Jogging : Kilometer Ketuju Tertunaikan

Alhamdulillah cuaca pagi ini tidak hujan. Hanya sedikit berkabut. Dan dengan perkelahian melawan kemalasan diri, saya dapat menunaikan ritual jogging seperti yang saya cantumkan dalam cita – cita mulia dalam usaha mensyukuri nikmat sehat yang dikarunikan Allah.

Tantangan kedua setelah pengalahan kemalasan adalah jarak tempuh yang lebih baik dari apa yang telah saya capai minggu lalu. Minggu lalu merupakan jogging pertama setelah masa hiatus karena dokter menyuruh saya beristirahat dari olah raga sepanjang hampir 6 minggu.

Hari ini saya berhenti pada kilo meter ketuju. Memang, saya belum bisa melakukannya dalam waktu sebaik sebelum saya hiatus. Insya Allah waktu merupakan tantangan pada minggu minggu selanjutnya.

Lokasi pengambilan foto adalah di sini dan merupakan tempat indah ujung lintasan jogging saya setiap minggunya.

Perongrong Kehidupan Kita

Sampai siang ini, saya sudah menemukan dua hal yang tidak menjengkelkan. Mudah – mudahan tidak menemukan yang ketiga.

Pertama, sangat menyesakan merayap di jalanan yang padat berada di belakang truk dengan asap hitam. Siang yang panas terik. Lengkap sudah merongrong syaraf kesabaran.

Kedua, masih di siang yang panas itu, melihat kendaraan yang menyebar brosur promosi produk di jalanan ramai. Menyebar dalam arti sebenarnya. Mereka tidak memberikan brosur – brosur mereka kepada orang – orang tertentu. Melainkan berharap ada yang memungut dan kemudian membaca dan tertarik membeli.

Musuh – musuh lingkungan …

Tidur Orang Berilmu itu …

Seorang pemuda, sebut saja Mangun, segera beranjak meninggalkan Masjid setelah cukup komat kamit berdoa sekenanya. Entah apa yang ia minta dalam doa yang ia panjatkan dalam waktu sesingkat itu habis shalat Isya’

Mangun tidak tertarik untuk mengikuti kajian yang tidak biasanya diadakan ba’da Isya. Ia pun tidak kenal dengan orang – orang berjubah yang tiba – tiba hari – hari belakangan ini menjalankan aktifitas entah apa di Masjid.

Seorang pria berjubah menghampiri Mangun yang hampir meninggalkan Masjid.

Pria Berjubah : "Assalamu ‘alaikum …"

Mangun : "Wa ngalaikum salam …"

Pria Berjubah : "Mau kemana mas, kok buru – buru"

Mangun : "Mau pulang"

Pria Berjubah : "Kok tergesa ada acara apaan mas?"

Mangun : "Biasa, pulang, tidur"

Pria Berjubah : "Mbok tinggal di Masjid dulu mas, ikut ta’lim sama kita – kita dan entar kita ngomong – ngomong sambil I’tikaf …"

Mangun : "Tidurnya orang berilmu lebih mulia dari ibadah orang – orang tak berilmu"

Pria berjubah :"ngngngngng ….. "

Tutorial Gratis Akses dari Handphone

Untuk meng akses facebook dengan gratis dari handphone caranya sangat mudah. Ini bukan semacam cracking dan memang fasilitas dari facebook bekerja sama dengan beberapa Operator di Indonesia.

Caranya :

1. Pastikan anda menggunakan Operator dari TELKOMSEL, AXIS atau 3
2. Kemudian buka browser bawaan ponsel. Bukan Operamini dan sejenisnya.
3. Masukan alamat ini : http://0.facebook.com . Pastikan itu karakter 0 (nol) bukan O

Selamat menikmati akses gratis ke facebook dengan ponsel Anda. Saat saya membuka, pada bagian paling atas ada banner bertuliskan “Akses Gratis dari Telkomsel” Ini akan menyesuaikan dengan operator yang anda gunakan. Saya menggunakan kartuHALO TELKOMSEL

NB : Pertama kali dapat info ini dari http://www.gajeto.com/facebook-0-launches

Software Alternatif Mirip Pengobatan Alternatif? #ubuntu

Pada acara Lucid Release Party yang diadakan oleh komunitas Ubuntu loco Yogyakarta di Fakultas Kesehatan UGM pada hari Sabtu, 15 Mei 2010 yang lalu, pada hampir semua sesi, pembicara tidak jarang menyebut bahwa software Open Source itu bisa jadi Alternatif. Pendek kata mereka menyebut Open Source Software sebagai Software alternatif dari software proprietary yang mahal.

Mendengar kata Software alternatif serta merta ingatan saya mengaitkan dengan Pengobatan Alternatif yang memang menjamur di Indonesia. Alasannya hampir sama. Masalah biaya yang jauh lebih terjangkau. Dengan kualitas dan kemungkinan keberhasilan untung – untungan.

Padahal kan tidak selalu demikian. Ada banyak di maya pada ini Software Open source yang jauh lebih cespleng bin mujarab dibanding dengan Proproetary 😀

Apakah Presidenku Seorang Figuran?

Figuran? Bukan!

Figuran? Bukan!

Lumrah terjadi, setiap akan diadakan perhelatan pesta demokrasi, masing – masing kontestan menggunakan berbagai media untuk berkampanye. Termasuk yang mudah dilihat dari jalanan adalah Baliho, Spanduk dan Rontek. Sebelum makan siang, saya kemarin menfoto sebuah baliho yang bagi saya menarik.

Menarik bukan dalam arti ini adalah calon yang saya jagokan untuk memenangi pilkada di kabupaten dimana saya tinggal. Saya tertarik dengan sosok Presiden RI dan Gubernur D I Yogyakarta yang digunakan dalam (sebagai) latar belakang.
Baca lebih lanjut

Ujian Susulan dan Ketidak Lulusan

Kabar – kabarnya, hari ini, tanggal 10 Mei 2010, siswa – siswi  SMA/SMK dan MAN yang belum lulus UN tahap pertama melaksanakan Ujian Akhir Nasional Ulangan. Kepada mereka saya mengucapkan Selamat Menempuh Ujian Nasional. Semoga Sukses dan Lulus dengan nilai yang baik.

Tahun ini, seperti yang sudah kita tahu, kelulusan baik di tingkat SMA maupun SMP menurun. Bahkan penurunan ini terjadi di  Yogyakarta, kota pelajar tercinta dimana disinilah saya menempuh studi. Banyak orang prihatin dengan penurunan angka kelulusan ini. Dan bagi penyandang ketidak lulusan,  mereka belum sembuh merasa sedih dan malu.

Saran saya, bagi yang tidak lulus, janganlah hal ini disikapi dengan sedih yang berlebihan. Dan bagi pembaca blog dan masyarakat umum. Janganlah melihat ketidak lulusan mereka sebagai aib. Kehebohan kita menganggap ketidak lulusan sebagai aib bisa jadi lebih membuat mereka bersedih dari ketidak lulusan itu sendiri. Sikapi dan terimalah mereka yang belum lulus seperti menganggap wajar kita semua yang belum pernah lulus dari Ujian Kesabaran bahkan sampai entah berapa kali mengulang sampai setua ini.

Menurut saya ketidak lulusan adalah bagian dari pembelajaran. Ujian hanya berharga sebagai pembelajaran bila ada yang lulus dan tidak. Bila SEMUA lulus ujian, malah pasti ada yang tidak beres dengan sistem uji itu. Dampaknya bisa semua akan jadi tidak sungguh – sungguh dalam mempersiapkan dan mengerjakan Ujian.

Masih ingat tentang cerita ibu dan bude, bahwa pada masa beliau sekolah, kejadian ketidak lulusan pada waktu itu adalah hal yang wajar. Tidak ada ujian susulan dan mereka mengulang pada tahun depannya. Bila belum luluspun mengulang pada tahun berikutnya.

Pendapat saya pribadi Budaya Lulus 100% yang jamak pada masa SD sampai SMA saya  sangat TIDAK mendidik.

Optimal Memanfaatkan Teknologi

Gara – gara sedang flow menyelesaikan pekerjaan (sambil main facebook) suatu sore membuat saya kelupaan kalau sedang memanaskan air dengan kompor. Tentu saja air yang ingin dipakai untuk mandi itu terlalu lama mendidih dan tumpah belepotan. Mengetahui hal ini, simbok –begitu saya biasa memanggil ibu– berteriak – teriak.

“Gimana sih, manasin air sampai tumpah – tumbah gini” tanyanya dengan nada tinggi. “Emm, anuuuuu, lagi serius nyelesaiin kerjaan” berusaha menjawab sekenanya.

“Kamu tuh gimana, mengapa tidak nyalain alarm di hp, kalau biasa manasin air 15 menit ya set 15 menit bunyi, atau 20 menit atau gimana” Simbok saya itu terus nerocos gaya ibu – ibu menasehati anak kecil.

Tapi bener juga kata beliau. Mengapa saya tidak menyalakan alarm atau timer di ponsel. Atau menyeting task list? Selain saya sering menyepelekan nasehatnya, rupanya uang yang telah beliau keluarkan untuk menyekolahkan saya banyak sia – sianya. Bodoh saya tidak berkurang. Tidak cukup cerdas memanfaatkan teknologi dan gadget untuk menyelesaikan dan memudahkan aktifitas harian.

Itu Kesalahan Fitur Multitasking

Komputer dengan spesifikasi yang cepat dan sistem operasi berkemampuan multitasking akan memudahkan pekerjaan dan melipatkan produktifitas. Benar? Tidak?

Berbeda dengan komputer yang saya gunakan waktu SMA untuk menyusun laporan sampai malam larut, saat itu PC yang saya gunakan berotak intel 486, OS DOS 6.22. Saya menutup Wordstar bila ingin menyelesaikan spreadsheet dengan Lotus 123, dan sebaliknya. Malam ini, saya bisa menjalankan semuanya bersamaan, wordprocessor, spreadsheet, chat client, beberapa web browser, music player, dll terlalu panjang untuk disebut satu – satu.

Ssst. Tapi apa sekarang saya bisa menyusun dan menyunting laporan lebih cepat dari 15 tahun yang lalu itu?

Bentar ah, ganti playlist dulu sesuai mood, eh jawab chat IM dulu, eh ada pop up dari email client, check … facebook check … twitter check … ini check … itu check …

Jadi ini sebab laporan dan spreadsheet tidak kunjung selesai … Andai hanya dalam satu waktu wordprocessor dan spreadsheet yang bisa jalan?

***

Tapi kebetulan lagu yang diputar di radio persis dengan yang menghiasi malam – malam kala itu. Malah ditinggal nge blog, dasaaar …..

Mengapa Saya Tidak Memasang Blogroll?

Jawabannya tentu saja bukan karena saya tidak suka blog walking dan tidak mau mengingat blog – blog bagus milik teman – teman sekalian. Alasan utama adalah ingin menjaga tampilan blog ini minimalis.

Alasan selanjutnya adalah pertumbuhan jumlah blog yang bagus yang luar biasa. Tentu akan merepotkan bila setiap menemukan blog bagus saya harus memperbarui tautan blog (blog roll). Menambahkan lagi setelah ada teman membuat blog baru harus meng-update lagi. Bisa jadi masalah misalnya ada blog satu teman yang belum terpasang di blogroll. Dikira saya tidak adil. Eh, tapi saya yakin teman – teman tidaklah seegois itu.

Kemudian bagaimana saya mempermudah blog walking? Bukankah jumlah blog yang akan dikunjungi lebih banyak? Apa bisa hanya diingat dikepala saja?

Tentu tidak mungkin saya bisa mengingat semua dengan baik. Apalagi saya mau mengakui atau tidak, seiring usia jadi jompo maka taraf kepikunan pun bertambah.

Maka jawabnya adalah dengan Google Reader. Saya sudah menambahkan tiap – tiap RSS dari blog – blog teman – teman ke dalam RSS Reader milik Google. Dan setiap ada teman yang buka lapak bisa langsung saya tambahkan dengan mudah dalam beberapa kali klak – klik saja. Baca lebih lanjut