Melayukan Rumput Rumput Jalanan

Rumput jalanan pada foto itu memang sengaja dibuat layu. Potret ini saya ambil pagi ini di jalan di dekat rumah. Merupakan potret perubahan pada masyarakat dimana saya tinggal juga. Dulu, masyarakat bekerja bakti membersihkan rerumputan di jalanan secara berkala. Meski sekarangpun masih dilakukan. Tetapi masyarakat di daerah dimana saya tinggal sudah semakin sibuk.

Rumput itu dibuat layu agar kemudian mati dengan menggunakan herbisida. Memang sih cara ini jauh lebih murah dan mudah. Meski pasti ada dampak ikutan terhadap lingkungan dan lingkungan sosial yang kelak harus ditanggung secara bergotong royong juga ๐Ÿ˜€

Hujan Lebat dan Mati Listrik Adalah Takdir

Boleh dikata sebagai suatu suratan takdir. Begitulah keadaanya di desa dimana saya tinggal bila sudah tiba masanya hujan lebat yang pasti dibarengi dengan seringnya mati listrik berjam – jam. Seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Yang mana listrik di rumah saya dan rumah tetangga padam alias meninggal dunia dari sekitar jam 3 an sore dan baru nyala lagi pada sore hari berikutnya. Tragisnya mati listrik sampai hampir 24 jam. Kalau listrik mati hanya beberapa jam sih kira semua sudah maklum. Maklum di desa dimana saya tinggal sampai saat ini masih termasuk wilayah Indonesya. Yogya belum merdeka. Dan urusan perlistrikan masih diurus oleh PLN.

Kematian panjang PLN pada beberapa hari yang lalu, sekali lagi, bukanlah yang pertama kali. Dan masyarakat pun telah melaporkannya kepada pihak yang berwajib, yaitu Perusahaan yang didirekturi oleh Pak Dahlan Iskhan. Anak buah Pak Dahlan juga sudah melakukan sesuatu. Jam 10 an malam waktu itu listrik menyala byar pet beberapa kali. Kemudian disusul suara ledakan. Kalau sudah begitu ya sudahlah. Artinya jaringan listrik di desa saya ada yang konslet karena tertimpa pohon – pohon atau dahan ranting yang patah karena terpaan angin penyerta hujan. Putusnya sekring saluran utama listrik ke kampung saya memperingatkan punggawa – punggawa nya Pak Dahlan Iskhan itu untuk melakukan penyisiran jaringan listrik seluas perkampungan pada keesokan harinya dan bila sudah selesai baru mencoba lagi “ngganthol” sekring listrik yang terpasang di sebelah barat rumah mbah Atemo Tolu.

Entah apa benar apa yang saya kata hal ย ini sebagai suratan takdir. Tetapi nyatanya hal ini sudah berlangsung puluhan tahun dan terus berlangsung tanpa ditemukan solusi yang cespleng demi kemaslahatan di masa depan.

Tidak mudah juga bila mengandaikan mengganti jaringan listrik bertiang, saluran udara” dengan jaringan listrik bawah tanah. Saya kira selain secara biaya mahal juga ada banyak pertimbangan lain. Tetapi bila dari muka bumi desa dimana saya tinggal keberadaan tiang listrik dan kabel ditiadakan akan menjadikan desa tampak lebih asri dan tidak ada lagi alasan penebangan pohon – pohon oksigen karena didakwa mengganggu jaringan listrik ๐Ÿ˜€

Saya tidak tahu, sudah berapa posting di blog saya ini yang nggedumel karena listrik mati. Tahu sendirikan betapa tidak nyaman malam – malam tidur dikerumuni nyamuk penghisap darah. Yah salah sendiri kenapa saya mengandalkan Hit Electrik sebagai satpam pengusir nyamuk ๐Ÿ˜€

Bensin dan Gas Susah Dicari

Beberapa Minggu terakhir ini orang – orang harus berburu Bensin di SPBU SPBU. Konon kuota bahan bakar di SPBU, sementara yang saya tahu di sekitar Gunungkidul, dikurangi. Entah apa maksud pemerintah mengenakan kebijakan ini. Hanya denger – denger dari teman, hal ini terkait dengan kebijakan baru pemberlakuan BBM non subsidi bagi kendaraan pribadi yang berusia kurang dari 5 tahun.

Buruan masyarakat kedua adalah Bahan Bakar Gas, terutama untuk tabung gas 3 kg yang bersubsidi itu. Saya malah merasa kasihan dengan tetangga – tetangga yang telah patuh dengan kebijakan pemerintah akan konversi ke gas ini. Kelangkaan yang menyakitkan di tengah musim hujan. Di pedesaan sebenarnya, bila deraan kelangkaan gas tidak berbarengan dengan musim penghujan saya pikir tidak terlalu masalah. Karena masyarakat di pedesaan bisa mencari alternatif bahan bakar kayu untuk memasak.

Beda dengan BBM, desas desus penyebab kelangkaan pasokan gas ini tidaklah banyak yang tahu. Entah itu ulah penimbun atau apa. ย Entahlah dan Entahlah …. ๐Ÿ˜€

Paliyan , Semifinalis DIY Green & Clean 2010

Keren, Paliyan masuk sebagai 60 Padukuhan/RW yang menjadi semifinalis DIY Green and Clean 2010. Tidak hanya sepanduk itu saja yang saya lihat, melainkan sisi kiri – kanan jalanan lintasan jogging saya yang menjadi lebih bersih.

Doa kita semoga Paliyan masuk sebagai finalis dan lebih dari itu bukan semangat menjadi pemenang konteslah yang terpenting, melainkan tumbuhnya budaya di dalam masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat, bersih, hijau atau lebih kereeenya eco friendly.

Dan saya usul mulai bagi pedukuhan/RW yang menjadi semifinalis DIY Green and Clean 2010 sekalian dibersihkan dari spanduk – spanduk semacam dibawah ini :

Lebaran Sebentar Lagi, Ibu – Ibu Bekerja Bakti

Lebaran sebentar lagi. Ibu – ibu bekerja bakti. Iya, jalan – jalan di desa dibersihkan agar nyaman dilalui para pejalan. Sebagaimana puasa Ramadhan memberi kesempatan kepada umat untuk membersihkan diri dan menemukan jalan terang menuju Ridha -Nya

Jalan Kemajuankah?

Foto ini mudah – mudah suaranya dapat terdengar. Dia mau bilang kalau simbol moderenisasi akan dipancangkan di sini di desa dimana sejak dulu marjinal daripada kata “pembangunan”.

Hamparan aspal sebentar lagi akan digelar sepanjang beberapa kilometer mengurangi luas permukaan tanah yang mana pada musim penghujan penting untuk menyerap air hujan.

Tugas permukaan tanah itu sebentar lagi akan naik pangkat menjadi full timer yang bertugas memperlancar para petani di desa untuk menjual dagangan ke pasar Playen atau Wonosari bila tidak laku dijual di Pasar desa Grogol.

Baiklah, ternyata membuat posting dari perangkat bergerak itu belum mudah. Mudah – mudahan, lebaran depan warga yang ada di tanah kembara tidak lagi kena jeblok kubangan jalanan bila hujan tiba.

Salam dari kampung halaman.

Koran Koran Cetak Menggoda

Sehabis menunaikan jogging pagi tadi, lirik lirik mata saya tertarik dengan gambar – gambar yang tercetak pada halaman depan koran – koran yang dijajakan di sekitar pasar Tahunan – Paliyan yang saya lalui. Sudah lama banget rasanya saya tidak menghabiskan waktu di hari Minggu untuk baca – baca koran cetak.

Tidak mudah memang mengendalikan nafsu ini, meski pada akhirnya iman masih bersikukuh untuk tidak tergoda. Kata Mantra itu terus menerus membisik di telinga :

Go Green Go Green 33x
.

I am Voting without Thinking, Hasil Pilkada Gunungkidul di Desa Grogol

Meski sampai waktu pencoblosan saya tetap tidak mempunyai cukup preferensi untuk mencoblos gambar pada kartu suara sebagai bentuk pilihan dan dukungan terhadap salah satu calon Kadal (Kepala Daerah gunungkiduL), saya tetap berangkat ke TPS di Kampung yang tidak jauh dari rumah.

Pertimbangan utama bagi kedatangan saya ke TPS adalah rasa tidak enak/pakewuh kepada para Panitia Pemilih yang semuanya merupakan tetangga dekat. Beginilah rasa harus ditempatkan di lingkungan dimana antar penghuni satu dengan yang lainnya akrab saling kenal. Keakraban dan perkenalan baik itu akan mendorong mereka untuk tahu siapa saja yang belum hadir ke tempat pemungutan menggunakan hak pilihnya. Dan bila waktu pemilihan mendekati akhir tidak jarang mereka akan mengontak dan mengingatkan untuk segera ke TPS.

Menjaga perasaan dan saling pengertian ketetanggaan seperti ini jauh lebih penting melebihi siapapun yang akan tercoblos pada bilik suara oleh tangan saya.

Apa yang terlihat, gambar – gambar calon Kepala Daerah pada kartu suara, sepintas saya ketahui bahwa mereka itu jompowan jompowati. Belum ada tokoh muda Gunungkidul yang tampil sebagai kader daerah. Akhirnya saya mencoblos dengan enteng tanpa banyak pertimbangan. I was voting without thinking this morning.

Sedikit saya informasikan, hasil penghitungan suara di TPS dusun Karangmojo B, desa Grogol, kecamatan Paliyan, kabupaten Gunungkidul sebagai berikut

1. Suharto : perolehan suara : 35
2. Sutrisno : perolehan suara : 47
3. Sumpeno : perolehan suara : 64
4. Yanto : perolehan suara : 9
5. Suara gugur : 2

Sedangkan hasil hitung satu desa Grogol sebagai berikut

1. Suharto : perolehan suara : 550
2. Sutrisno : perolehan suara : 303
3. Sumpeno : perolehan suara : 414
4. Yanto : perolehan suara : 55

Angka – angka yang saya cantumkan merupakan hasil penghitungan suara dan mungkin masih terjadi koreksi.

Mungkin pembaca ada yang tahu hasil di daerah lain atau hasil hitung sementara di tingkat Kecamatan dan KPU D? Silahkan berbagi

Update :

Sumber Kedaulatan Rakyat, Edisi 24 Mei 2010

Hasil Perolehan sampai jam 23:30 WIB

Pasangan No Urut 1 : 129.837 suara
Pasangan No Urut 2 : 119.765 suara
Pasangan No Urut 3 : 146.836 suara
Pasangan No Urut 4 : 11.120 suara

Jogging : Kilometer Ketuju Tertunaikan

Alhamdulillah cuaca pagi ini tidak hujan. Hanya sedikit berkabut. Dan dengan perkelahian melawan kemalasan diri, saya dapat menunaikan ritual jogging seperti yang saya cantumkan dalam cita – cita mulia dalam usaha mensyukuri nikmat sehat yang dikarunikan Allah.

Tantangan kedua setelah pengalahan kemalasan adalah jarak tempuh yang lebih baik dari apa yang telah saya capai minggu lalu. Minggu lalu merupakan jogging pertama setelah masa hiatus karena dokter menyuruh saya beristirahat dari olah raga sepanjang hampir 6 minggu.

Hari ini saya berhenti pada kilo meter ketuju. Memang, saya belum bisa melakukannya dalam waktu sebaik sebelum saya hiatus. Insya Allah waktu merupakan tantangan pada minggu minggu selanjutnya.

Lokasi pengambilan foto adalah di sini dan merupakan tempat indah ujung lintasan jogging saya setiap minggunya.

Perongrong Kehidupan Kita

Sampai siang ini, saya sudah menemukan dua hal yang tidak menjengkelkan. Mudah – mudahan tidak menemukan yang ketiga.

Pertama, sangat menyesakan merayap di jalanan yang padat berada di belakang truk dengan asap hitam. Siang yang panas terik. Lengkap sudah merongrong syaraf kesabaran.

Kedua, masih di siang yang panas itu, melihat kendaraan yang menyebar brosur promosi produk di jalanan ramai. Menyebar dalam arti sebenarnya. Mereka tidak memberikan brosur – brosur mereka kepada orang – orang tertentu. Melainkan berharap ada yang memungut dan kemudian membaca dan tertarik membeli.

Musuh – musuh lingkungan …