saya sukai di Nokia Lumia 800: Baca lebih lanjut →
An evening when rain, sunset and rainbow suddenly come together to my timeline. For the shake of the God, I feel jealous with those people uploaded the rainbow they just pictured with their cell camera. How did the rainbow never showed up when I was ready with my camera 😦
Sebelum dilaksanakan khotbah Jum’at pada pekan lalu, Ustadz Sandi Rochman yang bertindak sebagai khotib mengingatkan jamaah akan adab Khotbah Jum’at sebagai rangkaian tak terpisah dari ibadah Jum’at. Salah satu adab Jum’at yang kedengarannya mudah tetapi tidak mudah adalah mendengarkan Khotbah Jum’at.
Saya sendiri tidak selalu mudah untuk bisa mendengarkan khotbah Jum’at. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kenapa saya merasa mengantuk ketika mendengarkan Khotbah Jum’at. Ketidak mudahan mendengarkan shalat Jum’at itu memang sudah terjadi pada jaman Rosulullah. Bukan hanya masalah saya dan orang-orang jaman sekarang. Diriwayatkan banyak hadits tentang peringatan mendengarkan khotbah Jum’at itu.
Salah satu hadits yang disampaikan Ustadz Sandi Rochman :
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda, ‘Jika engkau berkata kepada rekanmu, ‘Diamlah’, pada Jum’at padahal imam sedang menyampaikan khutbah, berarti engkau telah mengucapkan perkataan yang rusak’.”
“Barang siapa menyentuh pasir ia telah batal. Dan barang siapa batal ia tidak mempunyai Jum’at” (HR Muslim)
Di hadits yang kedua di atas barangkali seorang jamaah tidak sengaja bermain-main pasir. Masjid yang ada pada saat itu tidak berlantai keras seperti yang ada sekarang, melainkan lantai pasir. Bisa jadi jamaah itu sedang jenuh atau bermain pasir untuk mengusir deraan rasa kantuk.
Bermain pasir saja sudah membatalkan Jum’at. Bagaimana kalau me-live tweet khotbah Jum’at? Membatalkan Jum’at ya walaupun niatnya untuk membagikan isi khotbah kepada orang-orang yang tidak bisa mengikuti Jum’at. Kalau niat baik ingin berbagi isi khotbah kenapa tidak mencoba menyimak baik-baik isi khotbah untuk kemudian menuliskannya sebagai posting blog setelah shalat Jum’at tertunaikan. Insya Alloh cara seperti itu bisa membantu mengurangi rasa jemu dan mengantuk yang mungkin terjadi di tengah khotbah sedang berlangsung. 🙂
PS : Saya tidak ingat betul hadits yang disampaikan oleh Ustadz Sandi Rochman pada Jum’at pekan lalu. Saya hanya ingat inti-intinya saja dan googling untuk mendapatkan kalimat Haditz yang lebih utuh. 🙂
Screen shoot lain dapat di lihat di Album Google+ di sini.
Ini adalah pertama kali saya mencoba menggunakan Linux Meego. Distro Linux yang kalau tidak salah dikembangkan oleh Intel dan Nokia. Linux Meego ini juga dipakai di Nokia N 9? Benar? Namun yang saya coba kali ini adalah Meego bawaan dari Laptop Acer Aspire 4739 milik teman saya.
Kesan pertama menggunakan Meego adalah ringan. Tampilan tab di sebelah atas terasa agak mirip dengan apa yang sehari-hari saya rasakan di Unity -nya Ubuntu 11.10. Namun sepintas pula desain tab di Meego ini terasa lebih simpel dan enak di mata.
Saya tahu saya tidak akan berlama-lama menggunakan Meego pada Acer Aspire ini. Aspire Meego ini tidak untuk dipinjamkan sebagai mainan saya. Melainkan pemilik meminta tolong untuk diganti Windows 7. Jadi aji mumpung saya adalah secepatnya memuaskan rasa penasaran. Saya segera mencoba meng-explore secepatnya.
Nah karena keterbatasan waktu mencoba-coba itu paling tidak saya menemukan beberapa masalah yang belum saya temukan solusinya:
Kesulitan menemukan tombol log out dan shutdown (akhirnya menekan tombol off pada laptop)
Kesulitan menemukan menu “Manage Aplication” untuk install program baru (akhirnya menggunakan command line mengetik “sudo yum install …”
… (apa lagi)
Ada yang menggunakan Linux Meego untuk mengerjakan kebutuhan sehari-hari? Apa pendapat Anda tentang Meego? 🙂
Bank Indonesia juga mencatat pengguna uang digital meningkat dari 7.9 juta menjadi 9.4 juta atau sebesar 18% dibandingkan tahun lalu. BI juga mencatat jumlah transaksi digital yang mencapai 8.3 juta transaksi dengan nominal Rp. 176.56 miliar
Demikian yang ditulis Dailysocial.net. Masih menurut yang ditulis oleh Dailysocial di sini, diprediksikan pada tahun 2012, di Indonesia pengguna e-money akan tumbuh menjadi 12 juta-an. Artinya apa yang diharapkan Bank Indonesia untuk mendorong transaksi secara elektronik untuk mengurangi uang fisik yang beredar seperti yang diberitakan di Detikinet di sini tidak hanya angan-angan.
Namun yang menjadi angan-angan saya adalah bagaimana bila pertumbuhan penggunaan uang digital di Indonesia terlalu cepat. Tidak mungkin ya? 😀
Angan-angan buruk saya itu seperti ini: Uang digital (e-money) yang berlebih akan mematikan pasar tradisional dan pedagang-pedangan kecil. Uang digital sependek penerawangan saya akan sangat berpihak pada pedagang-pedagang dan retailer besar. Masih sulit bagi saya membayangkan simbok-simbok pedagang sayur di pasar bisa menerima pembayaran dengan Kartu Debet, Kartu Kredit, Telkomsel Cash, XL Tunai, BCA Flazz, BNI Kartuku, Tap Izy, dan sejenisnya.
Sampai saya bertemu ngobrol-ngobrol berdua di kereta Pramex dengan Mr Recaredo Babasa. Dia adalah VP Digital Money Management di Telkomsel. Saat itu ketika saya menyinggung dampak buruk e-money bagi pedagang mikro, karena saat itu memang di acara launching Tap Izy (produk e-payment baru -nya Telkomsel) ia menceritakan ide pengembangan masa depan Tap Izy. Tap Izy sendiri dapat di baca di sini atau di sini.
Menurut Babasa, saat ini Tap Izy (RFid) memang baru bisa diisi deposit uang tertentu dan digunakan berbelanja di merchant-merchat khusus yang telah berafiliasi. Namun kelak akan dikembangkan Tap Izy bisa saling mengirim uang dengan perangkat ber-Tap Izy yang lain. Misalnya A ingin memberikan sejumlah “uang” ke B, tinggal si A mengetikan nominal uang yang akan diberikan, memasukan PIN dan mendekat pada perangkat RFid (Tap Izy) milik si B.
Keren membayangkan simbok menjual seekor ayam jago ke pasar, menerima pembayaran jual ayam di handphone ber-RFid, kemudian berbelanja bumbu dapur di lapak jualan mbok Supiah di pasar Playen dengan deposit uang di perangkat RFid, saya meminta tolong simbok untuk dibelikan gudeg kuali namun deposit simbok hasil jualan ayam ternyata sudah tidak cukup dan saya bisa mengirim sejumlah “uang digital” dari rumah. Kalau angan-angan yang ini barangkali keren yang kebablasen. 😀 Tidak ya?
Melihat Operasi Lalu Lintas (cegatan) untuk kendaraan bermotor di depan Gedung PDHI Wonosari – Gunungkidul, saya langsung mengirim tweet di atas melalui account twitter@TentangGK. Tidak lama berselang tweet saya itu segera menuai Retweet (RT). Itu adalah kesekian kalinya saya men-tweet-kan informasi Operasi Lalu Lintas yang mendapatkan banyak respon di twittersphere. (Hampir saya menulis twitter land, tetapi tidak jadi, saya takut dikira meniru-niru seorang pakar telematika yang tersohor itu, hihi)
Belakangan ini saya perhatikan setiap tweet yang berisi informasi Operasi Lalu Lintas kebanyakan memang men-viral. Informasi itu segera menyebar beranak pinak.
Tidak perlu banyak pertanyaan kenapa mengapa. Maksud banyak orang ingin berpartisipasi dalam menyebarkan informasi operasi lalu lintas itu adalah karena mereka ingin tidak ada banyak orang yang terjaring operasi lalu lintas. Nah, kenapa mereka tidak ingin ada banyak orang terjaring operasi lalu lintas menurut saya adalah pertanyaan yang perlu didalami. 🙂
Sebenarnya, sebelum ada twitter dan jejaring sosial -pun orang-orang di lingkungan dimana saya tinggal sudah punya budaya solidaritas untuk menginformasikan keberadaan Operasi Lalu Lintas. Caranya bisa bermacam-macam. Yang masih saya ingat diantaranya adalah dengan menyalakan lampu depan, (istilah Wonosari -nya nge-dim) dengan kode jari bila berpapasan dengan pengendara lain, memberi tahukan secara lisan, dan lain-lain.
Jadi di sini ketika sekarang orang menggunakan media sosial untuk berbagi informasi operasi lalu lintas, itu bukanlah hal baru. Hanya berbeda media. Esensinya sama. Orang-orang tidak ingin ada banyak orang yang terjaring operasi lalu lintas.
Kini ada ribut-ribut atau tepatnya gosip-gosip tentang sensor di twitter. Kelak bila sensor di twitter itu benar-benar dilakukan, apakah twit saya di atas termasuk tweet yang layak diturunkan dari twitter? Layak sensor karena berpotensi menurunkan hasil tangkapan operasi lalu lintas?
Windows 7 sebentar lagi akan menjadi usang. Akhir Februari ini pengembangan Windows 8 akan sudah memasuki fase beta. Dan kabar-kabarnya akan release pada musim gugur tahun ini. Sebagai sistem operasi yang paling banyak dipakai sampai penjuru planet, tentu saja banyak orang menguping akan apa saja yang akan diunggulkan Microsoft di Windows 8 ini.
Kemudian apa untungnya buat seorang pengguna anak turun Unix seperti saya? Saya untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari kalau tidak menggunakan Mac OS ya tidak lain menggunakan Linux Ubuntu. Hanya kalau sangat terpaksa sekali saya menggunakan Windows. Misalnya di lingkungan kerja dimana tidak ada banyak pilihan.
Baiklah meskipun Metro User Interface yang dibangun di atas HTML 5 dan CSS 3 yang banyak dibicarakan banyak orang. Namun saya mempertebal Reset and Refresh. Reset and Refresh adalah kabar bagus bagi saya.Kenapa? Baca lebih lanjut →
Langit sore yang indah di atas hutan di sebelah barat desaku (hutan Nggagakan) membuatku tidak tahan untuk tidak menggenapi ucapan selamat pada hari ini. Selamat sore. Dengan foto ini berarti aku sudah memuat tiga foto langit. Langit pagi Selamat Pagi, langit siang dan kali ini langit sore. Dasar pecinta langit. 😀
Ngomong-ngomong masih ingat ceritaku bertanam jagung pada awal November tahun lalu? Atau belum baca? Kalau belum atau sudah lupa silakan baca di Menanam Jagung Jangan Jemu-Jemu di sini. Ceritanya seru. hehe
Cerita itu akan segera berakhir secara Happy Ending. Sore ini tadi, aku dan adiku menengok ladang-ladang yang kami tanami jagung itu. Tanaman jagung tumbuh cukup bagus. Tongkol jagung besar-besar. Satu buah jagung yang aku coba kopas memamerkan biji-biji jagung berwarna kuning keemasan. Minggu-minggu ini sudah siap panen. 🙂
Menurut Badai, komposer yang lagu-lagu ciptaannya dinyanyikan oleh Krispatih, ya iyalah secara dia adalah pendiri grup band itu, lagu yang bagus terletak pada kekuatan liriknya. Lagu yang liriknya mengena. Lagu yang bahkan bisa menggambarkan suasana hati yang sedang sedih secara indah.
Krispatih dan Badai bagi saya merupakan bagian dari sebuah peristiwa kebetulan, hehe. Kebetulan saya mendengar omongan Badai ini pada suatu acara di MetroTV yang dipandu oleh Yovie Widiyanto. Saya lupa nama acaranya. Intinya acara itu sedang membahas tentang lagu bagus.
Pendapat lain tentang definisi lagu bagus berasal dari nara sumber yang beken pada era 80-an sampai 90-an, yaitu Fariz Rustam Munaf (Fariz RM) yang nge-top dengan Barcelona -nya. Agak berbeda dengan Badai yang puitis, Fariz mengaku lebih mudah menuangkan perasaannya dalam rangkaian melodi. Jadi lagu bagusnya Fariz RM tentu saja yang melodic, yang kuat secara musikal.
Hmmm. Saya penikmat musik yang tidak bisa menyanyikan lagu dan atau bermain musik. Jadi sebagai penikmat lagu, apa definisi saya tentang lagu bagus?
Sulit bagi saya untuk menjelaskan lagu bagus itu yang seperti apa, karena pada kenyataanya saya suka beberapa lagu yang liriknya cukup bagus yang diiringi musik yang tidak bagus-bagus amat. Sekaligus menikmati lagu-lagu yang musiknya bagus tetapi arti liriknya saja saya tidak tahu. Yang terakhir ini banyak terjadi ketika saya mulai suka lagu bukan berbahasa Indonesia ketika bahasa Inggris saya belum bagus.
Ada lagu yang saya suka karena musiknya, saya dengarkan berulang-ulang dengan riang, setelah tahu liriknya ternyata itu lagu syahdu sedih, dan sebaliknya.
Jaman dulu mencari lirik lagu tidak semudah mengetikan di google seperti sekarang. Kaset-kaset tape lagu barat tidak selalu menyertakan lirik lagu pada sampul kaset.
Kalau contoh lagu bagus versi saya tentu saja mudah menuliskan di sini. Katakanlah Puspa Indah Taman Hati ciptaan Guruh Soekarno Putra yang dinyanyikan oleh Chrisye. Restoe Boemi nya Dewa 19. Hampir semua lagu yang diciptakan oleh James Horner saya suka. Juga lagu-lagu ciptaan Clint Eastwood.
Namun seingat saya, telinga saya bisa mulai terbuka dengan sebuah lagu yang baru pertama kali terdengar adalah karena melodinya, karena musiknya sedang selaras dengan perasaan saya saat itu. Setelah telinga terbuka dan melodi sedikit demi sedikit mengalir masuk, biasanya saya mulai menyimak. Permainan kata-kata di liriknya apakah cukup membuat saya terpesona. Apakah cerita yang dikisahkan pada lirik itu “cukup mengena”?
Kadang-kadang tapi jarang langka, saya menyukai sebuah lagu karena teman saya ada yang suka duluan, kemudian memperdengarkan kesukaanya akan lagu itu dari sudut pandang dia. Baik dari bagaimana lagu itu “sangat teman saya banget” atau karena misteri jenius yang tersembunyi pada permainan dibalik musik lagu itu.
Lagu-lagu yang jenius biasanya malah baik lirik maupun musiknya sama sekali tidak mengimpresi saya pada “pandangan” pertama. Rasa suka mulai masuk pelan-pelan melalui perulangan. Atau moment yang tiba-tiba terjadi. Sejujurnya saya kesulitan langsung menyukai sesuatu, namun ketika saya terlanjur menyukai biasanya akan susah melepaskanya dari ikatan emosi di dalam diri. 😀
Nah, sekarang saya akan mencoba mendengarkan lagu ciptaan Badai ini: