Senja Itu … (ya seperti ini)

Belum cukup puas menyesap teh manis di mug bermotif hijau kesayangan, warna sekeliling teras yang mendadak berubah jingga membuat saya terperangah. Mug itu segera saya letakkan. Saya terburu beranjak, bergegas menuju tempat terbuka tidak jauh dari rumah. Jingga itu membuat saya tidak peduli lagi tubuh saya basah oleh hujan.

Dan dalam beberapa jurus kemudian tweet-tweet berikut muncul di timeline saya:

Bagi saya sesuatu ituย  merupakan perpaduan warna jingga, senja, bau basah tanah habis hujan dan segelas teh. Itu sepuluh tahun yang lalu. Kalau sekarang ditambahkan twitter.

Dan tidak jarang bahagia itu datang mendadak dan dalam bentuk yang terlalu sederhana, hehe ๐Ÿ˜€

Traffic Blog Mulai Naik Lagi

Bila memang benar-benar mempunyai darah blogger, apalah artinya trafik tinggi. Hehehe. Kalau ini jelas lebay banget. Benar. Meskipun saya belum pernah mendapatkan keuntungan uang dari tinggi rendahnya trafik di blog ini, namun beberapa waktu lalu saya sempat kaget dengan menurun drastisnya trafik blog ini.

Trafik menurun sampai setengahnya setelah saya mengganti domain blog ini dari sebelumnya jarwadi.wordpress.com menjadi jarwadi.me. Tapi tidak apa-apa. Domain name baru adalah keinginan saya, sebuah pilihan. Saat itu saya mengatakan kepada diri sendiri, kalau memang tulus, jumlah kunjungan sedikit pun seharusnya tidak membuat saya patah hati. Tetap sharing sebagaimana biasanya.

Saya tetap menulis apa saja seperti biasanya. Biasa-biasa saja. Saya tidak memaksakan diri untuk memaksakan mengembalikan trafik blog. Saya tidak kalap nyepam kemana-mana. Saya tidak berdarah-darah bermain-main SEO, ya karena saya memang mengerti SEO tetapi tidak jago trik-trik SEO. Saya lebih suka blog saya tumbuh secara organik dan biasa-biasa saja.

Dan hari ini saya melihat statistik di dashbord saya. Rupanya trafik blog saya mulai merangkak sejak minggu ke-6 mengenakan nama domain baru, dan benar-benar pulih pada minggu ke-8. yay ๐Ÿ˜€

 

 

Rebutan itu Menyenangkan

Seberapa menyenangkan suatu barang tidak selalu tergantung seberapa mahal barang itu. Tidak selalu tergantung seberapa banyak kenyamaman yang bisa didapatkan dari menggunakan suatu barang tertentu. Memang tidak usah dipertanyakan siapa yang tidak akan senang memiliki barang yang tidak semua orang bisa memiliki karena tidak semua orang sanggup membelinya.

Mendapatkan suatu benda/barang yang biasa-biasa saja pun ternyata bisa menyenangkan. Yah, dengan bagaimana cara mendapatkan barang itu.

Seperti tadi pagi. Saya merasa senang hanya karena mendapatkan sebuah kaos dengan cara memperebutkan kemenangan di suatu kuis di twitter. Sekali lagi bukan kaos yang mahal, kaos yang biasa-biasa saja. Kaos yang sebenarnya bisa saya dapatkan dengan cara yang lebih mudah.

Rebutan itu menyenangkan. ๐Ÿ˜€

Google Chromebook

Beberapa waktu yang lalu, sudah agak lama, saya membaca kabar tentang sistem operasi yang sedang dikembangkan oleh Google. Sistem Operasi itu adalah Google Chrome OS. Saat itu saya kalau tidak salah beberapa waktu setelah Google mengeluarkan Google Chrome Web Browser. Web Browser yang saat ini telah menjadi sangat sukses dan digunakan sangat banyak orang pengguna internet.

Terkait Google Chrome OS sendiri saat itu saya tidak begitu memperhatikan, apalagi mengikuti perkembangannya. Dari apa yang saya baca saat itu, apa yang saya ingat apa yang membuat Google Chrome berbeda dengan Operating System seperti Linux, Mac OS, Windows, BSD, Unix, dan lain-lain, adalah konsep cloud yang diusungnya. Google Chrome OS hanya menawarkan fungsi kernel, dan terpenting adalah web browser (Google Chrome browser). Semua aplikasi dikehendaki merupakan web based, termasuk konsep cloud storage, dan tentu saja kemudian akan dikembangkan everything on the cloud. hehe

Apa yang menarik dari OS seperti ini? Jawab saya sendiri tentu tidak terlalu menarik. Saya langsung membayangkan ketersediaan koneksi internet di lingkungan dimana saya tinggal saat ini dan koneksi di Indonesia pada umumnya. Koneksi yang ya begitulah.

Nah, beberapa waktu yang lalu ketika saya menghadiri Google Day di Balai Kartini – Jakarta adalah kali pertama saya mencicipi Google Chromebook yang tentu saja ber Google Chrome OS.

Saya lupa apa persisnya tipe Chromebook yang saya coba. Yang jelas sangat ingat logo Samsung di Chromebook itu.

Pertama kali mencoba tentu saja hal-hal fisik yang saya rasakan, yaitu apa yang ada langsung di hadapan saya. Mulai dari layar Chromebook, touchpad yang lega sampai keyboard yang menurut saya nyaman. Kemudian saya mencoba-coba menggunakan web browser. Untuk membuka Facebook dan Google+, hehehe. Youtube, Chromebook memutar video di youtube dengan lancar. Ya iyalah secara koneksi internet saat itu pasti sudah disiapkan sehandal-handalnya oleh Google di ajang yang digunakan untuk memamerkan dirinya. ๐Ÿ˜€ Dan beberapa web apps yang lain saya coba.

Sudah. Sebegitu saja. Saya segera meninggalkan booth Google Chromebook untuk berpindah mencoba hal-hal lain di sana, hehehe.

Google Chromebook kembali saya dengar heboh ketika beberapa waktu lalu meluncurkan produk baru buatan Samsung, yaitu Samsung Chromebook. Webnya di sini. Saking hebohnya saat itu muncul banyak sekali pujian orang akan Samsung Chromebook ini. Meski saya sendiri tidak selalu mengerti arti puja puji ini.

Kehebohan Samsung Google Chromebook yang belum mereda, kemarin saya membaca kehadiran Acer C7 Chromebook yang sudah bisa dibeli melalui Google Play. Pikir saya ini apa-apaan. Google melempar produk Chromebooknya pada saat berbarengan dengan heboh Windows 8. Baiklah kalau Google memang bermaksud menghadang Micosoft. hehe

Foto diambil dari sini.

Harga US $ 249 yang ditempelkan pada Chromebook ini bahkan membuat saya kepengen. Meski saya tidak tahu pasti akan saya pakai untuk apa bila mempunyai gadget ini. Ya kalau memenuhi nafsu ngoprek sih, pasti. ๐Ÿ˜€

Selamat Hari Pahlawan

Hari Pahlawan jatuh pada hari ini. Dan saya tahu hari ini adalah hari pahlawan juga pada pagi hari ini. Melalui apa yang dituliskan oleh orang-orang yang saya ikuti di jejaring sosial. Andai tidak ada orang yang menyinggung tentang hari pahlawan di jejaring sosial, mungkin saya belum tahu sekaranglah hari pahlawan seharusnya diperingati. Barangkali ini bagusnya jejaring sosial bagi saya, hehehe.

Membaca-baca ucapan selamat dan harapan-harapan yang dituliskan orang-orang di jejaring sosial, timbul satu pertanyaan. Sebenarnya pahlawan itu apa? Sukarno – Hatta resmi sebagai pahlawan nasional tentu tidak perlu dipertanyakan kenapa. Pertanyaannya mungkin apa kriteria seseorang layak disebut pahlawan. Apakah ayah ibu yang sampai sekarang memperjuangkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya bisa disebut pahlawan? Apakah seorang pengusaha yang memberikan kesempatan pencarian nafkah untuk karyawannya bisa disebut pahlawan?

Apakah tepat spanduk yang bertuliskan “Selamat Datang Para Pahlawan Devisa” untuk menyambut rombongan TKI dari luar negeri?

Sampai saya googling dan menemukan definisi pahlawan menurut Undang-Undang. Hehehe. Seolah ini terdengar kaku, tetapi menurut saya cukup memberikan gambaran tentang arti pahlawan.

Definisi Pahlawan menurut UU no 20/2009

โ€œPahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia

Kalau apa yang saya tangkap dari defini diatas, yang bisa disebut pahlawan adalah orang yang sudah meninggal. Dan mungkin karena itu saya belum pernah mendengar ada upacara penyematan gelar kepahlawanan untuk orang-orang hebat yang berjasa hebat untuk negeri ini. ๐Ÿ™‚ Semua pahlawan, sepengetahuan saya, mendapatkan gelar itu setelah beliau-beliau meninggal.

Benar demikian? Bila salah tolong dikoreksi. ๐Ÿ™‚

Selamat Hari Pahlawan, semoga amal ibadah para pahlawan diterima di sisi -Nya dan para penerus bangsa bisa melanjutkan perjuangan yang belum selesai.

Saya ingin suatu ketika ada masanya, ketika kata “Indonesia” disebut di situ semangat semua orang menyala dengan kebanggaan akan keindonesiaannya. ๐Ÿ™‚

Bahasa Indonesia, Mau Dibawa ke Mana?

Ada yang tahu, kapan bulan Bahasa Indonesia. Benar bagi yang menjawab bulan Oktober. Bulan lalu. Bagi yang tidak tahu bulan bahasa jatuh pada bulan apa, itu persis dengan saya. Saya juga tidak tahu sampai saya kemarin membaca sebuah artikel di suatu koran dinding.

Sebuah artikel berjudul “Bahasa Indonesia, Mau Dibawa Kemana?” ini berusaha mengingatkan kita semua tentang arti penting sebuah bahasa, terutama Bahasa Indonesia. Artikel yang bertujuan bagus untuk mengingatkan “Bahasa Indonesia” ini entah apakah mendapatkan perhatian dari pembaca atau tidak sehingga pesannya tersampaikan. Namun setidaknya artikel ini telah berhasil menarik perhatian saya.

Harapan saya mudah-mudahan niat baik ini mendapat sambutan lebih banyak di tengah-tengah ketidakpedulian banyak orang terhadap bahasa nasional kita. Entah diakui atau tidak kepedulian terhadap bahasa, bulan bahasa sekalipun tidak menggaung seperti pada jaman saya masih duduk di sekolah menengah dahulu. Barangkali hal itu terjadi karena semakin rumitnya persoalan hidup di negara ini sehingga permasalahan bahasa ditempatkan dalam skala prioritas yang rendah, bisa dikesampingkan dulu, karena toh tidak akan mempengaruhi apa makan siang kita nanti. ๐Ÿ˜€

Dan untuk artikel ini sendiri, sebagai turut peduli saya terhadap bahasa, saya sedikit mengoreksi penulisan kata “Kemana”, yang seharusnya “Ke Mana”. Penulisan judul yang benar menurut saya adalah yang saya gunakan untuk memberi judul tulisan ini. ๐Ÿ™‚

Downgrade Ubuntu, Dari 12.10 ke 12.04

Beberapa waktu yang lalu, tepat bersamaan dengan hari peluncuran Ubuntu 12.10ย Quantal Quetzal saya segera mengunduhnya untuk mengganti instalasi Ubuntu 11.1o Natty Narwhall di laptop. Karena suatu hal saya melompati keluaran Ubuntu 12.04 Precise Pangolin. Kalau tidak salah pada saat keluarnya Precise Pangolin saya sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan sehingga melewatkannya.

Proses instalasi Quantal Quetzal sendiri lancar-lancar saja. Sampai akhirnya ketika segala sesuatunya sudah saya install, termasuk 3rd party plugin dan apps yang saya perlukan sehari-hari, saya mendapati realease Ubuntu 12.10 ini cukup berat saya jalankan di laptop yang hanya berprocessor Inter Core 2 Duo T 5500 dengan RAM juga hanya 2 giga.

Membaca banyak komentar teman-teman pengguna Ubuntu di jejaring sosial pun kebanyakan mengatakan versi 12.10 ini relatif berat.

Sampai akhirnya pada pagi hari ini saya memutuskan untuk downgrade ke Ubuntu 12.04 LTE. Harapan saya versi ini, versi yang sempat saya langkahi ini ringan dan lancar dijalankan di mesin jadul saya.

Posting ini saya buat sambil menunggu proses pengunduhan Ubuntu 12.04 Precise Pangoline berjalan. Unduhan baru mendapatkan sekitar 58%. Masih berapa lama harus saya lewatkan untuk menunggu proses download dengan kecepatan koneksi 2 mbps ini. hehehe

Air Galon Memang Lebih Sehat dari Wedhang Teh?

Beberapa hari yang lalu, saya merasa geli membaca sebuah obrolan di jejaring sosial Facebook. ย Apa yang diobrolkan adalah kebijakan seorang kepala instansi pendidikan dimana teman saya bekerja. Kebijakan yang ditindaklanjuti dengan Surat Pemberitahuan itu adalah kebijakan untuk menggantikan fasilitas “wedhang teh” kepada setiap karyawan setiap hari dengan air galon.

Dalam Surat Pemberitahuan itu juga dijelaskan agar semua karyawan membawa peralatan minum sendiri seperti gelas, mug, dan sejenisnya sesuai kebutuhan, kemudian merawat sendiri peralatan minum itu. Dan bagi yang membutuhkan teh, kopi, gula dan lain-lain agar menyediakan sendiri.

Apa alasan kebijakan seperti itu, karena alasan meningkatkan taraf kesehatan. hehe. Apa air galon yang tidak bermerk lebih sehat dari wedhang teh yang dibuat dengan air sumur/PAM di Gunungkidul yang umumnya berkapur? Adakah yang pernah membuat komparasi hegienitas air sumur di Gunungkidul, air ledeng PAM Gunungkidul, Air Mineral/Galon tidak bermerk, Air Mineral Galon merk A, B, C, D hehe. ๐Ÿ˜€

Yang jelas tidak memanfaatkan fasilitas air galon + dispenser tanpa fasilitas gelas/mug dan lain-lain akan sangat merepotkan. Mungkin saja dengan cara begini akan meningkatkan omset kafetaria di lingkungan institusi itu, mengingat lebih sedikit orang yang mau repot-repot hanya untuk minum. ๐Ÿ™‚

Desa Grogol, Mencukupi Kebutuhan Air Bersih

Di desa dimana saya tinggal –hehe, entah kenapa saya suka sekali menggunakan frasa “di desa dimana saya tinggal”– sumur merupakan sumber utama air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Turun temurun dari nenek moyang sudah begitu. Tidak banyak yang berubah sampai sekarang. Bila ada yang berubah itu adalah jumlah sumur yang ada sekarang jauh lebih banyak. Seperti yang pernah saya tuliskan di sini.

Seperti halnya di desa-desa lain di Gunungkidul yang terkenal kering, masalah yang sama juga dihadapi oleh masyarakat di desa dimana saya tinggal. Masalah air atau kekeringan pada musim kemarau seperti yang terjadi sekarang ini. Masalah yang umum terjadi rutin berulang setiap tahun. Masalah yang tidak mudah diselesaikan oleh masyarakat desa dimana saya tinggal.

Untuk bertahan hidup dan menenuhi kebutuhan air, apa yang bisa dilakukan oleh warga –anggota masyarakat– baru diantaranya membuat sumur di hampir di tiap rumah tangga dan baru-baru ini membuat bak-bak penampungan. Bak-bak penampungan itu ada yang dibangun sendiri oleh warga dan ada pula yang dibangun dengan berbagai program pemerintah dan bantuan sosial. Sumur dan bak penampungan air itu digunakan untuk tandon/menyimpan air tangki yang dibeli oleh warga bilamana air sumur sudah habis.

Belum ada upaya terintegrasi untuk mengatasi masalah air bagi masyarakat. Sampai sekarang.

Sedikit harapan akan jawaban bagi permasalahan air di musim kemarau pernah ada pada tahun 2009. Ketika di pekarangan Pak Ngadiyono, Pejabat Keamanan Desa Grogol, ditemukan sumber air. Di tempat dimana sumber air itu berada kemudian dibangunlah sumur bor dan dibangun instalasi untuk mengangkat air tanah. Menara penampungan air sudah dibangun, begitu pula dengan pompa air bertenaga diesel sudah terpasang dan air pada saat itu bisa diangkat.

Beberapa waktu kemudian masyarakat makin optimis dengan keberadaan sumber air dan instalasi eksploitasi air bersih di pekarangan rumah Pak Ngadiyono di dusun Senedi. Masyarakat kemudian bahu membahu dengan berbagai cara membangun jaringan pipa untuk mengalirkan air bersih yang diangkat dari sumber air di pekarangan rumah Pak Ngadiyono. Jaringan itu seyogyanya akan digunakan untuk mengalirkan air bersih ke bak-bak penampungan air di beberapa tempat di dusun Senedi dan dusun-dusun tetangga termasuk dusun Karangmojo B. Bapak saya pun dulu bersama-sama warga yang lain turut bekerja bakti membangun jaringan pipa.

Proyek pembangunan jaringan air bersih itu dulu pernah saya ceritakan di sini.

Sayangnya entah kenapa, Instalasi pengangkat air bersih di lokasi pekarangan rumah Pak Ngadiyono sejak beberapa lama sudah tidak berfungsi. Bahkan sebelum banyak warga yang bekerja bakti memasang jaringan pipa turut menikmati percikan kesegaran air bersih itu. Saya tidak tahu apa masalah terhentinya aliran air bersih itu. Apakah ada kerusakan mesin. Atau sumber air yang sekarang habis.

Nah, akhir-akhir ini, masyarakat di desa dimana saya tinggal sedang semangat-semangatnya membangun jaringan air bersih yang bersumber dari dusun Toboyo desa Plembutan, dari sumur milik Mas Su. Masyarakat membangun jaringan itu bisa dikatakan secara swadaya, dengan ongkos jaringan yang bervariasi. Biaya ditentukan diantaranya oleh jarak rumah dengan ketersediaan jaringan pipa yang sudah ada. Kalau tidak salah antara 1,5 sampai 2,5 juta. Pembangunan jaringan pipa air bersih ini dulunya dimulai oleh penduduk dusun Grogol. Sekarang jaringan sudah meluas sampai dusun Karangmojo A, Karangmojo B, Senedi, bahkan akan ke dusun Gerjo.

Saya sendiri memang belum ikut memasang jaringan pipa air bersih ini. Namun apa yang menarik adalah kegigihan masyarakat desa Grogol untuk menyelesaikan permasalahan air secara mandiri. Tanpa mengharapkan bantuan dari pihak lain. Apalagi bantuan pemerintah.

Dalam ngobrol-ngobrol saya dengan Agung beberapa waktu lalu, kami pun belum tahu pasti kebijakan pemerintah desa Grogol seperti apa terkait pemenuhan kebutuhan air bersih untuk masyarakat. Permasalahan air bersih merupakan permasalahan masyarakat. Kebutuhan Air Bersih adalah hal strategis. ๐Ÿ™‚

Tulisan terkait:

Download Gratis Cross Over, Khusus Hari Ini Saja

Bagi ย yang bekerja dengan menggunakan Linux atau Mac dan menemukan kendala untuk menjalankan aplikasi berbasis Windows. Bila menggunakan Linux pasti untuk hal ini akan mencoba menjembatani dengan Wine. Namun seperti pengalaman kita semua yang mana Wine tidak selalu berjalan lancar.

Sejak awal menggunakan Linux kira-kira 8 tahun yang lalu, saya pernah membaca review tentang Cross Over di Majalah Infor Linux, namun karena Cross Over merupakan aplikasi berbayar, maka sampai sekarang saya urung mencobanya.

Sampai hari ini saya mendapati informasi diย ย CodeWeaversโ€™ Flock The Vote promotional web site tentang tawaran gratis Cross Over bila di-download dalam 24 jam hari ini. Saya langsung mendaftarkan diri dan mendownload Cross Over untuk Debian baik versi 32 maupun 64 bit. Dan tentu saja sayang untuk melewatkan tidak mendownload installer untuk Mac. ๐Ÿ˜€

Coba seberapa bagus Cross Over menyelesaikan masalah ini di komputer Ubuntu saya. ๐Ÿ˜€

Cross Over Free Download Page

Cross Over Free Download Page