Ditukar Dengan Sakit Perut

Saat ini saya sedang sakit perut. Sudah dua hari. Bermula Sabtu sore ketika tidak tahan untuk tidak mencicipi gulai kambing. Tentu saja gulai kambing berpotensi membuat perut saya ngambek karena kandungan santan kental dan bumbu rempah seperti merica dan sebagainya. Iya lemak daging kambing yang digulai utu juga ngeri. hiiiy.

Pertolongan pertama saya saat itu adalah dengan minum Mylanta. Benar saja. Hari berikutnya sakit perut saya sudah mereda. Dan tadi malam sudah lebih enak. Pagi tadi makin enak.

Gara-gara sakit lagi, ceritanya begini, tadi pagi saya dan seorang teman diundang untuk sharing-sharing di suatu SMA Negeri di kota saya. Maksudnya kota terdekat dari desa dimana saya tinggal. 😀 Undangan jam 9 pagi. Tepat jam 9 saya sudah sampai venue, namun di sana belum ada yang datang.

Daripada menjadi jompo menunggu di venue, saya memutuskan untuk mengajak teman saya mencari sarapan dan minum hanya untuk menunggu waktu dan ngobrol-ngobrol santai. Nah, teman saya memilih warung nasi goreng yang pernah ia sambangi. Nasi goreng Ciamis.

Nasi Goreng Ciamis, Playen

Nasi Goreng Ciamis, Playen

Benar saja. Rasa nasi gorengnya lumayan mantabh. Teh pocinya tidak kalah mantabh. Untuk rasa-rasa mantabh ini saya harus siap dengan konsekuensinya. Lidah saya merasakan enak. Dan perut saya beberapa jam kemudian merasakan sebaliknya.

Selalu ada yang harus dipertukarkan. Untuk kali ini saya harus menukar kepuasan di lidah yang hanya beberapa menit dengan rasa nyeri di perut yang mungkin akan bertahan sampai beberapa hari. 😀 Yah, that’s life.

 

Turns to Summer in Hours

Halah, judulnya saja yang dibuat gaya-gayaan. Sebenarnya saya hanya mau bilang kalau akhir-akhir ini di desa dimana saya tinggal, suhu sangat turun di pagi hari, berkabut, atau istilah Jawa-nya bediding, mongso bediding, yang biar keren sebut saja winter.

Tidak lama berselang, suhu berubah secara ekstrim. Panas terik membakar. Makanya kemarin saya menyebutnya di twitter:

Kalau sudah begini, yang perlu dipikirkan adalah menjaga stamina agar tidak jatuh sakit karena perubahan cuaca yang ekstrim. Sehat, sehat, sehat. 🙂

Facebook Makin Sepi?

Sejak beberapa waktu, saya merasakan Facebook makin sepi. Sepi di Facebook itu terlihat dari jumlah konten yang di-upload. Baik itu status update, note, foto-foto, video dan lain-lain. Indikator di sebelah kanan bawah yang menunjukan berapa teman yang sedang online pun memperlihatkan jumlah yang makin sedikit. Jumlah teman online ini seingat saya malah setengah dari jumlah pada 2 tahun yang lalu. Padahal saat ini saya berteman dengan dua kali lebih banyak orang dibandingkan dua tahun lalu.

Hmmm. Apakah hal ini menunjukan kalau orang-orang sudah mulai jenuh dengan jejaring sosial, terutama Facebook. Atau hanya sebatas teman-teman saya saja yang sudah mulai bosan. Sementara ada orang-orang lain yang kebetulan bukan teman saya yang saat ini masih rajin di Facebook.

Nah, kalau Twitter saya rasakan saat ini jauh lebih riuh. Sampai-sampai saya kesulitan untuk mengikuti timeline saya. Mungkinkah teman-teman saya yang mulanya berjejaring di Facebook saat ini sudah merasa nyaman di Twitter, atau lirik-lirik untuk berpindah ke jejaring sosial yang lain seperti Google+, Path, Pinterest, dan lain-lain.

Khotbah Jum’at: Yakin Masuk Surga?

Seseorang dijauhkan dari surga atau dijauhkan dari neraka semata-mata karena kehendak Alloh SWT. Seseorang hanya bisa dimasukan surga semata-mata karena rahmat Alloh. Orang hanya bisa dimasukan ke surga oleh Alloh. Bukan dikarenakan oleh amal perbuatan yang diupayakan oleh manusia untuk memasuki surga.

Singkatnya begitu yang disampaikan oleh khotib pada khotbah Jum’at siang ini. Tentu saja dengan penjelasan yang bagus dan dalil yang shahih.

Oh, ternyata setelah ibadah ada seorang jamaah yang ingat ayat yang disampaikan oleh khatib dan mentwitkan:

Berusaha menyimak apa yang disampaikan khotib membuat saya merenung sampai sekarang. Begini, apakah orang atau sekelompok orang yang mencap kafir orang lain yang tidak sependapat dan sejalan dengan caranya beribadah itu sangat yakin kalau dirinya akan dimasukan oleh Alloh ke surga?

Baiklah setidaknya paragraf-paragraf di atas merupakan indikator ketidaktertiduran saya selama mengikuti khotbah Jum’at. Bagi saya ketidaktertiduran penting karena itu adalah salah satu prestasi yang tidak bisa saya raih pada Jum’at yang lalu. 🙂 Sekaligus saya menuliskan apa yang belum indicated oleh paragraf-paragraf di atas, saya tidak lupa membawa sajadah. 😀

Kesadaran Pensertifikatan Tanah Rendah?

Memang apa gunanya punya sertifikat tanah, kalau dengan sertifikat tanah pun tidak membantu menyelesaikan masalah seperti ini. Ada sih sebenarnya fungsi sertifikat tanah, yaitu: untuk jaminan utang. 🙂

Wedang Asele

Begitu mendengar ada nama minuman bernama Wedang Asele di kota Solo, semalam saya langsung penasaran mencoba minuman ini. Apalagi segala puji oleh seorang teman saya Miss Lusi, diberikan kepada minuman yang hanya ada di Solo ini. Apalagi Miss Lusi dengan segala ketajirannya siap mentraktir kami kulineran malam ini.

Tidak sulit untuk menjangkau tempat Wedang Asele di kota Solo ini. Bukan karena letak tempatnya, tetapi Miss Lusi yang hafal fasih tiap tikungan menuju sudut kuliner kota.

Wedang Asele

Wedang Asele

Untuk urusan kuliner malam ini, Miss Lusi -lah wiki -nya. Jadi saya, Miss Antik, Miss Dian tinggal terima beres dan enaknya saja.

Malam harinya, acara kuliner masih berlanjut. Kira-kira jam 11 malam, kami diajak menuju Galabo. Sayang. kebanyakan tempat di sana sudah mulai kukut. Padahal konon Galabo buka sampai jam 1 dini hari.

Tidak apa-apa, destinasi kuliner berikutnya adalah Bakmi Jawa Pak Dul di depan kecamatan Pasar Kliwon Solo.

Bakmi Godhog Pak Doel

Bakmi Godhog Pak Doel

Oh, iya, ini geng kulineran tadi malam:

Rombongan sirkus jogja segera meluncur...

Rombongan sirkus jogja segera meluncur…

 

User Interface

Beberapa saat yang lalu, seorang teman masuk ke ruangan saya. Ia ingin melihat monitor Samsung yang saya pakai. Saya bingung apa maksud dia ingin melihat monitor Samsung sampai ia mengatakan ingin tahu dimana letak tombol power. Lebih lanjut ia menceritakan sejak semalam ia jengkel menemukan tombol power di monitor Samsung yang baru saja ia beli kemarin siang. Ia gagal menyalakan monitor barunya. 😀

Karena saya pikir monitor Samsung di ruang saya berbeda dengan yang baru saja dia beli, solusi tercepat menurut saya adalah dengan saya ke rumahnya membantu menyalakan monitor baru tersebut. Dan benar dugaan saya. Letak tombol power monitor berbeda dengan yang ada di meja saya. Monitor milik teman saya ini bertombol power yang terletak di tengah bawah, di bawah tulisan Samsung. Saya juga tidak langsung bisa menemukan melainkan beberapa saat menelisik tubuh monitor Samsung ini. Sedangkan tombol power di monitor yang saya pakai terletak di sebelah kanan bawah.

Sebenarnya, agar bisa ditemukan secara cepat, dimana sebaiknya tombol power diletakan? Menurut saya tombol power harus mudah dijangkau dan temukan secara cepat, tanpa mengesampingkan aestetiknya.

Kasus seorang teman yang kesulitan menghidupkan monitor karena kesulitan menemukan tombol power itu bisa dijawab dengan tepat, karena ia malas membaca buku manual atau quick start guide. Tetapi siapa sih yang mau cape-cape membaca user manual hanya untuk menyalakan sebuah monitor.

Tantangan dalam mendesain user interface sebuah produk!

 

Menggambar Sket Wajah

Saya sering kali dibuat terpesona oleh orang-orang yang jago membuat sket wajah orang. Mereka bisa melakukanya dengan cepat, dalam waktu yang sangat singkat. Mungkin mereka sengaja melakukanya dalam waktu sesingkat mungkin untuk menciptakan impresi di orang yang disket wajahnya itu.

Dulu orang membuat sket di atas kertas. Dengan tool yang sederhana, pensil atau pen, atau ballpoint biasa. Tiap goresan umumnya dibuat sekali jadi. Tidak elok kiranya bila mereka menggunakan penghapus untuk penyuntingan. 😀

Kini orang membuat sket tidak hanya di atas kertas. Mereka menggunakan tablet, atau komputer yang terinstall software image editing tentu saja. Nah, secara teknis ketika menggunakan tablet dan software di komputer, editing dalam membuat sket tentu menjadi hal mudah. Tapi bagi mereka terlalu banyak editing bukanlah pilihan.

Mungkin pertanyaanya, enakan mana membuat sket di atas kertas dan di atas tablet/layar komputer? Suka-suka si pembuat sket sih.

Sebagai orang yang tidak punya bakat menggambar, semalam saya iseng membuat sket wajah saya sendiri. Untuk lebih mudahnya, saya memilih menggunakan software. Saya menggunakan GIMP 2.8 di laptop Ubuntu saya.

Cara yang saya gunakan sebenarnya lebih kampungan dari orang pada umumnya. Kalau mereka dengan cara melihat wajah atau foto orang kemudian mulai menggambarnya. Yang saya lakukan dengan GIMP adalah menaruh foto pada satu layer, kemudian saya mulai membuat path dan garis-garis pada layer baru yang saya letakan di atas layer foto. Editing, tentu saja saya lakukan. 😀 Karena saya pemula, saya tidak malu untuk menghapus dan menyesuaikan garis-garis yang menurut saya tidak proporsional.

Sket sederhana ini semalam saya selesaikan dalam waktu yang cukup lama. Satu jam lebih. 😀 Tidak apa-apa, saya kan pemula. Selalu ada maaf untuk pemula kan. hehehe!

Beli Majalah Cetak

Majalah Tarbawi dan Djaka Lodang

Majalah Tarbawi dan Djaka Lodang

Sepulang dari mini market pada siang tadi, saya spontan mampir ke kios penjual koran di pasar Playen. Yang membuat saya spontan ingin mampir adalah wajah mas pemilik kios itu yang masih terasa akrab. Seperti dulu. Ketika saya masih rajin membeli bacaan informasi dari kios miliknya.

Dan saya pun kemudian membeli dua majalah. Majalah Tarbawi yang dulu hampir tiap edisi dari tahun 1999 sampai 2003 an tidak terlewatkan. Harga majalah Tarbawi sekarang sudah Rp 11.000,-. Seingat saya, dulu terakhir kali membeli majalah ini di kios yang sama masih berharga di kisaran Rp 5.000,-. Wajar sih sebenarnya naik dua kali lipat. Karena sudah selisih waktu hampir 10 tahun.

Majalah yang satunya adalah Djaka Lodang. Saya membeli majalah ini karena saat ini bacaan berbahasa Jawa di internet masih sangat minim. Saya bermaksud memperbanyak bacaan berbahasa Jawa agar kemampuan berbahasa Jawa saya tetap terjaga. Syukur-syukur bisa ada peningkatan. Rencananya saya ingin membaca Djaka Lodang secara rutin.

Mudah-mudahan saya tidak hanya suka membeli majalah. Semoga saya ada kesempatan dan kemauan untuk membacanya. 🙂

Nonton Pasar Malam di Alun – Alun Pemda Gunungkidul

Sepanjang hidup, saya baru beberapa kali nonton pasar malam. Jadi jangan heran bila saya masih terheran-heran melihat interaksi dan kehidupan sosial di pasar malam.

Video di atas saya rekam pada malam minggu yang lalu dengan handycam seadanya, tanpa perencanaan dan dalam waktu yang tergesa-gesa. Yang penting ada gambar. Nah dari gambar-gambar yang seadanya itu pula dalam waktu yang tidak kalah tergesa saya edit sekenanya.

Lain kali semoga saya mempunyai mood yang lebih baik untuk merekam kehidupan malam di pasar malam. 🙂