i-Nteraksi yang memperpanjang usia

Saat itu Selasa pagi. Kalau tidak salah tanggal 2 Maret kemarin.  Kira – kira jam 08:00 pagi saat saya merebahkan tubuh di kursi yang sengaja saya tata berderet rapat cukup untuk seukuran badan. Itu adalah ruang Lab di tempat saya memeras keringat untuk menjaga jalinan hidup berlangsung tak terputus. Tubuh saya yang merebah di deret kursi itu sedang menggigil menderita deman dimana susah tertahankan untuk tetap beraktifitas.

Tidur. Rasanya itu bukan tidur. Melainkan angan angan ini terus melayang layang sengaja untuk sedikit melupakan rasa derita. Dalam berangan angan itu saya membayangkan seperti, seandainya saya hidup dijaman batu atau di jaman berburu dan meramu dimana peradaban belum menjadi serumit –bahasa orang egois jaman sekarang, adalah ‘berperadaban’– sekarang.

Membayangkan suatu waktu dijaman beheula itu saya sedang sakit semenderita sekarang, tidak punya rumah tinggal permanen alias hidup di gua atau tidur di ranting dan dahan dahan pohon, sementara untuk mengurus kebutuhan perut saya harus berlari lebih kencang untuk binatang buruan, mencari minuman dari aliran air bersih atau mungkin tiba tiba saya perlu berkelahi menghadapi binatang buas atau suku – suku bermusuhan tiba tiba juga datang menyerang.

Baca lebih lanjut

Pengetahuan di kepala; Keterampilan di ujung jari

Teman – teman saya mungkin menganggap saya aneh. Atau bahkan sombong, ketika mereka menanyai saya tentang fungsi atau pemanfaatan fitur – fitur tertentu dari Aplikasi komputer yang sering sama – sama kami pakai. Memang, saya sering kali tidak dapat menjawab pertanyaan pertanyaan mereka secara lisan langsung ketika mereka bertanya disaat saya tidak sedang didepan Komputer. Permasalahanya bukan berarti saya enggan atau sombong tidak mau berbagi keterampilan.

Dalam banyak hal saya memang benar benar tidak bisa. Atau lebih tepatnya saya tidak berusaha mengingat keterampilan keterampilan penggunaan aplikasi di dalam kepala saya. Dan demi teman – teman yang perlu bantuan tersebut biasanya saya mencari komputer terdekat dan mengajak sang sahabat untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan. Saya berusaha mengenalkan diri saya, lebih tepatnya pendekatan yang saya gunakan untuk memecahkan suatu permasalahan.

Biasanya, di dalam kepala saya, saya hanya menyimpan ide dasar dari setiap permasalahan dan untuk kemudian baru mencari dan mengembangkan solusi praktisnya. Untuk permasalahan yang  perlu diselesaikan berulang ulang, biasanya juga solusi praktis itu ber evolusi menjadi keterampilan. Berbeda dengan pengetahuan, keterampilan itu tersimpan secara tidak sengaja di jari jari atau di organ tubuh lain yang terlibat selama proses pengerjaan sehingga dalam hal ini malah saya kurang bisa dengan baik men visualisasi dan mengkomunikasikan kepada orang lain ketika dibutuhkan. Untuk hal ini saya meminta pengertian teman – teman untuk bisa memahami dan sama sama mengembangkan prosedurnya.

Untuk menyelesaikan permasalahan yang semakin komplek dan berubah ubah dengan media memori yang terbatas. Bagi saya lebih masuk akal untuk mengingat di otak untuk hal hal mendasarnya, serta melatih ide ide kreatif. Sedangkan di lapisan praktisnya semua saya serahkan kepada konteksnya.

Saya cukup tahu diri tentang diri ini yang pelupa dan mudah melupakan keterampilan keterampilan yang pernah dipelajari.

Meminum obat yang diminum pak S B Y

Sarapan sudah. Minum obat sudah. Saya meminum obat gejala gejala mag seperti yang biasanya diminum Pak S B Y ketika mag beliau kambuh. Setelah 3 hari saya menggunakan obat ini saya telah membuktikan bahwa lambung yang terasa nyeri dan tiba tiba nafsu makan menghilang merupakan pertanda gejala mag. Karena rasa nyeri lambung dan kembung kembung seperti ini sudah mengejala sejak lama, itu artinya memang saya sudah lama mengidapnya. Hanya, karena saya yang kurang tanggap saja.

Dari satu strip berisi 12 tablet, saat ini tinggal tiga. Mudah mudahan ke 12 tablet yang sudah akan habis saya minum besuk sudah dengan baik menyelesaikan masalah. Dan saya tidak perlu membeli strip strip tambahan kemudian. Saya ingin selekasnya menceraikan penyakit mag ini meskipun banyak orang akrab mesra dengan mag.

Apa yang bisa saya lakukan untuk mencegah agar mag saya tidak kambuh dikemudian hari? Apakah ada kaitanya antara mag dengan tingkat stress seseorang? Apa benar saya harus diet makanan tertentu karena terlanjur terserang mag?

Intensitas SMS dan Voice Call Menurun

Berdasarkan Detail Record yang diberikan telkomsel untuk  kartu Halo bernomor , untuk bulan pemakaian Februari, ada sesuatu yang menarik. Jumlah SMS terkirim sekitar 40 buah. Rata – rata 1,33 sms per hari. Kurang lebih 5 menit panggilan keluar. Sekian ratus ribu rupiah untuk penggunaan Telkomsel Flash.  Tidak ada Nada Sambung terpasang.

Angka angka minimalis ini tidak hanya terjadi pada bulan Februari. Tetapi sampai berjalan pada bulan saat ini. Dan sudah berlangsung sejak beberapa bulan yang lalu.

Apa maksudnya? Dari yang paling mudah dibaca adalah dimana saya tidak perlu pusing mengeluarkan uang lebih untuk membayar biaya telepon dan SMS.

Namun demikian, itu lebih berarti menurunya interaksi saya dengan teman teman secara keseluruhan. Saya tidak tahu sampai kapan hal ini akan berlangsung. Hanya, kepada segenap teman, mohon untuk berkenan memaklumi saya apa adanya.

Meraih semangat yang hilang

Masih kelanjutan dari cerita sakit selama seminggu kemarin. Penyakit demam yang menghinggapi tubuh saya dan membuat demam – demam sudah berangsur angsur hengkang. Tindakan Medis dan Nutrisi yang baik, plus perawatan yang tepat telah menjalankan tugas pemulihan dengan baik.

Tetapi, itu merupakan setengah proses pengembalian diri agar seperti sedia kala. Sebagian lain yang lebih susah dan tidak mudah adalah mengembalikan semangat pasca sakit. Memang, semangat yang meloyo sudah saya catat seringkali menjadi dampak ikutan dari peristiwa sakit.Terutama sakit yang melumpuhkan diri lebih dari tiga hari.

Surutnya semangat pasca sakit itu membuat produktifitas kerja saya berantakan. Bukan semangat bekerja saja, semangat berpikir, semangat belajar dan semangat melihat setiap kesempatan dengan penuh gairah. Pendeknya saya ingin semangat untuk berbahagia menikmati apapun anugerah ciptaan yang kuasa yang diperuntukan untuk makhluknya.

Dan, sekarang, ditengah pencarian diri saya kembali, saya mempertanyakan apa – apa yang menurut saya penting dan benar benar saya sukai dan nikmati untuk dilakukan.

Semoga kebosanan diri ini berkurang ketika saya menumpahkanya dengan menuliskan di blog ini

Membaca itu menebak maksud Penulis

Saya sering bilang kepada teman saya yang belum lancar berbahasa inggris agar tidak dihantui dengan memaksakan diri untuk mengetahui arti semua kata dalam kalimat. Biasanya  ketika teman saya itu sedang kesulitan membaca jurnal atau manual berbahasa inggris. Saran saya agar membiarkan beberapa kata  tidak diketahui artinya. Jangan buru buru membuka kamus karena hanya akan memperboros waktu. Kemudian tebak saja maksud yang ingin disampaikan oleh penulis dalam sebuah kalimat atau lebih lanjut dalam suatu paragraf.

Tabrakan merupakan bagian dari operasi normal Ehternet. Karena CSMA/CD secara perkecualian merupakan metode kontrol akses yang efisien, kegiatan tabrakan normal tidak mempengaruhi kinerja jaringan secara serius. Pada beberapa titik , bagaimanapun jaringan yang dibebani dengan berat dapat mengalami tabrakan tingkat tinggi yang secara serius menurunkan kinerja jaringan, yang mungkin berakhir dengan kemacetan jaringan. Bencana ini jarang terlihat pada Ethernet yang dirancang dengan benar yang mempunyai jumlah node yang beralasan.

Paragraf yang saya kutip dari halaman 63 buku terjemahan dari Microsoft TCP/IP yang diterbitkan oleh Pearson Education diatas, kesemua kata kata yang digunakan dapat saya ketahui artinya dengan baik. Ternyata untuk menangkap maksud dari penulis , mengetahui arti per kata saja tidak cukup. Saya juga  harus banyak bermain menebak nebak maksud yang ingin disampaikan penulis dengan membaca keseluruhan kalimat dalam suatu paragraf selengkapnya.

Memang bagi saya buku ini –Microsoft TCP/IP tergolong bacaan yang berat. Terlebih untuk seukuran kemampuan postur tubuh saya yang ceking yang kurang cukup untuk menopang beban berat topik yang ingin disampaikan oleh Penulis dalam sebuah buku setebal hampir 500 halaman. Juga, selain ketebalanya, hasrat penulis untuk menyampaikan gambaranTCP/IP  selengkap lengkapnya dengan cara baku adalah tambahan beban berat lagi. Untuk kemudian gaya penerjemahan pengindonesian yang menurut saya merusak konsistensi dari maksud utama penulis itu semakin memperlebar ruang kemungkinan dalam saya menebak nebak.

Biasanya semakin luas ruang menebak nebak dalam membaca akan menurunkan kecepatan membaca saya secara signifikan. Seperti halnya dalam  menyelesaikan membaca “dengan baik” buku ini, saya perlu untuk membaca khusuk lebih dari memperhatikan mahraj dan qalqalah. Saya ingin akurat menebak maksud yang ingin disampaikan penulis dan ingin mendapat pemahaman gambaran lengkap tentang TCP/IP.

Kalau anda membaca posting saya ini maka artinya anda mencoba menebak maksud yang ingin saya sampaikan bukan?

What one fool can do another can

To be fully
motivated you should have the three great virtues of a programmer:
1. Laziness
2. Impatience
3. Hybris

Ketika sejak lama saya mencoba bermacam cara agar terlepas dari watak kemalasan, ketidak sabaran dan kemudah bosanan yang mana itu sampai hari ini belum juga kunjung kelihatan ujung pintu kemerdekaan diri itu. Dan ketika saya mulai patah semangat dalam usaha pemerdekaan diri dari itu semua kemalasan, ketidak sabaran dan kemudah bosanan. Pada beberapa hari yang lalu ketika saya membuka buka buku panduan dasar pembelajaran macro dan visual basic for aplication yang ditulis oleh Michael Schacht Hansen ada beberapa baris kalimat dimana saya menemukan diri saya tidak terlalu merasa rendah.

Seperti  saya kutip diatas, bahwa memang, ternyata Lazines, Impatience dan Hybris, ketiganya merupakan modal penting untuk lebih cepat belajar programming.

Artinya kalau sebelumnya saya merasa kesemua sikap itu bagai kutukan yang mungkin akibat kejahatan yang diperbuat oleh nenek moyang dan saya turut menanggung akibatnya kemudian sampai sekarang. Maka sejak saya membaca buku Pakde Michael Schacht Hansen itu, persepsi mengenai kemalasan saya akan berbeda. Utamanya sejak saya menulis posting ini sebagai semacam   resolusi dan pembalikan arah untuk memelihara kemalasan dan teman temanya itu sebagai anugerah dan kekuatan unik dari kepribadian saya untuk menjadikan modal dasar belajar automatisasi dan programming.

Asyik saya itu pemalas dan petidak sabaran dan pembosan. Lihat ini (loh) saya!!!

Memulai

Saya tahu mengenai teori broken window dari artikel yang tulis oleh suami teman saya di face book note. Maaf  saya tidak bisa membuatkan link disini karena hanya akan percuma saja karena seperti yang kita tahu notes yang dibuat di facebook hanya bisa di baca jika kita juga mempunyai account di layanan itu dan sedang ada kaitan hubungan pertemanan tentu saja. Kalau boleh saya mengkompress pemahaman teori broken window dalam kalimat singkat kira kira akan menjadi demikian. Hal hal kerusakan akan terus menjadi jadi ketika telah ada yang lebih dulu memulai dan akan tetapi bila tidak ada.

Disini saya memberi penekanan pada kata “memulai”. Dalam sepanjang pengalaman saya, baik itu memulai suatu kebaikan atau keburukan itu susah dan tidak mudah. Sedangkan melanjutkan apa apa yang telah berlangsung itu lebih mudah.

Apabila suatu kondisi telah berjalan secara baik baik dan serta teratur taat pada peraturan maka hanya orang orang tertentu saya yang cukup punya keberanian untuk mengawali suatu keburukan. Misalnya hanya orang orang special saja yang berani merokok di suatu lingkungan yang sudah berlangsung lama bebas dari perokok.

Nah, sekarang ketika sesuatu telah berlangsung tumbuh menjadi budaya tidak sehat tentu saja menjadi pelopor untuk merubah keadaan jauh lebih susah daripada mengawali keburukan di jalur kebaikan. Perlu mementum, kekuatan dan filosofi dan tekad yang kuat. Mengenai momentum, kekuatan, filosofi itu saya tidak dapat memberi penjelasan. Karena saya memang hanya mendengar kata kata itu dari kata kata dan tulisan orang orang saja.

Mengenai tekad. Tekad untuk memulai sesuatu itu sering kali saya rasakan menjadi konflik internal dalam diri saya sekaligus pengalaman pribadi yang kronis dan akut. Dalam contoh yang mikro, ketika saya telah absen menulis blog di sini selama sejak terakhir saya menulis pada tanggal 7 Februari lalu dan ketika saat ini dengan susah susah payah saya “memulai” kembali maka disinilah peran kekuatan tekad bermain.

Dan yang saya tahu penguatan tekad selain dari pemunculan internal diri. Dukungan dukungan dari lingkungan dan orang orang disekitar yang telah menjadi teman saya itu penting. Jadi bagi teman teman saya silahkan mengalirkan dukungan energi tekad nya agar pemulaian penulisan posting posting di blog ini kokoh kuat berkelanjutan

Jalan aspal sampai di depan rumah p dukuh

Nah ini dia perpanjangan jalan aspal di dusun Karangmojo b. Singkat cerita kalau kita akan berurusan dengan bapak dukuh untuk mengurus KTP atau C1 atau sekedar beranjang tandang sana saja tidak lagi perlu khawatir jempol kaki kita terluka karena terantuk batu atau terkena jeblok jeblok lumpur bila sedang musim hujan seperti sekarang. Semoga dengan teraspalnya jalanan setiap kita tidak enggan untuk bertamu ke rumah pak Dukuh.