Saat itu Selasa pagi. Kalau tidak salah tanggal 2 Maret kemarin. Kira – kira jam 08:00 pagi saat saya merebahkan tubuh di kursi yang sengaja saya tata berderet rapat cukup untuk seukuran badan. Itu adalah ruang Lab di tempat saya memeras keringat untuk menjaga jalinan hidup berlangsung tak terputus. Tubuh saya yang merebah di deret kursi itu sedang menggigil menderita deman dimana susah tertahankan untuk tetap beraktifitas.
Tidur. Rasanya itu bukan tidur. Melainkan angan angan ini terus melayang layang sengaja untuk sedikit melupakan rasa derita. Dalam berangan angan itu saya membayangkan seperti, seandainya saya hidup dijaman batu atau di jaman berburu dan meramu dimana peradaban belum menjadi serumit –bahasa orang egois jaman sekarang, adalah ‘berperadaban’– sekarang.
Membayangkan suatu waktu dijaman beheula itu saya sedang sakit semenderita sekarang, tidak punya rumah tinggal permanen alias hidup di gua atau tidur di ranting dan dahan dahan pohon, sementara untuk mengurus kebutuhan perut saya harus berlari lebih kencang untuk binatang buruan, mencari minuman dari aliran air bersih atau mungkin tiba tiba saya perlu berkelahi menghadapi binatang buas atau suku – suku bermusuhan tiba tiba juga datang menyerang.
