Angin Kencang dan Pohon Tumbang

Desember sampai pertengahan Januari ini cuaca di desa dimana saya tinggal hanya menyisakan beberapa hari saja dengan cuaca cerah. Selebihnya mendung, hujan dan hujan lebat. Bahkan mulai kemarin malam dibuat dramatis oleh angin kencang. Situasi seperti ini tidak hanya terjadi di desa dimana saya tinggal ya? Apa yang saya baca di twitter dan facebook, angin kencang terjadi dimana-mana di banyak tempat.

Saya tidak tahu itu jenis angin kencang apa. Yang jelas angin yang mulai bertiup kencang sejak tengah malam kemarin (hari Rabu malam) sampai kemarin petang telah merobohkan banyak pepohonan di lingkungan tinggal. Tentu saja pepohonan yang tumbang itu banyak yang menimpa rumah, kandang-kandang serta tanaman. Celakanya lagi pepohonan tumbang itu juga menimpa jaringan listrik. Jadi listrik yang mati karena kerusakan jaringan kabel menjadikan petang kemarin terasa sangat mencekam. Suasana mencekam sedikit berkurang setelah sekitar jam 8 malam petugas PLN berhasil mengatasi masalah jaringan.

Angin kencang yang menyertai musim hujan seperti kemarin, mudah-mudahan angin kencang ini tidak berkepanjangan, bukan terjadi untuk yang pertama kalinya. Beberapa tahun yang lalu juga pernah terjadi. Angin kencang sebagai “ketentuan alam” yang belum banyak mengerti tentu tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali masyarakat berusaha meminimalkan kerusakan akibat angin dan segera memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan.

Seperti kemarin warga di desa dimana saya tinggal segera menyingkirkan pepohonan yang tumbang dan segera memperbaiki atap-atap rumah yang rusak tertimpa pohon. Atap rumah yang bocor tentu saja harus diperbaiki segera. Akan tidak nyaman sekali air hujan menerobos masuk rumah melalui bocoran atap.

memangkas_pohon

memangkas_pohon_2

 

 

5 cm, Petualangan Visual yang Ciamik

Keindahan Mahameru yang menantang yang terintip dari teaser trailer di atas-lah yang membuat saya terdorong ke ruang nonton 1 Studio 21 Ambarukmo Plaza kemarin petang. Harapan saya tidak berlebihan. Saya tidak mengharapkan diri saya hanyut dalam sebuah drama, ataupun menginginkan kelelakian saya tertantang terdobrak agar bersemangat lagi mendaki. Saya hanya ingin memanjakan mata dengan keseksian alam di atas awan di puncak gunung Semeru. Itu saja.

Sebelum menonton film ini saya pun tidak membaca-baca banyak review mengenai 5 cm seperti halnya saya lakukan ketika saya akan menonton film dalam arti yang sebenarnya.

Dan Rizal Mantovani, sutradara 5 cm, menyajikan sinematografi ciamik yang berhasil menjawab ekspektasi visual saya akan bagaimana seharusnya kemegahan Mahameru diproyeksikan di atas layar bioskop. Saya menikmati visual sejak perjalanan naik kereta ekonomi yang berangkat dari stasiun Senen sampai tentu saja puncak Mahameru. Ranu Kumbolo juga jangan lewat saja.

Bagaimana mengenai akting, alur cerita, emosi dan konflik yang dibangun di sepanjang 5 cm? Maaf saya sedang tidak ingin membahasnya. Saya telah memutuskan untuk melupakan hal ini ketika saya tahu bahwa perjalan ke Mahameru merupakan kejutan yang dibuat oleh Genta untuk kelima sahabatnya. Kecuali Genta tidak ada yang tahu kemana Riani, Ian, Zafran, Dinda, Arial menuju, anehnya begitu mereka tiba di kaki Semeru kenapa semuanya sudah mengenakan gear bermerk The North Face. Memang gear seperti ini bisa dibeli secara eceran di Stasiun Kereta di Malang sana? Bisa menangkap maksud saya, bukan? hehehe

5 cm menurut saya cocok sebagai teman untuk memanjakan diri menghabiskan waktu di akhir pekan atau untuk sejenak melepas penat rutinitas. Jangan terlalu diambil serius. Nikmati saja sambil makan pop corn atau ngobrol bisik-bisik dengan teman nonton Anda. Ah tapi saya kemarin lupa tidak membawa pop corn ke ruang nonton.

 

 

Ukuran Foto di Google+

Saat ini saya sedang suka mengunggah foto-foto ponsel saya Google+. Saya suka mengunggah foto-foto dari ponsel beberapa saat setelah memotret. Saya tidak menggunakan komputer untuk melalukanya, kecuali bila terpaksa. Saya mengunggah langsung dengan aplikasi Google+, terutama di ponsel Android saya.

Permasalahannya Google+ App di ponsel Android saya seringkali ngaco. Foto-foto seringkali diperkecil ke ukuran yang sangat tidak manusiawi. Bagaimana tidak jengkel bila foto seukuran 5 megapixel dikerempengkan menjadi 640 480, lebih parah lagi 320 240px. Lebih jengkel lagi dengan Google+ apps for Android saya belum tahu caranya untuk melihat berapa ukuran foto yang sedang saya lihat.

Pagi ini saya mendapatkan foto yang saya unggah kemarin ternyata dikerempengkan. Saya kecewa dan mengunggah ulang foto itu. Naasnya foto yang saya unggah dengan Google+ apps for Android hasilnya sama kerempengnya.

Saya mencoba cara lain. Berhubung saya tidak membawa kabel data, saya mengirimkan foto dari ponsel ke email agar saya bisa mengunggah foto itu dengan komputer. Saya menggunakan fitur share dari Gmail saya untuk mengunggahnya ke Google+.

Saya lihat di sini ada yang berbeda dengan ukuran foto yang saya bagikan ke Google+ melewati Gmail. Foto diunggah dalam resolusi yang bagus, yaitu 2560 x 1920 pixels. Sedangkan bila saya mengunggahnya dengan fasilitas pengunggah di Google+ web sendiri setiap foto akan diperkecil menjadi 2048 x 1536 pixels.

Hmmm …

 

 

Kulakan Camilan

Aneka Camilan

Foto ini saya ambil pada kemarin siang di suatu Angkot (Angkudes)

Orang yang membeli camilan sebanyak ini, 4 kantong plastik besar, tentu saja tidak akan ia makan sendiri. Biasanya mereka adalah pedagang. Kulakan yang akan dijual lagi secara eceran di warung-warung mereka.

Saya bukan termasuk orang yang suka ngemil. Jadi saya tidak tahu apa saja nama camilan ini. Camilan yang saya tahu namanya hanya yang terletak di belakang itu. Namanya sakura. Saya pernah mencicipinya seingat saya terakhir kali ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar.

Apa yang sebenarnya menarik bagi saya adalah ternyata jenis camilan (tradisional) ini masih survive sampai sekarang. Di tengah serbuan “Taro dan Ciki” yang sudah terkemas rapi secara default dari pabrikannya. hehe

Ada yang tahu apa saja nama-nama camilan ini?

 

Pidato Sambutan itu Tidak Menarik

Apa yang saya perhatikan sekarang ini semakin tidak menarik dalam banyak acara, baik itu acara formal, semi formal sampai acara santai adalah Pidato Sambutan. Kebanyakan orang yang hadir di suatu acara saya lihat kurang memperhatikan apa yang disampaikan seseorang dalam pidato sambutan. Orang-orang lebih memilih untuk ngobrol sendiri dengan orang-orang di dekatnya, makan minum atau lebih parah lagi mainan gadget. Lebih parah lagi merokok.

Tetapi dimana-mana di Indonesia, dari kampung dimana saya tinggal sampai acara yang diselenggarakan oleh kampus dan perkantoran, terutama perkantoran pemerintah, pidato sambutan seolah menjadi hal yang wajib ada. Acara sambutan bahkan tidak hanya sekali. Ada banyak sekali pidato sambutan mulai dari pidato ketua panitia, pidato ketua RT sampai pidato dari pejabat setempat.

Pidato sambutan yang berderet-deret itu entah diperhitungkan atau tidak telah menghabiskan banyak waktu sampai waktu untuk acara inti sendiri menjadi terbatas. Malah sampai hadirin menjadi bosan di tempat acara. Suasa menjadi semakin kurang kondusif. Dan acara inti sendiri menjadi kurang mendapat perhatian sepenuhnya. Dan itu menurut saya bukan kesalahan hadirin sebenarnya.

Tulisan ini tiba-tiba saya buat karena saya teringat beberapa waktu yang lalu ketika kami diundang menghadiri suatu acara, beberapa orang yang diminta memberikan kata sambutan seolah tidak tahu waktu dan tidak nyadar bahwa apa yang beliau sampaikan sebenarnya tidak diperhatikan oleh warga yang hadir.

Pidato Sambutan sebagai bagian acara kebanyakan merupakan untuk memberikan penghormatan kepada seseorang misalnya tokoh masyarakat atau pejabat setempat. Sebagai penghormatan ini terdengar “jawa” sekali. Atau dengan istilah lain bentuk dari “ewuh pakewuh”. Tetapi sebenarnya begitu.

Ini tantangan bila kita sendiri ingin membuat acara. Kita yang jadi panitianya.  Bisa menanggalkan budaya ewuh pakewuh atau tidak. Berlebihan saya pikir kalau kita hanya “mengatakan dalam hati” agar bapak yang berpidato sambutan agar tidak berlama-lama dan tahu diri. hehehe

 

Penanda 2013

Ini adalah foto pertama yang saya ambil pada tahun 2013. Saya ambil pagi-pagi serta merta setelah saya menunaikan shalat Subuh. 🙂 Harus ada sesuatu sebagai penanda awal tahun, pikir saya.

Dan penanda awal tahun 2013 ini adalah foto langit. Masih ingat penanda awal 2012 saya adalah teh. Lihat foto teh yang saya taruh di sini. 🙂 Itu adalah teh yang pertama kali saya nikmati di awal tahun lalu di lereng gunung Lawu. Saat itu saya bersama teman-teman menghabiskan malam pergantian tahun di lereng Lawu.

Untuk malam pergantian tahun 2013 ini tidak ada yang luar biasa. Saya terpaksa menghabiskan liburan akhir tahun di rumah. Saya sudah sakit sejak satu minggu sebelum desember 2013 berakhir. Bahkan petang hari tanggal 31 desember 2012 saya masih harus ke dokter lagi. Dan sampai hari ini saya baru mulai agak mendingan.

Awal tahun sebagai pijakan setiap orang selalu mengharapkan semua hal sempurna. Awalan yang bagus untuk lompatan terbaik. Tetapi  ada kalanya orang berdiri di atas sesuatu yang kurang sempurna. Kadang terpaksa berdiri di atas lapisan es yang mulai retak-retak. Artinya mungkin harus bergegas. Waktu tidak pernah mau menunggu. 🙂

 

 

Penghujung 2012

Pada penghujung 2012 ini wordpress.com rupanya telah memberikan annual report untuk saya.

Sila lihat di https://jarwadi.me/2012/annual-report/

Biasa-biasa saja sebenarnya apa yang saya lakukan untuk blog ini selama satu tahun yang beberapa jam lagi segera berlalu. Yaitu menulis dan menulis.

Hanya apa yang belum pernah saya lakukan pada tahun-tahun sebelumnya adalah menggunakan domain name sendiri. Tidak nge-sub di wordpress.com lagi. Meskipun hosting dan engine blog ini ya tetap nebeng di wordpress.com.

Semoga tetap rajin ngeblog di tahun depan, tahun 2013 kelak.

Foto Saja

butterfly

Karena otak menulis saya sedang buntu maka kali ini saya akan memposting foto-foto saja di blog ini. Bolehkan? Bukankah blog tidak wajib berisi tulisan saja? Boleh berisi foto saja, suara saja, video saja, atau bahkan tidak berisi apa-apa saja. hehe.

Kupu-kupu berwarna kuning yang sedang hinggap disekuntum bunga sepatu warna merah ini saya potret pada tadi pagi ketika saya sedang menunggu angkot. Pikir saja tadi menfoto kupu-kupu lebih maslahat daripada kelamaan jengkel menunggu angkot datang. Lagi pula kupu-kupu ini terlihat jinak. Dan memang jinak. Saya berhasil memotretnya sekali. Saya sebenarnya ingin memotret kupu-kupu ini beberapa kali. Sayangnya saya gagal menahan bersin. Jadi kupu-kupu ini terkejut dan terbang.

Ini masih kupu-kupu yang sama yang saya potret sebelumnya. Kupu-kupu yang terkejut karena bersin yang tak tertahankan itu untungnya tidak terbang jauh. Kupu-kupu ini masih baik hati memberi kesempatan kedua untuk saya. 🙂

Foto-foto ini saya ambil dengan ponsel Samsung Galaxy Ace Duos.

Bersiap-siap Untuk Jogging Lagi

Sakit tipes yang mendera pada satu setengah tahun yang lalulah yang menjadi alasan yang kuat (alibi) bagi saya untuk berhenti jogging. Harus beristirahat dulu bila ingin sembuh dari tipes. Itulah bisikan yang selalu saya percaya. Beberapa bulan kemudian setelah sembuh dari tipes saya menemukan sepatu lari yang lama digantung telah rusak. Tidak nyaman lagi dipakai untuk jogging. Ini alasan berikutnya untuk tidak jogging.

Jogging memang olah raga yang telah menjadi kebiasaan saya selama bertahun-tahun. Tetapi memulai kembali kebiasaan baik yang terhenti cukup lama bukanlah hal yang mudah. Mungkin tidak lebih sulit dari memulai kebiasaan yang benar-benar baru.

Oleh seorang teman saya ditanyai kapan akan memulai jogging lagi. Biasanya jawaban saya adalah kalau sudah punya sepatu Nike Running. Ini seolah alasan yang dicari-cari. Saya sendiri masih ingat bagaimana saya sendiri ketika sejak SMA ikut berlatih karate selalu tim karate saya berlari bertelanjang kaki dan semuanya baik-baik saja. Sepatu seolah bukan alasan yang relevan.

Sambil berkelakar saya melanjutkan argumen saya kepada teman saya itu. Sepatu mahal adalah hal yang tepat yang bisa membangunkan saya dari kemalasan. Betapa tidak ketika suatu pagi akhir pekan saya bermalas-malasan tentu sepatu saya akan berteriak, “Buat apa nabung buat beli sepatu mahal-malah kalau ngga jadi lari? Kenapa duitnya ngga dipakai buat hang out atau foya-foya saja?”

Ah, besok kalau sudah beli sepatu mahal paling-paling juga tetap males jogging. Sudahlah balik tidur saya. Mumpung weekend. Lagian sepatu mahalnya akan jadi lebih awet, dijual lagi jadi lalu :p. Begitu ejekan teman saya.

Begitu kemarin siang seorang teman tahu kalau saya sudah membawa pulang sepasang sepatu Nike Running, seorang teman saya langsung menyambar, Now lets see. Which voice will win! Kalimat teman saya ini benar-benar saya camkan baik-baik.

Saya memang menjadikan jogging sebagai bagian dari resolusi 2013, namun saya harus memulainya sesegera mungkin.

Tidak peduli badan masih belum fit karena kerja lembur selama sepekan kemarin. Dan juga perut yang masih belum pada tempatnya gara-gara nekat makan baso malang kemarin siang. Saya katakan kepada diri saya sendiri. Pagi ini.

Selesai shalat Subuh. Minum air putih secukupnya. Mengenakan kaos, celapa lari dan sepatu lari yang baru saya dapatkan. Menyalakan aplikasi Nike Running+ di ponsel Android saya. 3 – 2 – 1, begitu hitungan yang terdengar dari ponsel saya yang memicu saya bergegas jogging.

nike

“You’ve done one kilometer!” begitu kata ponsel Android saya. Pikir saya ini lumayan saya bisa mencapai jarak 1 km. Saya makin bersemangat jogging. Sampai jalanan menanjak di kawasan hutan lor cangkring nafas saya makin terengah dan kepala pusing-pusing. Sampai di sini saya merasa tidak kuat lagi dan memutuskan berhenti jogging. Beberapa menit berhenti kepala saya makin pusing dan rasanya ingin muntah, hehehe

Saya pun memutuskan untuk pulang dan istirahat dulu. Ini baru permulaan.  Jogging yang sebenarnya baru akan saya mulai tahun depan. Tahun 2013. Jadi kali ini log lari dari Nike Running+ di ponsel saya belum saya share baik ke facebook maupun twitter. 🙂

Mudah-mudahan saya segera bisa mencapai jarak tempuh saya seperti dulu yang saya ceritakan di sini.

Musim Bertanam Padi Tiba

Meski agak terlambat, tetapi musim tanam padi sawah di desa dimana saya tinggal akhirnya tiba. Musim hujan tahun ini memang terlambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Terlambat sekitar satu setengah bulan. Sudah begitu, sampai saat ini curah hujan juga belum begitu bagus.

Musim hujan yang kadang terlambat kadang datang lebih cepat dan curah hujan yang kadang kurang kadang berlebih adalah realitas. Kenyataan yang selalu bisa dihadapi dengan wajah bersahaja oleh petani, terutama petani yang ada di desa dimana saya tinggal. Bagaimana pun petani wajib berusaha, harus “menanam”. Bukankah rejeki itu sudah ada yang mengatur. Tuhan. 🙂

Mencangkul Sawah

Mencangkul Sawah

Menanam Padi

Menanam Padi