Whatsapp Di Ponsel Baru Dengan Nomor Lama, Bisa?

Untuk kedua kalinya saya memasang whatsapp di ponsel saya. Di ponsel yang berbeda tentu saja. Tidak pernah ada masalah dalam proses instalasi.

Masalahnya adalah saya ingin menggunakan nomer ponsel pada ponsel lama sebagai ID/nickname/user pada ponsel kedua yang baru saya pasangi whatsapp. Tentu saja yang menggunakan nomer baru pada ponsel baru. Ternyata tidak bisa. Whatsapp mengirimkan sms berisi kode-kode tertentu kepada nomor yang kita masukan sebagai ID. SMS itu hanya bisa dibaca oleh aplikasi Whatsapp.

Saya mencoba men-forward SMS dari ponsel pertama yang menerima SMS verifikasi whatsapp ke nomer di ponsel kedua yang sedang saya install whatsapp. SMS forward -an itu ternyata tidak dimaui Whatsapp. 😀 Harus SMS yang diterima oleh ponsel yang sedang di-install lah yang dimaui whatsapp.

Update:

Akhirnya hari ini, 11 Mei 2016, WhatsApp mengeluarkan aplikasi stand alone, Sila dibaca di artikel: Install Aplikasi WhatsApp di Windows 7

Saya tidak mau menggunakan nomer whatsapp baru karena saya merasa tidak enak dengan teman-teman saya yang sudah meng-add ID whatsapp saya. Lagi pula teman-teman lama saya yang sudah tahu nomer utama saya akan dengan mudah terhubung dengan whatsapp saya bila saya menggunakan nomer lama itu.

Percobaan selanjutnya adalah dengan memasang nomer lama di ponsel baru yang sedang di-install whatsapp. Proses verifikasi berjalan lancar dan whatsapp bisa saya gunakan. Langkah berikutnya adalah dengan melepas nomor lama dan mengganti nomer baru.

Viola, whatsapp sekarang tetap bisa digunakan dengan nomor lama ketika ponsel kedua ini sudah saya pasangi nomer baru. 🙂

Saya memang jarang chatting. Meng-install whatsapp di ponsel kedua, dulunya saya memasang whatsapp di Blackberry, sebenarnya bermaksud untuk memudahkan saya bila kelak tidak lagi menggunakan Blackberry dan BB Messenger. 🙂 Atau untuk alternatif messaging lintas OS. Whatsapp bisa di-install di OS Blackberry, Android, iPhone dan mungkin ponse-ponsel buatan Nokia (Windows Phone)w karena Whatsapp ini dikembangkan oleh Nokia

Saya Datang di Windows 8 Preview di Jogjakarta Plaza Hotel

Oleh Eva saya diundang untuk datang pada acara Lunch and Windows 8 Preview di Jogjakarta Plaza Hotel, tepatnya di Andrawina room. Saya datang, memenuhi undangan Eva. Undangan makan gratis tentu saja tidak layak ditolak dan tidak bisa saya tolak. 🙂

Preview Windows 8. Windows 8 baik developer preview maupun costumer preview memang sudah sejak beberapa waktu bisa di-download dari website Microsoft dan di-install. Namun saya belum  pernah mencoba meng-install sendiri Windows 8. Bukan karena saya tidak penasaran dengan sistem operasi terbaru besutan Microsoft ini. Permasalahannya saya tidak punya komputer nganggur yang spesifikasinya mencukupi persyaratan nyaman untuk menjalankan Windows 8. Saya mulanya berpikir apa asyiknya mencoba Windows 8 di non touch screen device. 😀

Dan sejujurnya saya sendiri lebih mengoptimalkan kebutuhan computing dalam kehidupan sehari-hari dengan software dan operating system yang tidak perlu memusingkan sistem licensing, hehe

Ngomong-ngomong tentang Licensing memang sangat rumit. Microsoft menawarkan banyak sekali jenis dan program licensing untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang mampu membeli license sesuai kebutuhan mereka. Saking banyaknya saya sekarang sudah lupa bagaimana menghitung dan menentukan licencing yang tepat untuk suatu corporate. Presentasi kemarin, licensing memang banyak dijelaskan yang terkait dengan small business, public service, education.

Malah yang saya ingat malah salah satu jenis license yang disebut OEM. Ternyata License OEM yang melekat pada hardware, misalnya laptop, maka license itu akan hangus bila misalnya laptop yang dipasangi license OEM mengalami kerusakan pada mainboard dan processor. Nah kalau kasusnya seperti ini sudah jatuh masih tercekit license. Makanya sebelum menentukan License apa yang akan dipakai jangan lupa membaca Term of Service dulu ya. 🙂

Kemudian pada sesi utama, tidak banyak hal baru yang saya tahu. Semua what new on Windows 8 sudah saya baca di internet. Bedanya hanya kemarin saya menyaksikan demo Windows 8 secara langsung.

Selebihnya saya ingin menampilkan foto-foto di bawah ini saya. Tidak terlalu berkaitan tidak apa-apa, bukan? 😀

 

 

 

Mainan Baru: Arduino Leonardo

Arduino Leonardo

Arduino Leonardo

Ini mainan baru saya, Arduino Leonardo board. Bila Anda suka elektronika dan micro controller seperti saya, pasti akan mengerti seberapa sexy mainan ini. Jadi jangan heran bila Arduino Leonardo, board yang dibuat di Italia ini akan membajak baik waktu di luar jam kerja maupun mencuri-curi waktu di tengah-tengah kerjaan yang menumpuk, hihi.

Saya mengucapkan terimakasih kepada sahabat saya, Emanual Setio Dewo, Arduino dan Famosa Studio yang telah mengantarkan  “pacar baru”  ini secara gratis.  🙂

Happy Ngoprek saya ucapkan buat diri saya sendiri. 🙂

Sering Ganti Operator Seluler, Tidak Masalah?

Merasa tidak puas dengan satu operator seluler untuk ponselnya, seorang teman saya langsung mengganti nomer selulernya dari operator yang berbeda. Kurang puas lagi, ganti lagi. Masih belum puas ganti lagi, dan seterusnya. Nomor ponsel bisa berganti beberapa kali dalam beberapa bulan saja. Ini tidak hanya terjadi pada teman saya itu saja. Saya perhatikan akhir-akhir ini banyak orang yang semakin mudah memutuskan hubungan dengan satu operator seluler kemudian menggunakan nomor baru dari operator seluler yang lain.

Dulu, saya mengira nomor telepon/handphone bisa digunakan untuk mengikat pelanggannya. Operator seluler dulu (sampai sekarang?) enggan menggunakan Mobility Number Portable, dimana nomer telepon seluler mutlak milik pelanggan sehingga pelanggan tidak perlu khawatir kehilangan nomor yang telah dipakainya begitu berganti layanan dari operator lain.

Ternyata saya salah. Tidak perlu Mobility Number Portable untuk memerdekakan orang. Perkembangan jaman (baca: trend teknologi) kini menunjukan tanda-tanda bahwa nomer yang mutlak dikuasai operator tidak akan lagi bisa mengikat seseorang untuk tidak dengan merdeka berganti operator.

Saat ini, yang saya lihat, orang-orang mulai meninggalkan nomer telepon/handphone sebagai identitas mereka dalam berkomunikasi. Bisa dilihat salah satunya dari signature email yang dibuat banyak orang. Mereka lebih suka memasang twitter, facebook, google+, instant messengger, voice chat, voipp dan lain-lain. Yang kesemuanya itu sangat tidak bergantung dengan operator/provider. Kartu nama yang saling kita pertukarkan pun saat ini kontak tidak melulu nomor telepon/handphone, melainkan id email, social media dan instant messenger. Benar?

Faktor lain seperti kemudahan menggunakan layanan prabayar produk dari operator/provider, tidak adanya kontrak dengan operator dan perkembangan teknologi yang menjadikan memutakhirkan kontak dapat dilakukan secara masal dalam waktu singkat adalah hal lain yang makin tidak menghalangi orang untuk tidak berpindah layanan.

Jadi apa yang bisa digunakan oleh operator/provider untuk mempertahankan loyalitas pelanggan? (Kualitas DAN Harga)? atau (Kualitas ATAU Harga)? 😀

Lebih Mudah Beli Tiket Kereta Api Melalui Web

Masih ingat pada tahun lalu saya menuliskan pengalaman saya membeli tiket kereta api dengan layanan telepon 121. Kali ini saya akan membagikan pengalaman membeli tiket kereta api dengan lebih mudah, yaitu dengan membelinya melalui web PT Kereta Api. Saya menyebut cara ini lebih mudah karena kita tidak membutuhkan pulsa telepon dan mengulang-ulang jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaaan yang diperlukan petugas layanan pelanggan. Saya juga jadi tidak memerlukan kertas dan alat tulis untuk menuliskan kode pembayaran dan kode booking.

Cara membeli tiket Kereta Api Online melalui website PT Kereta Api itu pun sangat mudah. Tangkapan layar berikut ini saya pikir akan mudah dipahami oleh banyak orang.

Di halaman utama inilah kita langsung bisa memilih stasiun keberangkatan, stasiun tujuan beserta hari keberangkatannya.

Baca lebih lanjut

Dapat Kiriman e-Toll Card Mandiri Pra Bayar

Siang kemarin, di meja saya, saya mendapati sebuah paket yang dikirim melalui Tiki. Paket itu berisi kartu e-Toll Card. Salah satu produk kartu prabayar Bank Mandiri. Mandiri e-Toll Card (mandiri prabayar) ini dikirim oleh Mandirifiesta.

Mandiri e-Toll Card

Mandiri e-Toll Card

Kartu prabayar ini, Mandiri e-Toll Card, dirancang utamanya untuk memudahkan pengendara mobil untuk melakukan pembayaran jalan tol. Saat ini beberapa operator jalan tol di Jakarta -lah yang telah bekerjasama dengan bank Mandiri. Apakah ada operator jalan tol di luar Jakarta yang telah bisa melakukan pembayaran dengan e-Toll Card. Saya tidak tahu.

Saat ini saya tinggal di Gunungkidul. Belum punya mobil. Mobilitas saya kebanyakan di area Yogyakarta mengandalkan angkutan umum. Fungsi e-Toll Card untuk melakukan pembayaran tol belum bisa saya gunakan. Kecuali bila saya sedang ke Jakarta, naik taxi dan iseng menggunakan kartu ini untuk membayar tol yang dilalui taxi yang saya gunakan. 🙂

Alih-alih, sampai mengetik paragraf ini saya jadi senyum-senyum sendirian. Saya jadi ingat doa saya pada beberapa bulan lalu ketika pada lepas tengah malam saya terpaksa mengantarkan bapak saya ke Rumah Sakit Nur Rohmah karena sakit diare yang tidak tertahankan. Lepas tengah malam itu saya mengantarkan ayah saya hanya dengan berboncengan sepeda motor. Bisa dibayangkan betapa menderitanya sakit masih ditambah dengan dinginnya menembus malam dengan bersepeda motor. Saya berdoa kepada Alloh supaya keluarga saya diberi mobil keluarga agar kelak bisa digunakan untuk menolong hal-hal darurat  mendesak seperti itu.

Saya tidak tahu apa rencana Tuhan. Barangkali e-Toll Card ini diberikan terlebih dulu kepada saya sebelum doa saya itu kelak dijawab. e-Toll Card ini semoga kelak bisa saya gunakan untuk membayar biaya toll beneran. 🙂

Ngomong-ngomong beberapa waktu lalu saya melihat logo Mandiri Prabayar di halte TransJogja dan iklan koran Mandiri Prabayar untuk membayar Trans Batik Solo. Mudah-mudahan makin banyak merchant yang bekerjasama dengan Mandiri Prabayar. 🙂

Pengen Sepeda (an)

Polygon Plateau 4.0

Polygon Plateau 4.0

Tiba-tiba jadi kepingin sepeda(an) lagi. Membayangkan punya sepeda MTB lagi dan beberapa kali seminggu bisa bersepda berangkat dan pulang kerja.

Kalau melihat sepeda Polygon yang sudah menjadi besi tua di belakang rumah itu mengingatkan kalau dulu (sekitar tahun 1999) sudah beberapa kali ke pantai-pantai selatan Gunungkidul berkendaraan sepeda. Bahkan pantai yang terjauh saya jangkau dengan sepeda adalah Pantai Parang Tritis. 🙂 Sejauh apa jarak pantai Baron, Ngrenehan, Ngobaran dan Parangtritis dari rumah saya. Pokoknya jauh. Saya tidak tahu persis. Jaman itu saya belum punya smartphone dan belum ada aplikasi tracking berbasis GPS semacam Endomondo. 🙂

Baiklah mudah-mudahan rejeki mengantarkan sepeda gunung dengan spesifikasi Plateau 4.0 atau yang setara ke tangan saya. Begitu sepeda itu jatuh ke tangan saya, akan saya gunakan pertama kali untuk menempuh jarak ke tempat kerja saya sekarang.

Foto Sepeda Polygon Plateau 4.0 saya ambil dari:

http://id.polygoncycle.com/index.php?pgid=d_bike&bikeid=570&par=8

Regenerasi “Jayeng”

Telah saya tuliskan berulang-ulang, bahwa sejak dulu, di desa dimana saya tinggal, teh merupakan minuman default untuk setiap acara. Apa yang saya lihat di hajatan pada beberapa waktu lalu pun belum berubah. Termasuk siapa peramu sajian teh (jayeng) untuk acara hajatan di desa dimana saya tinggal. Masih bapak-bapak yang ini dan itu saja. Bapak-bapak yang sudah mengabdi sebagai jayeng desa sejak saya masih kecil.

Jayeng di Acara Hajatan

Jayeng di Acara Hajatan

Tidak ada regenerasi. Sampai sekarang belum kelihatan ada pemuda yang berminat meneruskan pengabdian bapak-bapak itu untuk menyajikan kekhasan wedhangan dalam acara-acara hajatan, gotong-royong, sambatan, rembug desa, dan lain-lain. Dulu sebenarnya saya berharap kepada teman saya, yaitu Si Kus dan Sutan yang di antara teman sebaya adalah yang paling piawai dalam meramu teh. Namun mereka sekarang telah memilih jalannya untuk mengadu nasib di rantau.

Saya jadi termenung membaca komen Pak Hery Nugroho di suatu foto yang saya unggah di jejaring sosial. Kalau tidak ada regenerasi, akankah kelak wedhang teh ini kedudukanya dalam sebuah hajatan, sambatan, gotong-royong, gugur gunung dan acara rembug desa akan digantikan oleh teh botol dan teh kotak.

Bukan hal yang mengada-ada karena saat ini gelas-gelas air putih di meja prasmanan telah digantikan oleh botol-botol air kemasan ukuran gelas.

Pramu Ladi/Juru Ladi di Acara Hajatan

Pramu Ladi/Juru Ladi di Acara Hajatan

Masih di acara hajatan yang sama di desa dimana saya tinggal. Seharusnya Pramu Ladi/Juru Ladi merupakan tugas para pemuda di suatu desa. Namun foto di atas bercerita sebaliknya. Dengan wajah-wajah lama yang tetap eksis. …

Ada satu pertanyaan, apa tugas-tugas seperti ini memang sudah sampai pada masanya di-out sourcing-kan? Dimana keluarga yang punya hajatan tinggal membayar sejumlah uang kepada penyedia layanan pesta dan terima beres saja tanpa keterlibatan lingkungan sosial dimana mereka tinggal. 🙂 Dengan kata lain sistem sosial yang makin individualis menjadi mudah diterima.

September Ceria

… semoga tidak disusul Desember Kelabu.

Selamat berakhir pekan. Berbahagialah. 🙂