Selamat Iedul Fitri 1433 H

Kalau boleh saya mengatakan Ramadhan 1433 H ini sangatlah istimewa. Istimewa sedari awal sampai akhir. Sampai Iedul Fitri hari ini.

Ummat Islam di Indonesia mengawali Ramadhan pada hari yang berbeda. Setidaknya ada yang memulai pada tanggal 20 Juli dan ada yang memulai pada tanggal 21 Juli. Dan semuanya baik-baik saja. Lebih istimewa adalah pada 10 hari terakhir Ramadhan. Tiap malam merupakan malam ganjil. Malam dimana dikisahlakn Lailatul Qadar turun. 🙂

Hari ini ummat Islam berlebaran di hari yang sama. Jamnya berbeda-beda tentu saja.

Saya mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir Bathin. Kembali ke Fitri. Tekan tombol reset. Kosong-kosong. 🙂

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Shalat Iedul Fitri di Lapangan Desa Grogol

Ada yang sama antara lebaran tahun ini dan tahun lalu, yaitu sama-sama dilaksanakan dibawah kehangatan Matahari musim kemarau. Jadi Anda jangan suudzan mengira foto-foto ini saya ambil dari foto-foto tahun lalu hanya karena ingat Ramadhan 1432 H di sini. 🙂 Anggap saja nampak sama nyata beda. 😀

 

Merayakan Buka Puasa Terakhir

Kemarin saya tidak sempat nge-blog. Jadi peristiwa kemarin akan saya blog -kan sekarang.

Sabtu kemarin kami genap berpuasa 30 hari. Dengan demikian, tanpa perlu menunggu keputusan sidang isbat, sudah bisa dipastikan hari ini kami berlebaran. Ber-Iedul Fitri. Petang kemarin merupakan buka puasa terakhir. Alhamdulillah. Allohuakbar.

Saya mengundang adik-adik dan teman-teman saya untuk berbuka puasa bersama. Saya ingin mengajak adik-adik dan teman-teman yang sekarang sudah tidak bisa saya jumpai sewaktu-waktu itu karena telah merantau dengan sedikit istimewa. Istimewa tidak harus mewah bukan. Istimewa ala kadarnya. Ngumpul-ngumpul itu sendiri bagi saya merupakan peristiwa teristimewa itu sendiri.

Saya mengistimewakan buka bareng itu dengan ingin mengajak makan-makan dengan masakan yang kami masak sendiri. Tidak masalah kami tidak bisa memasak. Ada google yang bisa menyodorkan aneka resep dan cooking tips dalam sekejap. Apa yang kami masak adalah daging dan iga sapi. Sapi yang sembelihan hasil patungan oleh teman-teman sekerjaan saya.

Jam setengah lima sore, saya mengajak teman-teman untuk menikmati sunset di Bukit Sodong. Sengaja menjadikan pendakian bukit sodong yang terjal dan suram sebagai ujian terakhir pada penghujung Ramadhan 1433 H. Perjalanan mendaki yang berat ini tidak sia-sia. Sunset yang indah mewah keemasan menyambut kami dengan pesonanya sendiri.

Sunset di Bukit Sodong

Sunset di Bukit Sodong

Matahari tenggelam sore itu berlangsung begitu cepat. Dalam hitungan menit. Matahari berlindung di balik haribaan semesta. Masya Alloh.

Menit-menit berikutnya kami habiskan dengan foto-foto berikut ini:

Berpose di puncak Bukit Sodong - Paliyan

Berpose di puncak Bukit Sodong – Paliyan

Berpose di puncak Bukit Sodong - Paliyan

Berpose di puncak Bukit Sodong – Paliyan

Begitu waktu berbuka tiba kami segera berbuka dengan air mineral, beberapa teh botol dan biskuit yang kami beli tadi di suatu mini market di Paliyan.

Kami segera bergegas beberapa saat kemudian menuruni bukit dan segera kembali ke rumah saya yang berjarak kira-kira 7 km. Shalat Maghrib. Dan berbuka dengan menu daging sapi yang kami persiapkan tadi ….

Menu Berbuka yang Sederhana

Menu Berbuka yang Sederhana

 

Menonton Upacara 17 -an

Upacara 17 Agustus 2012 di Kecamatan Playen

Upacara 17 Agustus 2012 di Kecamatan Playen

Untuk ketiga kalinya kemarin saya menonton Upacara 17 Agustus -an yang dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadhan sekaligus bertepatan dengan musim kemarau yang kering dan panas.

Upacaranya sendiri berlangsung lancar. Hanya saja kelihatan kurang khitmad dan tertib. Barisan kurang terlihat tegap dan rapi. Tidak mudah melaksanakan Upacara Bendera di lapangan di tengah lapangan terbuka di bawah terik matahari yang mana sebagian besar peserta upacara merupakan siswa-siswa yang kebanyakan juga sedang menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Peserta upacara dari kelompok masyarakat umum pun tidak ubahnya seperti siswa-siswi itu.

Tidak banyak kemeriahan sepanjang peringatan tahun (tahun) ini.

Saya jadi membayangkan, betapa penuh perjuangan dan dedikasinya para founding father dan pahlawan pejuang kemerdekaan yang mempersiapkan kemerdekaan kita 67 tahun yang silam yang juga dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sekaligus berhadapan dengan ancaman Jepang dan Belanda. 🙂

 

 

Mudik Telah Tiba

Melalui Facebook (hehehe, lagi-lagi sumber facebook), pagi ini saya mengetahui salah seorang teman kampung saya telah tiba di rumah dengan selamat, alhamdulillah :),  setelah menempuh perjalanan jauh mudik, pulang dari tanah rantau, Jakarta, untuk merayakan lebaran bersama keluarga di kampung tumpah darah tercinta. Selamat berbahagia.

Di desa dimana saya tinggal, yang mana kebanyakan pemuda-pemudinya mengadu nasib di rantau, mudik lebaran merupakan bagian istimewa dari ibadah Ramadhan. Rutin tiap musim lebaran. Ada yang kurang bila ibadah mudik belum tertunaikan. Mereka rela membayar ongkos mahal untuk mudik. Mudik harus dibayar dengan ongkos angkutan yang melambung, keruwetan lalu lintas arus mudik, kenaikan harga kebutuhan sampai masalah pengupahan di tempat kerja dan tunjangan hari raya yang belum bisa dinikmati semua pekerja.

Saya sendiri belum pernah menunaikan ibadah mudik. Saya termasuk pemuda di desa dimana saya tinggal yang masuk dalam pengecualian. Saya memutuskan untuk tidak merantau. Paling tidak sampai saya mengetik posting ini. Jikalau saya sering bepergian menempuh jarak yang bahkan lebih jauh belumlah bisa dianggap merantau, apalagi mengembara. Rutinitas terkait mudik yang saya lakukan tiap lebaran adalah menyambut teman-teman saya sepulang mengadu nasib.

Ini menyenangkan sekaligus mengharukan. Saya bisa belajar banyak hal dari oleh-oleh cerita yang sarat experience yang dibawa oleh teman-teman dari tanah rantau. Ada kisah sukses, ada perjalanan, ada perjuangan hidup, ada pengorbanan yang harus dibayarkan ketika keputusan meninggalkan zona aman (baca: kampung halaman) yang dibuat dengan gagah berani. Tentu saja keputusan itu tidak selalu bisa membawa pulang harapan. Tetapi pelajaran pentingnya adalah tidak ada yang bisa diharapkan tanpa keberanian (mengambil keputusan).

*Mengelus-elus jidat merasa habis ditepok*

Bukankah Nabi Muhammad dulu juga berhijrah untuk menggapai sukses berdakwah. Dalam taraf tertentu saya pikir merantau bisa diartikan sebagai hijrah. Berlebihan? Tidak ya?

Selamat Mudik. 🙂

Kurang Waktu Membaca

Setiap kali datang buku baru dan belum bisa membacanya karena alasan waktu, saya selalu berusaha memaafkan diri dan mengatakan kepada diri sendiri pula bahwa buku-buku ini akan saya baca pada hari-hari setibanya bulan Ramadhan. Saya pikir bukankah enak ngabuburit menanti datangnya waktu berbuka dengan membaca buku.

Nyatanya tidak semudah itu. Kesibukan tetap saja mengalir seiring berjalannya hari demi hari di Ramadhan kali ini. Bahkan hampir separo dari yang saya kerjakan belakangan ini sama sekali tidak saya duga sebelumnya. Semuanya datang sebagai kejutan Ramadhan sebagai pekerjaan lebih. Kalau tidak mau dibilang lembur. hehe

Saya baru bisa benar-benar meluangkan waktu untuk membaca sejak kemarin. Alhamdulillah seharian ini saya menikmati bisa membaca sepenuhnya dan Insya Alloh sampai besok-besok di penghujung Ramadhan 1433 H  waktu membaca masih leluasa saya nikmati.

Ini adalah bacaan saya hari ini. Salah satu dari dua buah buku yang diberikan oleh Mas Karmin Winarta. Buku yang satunya sudah saya baca pada awal puasa ini.

Ku Antar ke Gerbang - Ramadhan K.H

Ku Antar ke Gerbang – Ramadhan K.H

Review buku ini mudah-mudahan bisa saya tuliskan di blog ini. Kelak … 🙂

Bulan Bintang

Dalam perjalanan kaki ke masjid untuk shalat Subuh kali ini, saya melihat ada pemandangan malam (menjelang pagi) yang menurut saya langka. Yaitu satu bintang berhadapan dengan bulan sabit. Seperti visual yang kita lihat di mustaka/kubah masjid. Ini pemandangan anggun.

Saya terpesona. Saya menikmati.

Sepulang dari shalat Subuh, bulan dan bintang yang sama, alhamdulillah masih bisa saya nikmati kembali. Hanya kali ini awan-awan tipis yang bergerak membuatnya nampak lebih redup.

Begitu saya membuka twitter, saya jadi tahu, saya bukanlah satu-satunya orang yang beruntung yang menikmati pemandangan yang saya katakan langka ini. Ada banyak orang yang timeline-nya membicarakan bulan bintang. Ini foto yang saya dapat di twitter. 🙂

Laundry Kiloan

Saya perhatikan akhir-akhir ini, bisnis laundry kiloan marak dimana-mana. Termasuk di Gunungkidul. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok di daerah dimana saya tinggal.

Barangkali dua tahun yang lalu tidak banyak orang yang berpikir kalau bisnis laundry kiloan bisa jalan di Gunungkidul. Orang Gunungkidul kebanyakan tidak sibuk.

Namun kalau lebih dipikir lagi, sebenarnya masyarakat Gunungkidul lebih cocok untuk tidak mencuci sendiri. Kenapa?

Ini pengalaman saya sendiri. Tiap musim kemarau, di Gunungkidul terjadi sulit air. Sumur yang menjadi pemasok utama kebutuhan air bersih, kebanyakan mengering. Aliran air bersih dari ledeng PAM/PDAM juga demikian. Tiap musim kemarau sering kali air ledeng macet. Kalau sudah seperti itu masyarakat terpaksa membeli air tangki dengan harga antara Rp 60.000 – Rp 100.000,- per tangki berkapasitas 5000 liter.

Air dengan harga semahal itu tentu saja sangat tidak efisien untuk mencuci. Ongkos mencuci sendiri masih terdiri dari deterjen, pewangi dan listrik bagi yang menggunakan mesin cuci dan untuk menyetrika. Padahal ongkos laundry kiloan di daerah dimana saya tinggal mulai Rp 2.500,- . Jauh lebih murah.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu malas untuk mencuci sendiri. Namun kalau dihitung-hitung ketemunya akan jauh lebih efisien bila saya out source ke tempat laundry terdekat. Saya masih mencuci sendiri tinggal untuk beberapa alasan, diantaranya: bila pakaian itu akan segera saya pakai lagi, pakaian yang saya pikir akan rusak bila dimasukan ke laundry kiloan, pakaian yang perlu langsung dicuci karena basah kena air hujan, dan lain-lain. 🙂

Ada sebenarnya yang dikompromikan ketika mencuci pakaian di tempat laundry kiloan. Saya tidak suka dengan kebanyakan pewangi yang digunakan. Saya merasa cocok dengan pewangi pada M*lto atau R*nso cair. Atau sebal karena pakaian tertukar atau ada pakaian yang hilang. Sejujurnya saya pernah mengalami komplain karena T-shirt kesayangan saya hilang. 😀

Charging Room

Charging Room

Charging Room

Mengisi baterai gadget merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Dimana baterai mulai menipis saat itu pun harus segera diisi. Seperti halnya pup. Tahu sendiri siapa yang akan betah menahannya. Saya pikir ini alasan kenapa banyak mall dan pom bensin saat ini menyediakan charging room/charging facility seperti halnya di tempat-tempat itu selalu menyediakan toilet.

Di Ambarukma Plaza Mall, bahkan charging room terletak berdekatan dengan toilet. hehe

Sabtu siang kemarin, mulanya hanya saya yang menggunakan charging room. Rupanya makin siang di tempat itu makin banyak pengunjung mall yang memanfaatkan charging facility. Jelaslah seberapa penting keberadaan suatu charging room di ruang-ruang publik. Barangkali ke depan di taman-taman kota, di halte, di terminal dan tempat-tempat publik yang lain, charging room/charging facility menjadi fasilitas standard. 🙂

Memasuki Sepertiga Terakhir Ramadhan

Tidak terasa Ramadhan kali ini berjalan seolah dengan kecepatannya sendiri. Rasanya sepertiga terakhir Ramadhan datang tiba-tiba. Bagi saya dan muslim yang memulai Ramadhan pada tanggal 20 Juli, malam ini merupakan malam ke-21.

Sebenarnya kabar bagus bagi yang ingin segera merayakan lebaran. Apalagi bagi teman-teman yang ingin segera mudik lebaran dan merayakannya di kampung halaman bersama sanak keluarga dan handai taulan. Saya sendiri di satu sisi merasa senang karena akhir perjuangan (akhir?) akan segera tercapai. Di sisi lain saya merasa belum optimal beribadah selama Ramadhan ini. Target #onejuzaday saya saja yang seharusnya sudah menginjak juz ke-21 malah masih berjuang di juz 19. Baca lebih lanjut

Launching Telkomsel Siaga 2012: Peduli dan Berbagi untuk Indonesia

Malam Minggu (4 Agustus 2012) kemarin merupakan Buka Puasa Bersama (bukber) pertama saya pada Ramadan 1433 Hijriah ini. Saya diundang oleh Telkomsel untuk berbuka bersama di Pandan Perak Resto Monjali. Apa yang membuat acara buka bersama pertama saya ini istimewa dan menarik adalah kepekaan konsep acara buka bersama yang merupakan rangkaian launching Telkomsel Siaga 2012.

Launching Telkomsel Siaga 2012 yang digelar serentak di 3 kota yaitu Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar ini sekaligus membawa semangat berbagi sebagai tanggung jawab sosial perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Dalam acara launching Telkomsel Siaga 2012  kali ini, Telkomsel berbagi kebahagian dengan mengajak berbuka puasa bersama ratusan anak yatim. Dan di Yogyakarta sendiri Telkomsel mengajak berbuka dan memberi santunan untuk anak-anak yatim yang dikelola dan tergabung dengan Himmatu (Himpunan Insan Muslim Mandiri Tumpuan Umat ).

Sore itu ketika saya diajak oleh  Cak Ipho untuk berbuka bersama dengan anak-anak yatim, mulanya saya mengira kalau anak-anak yatim ini merupakan anak-anak yang dikelola oleh panti asuhan atau pondok pesantren. Ternyata tidak demikian.

Hampir semua dari anak-anak yatim ini merupakan anak-anak yang orang tuanya meninggal dunia sebagai korban Gempa Jogja tahun 2006 yang lalu. Begitu banyaknya anak yang mendadak menjadi yatim piatu pada saat itu membuat anak-anak ini tidak bisa tertampung di Panti Asuhan maupun Pondok Pesantren. Anak-anak yatim ini diasuh oleh penduduk di daerahnya masing-masing. Sementara Himmatu -lah yang mengatur penggalangan dana sampai ke penyalurannya secara tepat.

Penggalangan dana untuk anak-anak yatim ini bukanlah hal yang mudah. Karena umumnya, donatur dan para dermawan lebih mudah untuk menyalurkan bantuan mereka ke Panti dan Pondok Pesantren. Inilah alasan Telkomsel memilih menyalurkan santunan kepada mereka. Anda pun bisa menyalurkan kepedualian dengan menghubungi sekretariat Himmatu di nomor telepon: (0274) 8290679

Bapak Maryanto Menyerahkan Tali Kasih Telkomsel Siaga 2012 Secara Simbolis

Bapak Maryanto Menyerahkan Tali Kasih Telkomsel Siaga 2012 Secara Simbolis

Peluncuran Telkomsel Siaga 2012 kali ini tidak dilakukan dengan gegap gempita. Melainkan dilakukan ditengah-tengah senyum dan keceriaan adik-adik kita yang kurang beruntung, terlahir dan tumbuh sebagai anak yatim. Ada kepekaan dan kepedulian di sini.

Pukul 16:30 WIB, Bapak Maryanto (Head of Branch Yogyakarta) memberikan sambutan sekaligus menabuh gong tanda Telkomsel Siaga 2012 resmi diluncurkan.

Bapak Maryanto Menabuh Gong Tanda Peluncuran Telkomsel Siaga 2012

Bapak Maryanto Menabuh Gong Tanda Peluncuran Telkomsel Siaga 2012

Dalam sambutannya, Pak Maryanto melanjutkan bahwa Telkomsel Siaga merupakan program berkesinambungan yang diselenggarakan setiap tahun untuk menjawab kebutuhan pelanggan selama Ramadan hingga Lebaran. Baca lebih lanjut