Berani Berbahasa Inggris Ala Mr Hani Sutrisno itu Hebat!

image

Belajar Bahasa Inggris bagi kebanyakan orang masih menjadi momok yang menakutkan. Menjadi cakap dan fasih berbahasa Inggris seolah adalah mimpi tak sampai. Betapa tidak, setelah belajar berbahasa bukan hanya menghitung hari, detik dan bulan, melainkan belas tahun kita habiskan di bangku sekolah untuk mempelajari seramnya bahasa makhluk ini, hasilnya nyata, nyata-nyata nihil. 😀

Saya sendiri adalah bagian dari orang kebanyakan yang merasakan belajar Bahasa Inggris itu tidak mudah. Bahkan sampai sekarang setelah saya belajar bahasa ini selama 23 tahun, dari tahun 1992 sampai sekarang. Meski juga bukan berarti proses belajar saya selama ini tidak ada bekasnya sama sekali. Saya tetap menyukuri keterampilan saya dalam berbahasa Inggris (written skill) dalam topik-topik tertentu yang sedikit banyak menunjang kelancaran pekerjaan saya.

Namun ketika berhadapan dengan kebutuhan untuk menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi lisan (oral) baik untuk hal formal maupun kasual, saya merasa menemukan batunya. Untuk memulai sebuah sesi komunikasi lisan saya sering merasa ragu dan enggan, misalnya: kalimat seperti apa yang ingin saya gunakan untuk menyapa atau merespon, apakah pengucapan saya sudah benar, apakah intonasi saya sudah sopan, apakah tata bahasa yang saya gunakan sudah tidak memalukan. Karena dalam berbahasa Inggris lisan semuanya berlangsung real time, linear dan on the fly. 😀 Tidak ada spell checker dan gramatical error checker sebagaimana ketika saya berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan menggunakan gawai (gadget).

Kamis siang, tanggal 3 Desember 2015 di salah satu tempat makan di Gunungkidul, Mas Tri Prasetyo, Pimred Penerbit Indonesia Tera memperkenalkan kepada saya, salah satu buku terbaru yang diterbitkannya. Sebuah buku bersampul hijau berjudul “How to Master Vocabulary for Daily Conversation”. Buku itu diperkenalkan kepada saya sebagai buku yang ditulis oleh Mr Hani Sutrisno, beliau adalah pendiri Desa Bahasa Borobudur di Magelang. Dalam kesempatan itu Mas TP (Mas Tri Prasetya) juga bermaksud mengundang Komunitas Blogger Jogja untuk mengikuti acara launching buku baru ini di Desa Bahasa.

Sebagai orang yang sudah agak kurang akrab dengan buku, saya sedikit apriori, saya ragu, memang apa yang bisa ditawarkan buku ini dalam membantu meningkatkan kemampuan berbahasa inggris di tengah-tengah pesatnya perkembangan teknologi pembejaran digital, multimeda dan interaktif.

Buku ini tidak langsung saya buka ketika pada hari itu saya tiba di rumah. Saya mulai membuka-buka buku ini di teras rumah pada sore beberapa hari kemudian. Ada semacam bau nostalgia keluar dari lembar demi lembar, halaman demi halaman yang saya coba baca.

Puas membuka-buka tiap lembar halamannya, saya kembali ke halaman awal. Saya membaca tiap kosakata dengan santai. Saya ingin tahu berapa banyak kata yang saya tahu artinya dan mana yang  tidak. Belum sampai hal. 10 saya tersenyum dalam hati mendapati hafalan saya cukup lumayan dan diikuti tertawa seorangan kemudian. Rupanya selama ini saya banyak mengabaikan pengucapannya (pronunciation). 🙂

Di halaman-halaman berikutnya di buku ini saya menemukan adjectives, nouns, conjunctions, verbs, noun phrases sampai date and times. Sepintas terdengar biasa-biasa saja, namun apa yang menurut saya menarik adalah apa yang dituliskan dan dicontohkan dalam buku ini merupakan sesuatu yang sederhana dan sering ditemukan dalam percakapan harian dan memang kita butuhkan.

Buku “How to Master Vocabulary for Daily Conversation” saya tutup demi membacanya benar-benar dari awal lagi. Membaca halaman “Daftar isi” buku ini saya menemukan sesuatu yang sekarang terasa menarik.
Baca lebih lanjut

T50i : Pesawat Tempur Naas di Jogja Airshow 2015

Suasana di Bandara Adi Sucipto – Yogyakarta terasa biasa-biasa saja ketika saya cheeck in di Counter Garuda Indonesia pada sekitar pukul 09:00 WIB. Memang ada sedikit antrian di counter Garuda dan Citilink yang bersebelahan, tetapi tidak panjang.

Tidak lama berselang, saya menyodorkan tiket elektronik di smartphone dan kartu identitas yang sebelumnya telah saya persiapkan kepada petugas check in Garuda. Seperti biasa proses check in berlangsung cepat.

Sambil memberikan secarik boarding pass, petugas memberi tahu saya kalau pesawat G205 menuju Jakarta yang akan saya tumpangi akan mengalami delay. Berapa lama delaynya belum diketahui dan akan diumumkan kemudian. Alasannya adalah: Di Bandara Adi Sucipto sedang digunakan untuk acara Air Show. Alasan yang bisa saya maklumi.

Terkait event Air Show ini saya memang sudah tahu sebelumnya. Bahkan saya sempat akan mengikuti sebagian rangkaian acara yaitu: Jupiter Fun Run yang diselenggarakan pukul 06:00 WIB tadi. Rangkaian acara Air Show hari ini yang saya ketahui adalah terjun payung dan atraksi pesawat.

Saya pun segera menuju ruang tunggu dan memilih tempat duduk yang nyaman dan tidak terlalu berisik. Agar bila nanti ada pengumuman kapan pesawat yang akan saya tumpangi akan terbang, saya bisa mendengar dengan jelas.

Kira-kira pukul 09:30 WIB, suara gemuruh yang memekakkan telinga menyedot perhatian orang-orang di ruang tunggu bandara. Rupanya atraksi aerobatik pesawat tempur pada pagi ini di mulai. Banyak orang yang mendekat ke kaca-kaca di sisi selatan ruang tunggu. Menyaksikan atraksi aerobatik ini.

Tiba-tiba saya mendengar suara ledakan. Melongok ke sisi selatan, saya melihat ada ledakan besar. Ledakan berwarna merah diikuti asap hitam yang membumbung menyerupai jamur. Atau lebih tepatnya ya seperti di film-film. Gedung STTA Adi Sucipto dalam sekejap diselimuti asap.

Saya pun buru-buru merapat ke sisi kaca selatan ruang tunggu, untuk melihatnya lebih jelas. Mulanya saya ragu. Apakah ledakan itu bagian dari atraksi atau terjadi kecelakaan. Setelah yakin itu merupakan sebuah kecelakaan, saya pun mengambil gambar dengan iPhone saya dan mengunggahnya ke Facebook dan Twitter.

Sebelumnya saya memang mengira kalau ini merupakan pesawat F16. Belakangan saya tahu kalau ini ternyata bukan F16. Dari beberapa petugas di bandara yang kemudian saya tanyai, ternyata ini adalah jenis pesawat T50i Golden Eye.

Memang kedua jenis pesawat ini sepintas mirip.

Ruang tunggu Bandara Adi Sucipto kontan gaduh karena calon dengan calon penumpang yang menjadi saksi peristiwa naas ini. Timeline twitter pun spontan digaduhkan oleh kecelakan T50i. Tweet saya di atas menjadi viral.

Rasanya baru kali tweet saya mendapat retweet sebegitu banyaknya. Menjawab banyak sekali mention twitter di tengah kegaduhan dan kebelum pastian pesawat saya terbang menjadi semakin tidak mudah. Saya hanya merespon sebisanya.

Termasuk merespon WA dari Lolita (Metro TV) yang meminta saya wawancara live pagi tadi. Saya pun mengiyakan, meski saya tahu telinga saya tidak peka di tengah keramaian.

Sekitar Pukul 10:30 WIB pengumuman yang saya tunggu-tunggu datang. GA 205 menuju Jakarta akan terbang pada pukul 11:00 WIB.

Dan alhamdulillah, sekarang saya sudah tiba di Sukarno Hatta International Airport dengan selamat. Saat ini saya menulis posting ini di Old Town Coffe.

Menyisir mention ke saya di twitter, saya menemukan sebuah video yang memuat kecelakan T501 Golden Eye. Videonya adalah:

Saya berharap semoga peristiwa naas ini menjadi pelajaran bagi kita semua dan bila terjadi korban jiwa, semoga arwah beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi -Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Begitu juga dengan segela kerusakan yang terjadi. Semoga mendapatkan penanganan terbaik sehingga kerugian dan dampaknya bisa dikurangi seminimal mungkin.

 

Notting Hill, A Romance Comedy, A Pain Killer

notting hill

Adalah William Thacker, seorang pria malang yang tinggal di Notting Hill. Di kota kecil di Inggris ini Thacker berjualan buku travel secara kecil-kecilan di sebuah toko sebagai penyambung hidup. Dirasa belum cukup ia pun menyewakan sebagian apartemen yang ditinggalinya. Si pengontrak rupanya orangnya jorok, berantakan dan paling cupu sedunia.

Kehidupan pribadi Thacker sendiri memang  berantakan. Sahabat-sahabat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya juga sama-sama bisa dibilang mempunyai kehidupan pribadi yang sama-sama tidak sukses. Hidup Thacker seolah mendekati kiamat. Setelah ia diceraikan oleh istrinya tanpa alasan. Pacar yang ia cintaipun malah memilih menikah dengan sahabat Thacker sendiri. Ia kemudian lebih banyak menyendiri di toko bertemankan buku-buku yang tidak habis dibaca tiap hari.

His life changes when into his bookstore walks American Anna Scott, arguably the most famous and attractive movie actress in the world. Against the odds, Anna and William become friends with the possibility of romance between the two on the horizon. But the odds of moving their relationship to that final stage are still stacked against them as they live in two different worlds, Anna’s under constant public scrutiny of the gossip hungry press, who, along with the public at large, know that Anna is already in a personal relationship with equally famous movie actor, Jeff King.

Berat memahaminya sebagai sebuah kejaiban, Thacker mungkin lebih suka menyebut sebagai keanehan yang membawa galau dan takjub sekaligus. And odds thing. Sureal but nice.

****

Hujan masih menyisakan gerimis ketika tadi malam perut saya terus terasa nyeri. Bingung apa yang akan saya lakukan sambil menunggu obat yang saya minum bereaksi, saya pun tidur-tiduran saja. Biasanya perlu waktu sekitar satu jam setelah minum obat rasa nyeri dan melilit di perut ini mereda.

Saya pun meraih ponsel saya berharap dapat menggunakannya untuk membantu obat yang saya minum tadi meredakan rasa sakit. Ingat beberapa waktu lalu saya menyalin sebuah film yang saya minta dari seorang teman, saya pun mencoba memutarnya melalui layar kecil 5.5″ Asus Zenfone Selfie. Tentu saja tetap sambil tiduran dengan earpod tertancap di kedua telinga.

Ini adalah Notting Hill, film lama yang populer ketika saat itu saya masih remaja. Film ber-genre Romance Comedy beralur sederhana namun menghibur dengan akting yang luar biasa dari Julia Robert dan Hugh Grant dan sesuatu yang membawa saya bernostalgia dengan When You Say Nothing At All -nya Boyzone lengkap dengan setting yang dibawanya.

Saya tentu kali ini tidak perlu me-review Notting Hill. Akan tidak relewan bila kali ini saya mencela film yang sudah berusia 16 tahun namun kali ini tetap merasa terhibur dan enjoy menontonnya. Saya memang tertidur ketika film ini berjalan baru setengahnya.

Namun ini adalah bukti betapa bagus film ini membantu saya bertahan pada saat-saat sakit sekaligus pada “saat-saat sulit” melewati problema ala “Thacker dan Anna Scott”. Halaaah.

Menikmati film dengan santai sambil tiduran dengan menggunakan perangkat kecil berlayar 5.5″ adalah hal baru yang menyenangkan. Saya bisa memegang perangkat kecil yang ringan ini dengan kedua tangan, bisa telentang, bisa bebas ingin miring ke kanan apa ke kiri.

Andai ya, andaikan dengan cara seperti ini saya menontonnya dengan device dengan layar yang sedikit lebih lebar, katakanlah 7″ namun tetap hampir sama ringannya. Dan lagi menggunakan headset nir kabel yang bebas belitan. Tentu saya tidak perlu khawatir tercekik oleh belitan kabel bila saya ketiduran lagi ketika menikmati konten multi media di tempat tidur. 🙂

 

 

update ke iOS 9.2: alarm mau berdering lagi

image

apa yang pertama kali saya coba begitu selesai melewati proses update ke iOS 9.2 di iphone 5s saya adalah: alarm.

fitur yang sangat penting bagi bio cycle hidup saya yang hilang dan membuat saya merasa kehilangan dan sering bangun kesiangan.

saya menggantungkan diri pada fitur alarm di iphone tidak lain karena kemudahan menggunakan fitur ini. tinggal swipe up layar iphone, sentuh ikon jam, sentuh alarm dan setting. begitu saja. sangat mudah bahkan ketika saya sudah didera rasa ngantuk.

fitur ini mendadak tidak bekerja dengan baik sejak beberapa waktu lalu ketika saya melakukan update ke iOS 9.1 di iphone 5s. entah apa alasan saya saat itu melakukan update. kalau alasan update saya kali ini jelas. ingin secepatnya fitur alarm di iphone segera bisa membangunkan saya lagi pada pagi hari. Baca lebih lanjut

Video Blogging (Vlog) Mudah dengan Smartphone

Saat ini kita berada pada suatu masa dimana video menjadi primadona konten di internet. Lihat di halaman Youtube, Facebook, atau bahkan di Vimeo. Bisa dipastikan tiap satu detik berganti bisa diketahui ada konten video baik yang menarik maupun yang kurang menarik yang baru saja diunggah di sana.

Dalam waktu singkat tentu konten-konten video (yang) menarik tersebut segera ditonton oleh banyak orang.

vlog

A participant uses a smartphone to record the speech of Billionaire Jack Ma, chairman of Alibaba Group Holding Ltd., during the 2015 Computing Conference held in Hangzhou, China, on Wednesday, Oct. 14, 2015. Photographer: Qilai Shen/Bloomberg

Orang menonton video di internet dengan tujuannya masing-masing. Ada yang menonton video online sebagai hiburan. Ada yang untuk mendapatkan informasi atau berita terbaru. Saya sendiri sering mencari video tutorial di Youtube karena tutorial dalam bentuk video seringkali lebih mudah dipahami daripada membacanya. Misalnya tutorial membongkar laptop atau tutorial bermain gitar. Nah …

Makin populernya konten video di internet ini tidak mengherankan. Secara beberapa tahun yang lalu juga sudah diramalkan oleh banyak orang  pintar. hah … 😀 Lebih tepatnya populernya video online ini karena memang ekosistemnya sudah terbentuk: jaringan internet yang semakin cepat; komputer, smartphone, tablet, internet tv yang makin banyak dimiliki orang; platform dan aplikasi seperti youtube dan video; dan yang tidak kalah pentingnya adalah masyarakat internet yang semakin menuntut. Baca lebih lanjut

Curhat Sakit …

Saya lupa kapan persisnya saya mulai merasakan gejala sakit yang sampai hari ini belum sepenuhnya sembuh. Seingat saya, pertengahan bulan November saya sudah merasakan suhu tubuh saya kadang-kadang terasa meningkat, kadang tubuh terasa lemas dan sesekali kepala merasa pening.

Karena seperti rutin terjadi pada tahun yang sudah-sudah, yang mana akhir tahun banyak pekerjaan baik yang terduga maupun yang tiba-tiba “menjadi pekerjaan” harus saya selesaikan, saya pun tidak begitu menghiraukan gejala sakit yang saya rasakan. Saya keep go on saja. Tubuh masih kuat kok.

Di sela-sela pekerjaan dan rutinitas, pada pertengahan bulan November saya menenuhi undangan dari ASUS untuk mengikuti acara Zen Festival di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place. Acara yang memang menarik bagi tech blogger seperti saya. Namun sebenarnya ada hal di luar acara itu yang saya harapkan bisa saya temui. Meski, toh, sampai saya pulang lagi ke Yogyakarta tidak kesampaian. 😦

Selesai acara gala dinner di Ritz Carlton ketika saya sudah di kamar hotel dimana menginap yaitu di Grand Mercure Gajah Mada, perut saya mulai terasa tidak enak. Mual, perih dan sejenisnya. Ada semacam rasa ingin BAB. Dan beberapa menit kemudian saya BAB beneran dan dalam frekuensi yang sangat sering. Singkatnya saya diare yang disusul muntah-muntah.

Sambil menggigil kedinginan, saya pun mematikan AC kamar. Rasa mual berlanjut dan antara mengerang dan muntah terjadi berulang-ulang. Saya bahkan sampai pingsan dan terjatuh ke lantai kamar.

Pukul 6 lebih saya baru berusaha bangun. Di antara ragu apakah saya bisa terbang kembali ke Jogja pagi itu apa tidak. Saya pun mencoba melakukan sesuatu. Saya menuangkan air mineral ke dalam pemanas air yang ada di kamar hotel. Kemudian saya berusaha membersihkan diri, mandi dengan air hangat dan berusaha menunaikan shalat Subuh meski saya tahu waktunya sudah sangat terlambat. Bisa dibilang saya shalat Subuh pada waktu Dhuha. I think Allah will always understand me …

Air yang saya panaskan tadi sudah mendidih. Saya mengambil mug dan membuka teh celup yang tersedia, menuanginya dengan air panas, menambahkan dengan gula dan perlahan-lahan meminumnya. Rupanya sebotol air mineral kira-kira 600 ml hampir saya habiskan pada pagi itu.  Saya harus berusaha menolong diri sendiri sebelum orang lain yang menolong saya.

Dan pelan-pelan saya mulai merasa kuat.

Alhamdulillah, pagi itu saya berani memutuskan untuk menuju bandara dengan bus yang telah disediakan oleh panitia Zen Festival. Kenyataan yang harus saya hadapi berikutnya adalah berjalan dari drop in Terminal 2 Soekarno Hatta. Ya ampun jauh banget dengan melewati beberapa kali pemeriksaan X-ray. Di Terminal 2 saya sekali mencari toilet dan meneruskan ritual diare.

Satu jam peberbangan dengan Garuda alhamdulillah saya lalui dengan selamat. Di dalam pesawat saya memesan teh panas dan berusaha memakan kue yang diberikan oleh pramugari.

Tantangan berikutnya adalah perjalanan dari Bandara Adi Sucipto ke Gunungkidul. Ini lebih menantang karena saya mengendarai sendiri sepeda motor. Masa iya saya mau naik taxi dan lebih lama menginapkan motor saya di penitipan di sekitar Bandara.

Alhamdulillah saya selamat sampai tempat kerja saya di Gunungkidul.

Loh, kok ke tempat kerja? Benar, Jum’at itu saya harus meneruskan pekerjaan saya sehari-hari. Jadwalnya memang sampai sekitar jam 17:00 WIB. Meski prakteknya saat itu pekerjaan selesai lebih awal.

Sesampai di rumah, saya mengemasi pakaian-pakaian kotor dan mengirimnya ke laundry service tidak jauh dari rumah saya. Kemudian saya langsung menuju ke tempat praktek dokter Nila.

Oleh dokter saya diberi beberapa obat, seingat saya adalah: tablet obat diare, lanzophrasol dan paracetamol. Hari berikutnya diare saya sudah berkurang. Hari Sabtu saya tetap bekerja. Hari Minggu ketika gejala sakit saya menurun saya pun merasa perlu refreshing dengan jalan ke Jogja City Mall. Berharap syaraf-syaraf saya yang tegang sedikit kendur. Kenyataannya malah ada kejadian yang tidak terduga menimpa yang mempuat kepala saya makinpening dan telinga berdenging.
Baca lebih lanjut

Eiit, Ngga Perlu Tergesa, Belanja yaTunggu Harbolnas Saja

Masih ingat cerita saya membeli celana jeans di Jogja City Mall beberapa pekan lalu? Saat itu saya inginnya tidak hanya membeli celana jeans saja. Saya juga ingin membeli beberapa kemeja dan atasan. Tapi yah, membeli kemeja bagi saya tidak semudah membeli celana jeans. Terlalu banyak pilihan kemeja sering membuat saya yang ngga begitu fashion savy bimbang.

Kebetulan, besok, hari Rabu, 9 Desember 2015, di kabupaten dimana saya tinggal turut menyelenggarakan Pilkada Serentak. Instansi dimana saya sehari-hari ngantor diliburkan agar sepenghuni kantor berpartisipasi mensukseskan Pemilihan Kepala Daerah serentak itu.

Nah, seharusnya, saya besok bisa datang ke Tempat Pemungutan Suara paling pagi untuk turut mencoblos jagoan bupati pilihan saya. Habis itu saya akan punya waktu untuk belanja kemeja. Kalau waktunya longgar begitu, pikir saya akan leluasa memilih kemeja tanpa tergesa. Itu sih seharusnya …

Sayangnya beberapa hari ini saya masih sakit. Dan hasil test lab kemarin oleh bu dokter saya didakwa terkena tipes. Ya ampun. Kalau sakit tipes seperti ini saya harus bed rest. Berarti saya ngga jadi bisa belanja kemeja. Tahu sendiri kan belanja di mall itu seperti apa? Untuk memilih-milih baju pasti saya harus jalan kaki dari lantai satu ke lantai yang lain, dari merchant satu ke merchant lain. Itu pun belum dihitung berapa jauh dan energi yang dikuras di jalan dari rumah ke mall. Seperti ini kalau nekad bisa berabe. hehe

Kemarin setelah dari dokter, setelah makan dan minum obat, saya tiduran untuk memaksimalkan mengistirahatkan diri. Kalau biasanya beraktifitas kemudian tiduran saja pastinya tidak enak. Saya pun scroll-scroll timeline jejaring sosial yang satu ke yang lain. Ah dan saya pun membuka-buka aplikasi-aplikasi online shop di smartphone. Hihi, secara ingin beli kemeja. Dan ingin beli headset bluethooth.

Untuk belanja kemeja sih, pastinya saya bisa buka aplikasi Zalora, aplikasi online shop yang specialty ke fashion. Ada sih, banyak sebenarnya  olshop fashion, baik yang serius pakai web dan aplikasi sendiri maupun yang masih pakai facebook dan instagram. Kenapa saya lebih klop pakai Zalora karena, karena di Zalora navigasinya bagus, foto-foto itemnya bagus-bagus dan dari berbagai sudut, dan tentu saja pilihan item yang tersedia ada ribuan. Bayangkan bagaimana cape bila saya memilih milih ribuan item di mall, bisa-bisa saya jadi makin kerempeng. Itu belum lagi kalau akhirnya saya milih-milih doang, ngga beli-beli, eh malah dikepoin dan disapa sama pramuniaga. “Mau nyari kemeja yang seperti apa sih, kakak?”. Sebel ngga? 😀

Ok ok, jalanin Zalora apps ….

image

di halaman utama menyambut Promo Hari Belanja Online Nasional. Hihi, siapa sih yang ngga nafsu buat melototin Promo yang nawarin diskon gila-gilaan seperti ini.

Tapi tunggu dulu… Promonya belum berlaku pada hari ini. Promo Zalora dalam memeriahkan Harbolnas baru akan berlaku pada tanggal 10 sampai 12 Desember 2015. Dari hari Kamis depan sampai Jum’at, sampai Sabtu. Tidak lama. Hanya tiga hari. Jadi jangan telat dan jangan keburu mendahului, hihi. Lebih tepatnya sila lihat promonya di sini.

Baca lebih lanjut

Kawal Pilkada, Kepedulian dan Partisipasi Kita Adalah Energi Bagi Demokrasi

image

Dua hari lagi, atau lebih tepatnya Rabu, 9 Juli 2015, Indonesia menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di banyak kabupaten dan kota secara serentak. Di Yogyakarta sendiri ada 3 kabupaten yang turut menyelenggarakan Pilkada secara serentak ini. Termasuk di antaranya, di kabupaten dimana saya tinggal pun akan dilangsungkan Pemilihan Kepala Daerah/Bupati.

Saya pun insya Allah akan datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) 06 yang terletak tidak jauh dari tempat kami tinggal. Untuk mencoblos pasangan bupati dan wakil bupati yang saya harapkan akan mampu memimpin Kab. Gunungkidul untuk 5 tahun yang akan datang dan membawa Gunungkidul berjalan menuju ke arah yang benar dan jalan yang benar pula.

Bagi sebagian kawan-kawan mungkin dalam Pilkada kali ini belum bisa menjaring calon bupati yang baik menurut standar ideal kawan-kawan. Pun begitu saya tetap mengajak teman-teman untuk tetap menggunakan hak pilih dengan secara syah mencoblos salah satu pasangan bupati dan wakil bupati. Bila tidak ada yang terbaik atau yang baik, pilihlah yang tidak terlalu jelek dari yang jelek-jelek. Saya tahu dan saya rasakan sendiri ini memang tidak mudah dan memang bukan pilihan yang mudah.

Nah! Kali ini saya tidak golput dan tidak mengajak golputkan? 🙂

Itu tadi ajakan pertama saya. Ajakan kedua sekaligus yang terakhir dalam Pilkada kali ini adalah: mengajak teman-teman untuk menjadi relawan transparansi untuk memberi energi bagi demokrasi di negara kita. Teman-teman mungkin ada yang sudah berpartisipasi dalam bentuk menjadi anggota KPPS di masing-masing TPS sampai menjalankan peran di tingkatan yang lebih tinggi. Teman-teman mungkin ada yang menjadi Panwas, telah tergabung dalam berbagai organisasi Pemantau Pemilu dan lain-lain. Bagi yang belum bergabung secara organisasi, teman-teman masih ada cara dan saya anjurkan untuk menjadi relawan di Kawal Pilkada. Bila belum tahu bagaimana Kawal Pilkada dan Kawal Pilkada bekerja silakan menuju laman http://kawalpilkada.id

Untuk diketahui siapa saja Warga Negara Indonesia, baik yang di daerah dimana ia tinggal menyelenggarakan Pilkada atau pun tidak diperbolehkan dan saya anjurkan berpartisipasi terhadap transparansi Pemilu Kada kali ini dengan menggunakan sistem Kawal Pilkada.

Cara Mudah untuk menjadi Relawan KawalPilkada sangat mudah. Dari smartphone Android atau perangkat iPhone/iPad anda bisa memasang aplikasi ini dari Google Play maupun Apple Store. Dalam praktik kali ini saya menggunakan sebuah smartphone Android.
image

Untuk memasang Aplikasi Kawal Pilkada kita cukup mengetik Kawal Pilkada dan akan didapatkanlah aplikasi yang relevan. Pilih aplikasi dengan ikon seperti ditunjukkan oleh gambar di atas. Bergambar tangan mengepal dengan jari kelingking yang berwarna merah. Baca lebih lanjut

Properti di Indonesia yang Bagus dan Pas Jadi Pilihan

urbanindo 2

Bisnis properti tentu saja bisa anda temukan dengan mudah mengingat properti itu sendiri merupakan sebuah kebutuhan yang tidak bisa di tunda. Dengan demikian, properti yang menjadi bagian dari kebutuhan primer ini tentu saja akan dengan mudah anda temukan di berbagai tempat.

Anda bahkan tidak hanya bisa menemukannya dengan mudah di toko properti langsung, anda juga bisa menemukan properti yang anda butuhkan di media online. Sekarang, anda hanya tinggal memilih, ingin membeli di media online atau secara langsung saja?

Pilihan tentu saja ada di tangan anda. Namun, bagi anda yang tidak memiliki waktu yang banyak untuk membeli properti secara langsung, membeli properti di media online tentu saja akan menjadi pilihan yang terbaik. Mengapa? Baca lebih lanjut

Review Teh Javana Candi ke Candi 10K

IMG_20151129_100439

Belum-belum sudah pasang foto selfie. Tapi, benar, dari sekian banyak foto yang tadi saya ambil, foto ini adalah yang paling mewakili apa yang saya lakukan pada tadi pagi selama mengikuti acara Teh Javana Candi ke Candi 10K.

Seperti yang saya tulis dalam posting saya sebelumnya di sini. Bulan ini saya tidak pernah merencanakan untuk mengikuti race. Saya tidak merencanakan apalagi untuk menciptakan catatan PB (personal best). Saya tadi benar-benar ikut fun run ini untuk having fun, untuk mengendurkan ketegangan syaraf-syaraf dan meredakan stres yang mengungkung saya dalam beberapa bulan terakhir. Dan semoga ini awal yang baik untuk memotivasi diri untuk turun mengukur aspal lagi.

Tiba di parkiran kompleks Candi Prambanan, saya langsung diberi tahu oleh panitia agar saya segera bergegas ke (belakang) garis start. Teh Javana Candi ke Candi 10K akan dimulai dalam beberapa menit lagi.

Saya segera memasang BIB number, mengencangkan tali sepatu dan meraih dua ponsel. iPhone 5s untuk menjalankan aplikasi Nike Running+ dan Zenfone 2 Selfie. Ponsel ke dua tentu adalah fun tool/selfie tool. Untuk seru-seruan. Saya kemudian berlari menuju kerumunan di belakang garis start.

IMG_20151129_100816

Langsung deh heboh foto-foto selfie di sini. Baca lebih lanjut