Macam – Macam Ketupat

Semua sudah tahu, dalam tradisi lebaran ala jawa selalu didalamnya ada kehadiran ketupat. Eh tapi ketupat tidak hanya ada di hari raya iedul fitri orang jawa saja ya?

Ketupat dalam foto merupakan hasil karya bapak saya. Dia jago membuat ketupat sudah sejak beliau masih kanak – kanak :). Ketupat yang baru saja dia buat ada beberapa jenis. Meskipun sebenarnya untuk saat ini hanya diperlukan satu jenis yaitu ketupat lebaran saja.

Barangkali secara tidak langsung dia mau memberitahu saya secara menyindir. Jenis – jenis ketupat ala jawa antara lain ketupat bata, ketupat tumpeng, ketupat lebaran, ketupat jago, dan lain – lain. Masing – masing mempunyai fungsi sendiri. Nah barangkali teman – teman sudah ada yang tahu? Hehehe

Fatwa Haram Mie Ayam

Mie Ayam

Mie Ayam

Ini adalah saat – saat dimana saya harus memperteguh pendirian dan lebih menahan diri. Penampilan menggoda dari nona nona muda dengan pose menantang dan mie ayam beraroma sedap gurih seolah berkata merayu, “Monggo Mas, silahkan mencicipi. Gurih loh. Sedap loh, Uenak loh, Uenak tenan mas.”

Tidaaak!”

“Demi apapun, saya tidak akan dengan (mie ayam) kamu!”

Boleh dong saya memberi fatwa  halal haram akan sesuatu. Asal tidak memaksakan apa fatwa saya kepada orang lain. Dengan mengingat, memperhatikan, mempertimbangkan  dan seterusnya bahwa mag saya berpotensi kambuh memarah bila nekad menuruti nafsu dengan melahab seperti apa yang dipertontonkan nona nona dalam foto itu.

Tentu, mie ayam bukan satu – satunya jenis makanan yang saya harus berpantang. Masih ada sederet do and don’t bagi pengidap mag  agar kesehatan dan stamina tetap prima. Ada sederet panjang senarai yang disodorkan seolah tanpa rasa bersalah oleh google. Semoga do and don’t itu senantiasa tertempel di depan mata kesadaran  sehingga sampai kapanpun saya tidak akan lupa sehingga  sampai terjadi tindakan bodoh. Amiin.

Dan posting ini bukan merupakan sentimen pribadi atau sentimen kolektif terhadap mie dan penjual mie 😀

Peace

Iklan di portal berita. Mengganggu?

Beberapa hari ini saya malas untuk mengunjungi situs berita lokal. Bukan karena saya sedang tidak tertarik untuk tahu isu isu yang sedang terjadi. Bukan juga karena saya menganggap berita dari media lokal itu tidak bagus. Bahkan menurut saya bagus bagus dan cukup up to date.

Jadi mengapa saya lebih memilih situs berita non lokal. Sebenarnya alasan saya cukup sepele. Iklan yang mengganggu.

Saya tahu bahwa tulang punggung keberlangsungan kebanyakan portal portal berita adalah iklan. Sebenarnya saya tidak anti dengan keberaaan iklan. Bahkan malah ada beberapa iklan yang menurut saya kreatif bisa menjadi salah satu penghiburan di sela sela pemutakhiran diri dengan kabar – kabar terkini.

Saat ini, full animated advertisement sedang nge trend di Indonesia sehingga tiap tiap pengiklan berusaha mempercantik iklan yang ditampilkan untuk merebut atensi dari visitor web. Niatan sekaligus kemajuan yang bagus. Barangkali satu hal yang kurang diperhatikan dari pengiklan itu.

Yaitu, komputer yang digunakan oleh visitor untuk browsing. Misalnya saya saja yang mengandalkan komputer dengan spec pas pasan untuk berinternet. Bukanya tidak mau disuguhi dengan iklan iklan berkilau kilau warna warni itu, sesegera itu pula komputer/laptop saya segera berkeringat dan suhu tubuhnya meningkat. Dengan performa yang melemot pula. Memang komputer/laptop itu digunakan, selain untuk berinternet dan browsing adalah untuk menjalankan aplikasi dan menyelesaikan banyak pekerjaan produktif.

Jadi, bagaimana bila sajian iklan cantik itu tidak jadi di pirsa oleh audience, karena kebanyakan orang bekerja, pasti tidak ingin mengorbankan produktifitas dan kreatifitas mereka termasuk saya, mungkin akan mencari alternatif dengan merujuk pada situs lain yang tidak akan mempuat piranti komputasi berkeringat.

Latihan itu (masih) PENTING

Saat ini orang bisa melakukan apa saja secara instant dan mudah karena adanya campur tangan teknologi. Orang tidak perlu sangat teliti untuk membuat hitungan dalam laporan keuangan dengan bantuan mesin hitung atau yang populer aplikasi spread sheet. Semua orang tidak perlu menghafal banyak perintah baris setelah teknologi GUI berkembang biak. Mengambil gambar gambar photo menjadi mudah dengan adanya teknologi digital, otomasi, dan user interface yang friendly.

Berbekal keyakinan itu tadi, saya pikir melakukan foto foto juga akan mudah mudah saja mengingat apa yang saya kerjakan juga bukan untuk kepentingan yang serius. Saya menggunakan Digicam yang saya pinjam dari seorang teman. Bukan apa yang saya pegang sehari hari.

Apa yang terjadi di tengah acara foto foto ternyata tidaklah semudah yang saya yakini. Teknologi yang lumayan canggih ternyata tidak cukup memenuhi harapan saya untuk mendapatkan hasil optimal tanpa latihan dan persiapan. Disini saya menuai banyak kecanggungan dan tidak sama sekali dapat melakukan pengambilan gambar secara mengalir.

Terlebih setelah saya menyalin gambar gambar dari kartu memory ke laptop dan melihat apa hasil dari yang telah saya lakukan dengan berkeringat. Photo photo yang tertambil dengan Canon S15 S bahkan banyak yang lebih buruk dari camera ponsel.

Disini saya tidak mengatakan kalau Canon memproduksi camera digital dengan kualitas lebih buruk dari K810i. Masalah disini adalah saya sendiri.

Pengetahuan dan Teknologi saja ternyata belum cukup. Perlu berlatih untuk menjadi terampil dan perlu jam terbang untuk mendapatkan feels dari suatu tools. Kesimpulan saya ini memang kuno, tetapi apa yang terjadi merupakan pengalaman untuk saya. Selengkapnya mungkin seorang Pelari akan bilang bahwa mempelajari teori berlari yang baik dan mengenakan sepatu lari merek Nike model terbaru akan sama sekali tidak berarti tanpa berlatih berlari.

Blogged with the Flock Browser

Apa terlalu sibuk itu bisa mematikan kreatifitas

Saya seringkali heran dengan diri saya sendiri. Kadang kadang saya bisa melakukan sesuatu dengan mengalir, tetapi di saat saat yang berbeda serasa mentok/mandek, dan kehilangan arah. Hal ini terutama terjadi bila saya sedang menikmati/mengerjakan hal hal yang teknis.

Biasanya untuk memulihkan diri saya perlu berhenti dan melepaskan apa yang sedang saya pegang dan kemudian ke luar pergi keluar kamar.

Namun demikian, dalam banyak hal itu tidak mudah. Seberapa deras pusing mendera, tidaklah serta merta saya dapat menekan tombol pause. Semua seringkali perlu dilebih dahulu selesaikan sebelum bisa melangkah keluar kamar. Entah seberapa pusing dan seberapa sakitnya menabrakan diri ke dinding tebal ke –mentok–an.