Novel “ibuk” Menurut Saya

Bila Anda sekarang meminta saya memberi  rekomendasi akan buku apa yang bagus ditambahkan ke dalam rak bacaan keluarga, maka saya langsung menunjuk novel “Ibuk” yang ditulis oleh Iwan Setyawan. Sebuah buku yang menceritakan perjuangan hidup keluarga yang bersahaja dengan cara yang sederhana. Buku ini ditulis dengan alur yang mudah dimengerti, dengan kalimat-kalimat sahaja sesahaja kehidupan yang dibawa buku ini.

Membaca buku ini saya menemukan kejujuran, sesuatu yang saat ini sangat sulit untuk didapatkan. Kejujuran itu berwujud bagaimana berbagi telur dadar, berbagi tempe goreng, berbagi empal di dalam keluarga bersahaja berkepala sopir angkot beranak lima.

Bayek Iwan Setyawan, satu-satunya anak lelaki paling manja dari keluarga sederhana yang tinggal di Gang Buntu kota Batu yang menuliskan perjuangan hidup mereka itu tidak sedikit pun malu menceritakan semuanya dengan jujur. Saya kira tidak ada yang Iwan tutup-tutupi. Masa lalu yang bagi kebanyakan orang disebut “kelam” itu mungkin lebih baik bila tidak banyak orang yang tahu. Kalau perlu dikubur dalam-dalam. Toh ia sendiri sekarang sudah memenuhi lebih dari cita-cita kecilnya mempunyai sebuah kamar sendiri untuk membangun ruang pribadinya, lebih dari itu sudah membahagiakan  kedua orang tua dan keempat saudara perempuannya. Sudah tumbuh besar menjadi “orang”, menjadi direktur di Nielson di New York.

Iwan tidak demikian. Iwan lebih suka berdamai dengan bayek. Bisa benar-benar berdamai dengan bayek. Ia merekontruksi potret keluarga sahaja yang foto keluarga saja tidak pernah mereka punya. Jangankan foto keluarga, memikirkan uang sekolah saja sudah tidak mudah, begitu kata Ibuk, kata Bu Tinah.

Siang hari ini saya baru saja menyelesaikan membaca buku yang sebenarnya sudah sejak lama ingin saya baca. Ya karena “kahanan”, begitu saja. Ini adalah buku Iwan yang ketiga yang saya baca. Buku pertama adalah Melankoli kota Batu yang beberapa tahun yang lalu diberikan gratis oleh Iwan. Buku kedua, 9 Summer 10 Autumn yang membuat saya terpesona dengan gaya menulis Iwan yang sangat to the point dan jujur tetapi dengan alur yang menurut saya kreatiflah yang membuat saya ingin dan ingin sekali berkenalan dengan Ibu Ngatinah yang dibukukan dalam buku ketiganya “Ibuk” ini. Ngomong-ngomong Melankoli Kota Batu dan 9 Summer 10 Autumn juga sangat saya rekomendasikan untuk rak bacaan keluarga Anda. 🙂

Buku ini dibuka dengan mengajak kita untuk merenungkan arti penting pendidikan bagi manusia. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Tinah putus sekolah. Anak perempuan yang sedang dihadapkan kenyataan tidak bisa menamatkan Sekolah Dasar.

Memasuki bab 2 buku ini saya mulai mendapatkan “ibuk” dituliskan dengan cara yang berbeda dengan novel terdahulu, 9 Summer 10 Autumn. Bab-bab awal buku ini bagi saya membawakan keriangan dalam kesahajaan hidup. Saya pikir ini kisah hidup yang ditulis dengan bumbu novel. Sampai beberapa bab berikutnya pelan-pelan saya merasa dibawa kedalam suatu kenyataan hidup yang sebenarnya. Kenyataan bahwa kita memang harus berpijak pada sesuatu yang tidak sempurna, sebagaimana harus berpijakan sepatu yang sudah jebol-jebol, yang mana lem sudah sulit membuat rekat kembali. Namun tidak seketika itu juga bisa membeli sepatu pengganti  baru. Tetapi semuanya harus tetap berdiri, harus terus berjalan. Life must go on. Entah bagaimana segala cara halal digunakan Ibuk untuk menopangnya.

Kita semua mungkin tahu, kita semua mungkin punya pengalaman bagaimana hidup bersama dengan satu, dua atau banyak saudara dalam sebuah keluarga. Ketidak akuran antar sesesama anak saudara dalam sebuah keluarga lumrah terjadi. Yang bagusnya, mungkin karena hebatnya ibuk Tinah, hal ini tidak terjadi pada keluarga pak Abdul Hasyim. Saya kira ini adalah buah kejujuran yang ditanamkan ibuk dalam keluarga meskipun hal ini tidak disebutkan dalam buku. Begitu juga gaya menulis bersahaja penuh kejujuran yang digunakan Iwan di sepanjang buku ini.

Ketercapaian cita-cita bayek untuk membahagiakan keluarga ibuk dalam novel ini tidak digambarkan sebagaimana seorang bayek dengan aksi super hero, yang single fighter. Kesuksesan mereka adalah sukses bersama. Gandengan tangan yang erat ibuk, bapak, bayek, isa, dan ketiga saudaranya perempuan yang lain. Gandengan tangan itu membuat mereka kokoh terpaan badai untuk Berlayar dan Terus Berlayar. 🙂

Buku ini memang berjudul “ibuk”, dan menceritakan peran vital ibuk dalam bahtera pengarung kehidupan, namun  menurut saya fokus buku ini lebih banyak mengekspos bayek sendiri. Ibarat film, bayek adalah aktor utamanya, dan ibuk seolah tampil sebagai best supporting actress. hihi. Tapi tidak masalah. Ini tidak akan mengurangi kenyamanan mengikuti pesan moral tentang arti sebuah perjuangan hidup yang mengalir.

Bila Anda belum membaca “ibuk”, segeralah ke toko buku dan bawalah sebagai bacaan Anda dan keluarga di rumah. Jangan menunda-nunda seperti saya. Karena cinta tidak bisa menunggu. Segeralah mencium ibu. Jangan sampai sekali waktu pun lupa untuk mencintai ibuk.

Cinta saya untuk simbok selalu #rauwis uwis. 🙂 ❤

Daniel Craig Paling James Bond

Danial Craig, The Real Bond

Danial Craig, The Real Bond

Gambar diambil dari sini.

Mendengar nama James Bond, apa yang segera terlintas adalah Pierce Brosnan. Bond adalah Brosnan. Begitu kata teman-teman wanita saya di twitter beberapa waktu lalu mengomentari Skyfall, Film James Bond terbaru yang sedang ramai di bioskop.

Saat itu saya belum menonton Skyfall. Dan tidak habis pikir kenapa banyak teman-teman saya, terutama wanita, yang lebih suka Bond ketika diperankan oleh Pierce Brosnan. Saya sendiri suka dengan agen M16, 007 ini. Bond pertama yang saya tonton memang Brosnan.  Sejak dulu saya tidak bosan-bosan menonton berulang-ulang Tomorrow Never Die (1997), The World Is Not Enough (1998) dan Die Another Day (2002)

Nah, Casino Royale (2006), kemunculan Daniel Craig sebagai The New Bond merupakan kejutan bagi saya. Saya suka dengan perawakanya, wajahnya yang dingin, gaya berbicara dan tentu saja kejagoanya berkelahi dan kejar-kejaran. Ini lah potongan seorang agen yang seharusnya.

Benar. Saya tidak sedang dalam posisi membela diri berseberang pendapat dengan banyak teman saya mengenai sosok Bond. Sean Connery sendiri mengatakan Daniel Craig adalah James Bond sebenarnya.

Kamis siang kemarin, karena rapat selesai lebih cepat, saya jadi merasa berhak untuk menonton Skyfall. Saya langsung menuju ke Studio 21 Ambarokmo Plaza. Pikir saya tidak akan terjadi antrian panjang karena merupakan jam kerja, bukan hari libur lagi. Ternyata salah. Antrian mengular. Saya segera menelusup di antara antrian panjang itu.

Bosan diam mengantri, saya iseng bertanya pada seorang cowo gondrong, item, sangar, bertato di belakang saya, “Mau nonton apa mas?” “Breaking Dawn Part II”, jawabnya singkat. “What …” kata saya setengah tidak percaya. (dalam batin)

Giliran pria itu menanyai saya, saya akan nonton Skyfall. “Skyfall sudah tidak diputar di sini mas” kata pria sangar bertato itu, “Coba di XXI” ah iya, terimakasih mas. Saya segera bergegas barlari ke luar Ambarukmo Plaza menuju halte Trans Jogja terdekat. Di halte sudah ada bus akan menurunkan penumpang. Saya buru-buru menyerahkan kartu Mandiri pra bayar ke petugas shelter dan segera beranjak masuk bus sebelum ketinggalan. Untungnya petugas shelter baik hati menyusulkan Mandiri Card saya. hihi

Di XXI pun mengantri panjang. Pengantrian berakhir 2 jam lebih sampai akhirnya saya mendapatkan tiket nonton untuk jam 15:00. Di XXI ini saya tidak nonton secara “piyambakan” kebetulan saya bertemu dengan teman yang datang sesama “piyambakan”. Jadi bonus 1 tiket lagi dari XXI karena saya membayar tiket dengan Telkomsel Tap Izzy tidak sia-sia. hehe

Di Studio XI Cinema XXI kami disambut oleh adegan kejar-kejaran ala Bond, default film Bond, hehe Bond mengejar seseorang yang mencuri hard drive yang berisi data rahasia M16. Adegan kejar-kejaran yang ciamik ini berakhir dengan tertembaknya 007 oleh rekan field operative nya sendiri, Eve.

Jreeeeng! Skyfall yang dibawakan Adele membuka kisah Bond kali. Bond dibuka tanpa adegan siluet yang legendari itu.

Ngomongin apa sih saya, padahal tadi hanya akan mengatakan bahwa menurut saya Daniel Craig adalah sebenar-benarnya Bond. 😀 Review Skyfall versi saya akan saya tuliskan bila saya sudah nonton film ini beberapa kali. hehehe

Selamat Pagi

Dua potong foto yang saya ambil pada pagi ini. Foto pertama saya ambil dari sudut depan rumah. Foto kedua saya ambil dari latar belakang rumah keluarga.

Saya ingin menegaskan keduanya merupakan foto pagi dengan foto ketiga berikut:

Ketiga foto itu, sebenarnya tadi banyak sekali foto yang saya ambil, namun foto-foto itulah yang layak tampil, saya ambil dengan Kamera Ponsel Samsung Galaxy Ace Duos.

Hampir satu tahun yang lalu saya mengucapkan Selamat Pagi dengan foto yang saya ambil di tempat yang sama. Saya posting di sini. Perbedaannya pagi hampir setahun yang lalu itu saya ambil dengan Sony Ericsson K810i. Beleh ditengok dan dibandingkan. 🙂

Buku Bacaan dan Goodreads

Berapa banyak buku yang Anda baca dalam satu tahun? Buku apa saja yang sedang Anda baca saat ini? Buku apa saja yang ingin Anda baca dalam waktu dekat?

Bila Anda tidak menganggap buku-buku dan bacaan Anda sebagai privacy maka Anda bisa memanfaatkan jejaring pertemanan khusus pembaca buku (bisa disebut jejaring pertemanan ngga sih sebenarnya) yaitu Goodreads. Bagi saya sendiri tidak masalah orang mengetahui buku apa saja yang sudah, sedang dan ingin saya baca. Syukur-syukur ada atau Anda sendiri berkenan menghadiahi saya buku-buku yang ingin saya baca.

Saya sign up di Goodreads kira-kira satu setengah tahun yang lalu. Goodreads sendiri menurut saya, secara umum bagus. Ada banyak hal sebenarnya yang bisa kita dapatkan dari Goodreads. Misalnya untuk memacu semangat membaca kita yang terkadang surut. Betapa tidak kita sewaktu-waktu bisa melihat teman-teman kita menambahkan buku yang sudah dibaca ke dalam rak bacaan mereka, bisa melihat kemajuan teman-teman kita dalam membaca buku-buku tertentu, kita tidak akan ketinggalan akan buku-buku yang sedang diingini oleh teman-teman kita. Kalau saya bisa jadi berubah modus, begitu seorang teman selesai membaca satu buku, bisa jadi saya akan segera meminjam buku yang selesai dibaca teman itu. hihi.

Ada sebuah pepatah jawa, “You are what you read”, siapa Anda adalah apa yang Anda baca. Kalau pepatah ini benar maka untuk mengenal teman Anda lebih dalam sebenarnya maka Goodreads adalah tempat yang tepat.

Permasalahannya, dalam satu setengah tahun saya menggunakan Goodreads, saya baru login beberapa kali dan beberapa kali saja memperbaruhi bacaan. Bukan karena saya tidak membaca dan tidak suka membaca lagi. Hanya entah mengapa kalau sudah membaca saya menjadi lupa dengan Goodreads. Barangkali karena terlalu terlena dengan bacaan.

Tahun ini saja, di sepanjang tahun 2012, saya banyak menerima pemberian/kiriman buku dari teman-teman saya, baik teman offline maupun online. Kalau mereka sampai menengok akun Goodreads saya, jangan-jangan mereka mengira buku yang mereka berikan tidak saya baca. Percayalah buku-buku itu saya baca. Meski belum seluruhnya selesai.

Beberapa hari yang lalu, menyadari kealpaan saya untuk login ke Goodreads, saya berusaha mencari aplikasi Goodreads untuk perangkat bergerak Android di Google Play. Ternyata Goodreads for Android telah tersedia di market. Asyik, saya langsung memasang di ponsel Android saya.

Mudah-mudahan saya tidak lagi lupa menambahkan bacaan ke Goodreads. Tidak lucu bukan bila sekali login saya langsung menambahkan banyak sekali buku yang telah saya baca. 🙂

Indonesia, Identik dengan Kopi atau Teh

Teh atau Kopi? Kalau ditanya mana yang lebih saya, jawabnya tentu saja teh. Saya ngeteh dan menikmati teh. Saya suka mencoba-coba berbagai jenis dan merek teh. Lebih dari itu saya suka “ngoplos” mencampur beberapa jenis dan merek teh menjadi satu ramuan. Maksud saya agar mendapatkan tingkat rasa dan kekentalan teh tertentu. hehe

Memang ada berapa banyak jenis teh Indonesia? hihi Ini bukan pertanyaan yang mudah untuk saya. Yang saya ketahui hanya teh Slawi. Aneka merek teh yang biasanya saya beli juga merupakan jenis Teh Slawi. Apa teh Indonesia itu hanya teh Slawi. Entahlah. Sebagai pengeteh biasa mungkin saya perlu googling untuk menyebut apa saja persisnya jenis teh Indonesia itu. 😀

Berbeda dengan kopi. Saya sebagai bukan pria sejati karena ngopi pun bisa dengan mudah menyebutkan jenis-jenis kopi seperti: Kopi Gayo, Kopi Lampung, Kopi Jawa, Kopi Bali, Kopi Toraja, Kopi Luwak yang sangat tersohor, dan lain-lain. Pengopi sejati pasti akan menyebutkan berlusin-lusin jenis kopi Indonesia.

Selain mudah sekali disebutkan jenis-jenis kopi Indonesia, di Indonesia, hehe akan mudah sekali dimana-mana ditemukan kedai kopi dengan kekhasan masing-masing. Sampai ada yang bilang Indonesia is Coffe Paradise.

Kopi Aceh Gayo

Gambar diambil dari sini.

Dan entahlah kok kedengaranya Indonesia memang lebih ngopi. Apakah yang suka ngeteh hanya orang Jawa (Jawa Tengah) saja?

Hujan Hu-jazz di #ngayogjazz2012

Pertama dan yang paling utama saya telah membagikan hampir satu lagu yang sempat saya rekam dari salah satu panggung, yaitu Panggung Caping, di perhelatan jazz paling unik yang saya kira hanya ada di Yogyakarta, di Ngayogjazz yang untuk tahun 2012 di dihelatkan di desa wisata Brayut, Pendawaharjo, Sleman, Yogyakarta.

Seperti apa yang saya tweetkan di atas, video ini saya sebut “tombo kecelik”, tahu maksudnya tombo kecelik? Maksudnya daripada tidak sama sekali.

Ini bukan lagu dari band yang sebenarnya ingin saya video tape -kan. Ini merupakan pemanasan saya agar tangan ini tidak kaku-kaku untuk menggerakan kamera portable karena gugup terpesona oleh penampilan musisi yang saya idamkan, hehe. Dan sudah tahu, band yang yang saya tunggu tidak jadi tambil pada minggu malam kemarin karena situasi dan kondisi. Hujan.

“Bukannya mendatangkan Pawang Hujan, beginilah jadinya kalau mempercayai Pawang Ular” kelakar seorang musisi jazz senior.

Hujan jatuh  beberapa saat sebelum maghrib tiba. Beberapa panggung, dari 6 panggung pertunjukan yang tersedia, yang didesain dengan tata luar ruang tanpa atap (cap less outdoor stage) harus dihentikan. Peralatan musik baik yang akustik maupun elektrik, apalagi sound system set tidak pernah ramah dengan air dan hujan.

Apa yang bisa dilakukan oleh semua orang pada saat itu adalah hujan segera reda barang sejenak, satu atau dua jam. Mereka dan saya menunggu dibawah lindungan teras-teras rumah penduduk desa wisata Brayut, dibalik bayung atau … dan kemudian saya yang bosan berdiri di teras rumah segera berbegas untuk membeli mantel plastik hujan seperti yang saya lihat dikenakan oleh orang-orang. Rupanya di salah satu stand di lingkungan pertunjukan jazz ada yang menjual mantel hujan.

Dengan pakaian setengah basah, selepas maghrib di salah satu rumah penduduk, saya ingin menghangatkan diri dengan makanan-makanan khas yang banyak dijual. Bukanya saya terlalu pilih-pilih, mencari makan itu sulit. Masalahnya adalah kebanyakan stand makanan penuh. Bisa dibayangkan ketika puluhan ribu pengunjung ngayogjazz ingin mengamankan diri sambil makan di stand-stand makanan. Sampai akhirnya saya mendapatkan kursi basah di Warung Budaya Tembi yang turut meramaikan Ngayogjazz2012. Lumayan kursi basah, daripada melewatkan berjam-jam dengan berdiri.

Saya menghela dingin malam hujan itu dengan Bakmi Goreng Jawa, Bakmi Jawa Godog yang sebenarnya ingin saya pesan sudah habis. Tidak apa-apa, bakwi goreng jawa sama lezatnya. Meskipun ketika sudah terlanjur pesan, saya agak menyesal, kenapa saya tidak memesan Tongseng Manuk Emprit. Bukan kenapa-kenapa, hanya Tongseng Manuk Emprit itu tidak bisa dibeli di sembarang warung makan, lain halnya dengan bakmi goreng yang banyak dijual dimana-mana.

Tidak mungkin berlama-lama di Warung Makan Budaya Tembi, harus tahu diri karena yang ingin makan tidak hanya saya, masih banyak antrian di belakang saya. Saya segera menuju Panggung Caping dengan tetap membawa harapan agar hujan segera reda.

Saya menuju ke teras rumah limasan tidak jauh dari Panggung Caping untuk berteduh. Ada banyak orang di teras rumah Jawa ini. Ada banyak orang yang masih ingin menonton. Dari beberapa orang di teras itu kemudian saya kenali merupakan artis-artis senior Kampanyo. Penampilan mereka sebenarnya yang paling ingin saya tonton. Saya melewatkan beberapa waktu untuk berbincang-bincang dengan mereka. Sampai akhirnya hujan yang tidak segera reda dan panggung yang terlihat semakin tidak memungkinkan untuk pentas membuat mereka untuk memilih pulang saja.

Ah, saya pun sebaiknya segera pulang saja. Dengan rasa berat. Di pintu masuk sekaligus pintu keluar saya pandangi sekali lagi tulisan selamat datang ini. Sampai akhirnya saya benar-benar angkat kaki dari desa Brayut. …

Foto-foto lebih banyak bisa dilihat di Album Google+ saya di:

Album Ngayogjazz 2012

 

Senja Itu … (ya seperti ini)

Belum cukup puas menyesap teh manis di mug bermotif hijau kesayangan, warna sekeliling teras yang mendadak berubah jingga membuat saya terperangah. Mug itu segera saya letakkan. Saya terburu beranjak, bergegas menuju tempat terbuka tidak jauh dari rumah. Jingga itu membuat saya tidak peduli lagi tubuh saya basah oleh hujan.

Dan dalam beberapa jurus kemudian tweet-tweet berikut muncul di timeline saya:

Bagi saya sesuatu itu  merupakan perpaduan warna jingga, senja, bau basah tanah habis hujan dan segelas teh. Itu sepuluh tahun yang lalu. Kalau sekarang ditambahkan twitter.

Dan tidak jarang bahagia itu datang mendadak dan dalam bentuk yang terlalu sederhana, hehe 😀

Traffic Blog Mulai Naik Lagi

Bila memang benar-benar mempunyai darah blogger, apalah artinya trafik tinggi. Hehehe. Kalau ini jelas lebay banget. Benar. Meskipun saya belum pernah mendapatkan keuntungan uang dari tinggi rendahnya trafik di blog ini, namun beberapa waktu lalu saya sempat kaget dengan menurun drastisnya trafik blog ini.

Trafik menurun sampai setengahnya setelah saya mengganti domain blog ini dari sebelumnya jarwadi.wordpress.com menjadi jarwadi.me. Tapi tidak apa-apa. Domain name baru adalah keinginan saya, sebuah pilihan. Saat itu saya mengatakan kepada diri sendiri, kalau memang tulus, jumlah kunjungan sedikit pun seharusnya tidak membuat saya patah hati. Tetap sharing sebagaimana biasanya.

Saya tetap menulis apa saja seperti biasanya. Biasa-biasa saja. Saya tidak memaksakan diri untuk memaksakan mengembalikan trafik blog. Saya tidak kalap nyepam kemana-mana. Saya tidak berdarah-darah bermain-main SEO, ya karena saya memang mengerti SEO tetapi tidak jago trik-trik SEO. Saya lebih suka blog saya tumbuh secara organik dan biasa-biasa saja.

Dan hari ini saya melihat statistik di dashbord saya. Rupanya trafik blog saya mulai merangkak sejak minggu ke-6 mengenakan nama domain baru, dan benar-benar pulih pada minggu ke-8. yay 😀

 

 

Rebutan itu Menyenangkan

Seberapa menyenangkan suatu barang tidak selalu tergantung seberapa mahal barang itu. Tidak selalu tergantung seberapa banyak kenyamaman yang bisa didapatkan dari menggunakan suatu barang tertentu. Memang tidak usah dipertanyakan siapa yang tidak akan senang memiliki barang yang tidak semua orang bisa memiliki karena tidak semua orang sanggup membelinya.

Mendapatkan suatu benda/barang yang biasa-biasa saja pun ternyata bisa menyenangkan. Yah, dengan bagaimana cara mendapatkan barang itu.

Seperti tadi pagi. Saya merasa senang hanya karena mendapatkan sebuah kaos dengan cara memperebutkan kemenangan di suatu kuis di twitter. Sekali lagi bukan kaos yang mahal, kaos yang biasa-biasa saja. Kaos yang sebenarnya bisa saya dapatkan dengan cara yang lebih mudah.

Rebutan itu menyenangkan. 😀

Google Chromebook

Beberapa waktu yang lalu, sudah agak lama, saya membaca kabar tentang sistem operasi yang sedang dikembangkan oleh Google. Sistem Operasi itu adalah Google Chrome OS. Saat itu saya kalau tidak salah beberapa waktu setelah Google mengeluarkan Google Chrome Web Browser. Web Browser yang saat ini telah menjadi sangat sukses dan digunakan sangat banyak orang pengguna internet.

Terkait Google Chrome OS sendiri saat itu saya tidak begitu memperhatikan, apalagi mengikuti perkembangannya. Dari apa yang saya baca saat itu, apa yang saya ingat apa yang membuat Google Chrome berbeda dengan Operating System seperti Linux, Mac OS, Windows, BSD, Unix, dan lain-lain, adalah konsep cloud yang diusungnya. Google Chrome OS hanya menawarkan fungsi kernel, dan terpenting adalah web browser (Google Chrome browser). Semua aplikasi dikehendaki merupakan web based, termasuk konsep cloud storage, dan tentu saja kemudian akan dikembangkan everything on the cloud. hehe

Apa yang menarik dari OS seperti ini? Jawab saya sendiri tentu tidak terlalu menarik. Saya langsung membayangkan ketersediaan koneksi internet di lingkungan dimana saya tinggal saat ini dan koneksi di Indonesia pada umumnya. Koneksi yang ya begitulah.

Nah, beberapa waktu yang lalu ketika saya menghadiri Google Day di Balai Kartini – Jakarta adalah kali pertama saya mencicipi Google Chromebook yang tentu saja ber Google Chrome OS.

Saya lupa apa persisnya tipe Chromebook yang saya coba. Yang jelas sangat ingat logo Samsung di Chromebook itu.

Pertama kali mencoba tentu saja hal-hal fisik yang saya rasakan, yaitu apa yang ada langsung di hadapan saya. Mulai dari layar Chromebook, touchpad yang lega sampai keyboard yang menurut saya nyaman. Kemudian saya mencoba-coba menggunakan web browser. Untuk membuka Facebook dan Google+, hehehe. Youtube, Chromebook memutar video di youtube dengan lancar. Ya iyalah secara koneksi internet saat itu pasti sudah disiapkan sehandal-handalnya oleh Google di ajang yang digunakan untuk memamerkan dirinya. 😀 Dan beberapa web apps yang lain saya coba.

Sudah. Sebegitu saja. Saya segera meninggalkan booth Google Chromebook untuk berpindah mencoba hal-hal lain di sana, hehehe.

Google Chromebook kembali saya dengar heboh ketika beberapa waktu lalu meluncurkan produk baru buatan Samsung, yaitu Samsung Chromebook. Webnya di sini. Saking hebohnya saat itu muncul banyak sekali pujian orang akan Samsung Chromebook ini. Meski saya sendiri tidak selalu mengerti arti puja puji ini.

Kehebohan Samsung Google Chromebook yang belum mereda, kemarin saya membaca kehadiran Acer C7 Chromebook yang sudah bisa dibeli melalui Google Play. Pikir saya ini apa-apaan. Google melempar produk Chromebooknya pada saat berbarengan dengan heboh Windows 8. Baiklah kalau Google memang bermaksud menghadang Micosoft. hehe

Foto diambil dari sini.

Harga US $ 249 yang ditempelkan pada Chromebook ini bahkan membuat saya kepengen. Meski saya tidak tahu pasti akan saya pakai untuk apa bila mempunyai gadget ini. Ya kalau memenuhi nafsu ngoprek sih, pasti. 😀