Kertas Lem Lalat

Kertas Lem Lalat

Kertas Lem Lalat

Lalat selalu menjadi penyerta setiap musim hujan tiba. Sebenarnya tidak selalu demikian. Itu kata saya saja. Karena sebenarnya lalat bisa ada baik di musim hujan maupun musim tidak hujan. Misalnya di pasar-pasar banyak lalat terjadi kapan pun tanpa pandang musim.

Kapan pun ada banyak lalat, baik pada musim hujan maupun musim bukan hujan, tidak ada orang yang suka lalat. Saya pun sangat jijik melihat kerumuman lalat. Lalat identik ketidak bersihan dan ke-non higienis-an. Banyak lalat identik dengan lingkungan yang kurang mempedulikan kesehatan.

Sangat sulit untuk mensterilisasi suatu lingkungan dari lalat. Apa yang bisa orang-orang lakukan hanya mengurangi lalat. Yang saya lakukan kali ini adalah dengan memasang lem lalat. Kertas Lem Lalat ini baru saja saya beli dari warung tetangga. Berharga seribuan rupiah per lembar.

Saya sengaja memasang foto Kertas Lem Lalat yang belum digunakan. Lalat-lalat yang tertempel di atas kertas lem lalat alih-alih malah akan menampilkan kesan jorok bila fotonya saya pasang di sini. hehehe

 

Mencicipi WeChat for Black Berry

Melalui group  Indonesia WeChat Blogger, Zoe, salah seorang member group itu mengabarkan akan hadirnya WeChat for Blackberry. WeChat sebenarnya belum benar-benar hadir di Blackberry. WeChat for BB saat ini masih versi beta dan sedang mamasuki tahap untuk diuji secara terbatas.

Versi Beta WeChat ini tersedia untuk OS 5, OS 6 dan OS 7. Untuk sementara dapat diunduh di http://wechat.okezone.com

Saya sudah sejak bulan lalu menggunakan WeChat untuk ponsel Android dan siang tadi saya mencoba memasang WeChat di Blackberry Bold 9000 yang menjalankan Blackberry Operating System 5. Mengunduh file instalasi dari http://wechat.okezone.com berjalan lancar. Ukuran file instalasi cukup ramping. Hanya seukuran 2.3 Mb. Proses instalasi pun lancar-lancar saja.

Sampai saya dihadapkan pada halaman login, saya lupa apa username dan password WeChat saya. Saya bermaksud mencoba login dengan akun yang sama yang saya gunakan untuk ponsel Android saya. Saya sempat berpikir untuk me-reset password, namun ini saya urungkan karena saya malas mengatur ulang password pada ponsel utama saya, ponsel Android. Ada banyak pilihan cara untuk login WeChat. Akhirnya saya mencoba login dengan Facebook Connect. Yay, saya bisa login. 🙂

Dengan ID yang sama saya bisa login dalam waktu yang bersamaan baik di ponsel Android maupun ponsel Blackberry. Ini keren.

Saya kemudian mencoba-coba chating dari Blackberry. Saya mencoba berkirim terima pesan dengan kontak-kontak saya. Saya mencoba chating dengan group Indonesia WeChat Blogger. So far semua berjalan lancar dan stabil. WeChat for Blackberry meskipun masih versi beta tetapi lancar dan ringan dijalankan di handset blackberry saya yang sudah kuno.

Menu demi menu, fitur demi fitur WeChat for Blackberry pun saya coba-coba. Tidak perlu waktu lama untuk menjelajahi tiap menu pada WeChat for Blackberry. Memang saya rasakan ada banyak fitur pada WeChat for Android yang tidak saya temukan di WeChat for Blackberry. Menurut Dennis memang WeChat for Blackberry ini masih versi awal yang mengedepankan menghadirkan fungsi dasar dan kestabilan dari sebuah aplikasi. Saya sendiri lebih suka dengan aplikasi instant messaging yang sederhana namun lebih reliable.

SC20121208-205236

Yang menjadi poin bagi saya adalah di Indonesia (masih) ada banyak sekali fun berat Blackberry. Ini pasar yang potensial. Bila WeChat ingin potongan kue yang besar dari pengguna Blackberry, apa yang perlu dilakukan adalah membuat cukup alasan agar orang mencoba WeChat for Blackberry.

Menurut saya sendiri WeChat adalah aplikasi chating yang lebih baik dari beberapa aplikasi yang chating pada ponsel yang telah saya pakai lebih dulu.

WeChat lebih baik dari Blackberry Messenger karena user ID/username tidak tergantung pada perangkat/device. BBM sangat tergantung pada PIN yang melekat pada perangkat Blackberry.

WeChat lebih baik dari Whatsapp karena userID/username tidak tergantung pada nomor ponsel dan operator seluler yang kita gunakan. Kita masih bisa menggunakan nomor yang sama meskipun berganti nomor, bahkan nomor dari operator seluler yang berbeda.

WeChat lebih inklusif, lebih baik dari banyak aplikasi chating, karena bisa berjalan baik di ponsel Symbian, Blackberry, iOS maupun Android.

Sebenarnya saya ingin menuliskan review WeChat secara menyeluruh, namun kali ini spesifik untuk WeChat for Blackberry dulu.

Bila Anda belum mencoba WeChat silakan segera mencoba. Untuk Android bisa langsung dicari di Google Play, di iOS bisa dicari di AppStore dan di WeChat for Blackberry bisa diunduh di http://wechat.okezone.com

Jangan lupa tambahkan ID saya sebagai kontak ya. 😀 ID WeChat saya: jarwadi

A Guru, A Hero, A Suwarjono

A Guru, A Suwarjono

Guru biasa-biasa saja mengajar kita selama kurang dari setahun, setahun, atau beberapa tahun. Guru yang luar biasa akan mengajar selama hayat kita masih di kandung badan.

Saya merasa beruntung karena datang seorang guru luar biasa dalam hidup saya. Kehadiaran beliau adalah hal penting dalam karir pendidikan saya sampai saat ini. Susah dibayangkan apa jadinya saya sekarang tanpa 20 tahun yang lalu seorang pemuda bujangan asal kabupaten Bantul yang mengabdikan diri menjadi pengajar di sekolah kecil di desa dimana saya tinggal.

Guru muda itu adalah Bapak Suwarjono. Murid-murid memanggil beliau Pak War.

Apa sebenarnya yang membuat Pak War begitu luar biasa dan begitu menginspirasi bagi teman-teman sebaya, terutama saya? Baca lebih lanjut

Belajar itu Dimana Saja Bisa

Belajar di Dalam Angkot

Saya lihat ada pemandangan berbeda yang saya lihat di Angkot yang saya naiki pagi tadi. Pemandangan anak-anak sekolah yang membaca-baca buku dan catatan-catatan di dalam Angkot. Bukan erat-erat memegangi dan mengulik gadget mereka seperti biasa. Malah saya yang memegang gadget. Mengambil foto ini. hihi

Ternyata hari-hari belakangan ini sekolah-sekolah sedang melaksanakan semesteran/ujian semester. Pantas saja. Mudah-mudahan adik-adik kita ini tidak hanya belajar menjelang ujian saja. Saya khusnudzan mereka rajin belajar dan makin intensif belajar di waktu-waktu ujian seperti ini. 🙂

Kamera di Samsung Galaxy Ace Duos

Sepeninggal ponsel Sony Ericsson K810i saya, ponsel yang saat ini saya gunakan untuk foto-foto adalah Samsung Galaxy Ace Duos. Ponsel yang pada beberapa bulan lalu saya dapatkan dari Mas Rama Klik IT. Hampir semua foto yang saya ambil sendiri yang saya gunakan untuk blog ini, saya unggah ke jejaring facebook, twitter, google+, posterous, dan lain-lain merupakan hasil memotret saya dengan Galaxy Ace Duos.

Inline image 2

Kamera pada Samsung Galaxy Ace Duos menurut saya cukup bagus untuk pengambilan gambar luar ruang dengan cahaya di sekitar yang memadahi.

Inline image 3

Inline image 5

Kekurangan yang paling saya rasakan ketika memotret dengan Samsung Galaxy Ace Duos diantaranya adalah: Baca lebih lanjut

Perlakukan Air Seperti Dirimu Ingin Diperlakukan, Demi Kualitas Kehidupan

Di desa dimana saya tinggal, kekeringan dan pemenuhan kebutuhan air bersih adalah masalah tersendiri bagi masyarakat. Masalah yang sudah terjadi sejak jaman nenek moyang. Masalah yang salalu berulang setiap tahun. Sampai sekarang belum ditemukan solusi terpadu yang benar-benar bisa mengentaskan masyarakat di desa dimana saya tinggal dari permasalahan ketercukupan air bersih. Kabar akan dibangunnya pipa-pipa jaringan distribusi air bersih oleh pemerintah untuk mengalirkan air dari situs Ngobaran, kabar pengangkatan air dari sungai bawah tanah di gua  Bribin dan kabar-kabar manis yang lain, semua sebatas masih kabar burung yang begitu cepat dibawa angin lalu.

Masyarakat di desa dimana saya tinggal tidak perlu diajari bagaimana berhemat air. Alam sudah mengajarkanya dengan baik, kalau tidak bisa disebut alam memaksakan bahwa hemat air itu prinsip. Bagaimana tidak, di desa dimana saya tinggal, setiap tahunnya air akan segera menghilang beberapa waktu begitu musim hujan berakhir, begitu musim kemarau tiba. Apalagi bila terjadi kemarau panjang, seperti yang baru saja berakhir bulan ini. Lapisan tanah berbatuan kapur pegunungan dimana di atasnya desa saya berdiri tidak pernah bisa menahan kandungan air dalam jumlah yang cukup dalam waktu lama.

Sumur-sumur tadah hujan tradisional yang dibuat oleh masyarakat di desa dimana saya tinggal, baik itu sumur-sumur yang digali di pekarangan masing-masing maupun sumur-sumur umum yang dibuat di tempat-tempat yang diperkirakan merupakan sumber air, dirasakan saat ini menjadi lebih mudah kering begitu musim kemarau tiba. Air di sumur-sumur dirasakan lebih cepat habis dibandingkan 5 apalagi 10 tahun yang lalu. Padahal sumur-sumur inilah penopang utama kebutuhan air bersih untuk air minum, kebutuhan rumah tangga, sanitasi dan lain-lain.

Bila air di sumur-sumur ini dirasakan mulai menipis, maka sebagian masyarakat di desa dimana saya tinggal akan mulai memanfaatkan air di sungai yang membentang membelah desa kami. Masyarakat di desa dimana saya tinggal terpaksa berbagi menggunakan air yang yang tersisa di sungai. Jangan membayangkan air mengalir di sungai ini di musim kemarau. Air pada musim kemarau di sungai ini merupakan air yang diam dan sudah tidak jernih, tidak mengalir karena sungai ini dibendung agar air tidak cepat habis. Dan jangan pula  membayangkan air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga itu melewati proses pengolahan air seperti yang kita lihat di instalasi pengolahan air bersih seperti milik PT Jababeka Water Treatment Plant di Bekasi itu. Bahkan air kebutuhan rumah tangga merupakan air yang sama yang digunakan untuk mencuci, menyiram tanaman, mandi dan memandikan hewan ternak sekalipun.

Bagi Anda, saya percaya akan sulit untuk membayangkan bagaimana hidup sehat dan higienis di sini dijaga. Baca lebih lanjut

Baksos di Masjid di Pantai Ngrenehan

Pantai Ngrenehan dan Hamparan Pasir Putih

Pantai Ngrenehan dan Hamparan Pasir Putih

Pantai Ngrenehan dan Sepotong Melankoli

Pantai Ngrenehan dan Sepotong Melankoli

Pantai Ngrenehan, suatu pantai nelayan dengan eksotisme hamparan pasir putih. Merupakan salah satu dari ratusan pantai di Gunungkidul, merupakan satu dari kekayaan alam Indonesia.

Tidak sulit untuk menjangkau pantai ini. Hanya diperlukan waktu sekitar satu jam perjalanan dari kota Wonosari –ibu kota kabupaten Gunungkidul, atau kira-kira 30 menit dari desa dimana saya tinggal bila ditempuh dengan sepeda motor. Pantai Ngrenehan merupakan sudut tersendiri bagi saya. Sampai entah sudah ke berapa kali saya ke sana sendirian, menikmati potongan-potongan melankoli.

Ngrenehan tidak hanya menarik bagi saya. Ngrenehan mempunyai eksotisme yang menyebar, apalagi setelah internet menjaman, seperti sekarang ini. Pesona Ngrenehan mengundang makin banyak wisatawan tiap harinya. Bukan hanya wisatawan dari desa-desa di sekitar Saptosari, Paliyan dan sekitarnya, tetapi juga wisatawan-wisatawan dari jauh, bahkan dari luar daerah.

Mungkin juga dialami oleh para wisatawan yang berlibur ke Pantai Ngrenehan, apa yang saya rasakan kurang dan agak mengganggu kenyamanan adalah keterbatasan fasilitas umum di lokasi pantai ini. Saya sendiri tidak menuntut di kawasan Ngrenehan dibangun fasilitas yang wah begitu. Bagi seorang muslim seperti saya, dan saya yakin kebanyakan pengunjung pantai adalah muslim, keberadaan tempat ibadah, tempat shalat adalah hal penting.

Saya sendiri tidak pernah merasa nyaman bila liburan saya terkendala masalah shalat. Saya dan banyak orang tidak ingin bersenang-senang di tempat wisata sampai lalai beribadah. Baca lebih lanjut

Sang Penari, Review Konflik Cinta Segitiga

Gambar diambil dari sini.

Sampai menonton film ini pada tadi malam di televisi saya belum membaca trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel beken yang menginspirasi Isfansah untuk membawa Srintil menari di gedung bioskop pada tahun 2011 kemarin. Saya menonton dengan merdeka sama sekali terbebas dari ekspektasi tertentu terhadap Sang Penari. Tidak ada dimensi yang mengekang saya akan seperti apa seharusnya Srintil menari. Saya menonton saja. Biarlah Srintil menari dengan caranya sendiri.

Sang penari dalam waktu singkat membuat saya jatuh cinta.

Saya terpesona dengan landscape sosio-kultural pedukuhan Paruk pada tahun 1960-an yang dibawakan Isfansah dalam detil suatu produksi kelas atas. Penasaran saya dalam hati, dimanakan Isfansah mendapatkan lokasi syuting yang so 60s. Begitu juga dengan pemahanan, set, kostum dan properti yang begitu membangun suasana pedesaan tahun 1960.

Panorama alam dukuh paruk, jalan tanah berbatu, detil rumah, sesaji, logat bahasa ngapak, pakaian, semua tidak ada yang perlu saya pertanyakan ke-1960-annya. Seingat saya tidak banyak film Indonesia yang mencoba seserius ini merekontruksi masa lalu.

Film ini membuat saya patah hati. 😀

Srintil membuat saya terjebak ke dalam diri Rasus. Hati saya terkurung di dalam badan Rasus. Baca lebih lanjut

MindTalk, Supporting Indonesia

Hidup itu pilihan. Follow, unfollow, block. Begitu kata Republik Twitter (2011). Film yang pernah saya review di sini.

Social media banyak membawa hal baru dalam kehidupan saya, dalam kehidupan kita. Social media membawa apa yang belum jelas dan tidak menarik untuk dibahas di tanah daratan menjadi suatu hal yang terasa biasa. Social media membawa istilah-istilah baru. Seperti apa kata orang twitter yang saya kutip di atas.

Facebook punya istilah sendiri.Friend, unfriend, block. Google+ punya istilah circle, uncircle, block. Sementara jejaring sosial buatan anak negeri, Mindtalk membawa untuk kita istilah tersendiri yaitu supporting dan unsupporting. Kalau di twitter kita punya follower maka di Mindtalk kita punya supporter. Istilah supporter ini sepintas mengingatkan kita dengan Bonek supporter Persebaya, Viking – Persiba dan Jakmania. hehe

Keberadaan Mindtalk ini sebenarnya sudah cukup lama saya dengar, akan tetapi saya baru mendaftar ke layanan ini beberapa minggu yang lalu. Itu pun saya tidak langsung eksis di sana. Saya baru login ke Mindtalk dua hari yang lalu.

Begitu login ke Mindtalk, sensasi yang saya dapatkan adalah: P U S I N G. Mindtalk langsung tanpa ampun menyuapi saya dengan banyak sekali konten. (informasi) Ibarat ada banyak sekali makananan enak yang tersedia di meja makan, saya kebingungan dari mana akan mulai mencicipi.

Kata Pak Rahard merespon kebingungan yang saya twit -kan, itu adalah tampilan Mindtalk yang baru, dulu tampilannya sederhana, tidak rumit. Pak Rahard ternyata sudah cukup lama eksis di Mindtalk. 🙂 Baca lebih lanjut

Pohon di Hutan Pindahan ke Desa

Inline image 1

Mengambil foto panorama tidak semudah yang saya bayangkan. Saya mencoba beberapa kali sampai mendapatkan foto yang agak nyaman dilihat. Masih jauh dari indah, apalagi artistik. Memang saya hanya memanfaatkan fitur panorama sederhana di ponsel Android saya.

Foto di atas saya ambil sore tadi di lokasi Lor Cangkring. Lor Cangkring dulunya merupakan hutan. Sekarang statusnya masih hutan. Hutan kayu putih yang oleh pihak kehutanan diserahkan kepada masyarakat petani untuk menggarapnya dengan sistem tumpang sari.

Dari tanah Lor Cangkring saya memutar pandangan dari arah paling barat sampai sudut paling timur. Di sebelah barat terlihat tanah Budha, tanah Bangsal, tanah Glempeng, dan lain-lain. Sementara di timur merupakan pedesaan. Desa dimana saya tinggal. Desa Grogol.

Ada sesuatu yang menarik bagi saya ketika melihat-lihat panorama alam dari lokasi tanah Lor Cangkring ini.

Di sebelah barat saya melihat lahan sangat terbuka. Sedangkan di bagian timur, di pedesaan, terlihat rimbun dengan pepohonan tinggi yang mulai menghijau. Secara sekarang sudah tiba musim hujan.

Hal bagus bahwasanya di pedesaan sekarang ini masyarakat sudah banyak menanam pepohonan di kebun mereka. Pepohonan yang beraneka ragam. Mulai pohon Jati, Mahoni dan sebagainya. Ada banyak pohon jati yang telah ditanam di desa dimana saya tinggal.

Menjadi terlihat ironis di sini barat yang hampir tidak ada pepohonan tinggi adalah tanah yang seharusnya diperuntukan sebagai hutan.

Konon dahulu kala jaman para nenek moyang, di tanah Nggagaan, Budha, Lor Glempeng, Lor Bangsal, Ngoro-Oro merupakan hutan lebat dengan pepohonan jati yang besar-besar. Pepohonan beraneka yang tinggi di hutan itu masih terjaga baik sampai seingat saya, saya berusia Sekolah Dasar.

Hutan sebelah barat desa dimana saya tinggal mengalami kerusakan besar-besaran ketika penjarahan marak pada sekitar tahun 1997/1998. Entah kenapa pada saat itu hampir semua orang, baik penduduk desa maupun orang yang tidak jelas datang darimana semua kalap menjarah kayu-kayu hutan. Aparat keamanan hutan pada saat itu tidak cukup berdaya mengatasi penjarahan itu.

Kini semuanya serba terbalik-balik. Tanah yang seharusnya hutan tidak berpepohonan. Sementara tanah yang digunakan untuk pemukiman malah banyak ditanami pohon. Idealnya memang pemukiman pun harus banyak pepohonan. Dan pepohonan lebih banyak lagi seharusnya di tanah hutan.