Apakah kata “Obama” dan “inauguration” ada di status FaceBook Anda?

Nampaknya Inauguration nya Mr Obama sedang sukses merebut perhatian sebagian banyak teman teman saya. Kata “inauguration” dan “Obama” malam ini telah tidak terhitung berapa banyak tertulis di status Face Book teman teman . Termasuk di status anda kah? Si akang Obama memang fenomenal dan top. Presiden kulit hitam pertama Negeri Pakde Sam sebagai produk kedewasaan berdemokrasi ala US. Dan sebagai Presiden berjurkamkan FaceBook.

Kemudian apa pengaruh Obama bagi kita? Apa keterkaitan antara Kemenangan Obama, Face Book, Inauguration dan Kebijakan International Amerika? Apa hubunganya dengan kenyamanan kita berface book?

Pertanyaan  tidak mutu. Dan perlu diketahui bahwa saya menulis posting dan meminum kopi untuk memerangi rasa kantuk  supaya dengan mata dan telinga terbuka lebar menyaksikan Inauguration pada 2 jam yang akan datang. Mari kita menyaksikan bersama sama si kakang Obama presiden pertama negeri pakde Sam berkulit kelam  dan pernah meminum studi di Indonesia.

Sariawan; bikin stress

Konon Sariawan merupakan indikator stress ringan, tetapi saya malah stress  gara gara sariawan. Jadi sebenarnya Sariawan itu adalah penyebab strees bukan akibat.  Otak ini benar benar macet dan terjadi penurunan batas ambang kesadaran dan kesabaran.  Sebentar sebentar ingin dilampiaskan dengan kemarahan dan mood berantakan.

Berdasar saran teman, saya menggunakan albotyl untuk penyembuhan. Cairan konsentrat itu sangat memilukan ketika diteteskan ke tempat luka, tapi lebih baik sakit sekali sebentar ketimbang derita berkepanjangan. Kemudian untuk urusan peredaan stress dan menjaga ketahanan saya mempercayakan kepada Protecal Defence.

Semoga saya dapat lekas berpikir jernih kemudian dan  kesabaran saya tidak berlutut pada sariawan.

Listrik mati bikin gatal gatal dan pusing pusing

Bagaimana terasa kehidupan tanpa cukup pasokan listrik? Ya seperti baru saja terjadi power down sejak hari menjelang siang sampai jam sembilan malam ini. Tubuh terasa gatal gatal karena tanpa perlindungan alat pengusir nyamuk. Mood tidak mendapatkan cukup pemacu dari alunan suara musik. Makan takut kalau kalau keselek dan semua ruangan terasa pengap dengan lampu minyak yang tidak handal.

Sebenarnya seharian ini saya berniat untuk membaca buku, tapi karena buku dan dokumen dokumen tersebut dalam format e book, maka ya apa daya selain menunda. Kemudahan teknologi telah memanjakan. Dan karena kemanjaan kenalah batunya.

Kemajuan teknologi telah terbukti membawa perubahan kebiasaan. Dan kadang membuat efek sampingan berupa gatal gatal gigitan nyamuk dan pusing kepala karena pencapaian sasaran tidak menemukan saluran ketika listrik sedang down.

Karena ini musim aliran listrik tidak handal karena banyak gangguan karena musim penghujan dan keterbatasan teknisi PLN dalam penanganan gangguan teknis ya mesti secara pribadi melakukan pencegahan dan alternatif pengurangan dampak gangguan. Seperti charging batt setiap saat tidak boleh kelupaan dan menggunakan krim pengusir nyamuk semacam soffel dan autan. Juga jangan lupa bahwa minyak tanah itu susah didapat di warung Pak Tukir dan kadang berharga mahal.

fight the bad mood

Boleh percaya boleh tidak, sejak kemarin saya mencoba menulis entry untuk blog ini. Tidak seperti biasa dimana saya sangat spontan dalam menulis. Ini adalah kali pertama saya memulai beberapa tulisan namun sayangnya dari banyak tulisan tersebut gagal untuk dieksekusi menjadi barang pajangan di etalase blog wordpress ini.

Dan kalau saya boleh menonjok, itu semua gara gara bad mood yang nyelonong masuk tanpa ketok ketok pintu jauh kedalam sistem kendali si Jarwadi. Tidak kurang kurang usaha si Jarwadi dalam rangka mempertahankan tali kekang untuk menghela dan memacu diri untuk senantiasaa istiqamah di jalanya. Seperti anda semua tahu  , saya senang menulis di blog, walaupun tulisan tulisan saya lebih sering membikin jengkel orang lain yang terpaksa membaca, entah itu title nya saja, bila memang jengkel itu salah anda sendiri dong, siapa suuruh masuk ke blog saya. Atau paling tidak dakwa jua lah mr google yang  main asal tunjuk.

Kembali ke Laptop. Pembajakan yang telah terlanjur mengambil alih sistem kendali paling tidak membuat seharian tadi beberapa komitmen saya pending. Menyusahkan orang orang disekitar saya. Merusak kesehatan pribadi dan Lingkungan. Dan menimbulkan beberapa penyakit yang dulunya tidak menular menjadi sangat mudah menular dan menyebar.  [Apa hubunganya]

Tulisan saya ini,  yang sangat tidak terstruktur dan tidak konsisten sama sekali adalah indikasi sekaligus bukti tentang seberapa buruk mood dalam  diri ini.

Dan ketika akhirnya tulisan ini terpampang di etalase , entah akan seperti apa rasanya, merupakan juga bukti bahwa saya sedang berlelah lelah memperbaiki  korteks dan memerangi pembajak yang telah menggelincirkan emosi saya.

I fight my mood for long life and good time, wish me wish me wish ME

paper work, harus selesai

Ini adalah kali pertama pusing di tahun 2009. Tidak ada sakit pusing yang lebih memusingkan dibanding dengan yang merupakan efek samping dari paper work. Tidak tahu mana yang benar. Apakah pusing karena efek tidak suka. Atau tidak suka merupakan dampak ikutan dari pusing pusing karena bergelut dengan paper work.

Apapun yang terjadi,  saya harus keukeuh bertarung untuk memenangkan pekerjaan yang membikin dengkul pusing, tetapi harus dengan baik terselesaikan.

Pengorbanan merupakan bentuk tanggung jawab dan tanggung jawab seringkali harus dieja wantahkan dengan mengorbankan kesukaan dengan melakukan ketidak sukaan.

Kasih seorang Ibu …

Kalau ditanya tentang makanan Favorit, maka dengan tanpa ragu akan saya jawab dengan semua makanan yang dimasak oleh simbok.  Simbok selalu tahu bagaimana cara mengolah makanan yang cocok untuk selera saya. Jangan Lombok dan  Sayur Lodeh olahan simbok yang maknyuuuus selalu membuat liur ini meler dan membuat saya tidak betah tinggal di tanah kembara lebih lama dan kangen setengah mati untuk ingin segera pulang ketika meninggalkan rumah selama waktu beberapa hari saja. Spesial untuk saya, Simbok merupakan koki terhebat sepanjang masa. Sebagai Juru Masak, menurut lidah saya, simbok lebih baik dari koki koki di restoran sekalipun. Walaupun selera ini kerap kali kesengsem dengan menu suatu restoran akan tetapi saya tidak pernah datang ke resto yang sama selama lebih dari tujuh hari berturut turut, boleh jadi karena alasan kesehatan dompet, namun rasanya lidah ini mudah sekali dibuat bosan.

Tidak terhitung sudah berapa piring porsi  makanan yang saya lahab sampai seumuran saya yang telah lebih dari seperempat abad sekarang ini, entah berapa banyak gelas minuman dan entah entah barantah camilan dan lain lain. Kata seorang teman yang merantau di Jakarta sebagai buruh bangunan, dia harus merogoh kocek sekitaran Rp 7.000,- untuk sekali makan asal kenyang nasi warteg. Bila sehari perlu makan tiga kali, kemudian angka angka itu dihitung nominalnya selama sebulan, selama setahun, sepuluh tahun atau dua sudah berapa banyak duit yang perlu dibayarkan untuk urusan perut dan menyambung nyawa. Untungnya, saya tidak perlu sakit kepala untuk urusan sakit perut ini. Tidak peduli entah berapa piring yang saya lahap untuk selera lidah dan urusan mengisi perut dengan bahan bakar yang sesuai, simbok, sedari dulu, sekarang dan mungkin sampai kapan kapan selalu menggratiskan untuk saya.

Kalau dipikir pikir, masalah makan gratis yang kalau dihitung dengan rumus matematika sekalipun hanya akan mendapatkan angka angka yang segede bagong, dan kalau semisal disuruh mengganti juga saya tidak ada duit, semua urusan makan dan minum gratis tersebut belum ada sak kuku ireng nya, begitu kata orang Jawa. Maksudnya kebaikan si mama jauh lebih banyak dan penting dari sekedar urusan makan dan minum.

Saya tidak ingat kapan persisnya si bayi jarwadi lahir dari rahim ke pangkuan simbok. Tapi konon tidak sekarang saja saya menjadi beban orang tua, khususnya ibu. Sebelum terlahir kemuka bumi pun, Jarwadi yang masih orok sudah membebani si ibu selama sembilan bulan sepuluh hari sampai akhirnya si bayi sujar menjadi terkaget kaget dan lupa segalanya setelah lahir coer ke muka bumi. Sejak hari penting itulah seorang wanita kampung memulai memainkan peran baru sebagai seorang ibu. Menyandang panggilan baru dan berjuang atas NAMA IBU.

Saya termasuk orang yang tidak pernah percaya akan cinta sejati. Satu satunya cinta yang pernah ada bagi saya adalah cinta seorang ibu. Hanya seorang ibulah yang bisa melakukan apa saja demi cinta. Hanya seorang ibulah yang bisa memandikan sang anak, mengganti popok, menyuapi, meneteki dan segala tetek bengeknya dengan atas nama cinta. Kalau jalan terpanjang yang ada dipulau Jawa adalah Jalan Anyer Panarukan maka kasih sayang seorang ibu pasti lebih panjang lagi, begitu kata orang – orang.

Tugas mulia seorang ibu adalah mendidik anaknya. Membelalakan mata si Jarwadi lebih lebar untuk lebih banyak melihat dunia, tidak bosan bosan untuk menetah supaya lekas bisa berjalan, mengecup kening dan merangsang bibir bibir supaya bisa mengeja kata kata, memberi nutrisi yang baik, beberapa kali kunjungan dokter karena si Jarwadi kecil yang sering sakit sakitan dan sebangsanya telah dengan baik dilakukan simbok.

Berat sekali ya tugas seorang ibu. Kalau ada anak nakal biasanya pertanyaan yang keluar akan “Badung banget neh kampret, Siapa sih simboknya?”, “Idiiih bego banget kamu jadi boncel, emang dirumah tidak pernah disuruh belajar sama ibu kamu?”, “Niiiih anak jorok banget, dirumah punya Ibu ngga seh?”. Tidak terhitung pertanyaan dan kata kata orang yang menonjok hati seorang ibu dalam dalam. Tidak kebayang kalau orang orang ini diajak berganti peran untuk memainkan figur seorang ibu.

Begitu berat tugas dan tantangan seorang ibu. Di lingkungan tempat saya tinggal, peran dan tanggung jawab seorang ibu lebih berat lagi. Selain menjaga peranya sebagai gelandang depan dalam membesarkan dan mendidik anak anak supaya menjadi *orang*.

Baca lebih lanjut

Kapan Menikah?

Usia saya 28 tahun. Status TM. Tidak Menikah. Meskipun dari teman teman SD saya masih ada beberapa yang tidak Menikah, tetapi besok sore salah seorang teman SD saya akan sudah menikah. Dia adalah Suban. Selamat Menikah saja buat Suban. Kemudian urutan terdekat setelah Suban, saya menduka adalah Andi. Karena kabar-kabarnya dia sedang mengurus Surat Numpang Nikah.

Selama ini saya meyakini bahwa diantara teman dan geng, saya akan berada di antrian terakhir di pintu gerbang pernikahan. Dan kelihatanya keyakinan saya tersebut akan menjadi kenyataan, walaupun saya tidak sengaja mengusahakanya. Manipulasi adalah cara yang tidak saya sukai, kecuali kalau terpaksa.

Di lingkungan tempat saya hidup, menikah adalah status. Teman saya pernah berkata, menikah adalah sebuah gerbang. Entah apa yang dia maksudkan, sampai hari ini saya tidak pernah tahu.

Karena sebuah status, orang yang tidak menikah seperti saya mendapat tekanan sosial yang sangat besar. Selalu muncul pertanyaan, “Kapan Menikah”? Kalau Agus Ringgo menjawab, “maybe yes maybe no“. Kalau Adang Sudarman menjawab, “wah belum ada yang cocok”. Kalau Dini Restuti menjawab, “wah belum ada waktu”. Maka saya akan menjawab, “tidak ada perempuan yang suka pada saya”.

Saya suka dengan jawaban yang saya berikan. Jawaban ini tidak pernah diduga oleh siapa pun. Sehingga orang yang mendengar akan kaget dan tanpa sadar secepat mungkin menggunakan topeng empati. Maka kata-kata penghiburan untuk mengangkat semangat dan membuang sikap pesimis dari diri saya meluncur dengan merdu. Kata-kata mereka seperti musik jazz di telinga saya. Kadang enak didengar tapi saya tidak pernah bisa mencerna.

Banyak orang menasihati saya agar tidak pesimis. Dia menambahkan bahwa “elo kurangnya apa sih, pendirian kuat, fisik proporsional, wajah cute, dari keluarga baik-baik, pendidikan meyakinkan. Ya memang tidak ada yang kurang dari diri saya. Yang kurang hanyalah tidak ada perempuan yang suka pada saya?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keputusan saya untuk tidak menikah. Menurut saya kalau menanggapi kata orang, yang ada hanya serba salah. Kapan serba benarnya ya?  Bukan hanya orang tidak menikah saja yang mendapatkan tekanan sosial besar. Orang yang sudah menikah pun tetap mendapat tekanan sosial yang besar. Contohnya Aswinto, teman seperburuhan saya.  “Kapan punya momongan?”. Selanjutnya “Kapan si ucok punya adik?”. Dan terus seterusnya tanpa berkesudahan. Begitulah deraan orang-orang yang keputusanya datang dari tekanan sosial. (baca : orang lain)

 

Sedia Payung biar tidak keHujanan

Sepanjang Pagi sampai menjelang siang ini merupakan hari tercerah setelah 7 Desember. Selama satu setengah Minggu diri ini harus bertarung melawan hujan dan (masuk) angin. Lekat dengan tubuh ini pasti adalah kedinginan, persendian dan dengkul ngilu, kepala pusing tujuh keliling –tetapi kalau yang ini karena masalah kurang duit. Melengkapi derita biologis tersebut adalah penampilan yang semakin menjadi korban. Celana dan  Baju berbekas air hujan kerap kali menjadi make up ditempat kerja. Bahkan, juga karena kehujanan, parfum AXES yang saya pakai menjadi luntur sehingga kita kita disini bisa berbagi aroma aseli warisan nenek moyang (baca : bau keringat)

Selain menjadi derita bagi sistem biologis dan sistem *narsisme, air hujan yang ganas juga merupakan acaman serius untuk Gadget Gadget yang membantu memperpanjang usia saya, sehingga walaupun sebenarnya tidak suka menjadi cowok perpayung, tetapi demi keselamatan dan usia Gadget Gadget yang saya tenteng, biasanya adalah Laptop dan Ponsel, saya mengalah dengan melakukan sesuatu yang sangat tidak saya suka. Demi Gadget tercinta, dan tentunya dengan pertimbangan yang lebih panjang dari jalanan jalanan menuju tempat kerja, sebuah Payung berwarna Ungu keabu abuan (baca : abu keungu unguan; susah memilih istilah yang tepat) menjadi pilihan dari keputuan saya. Dibeli di toko kedua dari sisi timur kompleks perkiosan Ps Siyono.

Selasa, 16 Desember 2008, tangan si Jarwadi dengan kostum keki warna krem sedang menenteng Payung untuk pertama kalinya sepanjang musim Hujan tahun ini. Si Jarwadi, si Cowo BerPayung.

Sim Salabim …

Sepanjang perjalanan pulang dengan payung ditangan si Jarwadi. Berangur angsur hujan mereda. Demikian juga derita masuk angin yang menghinggapi tubuh kerempengnya. Kemudian dipagi hari kemudian Matahari juga terbit cerah.

Kalau saja saya tahu kalau dengan sekali membeli payung hujan akan mereda dan matahari bersinar cerah, tidak  sedikitpun saya akan ragu untuk membeli payung ungu keabuan sejak awal awal. Begitu pikir Jarwadi walaupun dia juga ragu ragu akan benar dan tidaknya. Karena menjelang tombol terbitkan di jendela teks editor blog nya ditekan, mendung semakin mengkelam.

Pergantian Waktu, Nikmat dan Kegelisahan diri

Desember. Adalah bulan yang paling tidak saya sukai, karena merupakan salah satu dari sekian banyak tanda tanda bergantinya waktu.  Desember adalah barisan terakhir dalam antrian panjang di pintu keluar dari suatu perjalanan jaman dimana di pundak sang Desember terpikul semua keresahan dan kegelisahan saya yang tak terkira. Terlepas dari semua jatah waktu tersebut rasanya tidak pernah merasakan bahwa itu cukup untuk memutar mimpi mimpi saya disuatu kenyataan. Masih banyak hal yang *seharusnya terselesaikan ternyata harus mengalah dengan kekuatan perhitungan jaman.

Ketika pergantian waktu semakin terasa dan semakin terasa menggelisahkan karena seolah terjadi penambahan percepatan, rasanya ada hal yang saya rasakan menarik dan menyiramkan semurni kedamaian. Ketika dalam banyak waktu saya benci sekali dengan pergantian waktu, ada juga hal hal dimana saya tidak sabar untuk menunggu waktu segera beranjak (petang). Perasaan istimewa yang lain adalah ketika saya merasakan penyesalan ketika tertidur lebih lama namun demikian di waktu waktu istimewa ini saya melakukan dengan tanpa perasaan (berdosa) sedikitpun.

Memang, bulan puasa adalah senama satu bulan yang benar benar paling nikmat termasuk dalam urusan waktu. Hampir sama ketika seharian tadi saya menunaikan ibadah puasa sunah menjelang hari raya Iedhul Adha. Dengan segala kebesaran Nya, Allah SWT telah dengan berlipat lipat mengganti nikmat makan dan minum saya dengan nikmat waktu, dengan perasaan berdamai mengamati dengan sabar dan seksama proses pergantian waktu. Setiap detik dari Fajar sampai berkumandang Adzan Maghrib adalah milik Allah semata.

Takbir yang bergema di masjid masjid saya rasakan damai dan anggun seolah saya tidak pernah digelisahkan oleh setiap pergantian waktu dan makhluk yang bernama Desember yang menakutkan …

SMP N 1 PLAYEN := 92 – 95 dan sekarang

16 tahun bukanlah waktu yang singkat. Tetapi cat temboknya, suara gaduhnya, rasa dag dig dug saat nyontek masih ada di ingatan saya.

Sabtu sore kemarin, 15 November 2008, secara kebetulan anak – anak basket Paliyan bisa  berlatih bersama dengan anak basket Playen, yang tempat berlatihnya di SMP Playen. Ketika anak – anak sedang main basket, saya muter muter lingkungan sekolah dan mengambil gambar – gambar ini.

Dari smpn 1 playen
Dari smpn 1 playen

Adalah ruang yang pertama kali saya tempati di tahun 1992, dulu adalah kelas 1 B, masih kuat di ingatan wali kelas saya adalah Ibu Septiana L, “Masih ingat dengan saya bu?Baca lebih lanjut