Tadarus Al Qur’an: Proses Linear

Kita bertadarus. Kita membaca ayat ayat Al Qur’an. Allah menjanjikan pahala membaca Qur’an sampai pada detail per aksara. Per Hijaiyah, benar salah membacanya, mahraj nya, maad nya, sampai pada pemahaman makna ayat ayat tersebut. Berbeda dengan deklamasi –yang dinilai audience hanya cara membaca, atau membaca literature –yang indikatornya adalah sejauh mana kita bisa memahami apa yang dikomunikasikan atau dideskripsikan penulis.

Pengalaman menarik saya, ketika bertadarus pada hari hari Ramadhan ini. Beberapa hal saya temukan dan perlu saya definisi ulang. Saya membaca Al Qur’an. Dan menemukan diri saya kehilangan detil dan linearity dalam membaca. Saya sering kali melakukan kesalahan dalam membaca. Salah mahraj. Maad yang terlewatkan. Bahkan saya tergelincir mengucapkan kata kata yang bahkan tidak tertera dalam bacaan. Subhanallah. Artinya sudah berapa banyak pahala yang terlewat untuk saya dapat dari tadarus saya. Untung bertadarusnya berjamaah dan semak an, sehingga ketika saya melakukan kesalahan dengan cepat bisa diingatkan oleh teman teman.

Kesalahan kesalahan baca tersebut sebenarnya bukan saya lakukan karena saya tidak tahu kaidah membaca dan hukum hukum membaca Al Qur’an. Walaupun tidak semua kaidah dan hukum bacaan saya ketahui dengan baik. Tetapi minimal basic nya. Menurut saya penyebabnya ada di paradigma saya. Kalau boleh saya menyebutnya sebagai Paradigma Non Linear.

Ketika saya membaca buku atau media, tujuan akhirnya adalah untuk menyerap informasi. Tidak penting apakah saya telah membaca huruf demi huruf secara benar. Sama dengan menulis dengan text editor seperti ketika saya menulis posting ini. Tidak penting apakah saya menuliskan secara random atau berurutan. Atau saya mengetikan dengan asal cepat untuk kemudian saya meng edit nya kemudian. Bukankah yang penting bukan bagaimana saya membaca atau menuliskan blog. Tetapi bagaimana hasil final akan disajikan. Inilah Paradigma Non Linear yang saya anut dan katakan diawal tulisan ini.

Sebelumnya saya beranggapan bahwa metode non linear seperti ini adalah yang terbaik yang telah ditemukan manusia setelah proses panjang peradaban. Tetapi pengalaman bertadarus (tadi) adalah sebuah feedback terhadap apa yang menjadi pilihan saya selama ini. Walaupun dalam banyak aspek kehidupan Non Linear System telah memudahkan *manusia. Ternyata Allah mempunyai ketentuan*nya sendiri. Dan keyakinan saya “*apapun yang diperuntukan Allah pasti adalah yang terbaik bagi hambanya **jadi teringat omongan Fauzan hampir satu dekade yang lalu.

Nah akhirnya, saya tetap harus belajar membaca Al Qur’an dan membiasakan diri dengan proses sesuai situasinya. Detail, Sequence, Linear, Holystic. Ahhhh…Belajar**

Semoga ketika saya bertadarus, selain Allah memberikan pahala dari sedetail hijaiyahnya, sampai pemahamanya, juga ditambahkan pahala untuk belajar dan berlatih saya. Karena apapun, suatu proses itu perlu pembelajaran dan Proses (mungkin) adalah Pembelajaran. Pemahaman.

Satu komentar di “Tadarus Al Qur’an: Proses Linear

  1. walah mas, nopo to niku tadarusan dihubung2kan dg linear, no linear hiks utek’e ra tekan, apa karena puasa yah hehehe. btw asik yah bs tadarusan masal, wen sendiri aja jadi gak ada yg bisa ngoreksi:(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s