Laptop Terbaik? Seperti Apa?

Permasalahan saya dalam mencari sebuah laptop terbaik sebenarnya hanya satu saja: budget yang terbatas. Mungkin ini ada benarnya. Bila mempunyai budget tanpa batas saya akan leluasa memilih sebuah laptop yang persis seperti yang saya inginkan, sesuai yang saya impikan.

Benar bila punya data yang banyak akan mudah memilih sebuah laptop yang akan dipakai dimana-mana setiap hari?

Sebenarnya laptop terbaik itu yang seperti apa sih? Bila pertanyaan seperti ini ditanyakan maka kebanyakan orang akan menjawab itu adalah laptop yang sesuai kebutuhan.

Laptop yang diperlukan oleh seorang pekerja kantoran yang kebanyakan pekerjaannya adalah menyiapkan dokumen, mengolah data, menyiapkan presentasi, berkorespondensi melalui email dan sedikit entertainment di sela-sela bekerja akan berbeda dengan kebutuhan laptop seorang fotografer dan videografer, berbeda dengan seorang desainer sekaligus web developer, berbeda dengan seorang blogger sekaligus pelaku jurnalisme warga.

Muncul pertanyaan. Apakah laptop yang cocok untuk seorang videografer tidak bisa digunakan oleh seorang pekerja kantoran dan seorang blogger. Jawabnya tentu saja bisa, meski tidak berlaku sebaliknya.

Fotografer dan Videografer membutuhkan sebuah laptop dengan performa tinggi, kapasitas media penyimpanan yang besar, dan layar premium berukuran besar, berdaya batere yang besar pula. Tak heran bila laptop ini akan berukuran besar, berat secara fisik dan berat di sisi budget. Seorang blogger tentu tidak perlu laptop setangguh milik seorang videografer. Laptop yang lebih tipis, lebih ringan dan daya tahan batere sehari penuh pasti akan lebih ia sukai.

Saya sendiri lebih suka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat seperti menyunting foto dan video di rumah dengan menggunakan PC Desktop ketimbang laptop. Untuk sebuah laptop berikut ini yang akan membuat saya suka:

Bobot yang lebih ringan, desain yang tipis, simpel dan tentu saja modern

Bobot yang ringan ini penting mengingat laptop akan lebih banyak saya gunakan pada berbagai kesempatan dan tempat. Ketika bepergian tas saya akan berisi sebuah laptop, dua ponsel, mungkin sebuah tablet, power bank, charger dan lain-lain. Saya ingin sebuah laptop yang tidak membuat tas penuh dan tidak menambah beban tersendiri bagi punggung.

Layar

Dalam bekerja sehari-hari saya lebih banyak menghabiskan waktu menatap monitor, layar komputer. Saya menginginkan sebuah laptop dengan layar yang mampu menghadirkan detil, kecerahan yang cukup dan warna-warna yang segar. Dengan demikian semoga mata tidak lekas bosan dan lelah. Semenjak kehadiran teknologi high dpt/retina display pada layar ponsel, mata saya pun makin manja dengan meningkatkan standarnya. Mata saya makin kurang toleran dengan pixel-pixel yang nampak pada layar konvensional dan merasa cape dengan warna-warna pucat.

Keyboard dan Touchpad

Papan yang tiap hari saya andalkan untuk berinteraksi dengan laptop atau komputer. Keyboard dan touch pad mempunyai peran langsung bagi produktifitas saya dalam bekerja. Saya punya pengalaman menarik. Beberapa tahun yang lalu ketika bersama rekan mengerjakan sebuah proyek, saya dibelikan sebuah laptop dengan spefisikasi mumpuni pada masanya. Laptop yang berprosesor Intel core i5, RAM 4 GB, GPU nVidia GeForce dan HD 500 GB. Sayang laptop itu tidak berhasil meningkatkan produktifitas karena keyboard dan touchpad nya yang kurang bagus. Tidak nyaman untuk mengetik dan touch pad sering tersentuh secara tidak sengaja oleh telapak tangan yang mengakibatkan frustasi karena cursor loncat-loncat kemana-mana.

Daya Tahan Batere

Apa yang membedakan PC dan laptop adalah kemampuannya untuk bekerja jauh dari colokan listrik. Makin lama sebuah laptop mampu bekerja tanpa colokan listrik makin bagus. Bagi saya laptop yang mampu bertahan 6 sampai 12 jam tanpa dicolokan ke sumber listrik akan menjadi pilihan terbaik.

Performa Pemrosesan (Processing Power)

Ini ditentukan utamanya oleh chip processor, RAM, GPU, internal storage dan komponen-komponen lainnya yang terpasang pada logic board. Saat ini teknologi sudah memungkinkan akan hadirnya sebuah processor yang berkinerja canggih. Tinggal bagaimana pabrikan laptop pintar-pintar memilihnya ketika satu sisi menginginkan performa maksimal sementara di sisi lainnya daya tahan batere beserta desain yang tipis dan ringan menjadi premium.

Konektifitas

Laptop untuk bekerja tidak boleh individualis. Ia akan terkoneksi dengan perangkat lain seperti printer, scanner, headset, komputer lain dalam jaringan lokal dan internet. Rasanya saat ini hampir semua laptop mempunyai sebuah wireless ethernet interface, bahkan dengan teknologi wifi terkini: 802:11 AC Wireless Networking. Keberadaan konektifitas bluethooth 4.0 bagi saya tidak bisa ditawar-tawar.

Storage/Media Penyimpanan

Harddisk sebagai media penyimpanan dalam sebuah laptop saat ini sudah tidak jaman. Harddisk berkecepatan terbatas, haus daya batere, dan akan mengalami bad sector dengan sedikit saja benturan. Solid State Drive atau SSD telah menjadi standar bagi perangkat mobile ini. Kapasitas sebesar 256 GB barangkali mencukupi. Saya sendiri lebih akan memilih yang 512 GB. SSD berkapasitas 1 TB saat ini masih cukup mahal.

Sudah tahu apa Laptop baru yang saya impikan? 🙂

Pengen Sepeda (an)

Polygon Plateau 4.0

Polygon Plateau 4.0

Tiba-tiba jadi kepingin sepeda(an) lagi. Membayangkan punya sepeda MTB lagi dan beberapa kali seminggu bisa bersepda berangkat dan pulang kerja.

Kalau melihat sepeda Polygon yang sudah menjadi besi tua di belakang rumah itu mengingatkan kalau dulu (sekitar tahun 1999) sudah beberapa kali ke pantai-pantai selatan Gunungkidul berkendaraan sepeda. Bahkan pantai yang terjauh saya jangkau dengan sepeda adalah Pantai Parang Tritis. 🙂 Sejauh apa jarak pantai Baron, Ngrenehan, Ngobaran dan Parangtritis dari rumah saya. Pokoknya jauh. Saya tidak tahu persis. Jaman itu saya belum punya smartphone dan belum ada aplikasi tracking berbasis GPS semacam Endomondo. 🙂

Baiklah mudah-mudahan rejeki mengantarkan sepeda gunung dengan spesifikasi Plateau 4.0 atau yang setara ke tangan saya. Begitu sepeda itu jatuh ke tangan saya, akan saya gunakan pertama kali untuk menempuh jarak ke tempat kerja saya sekarang.

Foto Sepeda Polygon Plateau 4.0 saya ambil dari:

http://id.polygoncycle.com/index.php?pgid=d_bike&bikeid=570&par=8

Paragraf Writing : Saya pengin buku ini

Paragraf Writing. Sebuah buku yang menarik perhatian saya ketika kemarin saya sedang jalan jalan di Gramedia untuk sekedar melihat lihat. Buku ini dari desain covernya memang menarik serta ukuran buku yang tidak biasa. Berbeda dengan buku buku lain yang di pajang di rak Gramedia yang umumnya di bungkus plastik. Rupanya, buku ini tidak. Sehingga saya dapat membaca baca bagian isi untuk memastikan apakah isi semanarik covernya. Untuk orang yang suka menulis amatiran di blog curhat ini, ternyata, dari beberapa halaman awal yang saya baca, buku ini menawarkan solusi untuk kesulitan kesulitan saya dalam suatu penulisan yang enak di baca dan logis.

Apa yang saya baca dengan singkat dari buku ‘Paragraf Writing’ di Gramedia dimana saya bisa paham dan ingat sampai sekarang adalah bahwa paragraf yang baik harus memiliki 3 unsur kalimat. Kalimat Topik, suatu kalimat dimana ide utama dari paragraf ditaruh. Kalimat Pendukung, yang bisa berupa kalimat kalimat narasi untuk memperkuat ide ide utama dan terakhir; adalah Kalimat Kesimpulan dimana penulis menunjukan untaian logika dari rangkaian antar kalimat dalam suatu Paragraf. Melalui contoh – contoh yang tertera dalam buku dan penjelasan penjelasan yang mengikuti, saya merasakan seharusnya, memang seperti itulah cara menyampaikan ide melalui bahasa tulisan kepada orang lain.

Seiring dengan keinginan saya untuk membantu diri  memperbaiki kualitas komunikasi melalui bahasa tulisan. Karena selama ini apa yang saya perbuat dalam setiap penulisan belum merupakan cerminan ‘Paragraf Paragraf Logis’, bahkan gagal menyampaikan ide penulisan itu sendiri. Buku ini merupakan buku kedua. Sedangkan yang pertama adalah Sentence Writing. Untuk yang Sentence Writing ini, saya belum sempat men snapshot isinya. Namun demikian saya menduga pasti sebagus buku keduanya. Karena kedua buku ini saling berkaitan dan berseri, sepertinya akan lebih enak membacanya secara berurutan dan bertahap.  Buku Buku ini benar benar dalam wish list saya.

**Karena harga kedua buku ini, ‘Sentence Writing’ dan ‘Paragraf Writing’ mahal untuk ukuran saya, maka saya kemarin memutuskan menunda untuk  membeli buku ini sampai kesehatan dompet membaik. hehehehe