What’s on your mind?

image

Picture was taken in a rural public transport (we call it Angkudes Kobutri) with my entry level cellphone cam.

Related post:

  1. here
  2. here
  3. and here

Modem Air Flash untuk Esia Max D di Ubuntu. Bisa

Modem Air Flash untuk CDMA 1X/EVDO dijelaskan di website Esia Max D bisa berjalan di Operating System Window dan Mac. Memang benar demikian. Permasalahanya, saya ingin menggunakanya di Laptop Ubuntu 11.10.

Modem Air Flash AH007 Esia Max D

Modem Air Flash AH007 Esia Max D

Begitu saya menancapkan Modem Air Flash di Ubuntu, Network Manager tidak serta merta mengenali modem ini. Namun pengecekan dengan mengetikan lsusb di terminal mengindikasikan modem ini dikenali ber-chipset Qualconn. Ini pertanda ada harapan untuk menjalankan modem di linux.

Saya googling dan banyak menemukan tutorial untuk menjalankan modem ini di linux. Jadi saya mencoba-coba dengan optimis. Tutorial di link di kaskus ini merupakan yang saya coba dan berjalan. Tutorial ini menjelaskan langkah-langkah memasang usb-modeswitch untuk mengaktifkan mode modem pada Air Flash. Secara default device ini dikenali sebagai usb storage/storage device.

Sedikit mengoreksi tutorial itu, yaitu untuk file ke dua yang kita download, seharusnya setelah kita ekstrak, kita rename menjadi:  05c6:1000 kemudian kita salin ke: Baca lebih lanjut

Nama Domain Baru untuk Blog: jarwadi.me

Jarwadi.me

Jarwadi.me

Mulai kemarin pagi, blog ini bisa diakses dengan mengetikan http://jarwadi.me , menggantikan https://jarwadi.wordpress.com . Percobaan saya kemarin dengan mengakses https://jarwadi.wordpress.com pun tetap bisa masuk ke halaman ini, dengan di-redirect tentu saja.

Ceritanya begini, beberapa waktu yang lalu saya googling untuk mencari reseller/seller Top Level Domain .me. Saya maunya mencari reseller di Indonesia, dan ternyata tidak saya temukan. Googling lagi akhirnya menemukan penjual TLD .me yang berada di Australia, yaitu crazydomains

jarwadi.me ternyata masih available dan bisa dibeli di crazydomains. Permasalahan, saya tidak punya credit card. Maka saya menghubungi seorang teman di Australia, Mas Donny Verdian. Mas Donny malah kemudian membelikan domain name jarwadi.me untuk saya, gratis. Terimakasih Mas DV.

Permasalahan tidak berhenti di situ. Ternyata untuk bisa men-setting NS di WordPress.com untuk blog saya ini tidak bisa langsung. Setelah googling lagi, ternyata saya harus melakukan suatu upgrade untuk bisa men-setting NS, dengan biasa US$ 13. Lagi-lagi US$ 13 ini dibayar dengan CC nya Mas DV. Terimakasih lagi Mas DV.

Sampai akhirnya setting NS untuk http://jarwadi.me pun diselesaikan oleh Mas DV. Lagi-lagi terimakasih Mas DV. 😀

Alih-alih ketika dulu saya pernah kepikiran untuk menggunakan Top Level Domain untuk blog ini, saya pernah mengira akan menurunkan visibility blog ini di mata google, halah, ternyata sampai sekarang kekhawatiran saya itu belum terbukti, atau karena saya tidak tahu cara mengukurnya. Apa yang saya tahu hanya sejak kemarin blog ini tidak mengalami penurunan traffic. Lha traffic nya saja sepi-sepi kok, mau turun kemana lagi. 😀

Recent Stat

Recent Stat

gloomy morning #photo

image

Picture was taken with the low end Android cellphone, edited with the PictsArt (apps running on Android cellphone) and also blogged with the WordPress for Android.

image

Happy Friday, dude

PS:

The second picture was added minutes later by using the edit feature on WordPress for Android

Whatsapp Di Ponsel Baru Dengan Nomor Lama, Bisa?

Untuk kedua kalinya saya memasang whatsapp di ponsel saya. Di ponsel yang berbeda tentu saja. Tidak pernah ada masalah dalam proses instalasi.

Masalahnya adalah saya ingin menggunakan nomer ponsel pada ponsel lama sebagai ID/nickname/user pada ponsel kedua yang baru saya pasangi whatsapp. Tentu saja yang menggunakan nomer baru pada ponsel baru. Ternyata tidak bisa. Whatsapp mengirimkan sms berisi kode-kode tertentu kepada nomor yang kita masukan sebagai ID. SMS itu hanya bisa dibaca oleh aplikasi Whatsapp.

Saya mencoba men-forward SMS dari ponsel pertama yang menerima SMS verifikasi whatsapp ke nomer di ponsel kedua yang sedang saya install whatsapp. SMS forward -an itu ternyata tidak dimaui Whatsapp. 😀 Harus SMS yang diterima oleh ponsel yang sedang di-install lah yang dimaui whatsapp.

Update:

Akhirnya hari ini, 11 Mei 2016, WhatsApp mengeluarkan aplikasi stand alone, Sila dibaca di artikel: Install Aplikasi WhatsApp di Windows 7

Saya tidak mau menggunakan nomer whatsapp baru karena saya merasa tidak enak dengan teman-teman saya yang sudah meng-add ID whatsapp saya. Lagi pula teman-teman lama saya yang sudah tahu nomer utama saya akan dengan mudah terhubung dengan whatsapp saya bila saya menggunakan nomer lama itu.

Percobaan selanjutnya adalah dengan memasang nomer lama di ponsel baru yang sedang di-install whatsapp. Proses verifikasi berjalan lancar dan whatsapp bisa saya gunakan. Langkah berikutnya adalah dengan melepas nomor lama dan mengganti nomer baru.

Viola, whatsapp sekarang tetap bisa digunakan dengan nomor lama ketika ponsel kedua ini sudah saya pasangi nomer baru. 🙂

Saya memang jarang chatting. Meng-install whatsapp di ponsel kedua, dulunya saya memasang whatsapp di Blackberry, sebenarnya bermaksud untuk memudahkan saya bila kelak tidak lagi menggunakan Blackberry dan BB Messenger. 🙂 Atau untuk alternatif messaging lintas OS. Whatsapp bisa di-install di OS Blackberry, Android, iPhone dan mungkin ponse-ponsel buatan Nokia (Windows Phone)w karena Whatsapp ini dikembangkan oleh Nokia

Saya Datang di Windows 8 Preview di Jogjakarta Plaza Hotel

Oleh Eva saya diundang untuk datang pada acara Lunch and Windows 8 Preview di Jogjakarta Plaza Hotel, tepatnya di Andrawina room. Saya datang, memenuhi undangan Eva. Undangan makan gratis tentu saja tidak layak ditolak dan tidak bisa saya tolak. 🙂

Preview Windows 8. Windows 8 baik developer preview maupun costumer preview memang sudah sejak beberapa waktu bisa di-download dari website Microsoft dan di-install. Namun saya belum  pernah mencoba meng-install sendiri Windows 8. Bukan karena saya tidak penasaran dengan sistem operasi terbaru besutan Microsoft ini. Permasalahannya saya tidak punya komputer nganggur yang spesifikasinya mencukupi persyaratan nyaman untuk menjalankan Windows 8. Saya mulanya berpikir apa asyiknya mencoba Windows 8 di non touch screen device. 😀

Dan sejujurnya saya sendiri lebih mengoptimalkan kebutuhan computing dalam kehidupan sehari-hari dengan software dan operating system yang tidak perlu memusingkan sistem licensing, hehe

Ngomong-ngomong tentang Licensing memang sangat rumit. Microsoft menawarkan banyak sekali jenis dan program licensing untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang mampu membeli license sesuai kebutuhan mereka. Saking banyaknya saya sekarang sudah lupa bagaimana menghitung dan menentukan licencing yang tepat untuk suatu corporate. Presentasi kemarin, licensing memang banyak dijelaskan yang terkait dengan small business, public service, education.

Malah yang saya ingat malah salah satu jenis license yang disebut OEM. Ternyata License OEM yang melekat pada hardware, misalnya laptop, maka license itu akan hangus bila misalnya laptop yang dipasangi license OEM mengalami kerusakan pada mainboard dan processor. Nah kalau kasusnya seperti ini sudah jatuh masih tercekit license. Makanya sebelum menentukan License apa yang akan dipakai jangan lupa membaca Term of Service dulu ya. 🙂

Kemudian pada sesi utama, tidak banyak hal baru yang saya tahu. Semua what new on Windows 8 sudah saya baca di internet. Bedanya hanya kemarin saya menyaksikan demo Windows 8 secara langsung.

Selebihnya saya ingin menampilkan foto-foto di bawah ini saya. Tidak terlalu berkaitan tidak apa-apa, bukan? 😀

 

 

 

Mainan Baru: Arduino Leonardo

Arduino Leonardo

Arduino Leonardo

Ini mainan baru saya, Arduino Leonardo board. Bila Anda suka elektronika dan micro controller seperti saya, pasti akan mengerti seberapa sexy mainan ini. Jadi jangan heran bila Arduino Leonardo, board yang dibuat di Italia ini akan membajak baik waktu di luar jam kerja maupun mencuri-curi waktu di tengah-tengah kerjaan yang menumpuk, hihi.

Saya mengucapkan terimakasih kepada sahabat saya, Emanual Setio Dewo, Arduino dan Famosa Studio yang telah mengantarkan  “pacar baru”  ini secara gratis.  🙂

Happy Ngoprek saya ucapkan buat diri saya sendiri. 🙂

Sering Ganti Operator Seluler, Tidak Masalah?

Merasa tidak puas dengan satu operator seluler untuk ponselnya, seorang teman saya langsung mengganti nomer selulernya dari operator yang berbeda. Kurang puas lagi, ganti lagi. Masih belum puas ganti lagi, dan seterusnya. Nomor ponsel bisa berganti beberapa kali dalam beberapa bulan saja. Ini tidak hanya terjadi pada teman saya itu saja. Saya perhatikan akhir-akhir ini banyak orang yang semakin mudah memutuskan hubungan dengan satu operator seluler kemudian menggunakan nomor baru dari operator seluler yang lain.

Dulu, saya mengira nomor telepon/handphone bisa digunakan untuk mengikat pelanggannya. Operator seluler dulu (sampai sekarang?) enggan menggunakan Mobility Number Portable, dimana nomer telepon seluler mutlak milik pelanggan sehingga pelanggan tidak perlu khawatir kehilangan nomor yang telah dipakainya begitu berganti layanan dari operator lain.

Ternyata saya salah. Tidak perlu Mobility Number Portable untuk memerdekakan orang. Perkembangan jaman (baca: trend teknologi) kini menunjukan tanda-tanda bahwa nomer yang mutlak dikuasai operator tidak akan lagi bisa mengikat seseorang untuk tidak dengan merdeka berganti operator.

Saat ini, yang saya lihat, orang-orang mulai meninggalkan nomer telepon/handphone sebagai identitas mereka dalam berkomunikasi. Bisa dilihat salah satunya dari signature email yang dibuat banyak orang. Mereka lebih suka memasang twitter, facebook, google+, instant messengger, voice chat, voipp dan lain-lain. Yang kesemuanya itu sangat tidak bergantung dengan operator/provider. Kartu nama yang saling kita pertukarkan pun saat ini kontak tidak melulu nomor telepon/handphone, melainkan id email, social media dan instant messenger. Benar?

Faktor lain seperti kemudahan menggunakan layanan prabayar produk dari operator/provider, tidak adanya kontrak dengan operator dan perkembangan teknologi yang menjadikan memutakhirkan kontak dapat dilakukan secara masal dalam waktu singkat adalah hal lain yang makin tidak menghalangi orang untuk tidak berpindah layanan.

Jadi apa yang bisa digunakan oleh operator/provider untuk mempertahankan loyalitas pelanggan? (Kualitas DAN Harga)? atau (Kualitas ATAU Harga)? 😀

Lebih Mudah Beli Tiket Kereta Api Melalui Web

Masih ingat pada tahun lalu saya menuliskan pengalaman saya membeli tiket kereta api dengan layanan telepon 121. Kali ini saya akan membagikan pengalaman membeli tiket kereta api dengan lebih mudah, yaitu dengan membelinya melalui web PT Kereta Api. Saya menyebut cara ini lebih mudah karena kita tidak membutuhkan pulsa telepon dan mengulang-ulang jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaaan yang diperlukan petugas layanan pelanggan. Saya juga jadi tidak memerlukan kertas dan alat tulis untuk menuliskan kode pembayaran dan kode booking.

Cara membeli tiket Kereta Api Online melalui website PT Kereta Api itu pun sangat mudah. Tangkapan layar berikut ini saya pikir akan mudah dipahami oleh banyak orang.

Di halaman utama inilah kita langsung bisa memilih stasiun keberangkatan, stasiun tujuan beserta hari keberangkatannya.

Baca lebih lanjut