Buat Sendiri Jus Jambu

Home made Guava Juice

Home made Guava Juice

Ini adalah Jus Jambu yang  pertama yang saya buat sendiri. Saya memang sangat suka meminum jus jambu biji merah yang dari warna yang terlihat saja sudah kelihatan menyegarkan. Tapi biasanya saya membeli jus jambu dalam kemasan seperti Buavita. Atau membeli di toko – toko penjual jus buah.

Hasrat saya untuk membuat sendiri Jus Jambu ini berawal dari melihat buah jambu – jambu biji di kebun tetangga yang terlihat ranum mempesona. Tanpa rasa malu sedikitpun saya meminta kepada tuan kebun untuk memetik sendiri Jambu biji itu langsung dari pohon. Memetik jambu di ketinggian pohon adalah perbuatan yang aduhay 😀 Saya turun setelah membawa satu tas kresek jambu biji untuk kemudian bergegas pulang.

White Guava

White Guava

Apes. Ternyata satu kantong kresek jambu biji yang saya pulang bukanlah jambu biji merah yang biasanya dibuat jus. Petikan saya adalah Jambu Biji Putih.

Pada hari berikutnya, saya ke toko buah untuk membeli jambu biji merah. Cukup murah. Rp 5.000,-/kg. Hampir sama denagn harga satu kemasan Buavita. Rencananya, sore ini saya masih akan membuat jus jambu biji lagi untuk berbuka puasa dengan jambu – jambu sisa kemarin sore. Jus berbahan setengah kilo gram jambu biji saja ternyata sudah lebih dari cukup untuk diminum bertiga di keluarga saya … 😀

PS :

Jangan mengritik gelas yang saya gunakan. Saya menikmati Jus Jambu Biji Merah. Bukan menikmati gelasnya … 😀

Berkibarlah Terus Bendera Kita

Merah Putih Berkibar

Merah Putih Berkibar

Takkan Goyah Diterba Cobaan

Takkan Goyah Diterba Cobaan

Foto – Foto ini sebelumnya telah saya posting di beberapa social media dan photo hosting, tetapi tidak mengapa saya re-post di sini. Konon bila satu social media down atau tiba – tiba suspended, saya tidak akan kesulitan menemukan content yang telah saya publish …

Musuh Kemerdekaan

Dalam cerita-cerita sejarah perjuangan bangsa mengusir penjajah yang saya baca dan dengar sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ada satu hal menarik yang sampai sekarang tetap terdengar relevan dan tidak pernah usang.

Kebanyakan penyebab kekalahan perjuangan para pahlawan bukan karena musuh yang lebih kuat dan tangguh. Akan tetapi dalam tiap kisah itu kerap kali diceritakan ada sosok pribumi yang berkhianat. Ada oknum pedagang pribumi yang takut kepentingan bisnisnya terganggu. Ada Ki Lurah yang lebih suka hidup menor menjadi antek Belanda sehingga melaporkan keberadaan para pejuang yang sedang berada di suatu desa. dll

Beranjak  duduk di bangku SMA, tentu saja pada jaman SMA saya, Belanda sudah 50 tahun meninggalkan Indonesia, praktek ki Lurah menjadi antek kaum penjajah malah terang-terangan saya lihat dengan mata kepala sendiri. Yang mana pada saat itu, sekitar tahun 1997, Ki Lurah memanggil beberapa pemuda yang berkampanye bukan untuk the ruling party, berkampanye bukan untuk Partai Beringin yang pada saat itu secara munafik tidak mau disebut sebagai Partai Politik. Apalagi kalau bukan GOLKAR si nomor 2 yang bernaung di bawah keangkeran pohon beringin.

Ki Lurah pada 50 tahun Indonesia tidak mengirim upeti pada Belanda tetapi menghamba pada cara-cara penjajah untuk menindas bangsa sendiri. 😀

Eksistensi penjajah saat ini tidak perlu dilihat dari Bendera Merah Putih Biru, Bendera Matahari Terbit atau Bendera Biru berlogo Bintang Bersinar Tiga yang berkibar di negeri ini. Pun, jangan anggap berkibarnya Bendera Merah Putih sampai ke pelosok negeri sebagai indikator kalau kita telah Merdeka seutuhnya.

Bentuk penjajahan dapat dilihat sebagai jalan – jalan desa yang rusak dimana – mana, banyaknya pungli, pelayanan publik yang lelet, mengurus Kartu Keluarga/C1 yang tidak selesai secara semestinya, subsidi yang tidak terasakan oleh masyarakat miskin, katanya bantuan tapi potong sana potong sini potong bebek angsa :D, pejabat yang tidak tersentuh hukum, dll.

Nampaknya, kini, pada Indonesia 66, musuh terkuat dan paling julig dari kemerdekaan masih sama, yaitu dari bangsa sendiri. Masih Ki Lurah, Ki Demang, Ki Jogoboyo dan Ki Ki yang lain yang tanpa malu menyematkan gelar koruptor di depan nama pemberian orang tuanya.

Buat apa pada hari ini kita menjemur kepala di bawah terik matahari berupacara bendera bila kita tidak pernah secara serius memberantas Ki Ki Ki Koruptor yang senantiasa menggerogoti sendi – sendi bangsa ini?

Lebih Betah Menggunakan Desktop

Untuk menyelesaikan pekerjaan yang agak serius dan perlu waktu, akhir-akhir ini saya merasa lebih nyaman menggunakan komputer desktop dibanding laptop. Menurut saya duduk dua jam memelototi laptop sudah membuat punggung cukup pegel linu, leher terasa kaku dan pinggang jadi terasa tidak nyaman. Rasanya bentar-bentar ingin beranjak.

Ini subyektif. Tetapi dengan komputer desktop saya bisa lebih enak menyandarkan punggung pada kursi, bisa menggeser-geser posisi keyboard untuk menyesuaikan  lengan dan jari agar lebih rilek. Terutama leher, saya merasa tidak perlu terus menerus menunduk dan mengunci pandangan mata ke arah monitor sebagaimana posisi monitor laptop yang berposisi relatif rendah.

Bagaimana dengan Anda? Atau anda punya tips agar lebih nyaman bekerja dengan Laptop?

Insya Allah …

Assalamu alaikum …

Alhamdulillah, sakit kepala saya semalam, yang, astagfirullah, sangat menyiksa, pada pagi ini sudah mereda. Sehingga, insya Allah, saya akan dapat beraktifitas seperti sedia kala. Aamiin.

Beberapa kata yang saya pertebal pada paragraf di atas saya temukan akhir – akhir ini makin banyak dan luas digunakan dalam pemakaian sehari – hari. Kata alhamdulillah, astagfirullah, insya Allah, masa Allah, Amiin, naudzubillah dan sejenisnya yang dulu hanya digunakan oleh muslim, merupakan kata serapan dari bahasa Arab, kini lebih banyak kerap saya temui sehari – hari bahkan digunakan oleh kawan-kawan non muslim. Tentu saja kata tersebut berkembang dengan berbagai variasinya. 🙂

Ngomong-ngomong tentang kata serapan, sebenarnya orang Indonesia termasuk orang yang suka menyerap kosa kata dari bahasa-bahasa lain meskipun dalam bahasa Indonesia sendiri terdapat padanan kata yang tepat.

Ya, tidak ada yang aneh sebenarnya dengan penyerapan kata – kata dari bahasa Arab yang saya sebutkan dalam tulisan ini. hehe. Apakah Anda termasuk orang yang suka sering menggunakan lebih banyak kata serapan dalam berbahasa Indonesia?

Mengibarkan Bendera

Bendera Merah Putih yang tadi saya beli seharga Rp 25.000,- di sebelah barat Taman Bunga Wonosari pada pagi tadi. Oleh mas – mas yang jualan, bendera ini tadinya dihargai Rp 35.000,-, tapi saya dan Maryanto tadi ngotot menawarnya dengan duit Rp 25.000,- hehehe

Bendera ini saya pasang di pohon Akasia. Tepat di atas Gardu Siskamling yang sudah beberapa lama  tidak pernah dipakai nge-pos oleh peronda. Laa mau ngerondain apa kalau di lingkungan dimana saya tinggal kini aman tenteram ayem ayom toto titi tentrem tidak ada maling ayam? 🙂

Benar. Di lingkungan dimana kami tinggal saat ini tidak ada warga yang mengeluh kemalingan ayam. Seandainya mereka kumpul – kumpul entar malah “ngresulo” kenapa jalan aspal dari pertigaan dekat Pak Waryadi ke barat sudah mulai rusak, dll yang terdengar saru apabila saya sebutkan satu per satu di sini. 🙂

PS :

Jangan tanya kenapa saya memasang bendera dengan posisi seperti itu. Itu merupakan alasan teknis semata. 🙂

Memotret Bulan

Saya memotret bulan ini pada dua petang yang lalu. Saya memotretnya bukan dengan Camera Digital seperti biasa. Saya memotretnya dengan Handycam yang mempunyai fitur untuk mengambil still image. Karena pada Handycam ini mempunyai optical zoom lens sebesar 60x. Jauh lebih besar dari Camera Digital pocket entry level yang kebanyakan hanya mempunyai optical zoom lens 3 – 8x.

Petang ini bulan juga kelihatan sangat keren, tetapi saya tadi sibuk bereksperimen untuk memvideokanya. Jadi lupa tidak mengambil still images 🙂

 

Teknik Mengetik Yang Benar

Teknik mengetik dokumen dengan komputer yang benar itu yang seperti apa? Apakah:

1. Mata melihat pada lembar draft/dokumen yang akan kita ketik ulang dengan komputer. Mata tidak melihat pada monitor dan keyboard. Penyuntingan salah ketik dilakukan belakangan?

2. Mata melihat pada lembar draft/dokumen, kemudian kita mengingat beberapa kata dan kalimat. Kemudian mata beralih melihat monitor sambil mengetik agar bila terjadi salah ketik bisa langsung memperbaiki. Bila kita sudah selesai mengetik kata/kalimat yang kita ingat, maka mata beralih memelototi lembar draft/dokumen. Berulang – ulang seperti ini.

3. Lebih repot lagi kalau begini, pertama-tama mata melihat lembar draft/dokumen, mengingat beberapa kata/kalimat, mata beralih melihat keyboard untuk mengetik, mata beralih melihat layar monitor untuk memeriksa bila terjadi salah ketik, kemudian berulang lagi melihat lembar draft/dokumen …

Bagaimana menurut Anda? Secara saya belum pernah  menyelesaikan kelas belajar mengetik. Saya telah menyerah dalam beberapa kali datang mengikuti kelas mengetik dengan mesin ketik mekanik pada  kegiatan ekstra waktu SMP. hehehe

 

Cerita Pagi Seorang Siswi Difabel …

Saya tadi pagi satu angkot Kobutri dengan seorang anak difabel yang berangkat ke sekolah SLB setingkat SD. Anak difabel ini mempunyai masalah dengan lisan. Orang Jawa menyebutnya bisu. Saya tahu karena saya sudah sering satu angkot dengan anak siswi ini. Tiap pagi anak ini berangkat ke sekolah naik angkot dari Paliyan. SLB dimana dia bersekolah terletak di desa Bogor kecamatan Playen. Sejauh kira – kira 13 km.

Untuk menempuh jarak yang menurut saya cukup jauh bagi anak seusianya, siswi difabel ini tidak diantar oleh orang tua/keluarganya. Ia lebih sering berangkat naik angkot sendirian. Kadang ia berangkat bareng dengan teman difabel satu SLB yang sama – sama dari Paliyan, tapi berbeda desa. Kalau tidak salah, temannya yang sesama difabel itu berasal dari desa Karang Asem.

Bersekolah di kecamatan yang berbeda, dengan jarak yang cukup jauh pula, bagi anak seusianya, apalagi difabel, tentu  bukan hal mudah.

Seperti yang saya lihat ia alami pagi tadi. Si Pak Sopir yang sedang heboh berebut penumpang demi kejar setoran lupa kalau ia harus menurunkan siswi difabel ini di tempat pemberhentian di depan Gereja Bogor. Saya melihat bagaimana dengan kesal, siswi difabel dengan masalah lisan ini berusaha berteriak menghentikan laju angkot. Akhirnya Pak Sopir menghentikan laju Angkot di tempat yang lebih jauh dari seharusnya.

Kali ini nampaknya keberuntungan sedang tidak berpihak pada si difabel. Ia harus menyeberang jalan sendiran dan berjalan lebih jauh dari biasanya menuju sekolahnya yang terletak cukup jauh dari jalan utama yang dilalui angkot.

Kalau ia sedang cukup beruntung menaiki angkot bersopir manusia yang memiliki cukup empati. Dia akan dibantu menyeberang jalan. Atau diantar sampai ke pintu gerbang sekolah yang terletak tidak dekat jalan utama.

Jangan tanya dimana fungsi negara dalam menyediakan hak-hak publik bagi difabel …