Ayo Sekolah

Bukan sedang Nongkrong

Bukan sedang Nongkrong

Si Boncel ini, bukan sedang nongkrong. Ia adalah anak yang rajin. Ia sedang menunggu jemputan dari teman sebayanya, si Agung, yang notabene adalah teman satu sekolah, kelasnya saja yang berbeda.

Boleh percaya boleh tidak si Boncel ini tidak tahan untuk berkendara dengan Angkudes seperti saya. Dia harus bertarung melawan perutnya yang bergejolak seolah akan mabok kalau kalau memaksakan diri menaiki angkutan kendaraan mobil. Si Boncel jengkel bukan kepalang kalau jadwal pulang sekolahnya berbeda dengan si Agung, itulah juga alasan mengapa si Boncel paling tidak suka dengan kegiatan ekstra di sekolahnya yang biasanya berbeda hari dengan kegiatan sore si Agung. Karena pasti akan dengan terpaksa tidak mendapatkan fasilitas ojek gratis dari si Agung sore harinya.

Kabar baiknya, merupakan suatu kisah unik prasetya seorang sahabat. Si Boncel selalu mendoakan kesehataan teruntuk si Agung. Terlepas doa tersebut mengalir dari hati setia nya yang paling dalam atau alasan paranoid. Ketakutan kalau kalau si Agung tidak masuk sekolah dan si Boncel sendirian melawan perkelahianya dengan “Maboooook ….

Ok … seberat dan sesulit apa, kalian harus tetep sekolah yaaaa …

… teruslah belajar ‘nak tentu kau dapat

… rajinlah belajar tentu kau bisa

[lupa teks lagu selanjutnya]

Reload : jogging@sunday.morning

Minggu kemarin saya mencoba me reload aplikasi ritual saya yang sempat pause selama hampir dua bulan. Dua bulan itulah saya meninggalkan Sunday Morning Ritual. Sebulan karena bulan Ramadhan dan saya memang sedang berpuasa. Bulan kedua adalah karena infeksi kemalasan yang menyerang tubuh dan jiwa saya. Kemalasan ini yang rasanya perlu penanganan medis secara serius. [ … dan sampai sekarang belum menemukan semacam terapi yang tepat]

Dua bulan meninggalkan dan me restart lagi rasanya seolah memulai sesuatu yang baru. Saya tahu bahwa saya harus memulainya secara bertahab dan memang benar. Berlari sepanjang satu kilo meter lebih sedikit sudah cukup membuat nafas ini ngos ngosan terengah engah walaupun keringat tidak mengucur deras tetapi jantung yang berdetak cepat merupakan indikasi yang perlu didengarkan dan direspon secara cepat

Seperti biasa, kebiasaan lama maksudnya, saya menonton adik adik yang berlatih basket dilapangan SMP Paliyan. Hitung hitung dengan melihat mereka berolah raga dan bermain, akan turut mendongkrak semangat berolah raga saya lagi. Sebagai penyegaran lah ….

Bangun tidur ini dan bersamaan saya mengetik untuk posting ini. Kebugaran saya sedikit ter refresh. Lega dan Nyaman bin Segar. BRAVO Olah Raga … DAN … MAJU TERUS UNTUK MINGGU DEPAN

Shalat Jum’at di Halaman …

Kemarin siang saya terburu buru untuk mencari masjid terdekat karena ternyata adalah hari Jum’at. Saya tahu kalau saya sudah hampir terlambat untuk menunaikan. Di masjid masjid juga sudah terdengar, walaupun tidak jelas karena deru deru mesin kesibukan kota, suara suara adzan yang menggema. Untuk sampailah saya pada Masjid Quatul Islam di Jalan Mataram no. 1 Yogyakarta  [saya tahu alamat lengkap ini karena membaca di papan nama setelah shalat Jum’at kelar ] Atau tepatnya Masjid ini berdiri kokoh disebelah utara Hotel Melia Purosani.

Sesampai di depan Masjid, ternyata Masjid sudah penuh sesak dan sebagian jamaah berdiri diluar Masjid menunggu bila masih ada tempat kosong. Setelah mengambil air wudlu, tidak lama kemudian Iqomah berkumandang, artinya saya tidak sempat mendengarkan Khotbah Jum’at. Tidak apa apa, paling tidak saya masih bisa ikut doa bersama.

Sungguh merupakan pengalaman sekali seumur hidup, karena saya menunaikan shalat Jum’at di bawah panas terik matahari di pelataran masjid Quwatul Islam. Sudah tidak kebagian tempat untuk shalat didalam. Sedangkan Jamaahnya mbludak. Memang wajar juga. Karena Masjid ini berada ditengah kota Yogyakarta dan masih di bilangan Malioboro.

Tidak kebayang kalau seandainya semua Muslim disekitar sini semua sadar untuk menunaikan shalat Jum’at. Sepanjang jalan ketergesa gesaan tadi masih banyak sekali saya temui orang orang yang dengan santai tanpa beban untuk meninggalkan shalat Jum at. Saya yakin banyak sekali dari mereka yang Muslim, saudara seiman saya …

Adakah eAAC Converter yang free

Siang ini saya baru saja suruh suruh mba Google untuk mengubek ubek seluruh pelosok internet untuk mencari Software buat mengkonversi file file musik ke format eAAC. Maksud saya untuk menghemat ruang simpan di memory ponsel saya. Sebenarnya dengan memperkecil bit rate dan sampling rate pada format mp3 pun bisa sangat banyak menghemat media simpan. Sayangnya dengan format tersebut harus melacurkan fidelitas dari Musik Musik tersebut.

Adakah yang bisa membantu saya mendapatkan free eAAC Converter. Dan punya pengalaman mengkonversi musik musik kesayangan ke format tersebut?

POP mail, masih bermanfaat

Saat ini kecanggihan web mail yang menjadi dengan beragam fasilitasnya, baik itu pada gmail, yahoo mail dan lain kompetitornya, mereka diantaranya menawarkan web chat pada jendela mail, remote sign out, tabbed viewing dan setumpuk features lain tidak berarti saya menanggalkan keakraban saya dengan POP mail. Walaupun menggunakan POP mail sama artinya dengan menyiapkan Privat PC dan space hard drive yang cukup untuk mendownload e mail, termasuk menginstall mail client app. yang tidak gratis seperti MS Outlook

Keterbatasan band width dan stabilitas internet yang saya pakai adalah alasan utama saya. Saya sering kali harus bekerja secara off lain ketika berada di luar jangkauan Provider atau hal lain. Dengan POP Mail, Aplikasi Mail Client saya akan mendownload secara back ground seketika koneksi ke internet didapatkan. Setelah e mail e mail terdwonload saya dapat membacanya kapan saja saya mau walaupun tidak terhubung lagi ke internet.

Menjawabnya… yah termasuk me reply dan mengirim e mail baru dapat saya ketikan secara off line, untuk sementara waktu tersimban di outbox dan aplikasi akan mengirimkan secara otomatis ketika koneksi ke internet didapatkan kembali.

Hal seperti ini sungguh mengefektifkan pekerjaan saya sehari hari [yang tidak sibuk]

Pengin buat Photo Blog

Membaca tulisan tulisan dalam blog saya ini kok terasa membosankan sekali. Saya yang menuliskan saja malas baca apalagi orang lain yaaa. Ternyata jari jari saya sedang cerewet mode ON. Menuliskan sesuatu denga berpanjang lebar. Tanpa bantuan ilustrasi, quote, photo dan warna warna.

Baiklah, walaupun terkesan tidak nyambung biarlah photo ini saya taruh disini.

 

Fildan and ME

Fildan and ME

[Photo ini di ambil ketika Fildan sedang main main dengan saya Ramadhan kemarin]

 

Sebenarnya saya ingin mempunyai photo blog untuk menampilkan rekaman kehidupan dan apa saja dengan gambar gambar dan warna warna dan ilustrasi. Sayangnya saya saat ini belum menemukan template blog yang macth dengan selera saya. Dan termasuk saat ini sedang memilih camera phone untuk itu. Menggunakan Camera Phone dengan pertimbangan bahwa take pict dengan Digicam akan terkesan norak dan obyek akan kelihatan tidak natural. Maksud saya dengan Camera phone saya bisa dengan mudah mencuri curi pandang [dan gambar] jika di jalan menemukan cewe cantik.

Btw ada yang mau membuatkan untuk saya template dan theme Photoblog, walaupun saat ini blog blog saya masih ngendon di hosting gratis milik wordpress.com dan blogspot.com

13 tahun yang membuat lupa diri

Pada awal awal mengenal dan belajar komputer pada sekitar tahun 1995. Saya tidak habis pikir betapa ribetnya menggunakan alat yang bernama komputer. Untuk melakukan pekerjaan sederhana saja harus melalui banyak langkah dan prosedur dan perintah text based. Pun juga untuk mengetik dan spread sheet datau dbase.  Setelah disekolah belajar sistem operasi –saat itu PC DOS/ms DOS, saya belajar menggunakan word prosessor seperti WordStar dan Chi Writer, juga pernah mencoba WordPerfect. Membosankan sekali rasanya kalau tidak mengingat kebutuhan membuat laporan dan tugas tugas waktu itu.

Kata Mantra pengusirkebosanan belajar saat itu –sampai pada akhirnya saya mabok cinta dengan komputer dan masih setia sampai sekarang– bahwa komputer itu sama dengan alat yang lain, diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Buat apa diciptakan kalau malah menyusahkan. Jadi keyakinanya, walaupun terasa sulit, menggunakan komputer itu pasti lebih memudahkan.

13 tahun kemudian, rasanya tidak ada pekerjaan saya yang tidak melibatkan campur tangan komputer. Komputer yang telah banyak belajar tentang manusia. Sekarang bukan manusia yang dirancang untuk mempelajari sifat sifat komputer. Melainkan komputer yang didesain untuk beradaptasi dengan sifat sifat manusia yang manja, tidak sabaran dan pengin serba segera. Komputer telah menemukan sesuatu dalam diri manusia yang belakangan diketahui sebagai *nafsu*. Maka saat ini tampilah computer, terutama Windows, Mac, Linux dengan user interface yang sexy, bahenol dan dengan polesan make up 16 juta warna. Jauh dari wajah angker hitam putih dan kaku nenek moyang mereka sebangsa 8080 dan 8088.

Komputer yang semakin bisa mendengarkan hati dan nafsu manusia tersebut membuat saya dan makhluk manusia lainya semakin *jatuh cinta*. Bahkan cinta buta. Menjadikan ketergantugan. Sama halnya tangan dan kaki adalah organ tubuh, begitu juga rasanya komputer sekarang ini terasa organ tubuh lain yang saya sadari pertama kali setelah 15 tahun terlahir kemuka bumi. Tidak terbayang kira kira seperti apa trauma apa bila hidup ini harus berpisah dengan si dia. Patah Hati ….

Ada pengalaman menarik beberapa waktu yang lalu, ketika saya tidak boleh mengajak keterlibatan Komputer dalam mengerjakan ^hal sepele^. Mengisi formulir dengan angka angka. Rule nya saya harus mengisi formulir tersebut secara manual dengan ballpoin. Banyak sekali lembar formulir yang harus menerima kenyataan untuk menjadi penghuni tempat sampah karena saya melakukan kesalahan dalam hal pengisian data. Kebiasaan menekan tombol Ctrl + Z untuk membatalkan perubahan dan Ctrl + Shift + Z untuk mengembalikan ternyata tidak berlaku diatas kertas. Tombol Delete juga tidak ada. Ketidak sabaran saya membuat kertas kertas tersebut teremas remas dan terlembar di keranjang sampah plastik warna hijau di pojok bawah meja kerja.

Ternyata watu 13 tahun kebersamaan kami –saya dan kompie– telah banyak melahirkan kebiasaan kebiasaan baru dan saat ini tumbuh mengikuti kehendak jaman, dan terkadang menanggalkan sesuatu yang establish lebih dulu.