Butuh Duit 5 Milyard

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bilang kalau dia berdoa untuk orang lain biasanya terkabul, tapi kalau berdoa untuk dirinya sendiri tidak selalu. Saya pun bilang sama dia untuk meminta didoakan agar saya bisa dapat uang sejumlah 3 Milyard.  Gambaran saya saat itu saya butuh duit 3 Milyard. Tapi sekarang saya merasa perlu uang sebanyak 5 Milyard

Dia tercengang. Uang sebanyak itu akan dipakai buat apa.

Saya tidak main – main. Saya memang butuh duit sejumlah itu. Meskipun saya juga tidak punya bayangan apa – apa tentang cara mendapatkan uang sebanyak itu. Makanya saya  berdoa sendiri selain tidak menolak bila teman – teman saya ikhlas mendoakan saya.

Jadi berpikir kenapa orang berdoa. Orang biasanya berdoa untuk hal – hal yang berada di luar kendalinya. Ada orang  yang enggan berdoa untuk mendapatkan uang Rp 50.000,-/hari karena dia sudah biasa mendapat bayaran satu juta rupiah per hari. Sementara saya berdoa untuk sesuatu yang menurut saya di luar batas kemampuan saya.

Cerpen Putu Wijaya: Bersiap Kecewa …

Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata – kata

(buat GM)

OLEH PUTU WIJAYA

Aku menunggu setengah jam sampai toko bunga itu buka. Tapi satu jam kemudian aku belum berhasil memilih. Tak ada yang mantap. Penjaga toko itu sampai bosan menyapa dan memujikan dagangannya.

Ketika hampir aku putuskan untuk mencari ke tempat lain, suara seorang perempuan menyapa.

“Mencari bunga untuk apa Pak?”

Aku menoleh dan menemukan seorang gadis cantik usianya di bawah 25 tahun. Atau mungkin kurang dari itu.

“Bunga untuk ulang tahun?”

“Yang harganya sekitar berapa Pak?”

“Harga tak jadi soal.” Baca lebih lanjut

Memperingati Nifsu Sya’ban itu Bid’ah?

Sejak sore tadi saya mendapatkan banyak SMS dan BBM yang berisi pesan akan keutamaan memperingati malam Nifsu Sya’ban yang katanya jatuh pada malam ini. Bukanya menyikapi informasi ini secara arif, alih – alih saya malah tanpa berpikir panjang dengan meneruskanya di status facebook.

Dalam beberapa saat, status ini mendapat beberapa respon like dari teman – teman saya. Entah apa maksud mereka nge-like status fb itu. Untungnya ada salah satu teman saya yang mengritisi status fb berisi pesan nifsu sya’ban itu. Ia bilang nifsu sya’ban itu bid’ah.

Kritik ini membuat saya penasaran dan googling sana sini. Dan memang benar, dari beberapa link yang saya baca dan bandingkan, tidak saya temukan hadits shahih tentang peringatan nifsu sya’ban. Bila anda penasaran seperti saya silahkan googling sendiri. Berikut adalah link yang menurut saya menarik:

http://tausyiah275.blogsome.com/2007/08/27/malam-nisfu-syaban-bidah-kah/

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=193126727410639&set=t.1452751441&type=1&ref=nf

Lesson Learned:

  1. Dewasalah dalam mencerna dan meneruskan informasi.
  2. Rajin – rajinlah mempelajari agama yang kita anut

23 Hari Menjelang Ramadhan

Saya melihat tadi malam posisi bulan sudah lumayan tinggi. Ternyata Kalender Hijriah sudah menunjukan tanggal 6 bulan Sya’ban 1432 H. Pantas Undangan menghadiri pesta nikahan sudah habis.

Ini kabar bagus buat saya. Karena berarti pengeluaran untuk “njagong” di pesta nikahan yang memuncak pada bulan Rajab kemarin mereda. Tinggal ada beberapa njagong di pesta khitanan tetangga yang marak di musim liburan sekolah kali ini. Kemudian saya bisa sedikit lega, seiring berlalunya musim nikahan, saya juga akan bebas dari pertanyaan yang paling saya benci seumur – umur. Tahu sendiri apa pertanyaan jelek itu kan. 😀

Tadi malam tanggal 6 Sya’ban. Petang nanti sudah tanggal 7. Benar ngga hitungan ini? Kalau tanggal yang saya sebut ini tidak akurat saya rasa paling selisih satu hitungan. Apapun Ramadhan makin dekat. Sya’ban ini hanya mempunyai hitungan 29 Hari. Artinya 22 atau 23 petang menjelang Ramadhan. Bulan yang kita nanti – nantikan kok tiba – tiba tiba.

Kalau kita menanti – nantikan bulan Ramadhan, sudah seberapa banyak yang kita persiapkan?

Shalat Wajib Tiga Waktu

Di suatu daerah di Indonesia, di Pulau Lombok, ada suatu suku dalam suatu perkampungan, mereka beragama Islam. Lalu apa yang menarik? Mereka menunaikan shalat tiga waktu. Tidak lima waktu seperti yang kita lakukan. Mereka bersikukuh shalat tiga waktu sampai saya mendengar (atau membaca) cerita itu.

Ada yang tertarik meneliti kenapa mereka shalat wajib tiga waktu saja. Peneliti itu mendapatkan cerita begini:

Jaman dulu ketika ada Ulama Islam masuk berdakwah di perkampungan suku itu, mulanya Ulama mengajak mereka untuk shalat sekali seminggu. Shalat Jumat. Setelah shalat Jumat bisa diterima dan berjalan, Ulama mengajarkan untuk shalat satu kali sehari, kemudian sehari dua kali. Ulama meninggal dunia sebelum dapat menuntaskan dakwah yang ia lakukan secara bertahap. Ketika shalat wajib baru ia ajarkan kepada masyarakat sampai tiga kali sehari. Baca lebih lanjut

Mbah Pri : Jangan Ganggu Hak Orang Lain

Mbah Pri. Berusia 70 tahun. Selama bertahun – tahun tinggal berdua saja dengan istri di rumah limasan jawa yang sederhana di dusun Senedi desa Grogol kecamatan Paliyan kabupaten Gunungkidul. Kedua anaknya merantau ke kota Jakarta.

Dalam keseharianya, Mbah Pri menghabiskan waktu dengan bertani sambil memelihara beberapa kambing dan sapi. Profesi yang dia lakoni sejak kecil sebagai warisan dari keluarga yang turun temurun.

Sebagaimana anak petani kebanyakan, masa kecil Mbah Pri dilewatkan tanpa mengenyam pendidikan formal di bangku sekolah.

Yang membuat banyak orang dan saya kagum adalah “keilmuan” mbah Pri. Beliau fasih membaca baik huruf latin maupun huruf hijaiyah . Entah dari mana keterampilan itu beliau pelajari.

Itu saja, tidak! Mbah Pri dikenal sebagai orang yang berpengetahuan luas dengan kebijaksanaan yang menyertainya. Tidak sedikit orang yang bertamu ke rumah beliau untuk “ngangsu kawruh”, mendengarkan nasihat – wejangan beliau serta meminta pertimbangan dan arahan dalam berbagai hal dan kepentingan. Mbah Pri bahkan seringkali dimintai pendapat dan pangestu oleh tokoh – tokoh masyarakat dan perangkat desa. Baca lebih lanjut

Paradok: Satu Keluarga Berduka, Tetangganya Pesta – Pesta

Salah satu keluarga tetangga saya saat ini sedang berduka. Keluarga itu pada malam hari ini sedang menyelenggarakan amalan tahil/yasinan. Salah satu anggota keluarga mereka pagi tadi meninggal dunia dan baru dikebumikan siang hari tadi setelah waktu shalat Jum’at. Semoga dosa kekhilafan wo Ngadinah diberikan ampunan oleh Allah dan arwahnya mendapatkan tempat terbaik di sisi -Nya. Wo Ngadinah adalah nenek dari kawan saya Mina dan Ari.

Saya menyebutnya sebagai suatu Paradox, ketika pada malam yang sama ada keluarga bertahlil dalam duka, sementara tidak jauh dari rumah duka, tetangga yang lain sedang pesta – pesta hajatan. Musik dangdut diputar dengan lantang. Bahkan suara dari sound system di tempat hajatan masih meraung – raung pada jam 22 -an WIB saat saya menuliskan unek – unek ini sambil tidak habis pikir geleng – geleng kepala pusing – pusing.

Perlu saya jadikan catatan bagi diri saya sendiri terutama, selain ada satu keluarga yang sedang berduka kesripahan, ada beberapa tetangga lain, yaitu mbah Mento, mbah Wir Mangil, mbah Karso, mbah Ponco dan beberapa beliau berusia sepuh ini sedang sakit lanjut usia. Baca lebih lanjut

Unggah Ungguh

Seorang kawan saya, dia berusia beberapa tahun lebih senior dari saya, mengungkapkan kejengkelannya di depan saya akan perilaku anak – anak muda jaman sekarang yang ia nilai tidak tahu unggah – ungguh dan mengesampingkan tata krama. Kawan saya itu merasa tidak nyaman/tersinggung karena baru saja ada remaja usia belasan yang memanggil namanya tanpa embel – embel “mas”, “pak” atau panggilan sopan lainnya.

Di lingkungan dimana saya tinggal, yang mana budaya jawa sangat mewarnai etika pergaulan, adalah hal yang lumrah apabila orang – orang yang relatif lebih muda menunjukan rasa hormat kepada orang – orang yang lebih senior. Misalnya seseorang menaruh hormat kepada kakaknya, kepada para orang tua dan kepada orang yang dituakan. Orang yang mengabaikan panggilan sopan ini disebut “nranyak/njangkar

Bentuk rasa hormat dalam budaya jawa bisa diungkapkan diantaranya dengan menempatkan kata panggilan “Mas” atau “Mbak” untuk orang yang lebih senior, kata panggilan “Pak” atau “Bu” untuk para orang tua, dan lain – lain. Tidak kalah pentingnya di dalam pergaulan Jawa, untuk menjaga kesopanan seseorang harus menggunakan Boso Jawa Kromo/ Bahasa Halus dengan orang yang lebih senior, orang tua, atau orang yang dituakan. Orang jawa menyebut anak yang tidak bisa berbahasa Jawa Halus ini dengan sebutan/ungkapan “ora iso nekuk ilatBaca lebih lanjut

Musim Kemarau Tiba?

Pagi Berkabut
Beginilah kalau musim kemarau di desa dimana saya tinggal sudah mulai tiba. Dingin banget di pagi hari. Panas membakar di siang hari.

Langit di sore harinya biasanya juga bagus. Ada warna – warna jingga di langit barat. Lepas Maghrib biasanya cuacanya mulai turun lagi. Malamnya bintang bertebaran di taman langit. Indah. Mirip seperti langit di film Moon yang disutradarai Duncan Jones itu.

Sayang, saya belum punya kamera bagus yang bisa dipakai untuk memotret langit bertabur bintang.

Bad News is Bad News, Kapan?

Sambil menunggu pesanan sarapan, saya tadi membuka – buka koran cetak Harian Jogja. Tak peduli apa yang menjadi headline dan tajuk, saya langsung membuka rubrik Gunungkidul. Mengintip peristiwa yang tidak terekam di media online. Rubrik ini penuh dengan aura negatif. Mulai daftar panjang perilaku mesum PNS di Gunungkidul, penjudi domino di Desa Banaran, Imawan Wahyudi terpilih jadi wakil bupati Gunungkidul, dll

Tidak ada yang istimewa, tidak pula mengejutkan. Hanya jadi kontaminasi bagi jiwa persis seperti MSG yang pasti terkandung dalam menu sarapan pagi ini. Kabar  – kabar seperti ini biasa dapat kita temukan setiap saat baik di media cetak, elektronik maupun media online.

Untuk membuat berita seperti ini memang sangat mudah bagi wartawan. Karena dapat dipungut kapan saja, dari mana saja dari setiap sudut negeri. Bad news is good news itu benar bila berita buruk benar – benar sulit didapatkan. Namun sekarang ini menurut saya Bad news ya tetap saja very bad for news.

Good news is just very good news buat saya bila anda kita mau saling berbagi.  So! How are you?