Y : “Mas, kenapa beberapa hari ini kamu tidak membawa pas punggung Body Pack mu? Tumben!”
Z : “Aku sedang belajar, belajar mengalami bagaimana rasa terpisah dari sesuatu yang telah lama aku miliki”
Posted with WordPress for BlackBerry 1.4.4
Y : “Mas, kenapa beberapa hari ini kamu tidak membawa pas punggung Body Pack mu? Tumben!”
Z : “Aku sedang belajar, belajar mengalami bagaimana rasa terpisah dari sesuatu yang telah lama aku miliki”
Posted with WordPress for BlackBerry 1.4.4
Inilah alasan mengapa sampai saat ini saya belum memulai mengerjakan puasa Syawal. Syawalan dan Halal bihalal ala Indonesia ini memang unik selalu lengkap dengan hidangan makanan minuman yang melimpah.
Tapi yang paling membuat kangen dan istimewa adalah pada acara ini begitu mudahnya kita terkumpul dengan sanak keluarga dan teman – sahabat serta handai taulan. Tentu saja, mereka – mereka telah dengan tulus ikhlas membayar mahal dengan harga tiket gila – gilaan masih ditambah dengan menyisir kemacetan sepanjang jalanan. Saya pikir saya tidak perlu menuliskan lagi tentang bagaimana tradisi mudik Indonesia yang penuh suka duka lara itu.
Selamat bersyawalan, salam buat orang orang tercinta.
*Minal Aidhin wal Faizin*
PS :
*Minal Aidhin wal Faizin* Saya tadi baru saja dikritik teman, ternyata ejaan yang saya pakai selama ini #Minal Aidzin wal Faidzin# salah. 🙂
Sekaligus posting ini sebagai koreksi atas ketidaktahuan saya selama ini 🙂
Entah bagaimana riwayatnya, banyak orang yang berpendapat bahwa hukum shalat Jum’at bila bertepatan dengan Hari Iedul Fitri adalah tidak wajib. Maksudnya tidak wajib bagi kaum pria yang sudah mengerjakan shalat Iedhul Fitri. Tentu saja pasti tidak wajib bagi wanita – wanita dan pria yang belum dewasa atau pria dewasa yang tidak sehat jasmani rohani. Pria dewasa sehat jasmani rohani yang tidak mengerjakan shalat Iedhul Fitri bagaimanapun wajib mengerjakan Jum’at.
Apa yang saya tulis diatas bukan satu satunya pendapat yang ada ditengah kaum muslim. Banyak yang berpendapat bahwa kewajiban shalat Jum’at tidak gugur hukum wajibnya. Semua yang wajib Jum’at tetap saja wajib shalat Jum’at meski sudah shalat Ied.
Mana yang benar? Entah! Saya sendiri berpengetahuan agama pas – pasan. Jadi kali ini, dari pada pusing dan ragu – ragu maka lebih baik mengambil jalan aman saja. Saya mengerjakan shalat Jum’at seperti sedia kala. Toh saya belum pernah mendengar atau membaca tentang yang mengharamkan shalat Jum’at bagi pria yang sudah bershalat Ied.
Semalat Iedhul Fitri 1431 H
Mohon Maaf Lahir Batin
Insya Allah nanti malam merupakan malam ganjil terakhir pada Ramadhan 1431 H. Malam yang bisa jadi merupakan malam turunya Lailatul Qadar.
Saya mendengar tentang turunya Al Quran dan Lailatul Qadar sejak dari guru agama Sekolah Dasar sampai di banyak pengajian pada saat ini. Intinya sebagian besar kurang lebih sama. Lailatul Qadar merupakan malam utama yang lebih mulia dari 1000 bulan dan akan turun pada malam ganjil di sepertiga terakhir Ramadhan. Dan disarankan pada malam – malam ini agar kita melakukan amalan dan ibadah – ibadah.
Andai kita tidak melewatkan semua malam ganjil di sepertiga terakhir Ramadhan, maka insya Allah kita akan mendapatkan Lailatul Qadar. Apalagi kalau kita tidak melewatkan semua malam pada sepertiga terakhir. Apalagi kalau kita tidak satupun melewatkan sepenuh Ramadhan.
Apalagi kalau kita tidak lengah sedikitpun sepanjang hayat kita untuk senantiasa mengingat Allah.
Dengan senantiasa menjalankan apa yang dititahkan dan meninggalkan semua perkara yang diharamkan Allah swt. Senantiasa ber I’tiba nabi.
Tetapi sulit ya. Selama kita. Masih menjadi manusia dengan fitur utama khilaf. Tetapi mungkin karena fitur khilaf itu maka Lailatul Qadar ada bagi pengikut Muhammad saw. Karena banyak dari ummat yang tidak bisa beribadah selama ummat terdahulu. Karena usia manusia ini relatif pendek dibanding keturunan awal Adam AS.
Kemudian bagaimana dengan pendapat sebagian orang bahwa Lailatul Qadar hanya datang bagi orang dengan tingkat keshalehan tertentu atau masing – masing orang mendapatkan dengan kadar berbeda – beda. Wallahu alam bissawab. Allah Maha Mengetahui. Allah Maha Adil.
Mudah – mudahan kita bisa memanfaatkan malam terakhir nanti untuk menunaikan ibadah sebaik – baiknya. Karena kita tidak tahu kapan malam keagungan itu menghampiri kita. Entah sudah turun atau belum.
Apa sebaiknya persiapan kita? Tidur? …
Baru saja saya berdiskusi via SMS dengan seorang teman. Tema diskusi adalah tentang bagaimana jika kita minta didoakan orang lain. Misalnya saya  sedang ingin ini itu, kemudian agar keinginan saya itu terpenuhi, saya meminta teman – teman atau orang tua agar berdoa untuk pencapaian saya.
Seorang teman berpendapat lain, doa orang lain kepada kita lebih bagus bila tidak diminta. Saya kurang sependapat dengan hal ini. Selain saya belum pernah membaca riwayat dan hadits tentang hal ini, secara nalar, bagaimana orang lain tahu tentang keinginan kita bila tidak diberi tahu dan diminta.
Paling tidak sepengetahuan saya, banyak cerita tentang orang – orang yang memohon doa restu kepada orang tua/ayah – ibu atau orang yang dianggap lebih tua. Dan menurut saya lagi, pasti akan lebih bagus bila diantara kita saling mendoakan kebaikan.
Bagaimana pendapat Anda?
Banyak yang menyakini, bahwa bersama kesempitan itu ada kesempatan. Bersama kesulitan ada kemudahan. Ketika sebagian belahan bumi terang benderang maka kegelapan sedang menyelimuti sebagian yang lain.
Atau apakah dengan kalimat berbeda. Bersama kebahagiaan itu ada (ancaman) penderitaan sehingga kita tidak boleh berlebih – lebihan lali petung ketika sedang berada pada belahan bumi bahagia. Atau setidaknya menjaga ke-waspada-an. Lawan dari itu ketika kita menderita tidak boleh lekas mutung putus asa apalagi sampai ngrantes ngenes. 😀
Memang saya sedang ngomongin apa sih? Seolah olah dari kalimat – kalimat yang saya susun ngawur itu akan berujung pada hasil jumlah yang bernilai 0 (nol) atau zero. Tapi entahlah … Intinya saya sekarang tidak boleh MUTUNG.
Selamat Hari Jum’at
Beberapa hari yang lalu, saya mendengar dialog antara seorang teman dengan sang putra yang sedang menempuh ujian semester. Persisnya seperti apa dialog itu sekarang tidak terlalu dapat saya ingat degan baik. Tetapi poin menariknya masih nyantol.
Ayah : “Kamu belajar yang rajin, entar kalau dapat nilai 9, papa kasih hadiah”,
Anak : “Hadiahnya apa yah?”
Ayah : “Yaa, pokoknya kamu belajar yang rajin dan dapat nilai bagus”
Anak : “Ke Pantai ya yah”
Ayah : ” ngngng, ya, asal semua pelajaran loh, dan ngga boleh kurang meski koma”
Saya pun senyum – senyum seorangan, bagi seorang anak usia sekolah dasar, pantai jauh lebih indah dari pada nilai yang bagus. Atau, apa memang sekarang ini, tidak hanya anak anak saja, tetapi semua orang sudah tidak peduli akan “nilai – nilai”?
Hari ini tanggal 27 Mei 2010. 4 tahun yang lalu, 27 Mei 2006 Jatuh pada hari Sabtu. Saya pun hampir terjatuh berlari cepat dengan ajian langkah seribu untuk menyelamatkan diri, atau lebih tepatnya sangat panik karena terjadi gempa yang terbesar yang pernah saya alami sepanjang usia.
Sejak beberapa hari sebelum gempa, memang dalam pemberitaan media lokal adalah gunung Merapi yang sedang kambuh batuk – batuk yang tak segera reda. Bahkan pemerintah sudah mengambil langkah untuk mengevakuasi warga di sana. Pemberitaan juga terkait Mbah Maridjan yang ngeyel tidak mau dievakuasi dari desa dimana dia tinggal di lereng Merapi.
Maka, pikir saya, gempa pagi ini adalah salah satu bersin besar Gn Merapi. Dugaan itu juga didukung oleh telepon saya yang gagal ke seorang sahabat yang tinggal di Pakem. Dan kabar dari teman yang tinggal di Pantai Baron bahwa di sana gempa tidak dirasakan besar dan tidak ada yang aneh dengan permukaan pantai.
Berita simpang siur selama beberapa jam. Jaringan seluler pada hari itu drop. Listrik PLN padam. Aliran informasi bisa didapat dari radio bertenagai baterai yang mana masih ada beberapa warga yang punya. Twitter? Rasanya saat itu saya belum buat account twitter. Kapan sih twitter menambahkan fitur hashtag untuk melihat trending topic?
Korban yang semakin banyak semakin mengalir dan diketahui pusat gempa ada di sekitar daerah Parang tritis. Korban banyak berjatuhan. Tercatat oleh oleh kita setidaknya 7000 nyawa melayang. Belum korban luka dan kerugian harta benda.
Wah dari pada saya menuliskan secara panjang lebar. Silahkan buka twitter dan amati hashtag #27mei dan #gempajogja2006 . Disana ramai orang berbagi pengalaman dan informasi kaitannya apa yang mereka alami dan rasakan waktu itu.
Gempa 27 Mei 2006 memang menyakitkan. Tetapi bukan untuk dilupakan. Melawan lupa adalah salah satu wujud menyelamatkan peradaban. Apa lagi ini? silahkan cari juga di twitter, hehehe.
Seorang pemuda, sebut saja Mangun, segera beranjak meninggalkan Masjid setelah cukup komat kamit berdoa sekenanya. Entah apa yang ia minta dalam doa yang ia panjatkan dalam waktu sesingkat itu habis shalat Isya’
Mangun tidak tertarik untuk mengikuti kajian yang tidak biasanya diadakan ba’da Isya. Ia pun tidak kenal dengan orang – orang berjubah yang tiba – tiba hari – hari belakangan ini menjalankan aktifitas entah apa di Masjid.
Seorang pria berjubah menghampiri Mangun yang hampir meninggalkan Masjid.
Pria Berjubah : "Assalamu ‘alaikum …"
Mangun : "Wa ngalaikum salam …"
Pria Berjubah : "Mau kemana mas, kok buru – buru"
Mangun : "Mau pulang"
Pria Berjubah : "Kok tergesa ada acara apaan mas?"
Mangun : "Biasa, pulang, tidur"
Pria Berjubah : "Mbok tinggal di Masjid dulu mas, ikut ta’lim sama kita – kita dan entar kita ngomong – ngomong sambil I’tikaf …"
Mangun : "Tidurnya orang berilmu lebih mulia dari ibadah orang – orang tak berilmu"
Pria berjubah :"ngngngngng ….. "