Yang Baru/Mahal Harap Dititipkan

Sebuah tulisan di parkiran di depan mini market. Maksudnya apalagi kalau tidak agar helm-helm yang ditaruh di sepeda motor tidak diambil oleh yang tidak berhak.

 

Makin Elektronik

e-payment poster

e-payment poster

Sejak beberapa waktu yang lalu, saya melihat semacam reader di halte trans Jogja. Saya kira itu merupakan reader untuk kartu berlangganan yang khusus diterbitkan oleh Jogja Tugu Trans (pengelola Trans Jogja).

Ternyata kartu berlangganan ini tidak diterbitkan sendiri oleh Jogja Tugu Trans. Saya baru melihat dari dekat posternya tadi. Seperti yang terfoto di atas. Kartu itu diterbitkan oleh BCA, Bank Mandiri, dan bahkan Indomart Card. Iklannya mengatakan lebih murah berlangganan. Namun mungkin yang lebih menarik adalah kepraktisannya.

Namun saya juga tidak tertarik untuk memiliki kartu-kartu itu. Meski saya sering naik Trans Jogja. Saya pikir akan mempertebal dompet dengan kartu baru itu.

Saat ini Trans Jogja terlihat akrab dengan Telkomsel. Ini saya lihat dari logo Telkomsel di seragam harian karyawan Trans Jogja dan iklan-iklan yang terpasang di halte-halte Trans. Maksud saya kenapa Trans Jogja tidak bekerja sama dengan Telkomsel Tap Izy. Bila tiket Trans Jogja bisa dibayar dengan Tap Izy, tentu akan lebih manfaat buat saya. hehehe

Kalau dilihat secara fisik, reader itu halte trans itu sepertinya menggunakan teknologi RFid sebagaimana halnya dengan Telkomsel Tap Izy. Bener ngga sih?

Kopdar Blogger, Masih?

Saya tidak serta merta menyanggupi ajakan Dhenok melalui twiter pada beberapa hari yang lalu untuk kopdar dengan beberapa teman blogger di suatu tempat di Yogya. Belakangan tempat kopdar yang dipilih adalah di Tomyan Kepala Ikan Pak Agus, Jalan KH Ahmad Dahlan.

Bukan apa-apa. Bukan karena saya sombong atau sok sibuk. Sejujurnya saya seneng-seneng saja untuk kopdar-kopdar dengan blogger-blogger muda yang hebat-hebat, gaul dan berpendidikan. Orang ndeso mana sih yang tidak akan seneng sesenang yang saya alami ketika benar-benar memutuskan turun gunung untuk kopdar beneran pada Selasa sore sampai petang kemarin. 🙂

Jadilah kemarin sore itu, sambil malu-malu, saya menjadi pendengar yang baik. Berusaha menyimak obrolan dari teman-teman, diantaranya: Dhenok, (gadis kelahiran 1991 yang hampir menyelesaikan studi S1-nya di Palembang) Siti Rasuna (mahasiswi UI yang super duper gaul yang sedang liburan di rumah neneknya di Jogja), Ratnawati Utami (lulusan S1 Ilmu Komputer UGM, tetapi memilih mengabdikan diri di dunia pendidikan anak di Budi Mulia), Aditya Bayu (Sarjana Filsafat UGM yang kalem dan tampak jenius), Huda dan Abdullah yang keduanya adalah pemuda alim yang serius mendongkak webometric Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Anno seorang teman saya yang hampir selesai S1 Universitas Gajah Mada.

Ada yang belum saya sebut?

Ngomong-ngomong kopdar blogger seperti ini bagi saya merupakan suatu hal yang sudah jarang. Tetapi terbukti masih.

Ada beberapa hal yang terungkap melalui kopdar tentang pendapat teman-teman kopdar itu tentang saya dan gaya ngeblog saya. Diantaranya, mereka melihat tampang saya dan mengira masih mahasiswa S1. hihi. Kalau mendengar yang seperti ini, saya jadi punya harapan besar untuk hidup di dunia lebih lama lagi. Pendapat yang lain adalah tulisan saya (meski pendek-pendek) itu serius. Kata Aditya seperti dosen. Masa sih. 😀 Nah, kalau menurut Denok, saya itu sangat humoris, padahal aselinya pemalu, kecuali sedang khilaf. hehehe

Dan Tomyan Ikan Kakap Utuh kemarin sore itu enak. Percayalah!

Tomyan Kakap Utuh

Tomyan Kakap Utuh

Jaman Dulu Disebut TTS

Rileks Sejenak

Rileks Sejenak

Maka saya juga rileks sejenak pada pagi ini untuk sekedar membuat posting ini.

 

[Photo] Parenting

Parenting

Parenting

Seekor ayam yang sedang memainkan peran parenting. (single parenting) Mengasuh beberapa anaknya di pinggiran sawah.

Foto saya ambil dengan kamera ponsel beresolusi 2 mega pixel tanpa ada fitur auto focus, alias fix focus. Saya mencoba menggunakan mode hitam-putih sekaligus mencoba trik yang dibagikan oleh Mas Ikhlasul Amal beberapa waktu lalu. Menurut mas Amal, dengan mode hitam putih kekurangan dari kamera tidak terlalu kelihatan. Gambar yang dihasilkan tidak terlalu terlihat jelek, bahkan dalam kondisi tertentu bisa mengantarkan suatu gambar yang artistik. 🙂

Bener ngga sih? hehe

Apoteker Salah Ngasih Obat

Dini hari tadi. Kira-kira pukul 02:00, sakit diare dan muntah-muntah yang diderita oleh ayah saya sejak beberapa hari yang lalu belum membaik. Khawatir dengan keadaanya saya dan keluarga membawanya ke Rumah Sakit Nur Rohmah.

Setelah dokter memeriksa kondisi tubuh ayah dan ngobrol-ngobrol dengan saya tentang riwayat sakit yang diderita ayah saya, saya dipersilakan menunggu untuk diberikan obat dan tagihan biaya pengobatan.

Tidak lama kemudian, di loket pengambilan obat sekaligus pembayaran tagihan, saya diberikan dua macam obat untuk ayah sekaligus dijelaskan aturan memakainya. Saya melihat-lihat obat yang diberikan kepada ayah saya.

Obat itu terdiri dari 2 strip obat. 1 Strip Domperidone dan 1 strip tablet Ambroxol. Domperidone masuk akal untuk mengobati diare. Akan tetapi Ambroxol? Ayah saya tidak sedang batuk.

Saya menanyakan tentang Ambroxol yang diberikan kepada Apoteker di Apotek Rumah Sakit. Kemudian dia mengganti dengan obat lain, yaitu Attapulgite 600mg+Pectin 50mg. Melihat muka saya yang ngantuk dan kecewa, bukannya meminta maaf, apoteker itu malah mengatakan kalau sebenarnya tidak salah obat, hanya menggantinya dengan dosis yang lebih baik.

Apa?????? Saya hampir marah dengan ketidakjujuran apoteker ini. Saya berusaha menahan diri untuk tidak ribut-ribut.

 Apa si apoteker tidak mikir, kalau jaman sekarang tinggal ngetik jenis zat aktif dalam obat di google akan langsung ketahuan apa indikasi dari zat aktif dalam obat itu? 😐

(Masih) untung obat yang salah itu belum digunakan. Dan kesalahan terjadi pada obat yang bisa dilihat, dicek lagi. Coba kalau kesalahan ada di obat yang disuntikan. Mana bisa kita tahu jenis obat apa yang disuntikan oleh perawat. 😦

Menjumpai ketidaktelitian dalam proses penanganan pelayanan kesehatan di rumah sakit seperti ini membuat saya semakin paranoid saja.

Masih Banyak SMS Spam/Iklan/Tipu-Tipu

Saya mengira pasca diterapkanya biaya interkoneksi SMS lintas operator, SMS spam, iklan dan tipu-tipu akan berkurang secara signifikan. Ternyata saya salah.

Sampai pagi hari ini, 6 hari setelah diterapkan biaya interkoneksi sms lintas operator itu, saya sudah beberapa kali menerima sms tidak dikehendaki itu. Memang jumlahnya sedikit berkurang dari sebelumnya. Kebanyakan SMS tak terkehendaki itu datangnya juga dari operator yang sama dengan operator yang saya gunakan di ponsel saya. Saya menggunakan kartu pasca payar dari Telkomsel.

Jadi sebenarnya penerapan biaya interkoneksi sms lintas operator itu menguntungkan siapa dan merugikan siapa? Kualitas apa yang bisa ditawarkan oleh operator seluler pasca penerapan biaya interkoneksi sms itu?

Coba kita lihat apa yang terjadi pada layanan SMS sampai akhir bulan. Namun tetap saja biaya interkoneksi sms lintas operator tidak bisa dibatalkan meski layanan operator tidak membaik ya. 😀

Bagaimana Cara Memotret Makanan Enak?

Selama ini saya lebih tertarik untuk memotret obyek yang berwarna mencolok. Kenapa? Ya, karena warna-warna cerah terlihat menarik saja. Permasalahanya muncul ketika saya ingin memotret suatu makanan dan menginginkan potret itu berbicara kalau makanan itu enak, sangat enak. Makanan-makanan yang enak tidak selalu berwarna-warni. Bentuknya pun tidak jarang berantakan.

Soto dan gorengan dalam potret berikut, walaupun bentuk dan warnanya begitu-begitu saja, namun rasanya enak. 😀

Soto Pak Buang

Soto Pak Buang

Gorengan

Gorengan

Ada yang mau berbagi tips trik memotret makanan?

Mengejar Senja

Kemarin sore, ketika sedang berwudlu di padasan di sekitar sumur keluarga, saya melihat di langit semburat-semburat senja warna jingga. Jingga berbaur dengan warna abu-abu, putih, dan biru. Alih-alih segera menyelesaikan wudlu, saya malah beranjak ke rumah. Mencari kamera secepatnya. Ingin mengambil gambar senja yang memanjakan mata itu.

Saya bergegas berlari mencari tempat terbuka di persawahan tidak jauh dari rumah. Begitu menengadah dan mengarahkan kamera, seketika mood saya hilang. Senja yang indah itu telah berlalu. I missed that beautiful sunset. Moment happened so instant.

Senja

Senja

Foto senja yang jelek, seperti mood saya yang langsung memburuk saat itu. Barangkali benar apa kata Dafhy begini:

Badan Sedang Tidak Enak

Senin pagi ini, sebenarnya sejak Sabtu pekan lalu, badan saya terasa tidak enak. Mungkin karena kecapean dan atau perubahan cuaca. Menuju musim kemarau yang panas dan dingin.

Bila menghadapi kondisi seperti ini, saya dihadapkan kepada setidaknya dua pilihan. Tetap beraktivitas seperti biasa. Dengan konsekuensi pekerjaan bisa jadi diselesaikan dengan tidak excellent, seadanya, asal jadi, mediocare. Lebih parahnya bila nanti saya terbawa terlalu memaksakan diri sehingga badan tambah tidak enak.

Pilihan lain yang saya ambil sekarang adalah bersabar dan istirahat di rumah. Dengan harapan badan kembali enak dan fit di kemudian harinya. Efeknya adalah beban kerja hari ini menumpuk untuk dikerjakan bersamaan pada hari kapan saya sudah kembali beraktivitas.

Selamat Hari Senin buat yang merayakan dengan penuh semangat.