Pantaskah Hujan Dijadikan Alasan Terlambat?

Hari ini pada jam 09:00 WIB saya punya janji untuk datang (mendengarkan ngomong – ngomong) dengan teman – teman JIS DIJ. Bertempat di Jogja Expo Center. Jaraknya sekitar 40 km dari pabrik dimana pada jam setengan delapan ini saya masih tertahan. Bukan karena menyelesaikan tetek bengek. Segala tetek bengek sudah mulai saya cicil mulai sebelum subuh tadi.

Brrrr … Masih hujan sih, jadi saya malah masih nge-blog disini. Perjalanan 40 km dengan bus umum sekitar 1 jam plus beberapa menit naik transjogja. Jadi kalau berangkat sekarang, waktunya sudah sangat mepet. Kalau saya beruntung maka bisa tiba pas – pasan atau terlambat beberapa menit. Hujan kok dijadikan alasan 😀

Saya berangkat dulu. Nanti lihat saja ada ngga yang terlambat datang mengkambing hitamkan hujan.

 

Melewati Jalan Pintas

Malas melewati jalan memutar seperti yang tiap hari saya lalui. Saat itu saya tergoda untuk mengambil jalan pintas menerobos pematang sawah yang sudah tidak pernah dilewati orang lagi. Jalan pematang itu berlumpur dan banyak ditumbuhi rerumputan berdaun tajam yang siap menggores kaki – kaki saya. Itu tidak mengurangi nafsu memintas yang menguasai sekujur badan.

Belum  setengah jarak pintasan, saya melihat beberapa ular di kanan – kiri pematang itu. Tidak apa. Ular – ular seukuran itu tidak cukup untuk membahayakan nyali saya. Bukan alasan untuk tidak meneruskan penitian jalan memintas itu. Saya melanjutkan berjalan lagi.

Seekor ular besar memotong pematang yang akan saya lewati. Saya bisa katakan ukuran itu sangat besar. Ular besar itu kok tidak segera bergegas bergerak. Sepertinya diam. Saya memikirkan bagaimana cara untuk melangkahi tubuh ular yang tenang-tenang saja itu. Entah ia menyadari kehadiran saya atau tidak. Mengusir atau mengganggunya saya pikir bukan hal baik. Menunggu ular itu pergi. Akan sampai kapan?

Daripada konyol, saya memutuskan untuk mengurungkan pemintasan jalan ini. Penakut! Biar! Saya membalikan badan dan beberapa langkah berjalan. Melihat ular-ular kecil yang tadi saya sepelekan rupanya sekarang sudah kelihatan galak menegakan leher dengan dan mata mengancam . Seekor ular menyambar mematok.

Dada ini berdebar-debar setelah menemukan diri tanpa luka selamat dari patokan ular. Gerakan menghindar yang bagus. Saya memuji diri sendiri. Nafas masih terengah-engah namun sedikit lega.

***

Itulah salah satu dari beberapa mimpi yang saya selesaikan pada tadi malam. 😀

Pagi Berkabut Tidak Baik Untuk Jogging

Kabut Di Sepanjang Lintasan Jogging

Kabut Di Sepanjang Lintasan Jogging

Benar ngga sih kalau pagi yang berkabut seperti ini tidak bagus untuk jogging. Pernah ada orang yang ngasih saya tahu kalau udara terlalu berkabut bisa menyebabkan paru – paru basah. Dan konon kita lebih baik tinggal di dalam ruang.

Kalau saya sendiri memang jadi menurunkan stamina. Jarak tempuh jogging lebih pendek dari biasanya. Contohnya ya waktu jogging hari minggu kemarin. Alih – alih tidak meneruskan jogging, malah berhenti mengambil foto -foto 😀

Untuk lebih banyak foto foto, sila klik di sini .

Dipanggil “Pak J”

Pak J. Nama yang sering orang – orang pakai untuk memanggil saya. Terutama orang – orang yang belum berkenalan baik dengan saya. Atau orang – orang yang saya kenal dari Social Media. Jujur, saya terkadang agak risih  dipanggil dengan sebutan “pak”. Apalagi oleh orang – orang yang berusia jauh lebih senior dari saya. Meski lama demi lama saya mulai membiasakan diri dengan panggilan yang belum menjadi hak saya itu.

Celakanya ketika seseorang sudah akrab memanggil saya “pak”, kemudian terpaksa bertemu dengan saya, mereka akan menganulir label ‘pak’ yang dulunya ia sematkan di dada saya. Penganuliran label “pak” ini menjadikan penghiburan tersendiri buat saya. Misalnya, ketika kemarin saya ditugasi oleh kawan – kawan relawan peduli Merapi untuk melakukan fun raising yang mana kepedulian teman – teman social media mendorong mereka untuk menitipkan kedermawanan kepada saya. Sesuatu yang istimewa bagi saya untuk bertemu tatap muka dengan teman – teman social media itu. Sebelumnya, kalau tidak ‘terpaksa’ saya memang enggan untuk kopdaran dengan dalih alasan yang sengaja saya cari – cari.

Sedikit bercerita. Panggilan “Pak J” pertama kali keluar dari rongga mulut teman – teman dekat. Saat itu sekitar tahun 2002 ketika Mas Susilo, Mas Mahmud SB, Mas Puguh, Mas Amri dkk mendirikan start up yang bertempat di Jalan Sumarwi Wonosari. Hari demi hari dengan panggilan “Pak J”. Anehnya, sampai start up yang kami rintis itu jatuh tewas, nama “Pak J” masih melekat pada saya. 😀

Tetapi kenapa tiba – tiba “Pak J” muncul di social media sejak beberapa tahun. Padahal saat itu geng perintis start up itu tak satupun muncul pada senarai teman.

Wallahu alam bisawab! Hanya Allah Yang Maha Mengerti atas segala fenomena alam.

Perasaan Seperti Ada Yang Tertinggal

Pernah ngga suatu kali ketika sampean akan meninggalkan rumah ada perasaan was was, atau apalah. Rasanya ada barang atau apa yang akan ketinggalan dan belum menjadi bagian dari barang – barang yang kita bawa. Bagi saya hal ini kerap kali terjadi. Dan meskipun telah berusaha mengingat – ingat beberapa saat, apa yang dirasa ketinggalan itu belumlah nyantol di ingatan.

Baru kemudian saya menyadari apa yang ketinggalan itu setelah sampai di tempat tujuan dan merasa bahwa barang tersebut sangat penting. Saya merasa tidak nyaman dan mau tidak mau harus bagaimana caranya untuk mengambil barang itu ke rumah 🙂

***

Sampai  mengetik paragraf terakhir ini saya masih bingung harus memberi judul apa untuk posting ini. Mungkin karena perasaan yang sama yang terjadi waktu saya tadi pagi akan meninggalkan rumah menuju pabrik. Dan sampai sekarang saya masih tetap was – was dan belum menemukan arti pralampita dibalik rasa itu. Yah! Hanya Yang Di Atas Yang Maha Mengetahui Atas Segala Rahasia. 🙂

Hujan Lebat dan Mati Listrik Adalah Takdir

Boleh dikata sebagai suatu suratan takdir. Begitulah keadaanya di desa dimana saya tinggal bila sudah tiba masanya hujan lebat yang pasti dibarengi dengan seringnya mati listrik berjam – jam. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Yang mana listrik di rumah saya dan rumah tetangga padam alias meninggal dunia dari sekitar jam 3 an sore dan baru nyala lagi pada sore hari berikutnya. Tragisnya mati listrik sampai hampir 24 jam. Kalau listrik mati hanya beberapa jam sih kira semua sudah maklum. Maklum di desa dimana saya tinggal sampai saat ini masih termasuk wilayah Indonesya. Yogya belum merdeka. Dan urusan perlistrikan masih diurus oleh PLN.

Kematian panjang PLN pada beberapa hari yang lalu, sekali lagi, bukanlah yang pertama kali. Dan masyarakat pun telah melaporkannya kepada pihak yang berwajib, yaitu Perusahaan yang didirekturi oleh Pak Dahlan Iskhan. Anak buah Pak Dahlan juga sudah melakukan sesuatu. Jam 10 an malam waktu itu listrik menyala byar pet beberapa kali. Kemudian disusul suara ledakan. Kalau sudah begitu ya sudahlah. Artinya jaringan listrik di desa saya ada yang konslet karena tertimpa pohon – pohon atau dahan ranting yang patah karena terpaan angin penyerta hujan. Putusnya sekring saluran utama listrik ke kampung saya memperingatkan punggawa – punggawa nya Pak Dahlan Iskhan itu untuk melakukan penyisiran jaringan listrik seluas perkampungan pada keesokan harinya dan bila sudah selesai baru mencoba lagi “ngganthol” sekring listrik yang terpasang di sebelah barat rumah mbah Atemo Tolu.

Entah apa benar apa yang saya kata hal  ini sebagai suratan takdir. Tetapi nyatanya hal ini sudah berlangsung puluhan tahun dan terus berlangsung tanpa ditemukan solusi yang cespleng demi kemaslahatan di masa depan.

Tidak mudah juga bila mengandaikan mengganti jaringan listrik bertiang, saluran udara” dengan jaringan listrik bawah tanah. Saya kira selain secara biaya mahal juga ada banyak pertimbangan lain. Tetapi bila dari muka bumi desa dimana saya tinggal keberadaan tiang listrik dan kabel ditiadakan akan menjadikan desa tampak lebih asri dan tidak ada lagi alasan penebangan pohon – pohon oksigen karena didakwa mengganggu jaringan listrik 😀

Saya tidak tahu, sudah berapa posting di blog saya ini yang nggedumel karena listrik mati. Tahu sendirikan betapa tidak nyaman malam – malam tidur dikerumuni nyamuk penghisap darah. Yah salah sendiri kenapa saya mengandalkan Hit Electrik sebagai satpam pengusir nyamuk 😀

Mengalami Rasa

Y : “Mas, kenapa beberapa hari ini kamu tidak membawa pas punggung Body Pack mu? Tumben!”

Z : “Aku sedang belajar, belajar mengalami bagaimana rasa terpisah dari sesuatu yang telah lama aku miliki”

Posted with WordPress for BlackBerry 1.4.4

Akurasi, Korban Berita Cepat Saji

Meninggalnya mbah Maridjan, Juru Kunci Gunung Merapi telah menjadi simpang siur sejak dini hari sampai saat sekarang saya mengetik posting ini. Mulanya beredar kabar kalau mbah Maridjan meninggal bersama belasan orang lainnya di dalam rumah mbah Maridjan yang terbakar awan panas. Tidak lama berselang disusul kabar mbah Maridjan dtemukan dalam kondisi lemas tetapi masih hidup oleh tim evakuasi. Dan pagi ini santer beredar mbah Maridjan ditemukan meninggal dengan posisi bersujud di ruang dapur, ada versi di dalam kamar mandi. Berita dari sumber yang berbeda melaporkan mbah Maridjan meninggal dalam perjalanan ke RS Sarjito – Yogyakarta.

Kesimpangsiuran berita yang lain yang membuat orang awam seperti saya kebingungan tujuh keliling adalah mengenai jumlah korban meninggal dan hilang pada bencana Tsunami yang terjadi di Mentawai – Sumatra Barat. Dalam waktu hampir bersamaan beberapa media berita online telah melansir jumlah korban yang sangat berbeda.

Sekarang ini tiap – tiap media berita, terlebih media online, media televisi dan media radio, seolah berlomba untuk adu cepat dalam mempublikasikan hasil liputanya dan menomor sekiankan akurasi berita. Saat ini saya mulai merasakan efek samping dari mengkonsumsi berita cepat saji. Media 2.0 . Web 2.0 Yah OK -lah kalau begitu.

Paling tidak di era dimana mendapatkan dan menyebarkan lagi berita bisa dilakukan dengan mudah dan seketika, saya harus lebih berhati – hati dalam menerima kebenaran suatu kabar dan tidak tergesa – gesa untuk menyebarkan kembali suatu berita sebelum benar – benar verified.

Jogging Restarted, Alhamdulillah

Boleh dikatakan, pagi hari tadi memberikan restu kepada saya untuk memulai lagi ritual minggu pagi yang telah dengan sengaja saya hentikan selama hampir dua bulan. Satu bulan penuh suspended jog itu memang agar saya dapat dengan nyaman menunaikan puasa Ramadhan, sedang hampir sebulan berikutnya adalah karena saya dihadang oleh duet maut antara kemalasan diri dan hujan yang mengguyur tak kenal musim. Menurut perhitungan cuaca dan pranata mangsa –BMG -nya orang Jawa kuno– ini merupakan bulan yang mana seharusnya tidak banyak curah hujan atau dalam bahasa Jawa disebut mongso ketigo.

Memulai atau memulai kembali itu saya yakini sebagai perbuatan yang tidak mudah. Selain dengan membulat tekad, sejak minggu kemarin, saya sudah membuat beberapa persiapan. Menyiapkan sepatu jogging dan kaos kaki yang sudah lama teronggok di kolong. Kaos dan celana yang ringan, nyaman dan warna sesuai mood juga tinggal pakai. Tidak boleh ada alasan takut hitam, lebih hitam karena memang sudah hitam :), SPF 24 sunblock sudah saya beli dari mini market sebelah tempat kerja. Gear yang tidak boleh tidak siap adalah ponsel music + bluetooth headset. Kalau guru IPA sekolah menengah saya dulu bilang sumber energi itu adalah Karbohidrat, Protein, Lemak + vitamin pembantu maka saat ini saya bisa bilang itu kurang lengkap. Hard beat music nyata – nyata membuat saya lebih energik dan bersemangat.

Kesegaran jalan Karangmojo – Paliyan yang segar tadi pagi, alhamdulillah bisa saya tempuh sampai km 4. Sampai di depan Puslatpur Paliyan. Target saya, jog kedua minggu depan bisa menambah coverage distance. Syukur – syukur sampai bukit Sodong.

Selesai jogging, tentu saja fitur cooling down pada ponsel saya manfaatkan. Fitur cooling down itu adalah Camera 3.2 MP Autofocus. Mainan ini dalam sekejab menghilangkan rasa terengah dan kaki pegal – pegal.

Agar apa yang saya tuliskan tidak dibilang hoax, biarlah foto ini menjadi saksi bahwa saya telah menginjakan kaki di jalan arah bukit Sodong. Bagi yang sering mengunjungi blog ini mungkin akan menuduh bahwa ini foto – foto lama yang di re-post. Silahkan anda mengecek metadata di account flicker saya.

Beberapa foto – foto amatir saya yang lain bisa ditengok di http://twitter.com/jarwadi , http://facebook.com/jarwadi atau di http://jarwadi.posterous.com

Posted with WordPress for BlackBerry 1.4.3

Stamina dan Alergi Debu

Saya merasa heran dengan orang – orang yang mempunyai stamina luar biasa, terutama dalam hal bertahan menghadapi lingkungan yang keras dan berpolusi. Di jalan – jalan, di proyek proyek konstruksi, atau di pabrik, banyak kita lihat pekerja yang sehari – hari menghisap debu di udara yang berpolusi berat, cuaca panas, dan tingkat kebisingan tinggi. Pokoknya susah dibayangkan bagaimana cara mereka bertahan tanpa perlengkapan keselamatan kerja yang memadai. Dan nyatanya mereka betah bekerja selama bertahun – tahun dan tidak sedikit mereka yang bertahan dalam lingkungan kerja seperti itu sampai usia tua.

Tidak tahu apakah tubuh mereka sudah beradaptasi dengan lingkungan atau ada yang direlakan/dikorbankan karena keterpaksaan. Dalam perhitungan mereka bisa jadi itu adalah jalan hidup. Tidak banyak pilihan. Kalau tidak kerja dan tidak dapat makan toh pada akhirnya akan mati juga.

Berbeda dengan saya. 2 hari kemarin hanya beres beres dirumah. Memang sudah berantakan dan banyak perabot yang berdebu tebal. Alhasil saya sekarang menderita alergi sehingga terjadi batuk – batuk dan terpaksa harus minum obat. Entah bagaimana penjelasan kenapa saya sedemikian mudah terkena alergi. Karena memang stamina saya yang kurang bagus atau kurang terbiasa/ belum beradaptasi?