Memperbaiki Power Ampli

Maksud saya memang memperbaiki Power Amplifier dalam arti sebenarnya. Bukan software seperti Power Amp, dll. Power Amplifier yang saya rakit sendiri sudah sekitar 10 tahun yang lalu, sudah lama ternyata. Power Amplifier yang sehari-hari saya gunakan untuk men-drive speaker yang menghentakkan musik yang saya putar sehari-hari sampai membuat ruangan berisik. 😀

Kerusakan pada Amplifier saya ini sebenarnya sudah terjadi cukup lama. Tapi masih bisa digunakan. Jadi saya selalu punya alasan untuk menunda memperbaikinya.

Padahal kerusakan pada Amplifier rakitan itu bukan kerusakan yang susah diperbaiki. Gejala kerusakannya hanya noise tidak karuan ketika tombol Volume, Bass, Treble dan Balance diputar untuk suatu pengaturan. Mudah dipastikan komponen yang rusak adalah Potensiometernya. Harga komponen ini juga murah.

Yang membuat malas adalah harus membongkarnya. Mengambil obeng, memanaskan solder, mengelupas dan memotong kabel stereo. Ke toko elektronika untuk hanya beli komponen sekarang juga sudah malas. Hihi, jadi ingat ketika dulu demen-demennya punya hobby ngoprek elektronik, toko-toko ini bagi saya jauh lebih menarik dari toko pakaian dan toko sepatu.

Nah, mumpung sekarang dan besok masih hari Ied, masih hari raya, saatnya untuk ngoprek lagi memperbaiki Amplifier ini. 🙂

Iedhul Korban 1434 H

shalat ied01

Foto oleh Maryanto

Matahari pagi bulan Oktober sudah naik hampir sepenggalah. Pelan-pelan  menyingkirkan hawa dingin musim kemarau yang menusuk tulang. Alunan takbir bergema dimana-mana. Muslim di desa dimana saya tinggal telah mengisi shaf-shaf yang dipersiapkan untuk shalat Ied pagi ini. Pukul setengah tujuh masih kurang ketika Pak Edhi membacakan penguman-pengumanan sebelum shalat dimulai.

Ada beberapa pengumuman yang dibaca Pak Edhi, tetapi yang paling mendapat perhatian adalah jumlah hewan korban yang akan dipotong di masing-masing masjid di desa ini, Desa Grogol. Menurut yang dibaca Pak Edhi ada 22 ekor sapi dan 34 ekor kambing yang akan dipotong sebagai hewan korban. Angka yang banyak. Dan kenyataannya pada siang harinya terkonfirmasi hewan korban yang dipotong lebih banyak lagi. Menjadi 22 ekor sapi dan 48 ekor kambing.

Bila jumlah hewan yang dipotong digunakan untuk mengukur kualitas beragama penduduk Desa Grogol, tentu ini adalah suatu peningkatan kesadaran beragama. Jumlah hewan korban yang dipotong tahun lalu adalah: 20 ekor sapi dan 42 ekor kambing. Bertampah 2 ekor sapi dan 6 ekor kambing. Alhamdulillah sesuatu yang perlu disyukuri.

Di masjid di lingkungan saya sendiri tadi pagi dipotong 3 ekor sapi dan 5 ekor kambing. Untuk dibagi sekitar 100 keluarga. Dengan proporsi ini tentu semua keluarga akan menikmati menu daging yang bisa dikata lebih dari cukup. 🙂

Pengumuman yang dibaca Pak Edhi kemudian yang saya ingat adalah informasi perolehan dana Infaq shalat Iedhul Fitri yaitu Rp. 10.994.300,- . Juga naik dari perolehan Infaq Iedul Fitri 1433 H : Rp 8.709.300,- . Perolehan Infaq Iedhul Adha 1434 H pada pagi tadi juga sudah dihitung dan dikabarnyan oleh Pak Edhi dengan perolehan: Rp 4.773.000.

Bila dinilai dari nominal perolehan infaqnya, angka-angka yang saya tuliskan ini tidak terlalu seberapa. Apalagi bila dibandingkan dengan perolehan di daerah perkotaan atau daerah lain yang berperekonomian bagus. Angka kenaikan per tahun di sini yang patut disyukuri. Arti perjuangan tiap rupiah yang diinfaqkan oleh muslim yang tinggal di pedesaan di Gunungkidul yang terkenal kering, tandus dan tiap musim kemarau seperti sekarang ini harus berjuang mendapatkan air bersih.

Shalat Ied Adha nya sendiri diimami oleh Bapak H Suhari tepat pada pukul 06:30 WIB dan dilanjutkan Khotbah Iedul Adha disampaikan oleh Bapak Mardiyo. Selesainya rangkaian shalat Ied para jamaah segera membubarkan diri. Ada yang langsung pulang ke rumah. Ada yang langsung ke tempat pemotongan hewan korban di masing-masing masjid di dusun masing-masing.

Alih-alih ini tulisan ke-6 tentang Iedul Adha yang saya posting di blog ini. Berarti blog ini setidaknya telah berusia 6 tahun.

Korban tahun sebelumnya:

Kurban Ibadah Sosial

Besok tanggal 10 dzulhijah. Semua muslim termasuk kami semua akan merayakan Hari Raya Iedhul Adha. Atau disebut juga hari Iedul Kurban. Karena pemotongan hewan kurban adalah rangkaian ibadah Iedul Adha bagi muslim yang mampu.

Sekarang, sehari sebelum kurban, banyak muslim yang menunaikan Puasa Arafah. Selamat berpuasa bagi yang sekarang sedang berpuasa Arafah. Di sini, di desa dimana saya tinggal, kebetulan beberapa hari terakhir ini merupakan panas-panasnya cuaca. Indikator cuaca yang terlihat di laptop saya menunjukan 32 derajat. Benar-benar hari yang panas melengkapi ujian puasa Arafah ini.

Ngomong-ngomong panas seperti ini belum ada apa-apanya ya dibanding di Arab Saudi sana, dimana orang-orang sedang menunaikan rangkaian ibadah hajinya. 🙂

Nah, sudah puasa, sudah panas begini, bukan berarti muslim di sini harus bersantai di rumah masing-masing. Yang tidak libur pastinya akan bekerja seperti biasa atau sekolah. Namun yang hari ini selo, mereka akan bekerja bakti biasanya di lingkungan masjid masing-masing. Untuk mempersiapkan tempat pemotongan hewan kurban. Jadi besok begitu selesai shalat Ied, hewan kurban bisa dipotong lebih cepat dan dagingnya bisa terbagikan sebelum tengah hari. Daging kurban bisa dijadikan menu makan siang untuk hari itu.

Enak. Apalagi kalau makan siang dengan lauk daging kurbannya beramai-ramai. Jadi lebih enak banget.

Di desa dimana saya tinggal, Hari Iedhul Adha adalah salah satu momen yang bagus mengumpulkan semua warga. Lebih dari mengumpulkan, namun semua warga, baik kaya atau yang belum kaya, baik para pinisepuhan maupun anak-anak semua berpartisipasi dengan caranya masing-masing. Seorang tokoh masyarakat yang biasanya enggan, pemotongan hewan kurban akan membuatnya tidak canggung-canggung memegangi bagian tubuh hewan yang sedang dipotong-potong. Termasuk ketika menbersihkan kotoran dari jerohan hewan kurban.

Daging kurban pun dibagi merata. Tidak memandang itu siapa. Pokoknya semua jamaah/semua warga sedusun harus merata. Orang-orang dari desa lain yang turut menonton pun harus mendapat pembagian daging kurban.

Hakikat Kurban yang membawa semangat berbagi pun saya rasakan sudah jauh lebih baik dibanding masa kecil saya dulu. Kalau dulu hanya menyembelih 2 atau 3 ekor kambing. Sekarang ini menyembelih beberapa sapi dan beberapa kambing. Makin tahun jumlah hewan kurban makin banyak. Jamaah pun mendapatkan lebih banyak pembagian daging kurban.

Makin banyak hewan yang dipotong pada hari Iedhul Adha jelas bagus. Namun menurut saya ada beberapa hal yang juga perlu dibaguskan. Misalnya, cara memotong hewan kurban yang syar’i dan baik, bagaimana cara memilih hewan kurban yang sehat terbebas cari cacing dan penyakit lainnya, cara memproses daging hewan yang higienis, termasuk cara mendistribusikan yang benar.

Terkait dengan cara pendistribusian saya masih ingat ketika pada jaman dulu daging kurban dibungkus dengan daun jati sebelum dibagikan. Sekarang ini ketika plastik dianggap lebih praktis, masyarakat memilih menggunakan kantong plastik. Namun mereka lupa bahwa kantong plastik berwarna hitam itu mempunyai potensi tidak higienis yang tinggi. Penggunaan kantong plastik kresek hitam ini sudah berlangsung lama sehingga menjadi kebiasaan yang sulit disadarkan, hehe

Happy Ied Mubarak 🙂

Menangkap Ikan dengan Racun

Ikan, pada jaman saya masih di sekolah dasar dulu, pada musim hujan sangatlah mudah ditemukan di desa dimana saya tinggal. Ikan-ikan liar bebas berkeliaran di sungai, di sawah bahkan di parit-parit kecil. Tak heran anak-anak sebaya saya banyak yang menikmati permainan menangkap ikan.

Menangkap ikan tentu saja bukan hanya kesukaan anak-anak saja. Orang muda, orang tua semua suka menangkapi ikan-ikan yang banyak ditemukan dimana. Kalau orang-orang tua umumnya menangkap ikan untuk lauk.

Mulanya mereka menangkap ikan-ikan di sawah, di kolam alam, di sungai dengan alat sederhana seperti kail, jaring, jala, icir dan sejenisnya. Sampai kemudian orang-orang mulai menemukan cara sangat mudah untuk menangkap ikan, yaitu dengan racun atau setrum listrik.

Nah, cara yang terakhir ini yang merusak segalanya. Racun dan setrum merusak ekosistem ikan. Populasi ikan makin lama makin menurun. Sampai sekarang berakibat pada semakin sedikitnya ikan-ikan yang bebas berkeliaran di sungai, di sawah dan di parit-parit. Ikan-ikan tertentu seperti gabus bahkan bisa dikatakan punah.

Populasi ikan yang sampai sekarang sudah sangat menipis ini ternyata belum membuat orang-orang insyaf dari meracun ikan. Tiap kali melihat ada sungai yang alirannya tidak deras dan ada ikannya, banyak orang yang buru-buru ingin meracunnya. Melihat ada ikan-ikan di sawah sudah buru-buru ingin menyetrum ikan. Haduuuuh …

Meracun dan menyetrum ikan, memang secara hukum dilarang. Itu perbuatan illegal. Tetapi ya aturan tetap sebatas aturan. Tidak mudah menegakanya. Masyarakat sebenarnya tahu kalau meracun dan menyetrum ikan itu salah dan bisa dipenjarakan, sekaligus masyarakat tahu kalau aturan itu tidak akan terlalu dipedulikan. Meracun dan menyetrum ikan bagi masyarakat tidak dianggap sesuatu yang melanggar norma jadi tidak ada sanksi sosial bagi yang melakukannya.

Seperti orang mencuri kayu milik hutan. Meskipun kalau tertangkap bisa dihukum, mencuri kayu milik hutan bukanlah perbuatan yang memalukan, karena toh yang dicuri bukan milik warga/milik perseorangan. Tidak ada malu (sanksi sosial) baik bagi peracun ikan maupun pencuri kayu di hutan.

Meracun, menyetrum ikan dan perbuatan merusak alam adalah ancaman yang nyata.  Sangat menjadi tantangan untuk menyadarkan kekhilafan publik ini.

Pengen Mencoba Seminggu dengan Chromebook

Dalam beberapa hari terakhir saya membaca setidaknya o dua pabrikan gadget yang merilis Chromebook. Diantaranya yang saya baca ada di sini dan di sini, masing-masing adalah Acer dan HP dimana selain itu ada Samsung yang juga merupakan peramai Chromebook.

Apa yang membuat Chromebook menarik bagi saya adalah karena Chromebook ini didesain dengan (kelihatan) begitu sederhana. Dengan konsep bahwa semua aplikasi dijalankan dengan Web Browser. Dalam hal ini dengan Google Chrome. Sehingga setahu saya tidak ada aplikasi lain di dalam Chrome book yang berjalan tanpa Web Browser. Atau semua aplikasi dijalankan di suatu server di Internet sana sehingga pengguna tidak lagi perlu membeli dan memasang aplikasi secara lokal.

Hal menarik yang lain dalam suatu Chromebook bagi saya adalah termasuk hampir semua data yang kita punya/kerjakan tersimpan di awan (cloud). Ini penting bila kita sering berganti-ganti gadget dan mobile. Semua akan baik-baik saja sepanjang tersedia koneksi internet.

Nah, yang kedua ini bisa kelebihan dan bisa kekurangan. Karena artinya bila tidak ada internet kita jadi tidak bisa apa-apa tanpa koneksi internet. Tahu sendiri di lingkungan dimana saya tinggal dan di tempat-tempat dimana saya bermobilitas seringkali menemukan kenyataan tidak ditemukan koneksi internet sama sekali. 😀

Saya memang pernah mencoba menggunakan Google Chromebook. Sebatas mencoba saja. Belum menggunakannya untuk menyelesaikan pekerjaan dalam arti yang sebenarnya. Makanya saya sangat penasaran ingin menggunakan Chromebook untuk benar-benar bekerja selama paling tidak satu minggu. Tanpa bantuan komputer konvensional yang lain. Coba lihat sejauhmana saya akan tersiksa atau segembira apa akan saya jadinya.

Hayo siapa yang mau meminjami saya Chromebook selama satu minggu. 🙂

 

Agar Tidak Menyalahkan Alat

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah forum fotografi, ada sebuah pertanyaan. Pertanyaannya kira-kira begini: Kamera dan Lensa seperti apa yang sebaiknya saya beli? Saya sedang mulai belajar memotret.

Seorang teman saya menjawab: Belilah kamera dan lensa termahal yang kamu bisa beli. Kenapa? Supaya bila foto jepretan kamu kurang bagus, kamu tidak serta merta menyalahkan alatmu, kameramu.

Hehehe, bila dipikir-pikir benar juga apa yang ia katakan. Yang mana hal ini sering kali bertolak belakang dengan pendapat kebanyakan orang. Orang akan lebih mudah memutuskan untuk membeli kamera yang murah. Toh sedang belajar. Nanti kalau sudah mulai terampil baru membeli peralatan yang lebih baik.

Teman saya tadi melanjutkan. Seorang yang lebih profesional di bidangnya, baik itu di bidang fotografi atau bidang lain, ia akan mampu menghasilkan karya yang baik dengan peralatan apa pun. Baik dengan peralatan yang high end maupun yang entry level. Ia sudah tahu bagaimana mengoptimalkan apa yang ia punya.

Menonton Malam Ramalan Cupu Panjolo

Bagi masyarakat pedesaan di Gunungkidul, Cupu Panjolo bukanlah nama yang asing. Cupu Panjolo sudah turun-temurun menjadi bahan perbincangan di masyarakat begitu tiba prosesi pembukaan kain penutup benda yang disebut cupu itu. Saya sendiri sudah mendengar para orang tua di desa dimana tinggal membicarakan cupu mistik ini sejak saya kecil. Dulu cerita-cerita mistik itu membuat saya sangat penasaran untuk melihat langsung prosesi Cupu Panjolo. Namun demikian penasaran saya itu baru terjawab tadi malam.

Tempatnya  tidak jauh dari desa dimana saya tinggal. Cukup ditempuh kira-kira 30 menit mengendarai sepeda motor. Yaitu di Dusun Mendak, Desa Girisekar, kecamatan Panggang, kabupaten Gunungkidul.

Mengenai apa cupu itu saya sendiri kurang bisa menjelaskan. Coba lihat foto berikut:

Gambar

Gambar saya comot dari sini. Nampak dalam foto ada 3 buah cupu yang sudah dikeluarkan dari kotak tempat penyimpannya.

Kemudian apa itu prosesi Cupu Panjolo?

Secara singkat prosesi Cupu Panjolo adalah prosesi penggantian kain (berupa kain kafan) yang digunakan untuk membungkus kotak yang mana di dalamnya tersimpan 3 buah cupu. Perlu diketahui bahwa kotak itu dibungkus tidak hanya dengan satu lembar kain. Melainkan menggunakan beberapa kain kafan yang ditata berlapis.

Apa yang menjadi perhatian bagi masyarakat yang menyaksikan prosesi ini ada pada proses pembukaan kain demi kain pembungkus ini. Dijelaskan oleh juru kunci (orang yang memimpin prosesi ini) bahwa tiap lapisan kain terdapat gambar atau simbol-simbol tertentu. Berikut saya cantumkan salah satu tweet dari rangkaian live tweet @AngkringanMedia:

Untuk mencari tahu gambar-gambar lain yang terdapat pada kain pembungkus dan informasi terkait cupu, silakan mencarinya di twitter dengan memasukan hashtag #cupupanjolo

Gambar-gambar dan simbol-simbol yang didapatkan dari kain pembungkus cupu ini, oleh masyarakat kemudian ditafsirkan sebagai ramalan tentang apa yang akan terjadi pada satu tahun ke depan. Mengingat prosesi ini dilakukan haya satu kali setiap tahunnya.

Oleh masyarakat, mulanya tafsir ini digunakan untuk menggambarkan cuaca, iklim, curah hujan dan hal-hal lain yang terkait dengan pertanian. Ramalan-ramalan yang digunakan untuk dasar mengambil keputusan misalnya tanaman apa yang cocok ditanam pada musim hujan yang akan datang, wabah hama tanaman apa yang perlu diantisipasi, dan lain-lain.

Hal demikian tentu mudah dipahami terjadi di tengah-tengah masyarakat agraris. 🙂

Uniknya belakangan ini penafsiran gambar-gambar pada kain pembungkus Cupu Panjolo makin meluas lebih dari ramalan pertanian. Gambar-gambar itu makin sekarang makin dikaitkan dengan perubahan  iklim sosial dan politik di masyarakat. Tak heran prosesi tadi malam banyak dihadiri oleh pelaku politik yang akan bermain pada 2014 mendatang. 😀

Namun demikian tulisan ini jangan ditafsirkan bahwa saya akan turut bermain sebagai pelaku politik pada musim pemilihan yang akan datang ya. hehe

Saya datang melihat langsung prosesi ini sebatas untuk menjawab penasaran kenapa prosesi yang sudah berlangsung tujuh turunan ini, sudah beratus-ratus tahun, kok sampai sekarang masih menarik kedatangan ribuan orang. Saya perkirakan prosesi ini didatangi lebih dari 3000 orang.

Nah, kalau ini perlengkapan Kang Suryaden dan Kang A Nasir semalam ketika mereka me-live streaming dan me-live tweet prosesi Cupu Kyai Panjolo.

Semoga benar apa yang semalam Kang Suryaden katakan untuk mengunggah video prosesi Cupu Panjolo. Agar yang semalam belum menyaksikan bisa melihat video dokumentasinya. Termasuk saya yang sudah tertidur sejak pembacaan beberapa lembar kain. 😀