Kita bertadarus. Kita membaca ayat ayat Al Qur’an. Allah menjanjikan pahala membaca Qur’an sampai pada detail per aksara. Per Hijaiyah, benar salah membacanya, mahraj nya, maad nya, sampai pada pemahaman makna ayat ayat tersebut. Berbeda dengan deklamasi –yang dinilai audience hanya cara membaca, atau membaca literature –yang indikatornya adalah sejauh mana kita bisa memahami apa yang dikomunikasikan atau dideskripsikan penulis.
Pengalaman menarik saya, ketika bertadarus pada hari hari Ramadhan ini. Beberapa hal saya temukan dan perlu saya definisi ulang. Saya membaca Al Qur’an. Dan menemukan diri saya kehilangan detil dan linearity dalam membaca. Saya sering kali melakukan kesalahan dalam membaca. Salah mahraj. Maad yang terlewatkan. Bahkan saya tergelincir mengucapkan kata kata yang bahkan tidak tertera dalam bacaan. Subhanallah. Artinya sudah berapa banyak pahala yang terlewat untuk saya dapat dari tadarus saya. Untung bertadarusnya berjamaah dan semak an, sehingga ketika saya melakukan kesalahan dengan cepat bisa diingatkan oleh teman teman.
Kesalahan kesalahan baca tersebut sebenarnya bukan saya lakukan karena saya tidak tahu kaidah membaca dan hukum hukum membaca Al Qur’an. Walaupun tidak semua kaidah dan hukum bacaan saya ketahui dengan baik. Tetapi minimal basic nya. Menurut saya penyebabnya ada di paradigma saya. Kalau boleh saya menyebutnya sebagai Paradigma Non Linear.