Perhelatan Mandiri Jogja Marathon 2017 telah usai, wis rampung. Sambil menikmati segala kenangan yang tersimpan mesra di otot-otot betis dan persendian kini saatnya menuliskan beberapa paragraf untuk event Full Marathon road race pertama di Jogja itu.
Adalah Bagus Abdurrahman Wahid yang pertama kali memberi tahu saya akan ada event lari di Prambanan pada bulan April 2017. Menurutnya ada beberapa kategori lari hingga HM (half marathon).
Tak lama berselang di grup Runner’s Nation (RuN) event lari ini menjadi perbincangan. Menariknya disebutkan akan ada pula kategori Full Marathon. Penasaran saya terjawab ketika website Jogja Marathon resmi diluncurkan. Berarti Jogja akan pecah telor sebagai kota yang menyelenggarakan perhelatan lomba lari jalan raya full marathon.
Melihat-lihat website Jogja Marathon (kemudian berubah menjadi Mandiri Jogja Marathon) yang biasa-biasa saja saya tidak banyak berharap MJM akan menjadi event yang istimewa dan mengesankan. Pengambilan Racepack (20 April 2017) di Hotel Jambuluwuk – Yogyakarta meski berlangsung lancar dan rapi juga tidak menampakkan sesuatu yang istimewa.
Kenyataanya mengejutkan. …



Seyognyanya Bulan Desember 2016 sampai kira-kira Bulan April 2017 saya berencana untuk menjalani program base training secara mandiri. Bulan-bulan berikutnya saya ingin memasuki program training untuk kategori 

Kebersamaan saya dengan sepatu lari ini sudah cukup lama. Menurut timeline Instagram sudah sekitar 13 pekan. Saya meminang Nike Air Zoom Pegasus 33 pada bulan September 2016. Untuk berlatih mempersiapkan diri mengikuti 
Salah satu event lari yang tak boleh terlewatkan pada akhir tahun ini bagi saya adalah Sermo Challenge II: Beat Your Record. Kenapa? Karena event lari dengan course sepanjang 16.8 km ini tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Sermo Challenge mengambil rute mengelilingi Waduk Sermo – Kulon Progo yang teduh, adem, indah dan menjelang penghujung lintasannya pelari diuji dengan elevasi yang aduhai.