Hujan Hu-jazz di #ngayogjazz2012

Pertama dan yang paling utama saya telah membagikan hampir satu lagu yang sempat saya rekam dari salah satu panggung, yaitu Panggung Caping, di perhelatan jazz paling unik yang saya kira hanya ada di Yogyakarta, di Ngayogjazz yang untuk tahun 2012 di dihelatkan di desa wisata Brayut, Pendawaharjo, Sleman, Yogyakarta.

Seperti apa yang saya tweetkan di atas, video ini saya sebut “tombo kecelik”, tahu maksudnya tombo kecelik? Maksudnya daripada tidak sama sekali.

Ini bukan lagu dari band yang sebenarnya ingin saya video tape -kan. Ini merupakan pemanasan saya agar tangan ini tidak kaku-kaku untuk menggerakan kamera portable karena gugup terpesona oleh penampilan musisi yang saya idamkan, hehe. Dan sudah tahu, band yang yang saya tunggu tidak jadi tambil pada minggu malam kemarin karena situasi dan kondisi. Hujan.

“Bukannya mendatangkan Pawang Hujan, beginilah jadinya kalau mempercayai Pawang Ular” kelakar seorang musisi jazz senior.

Hujan jatuh  beberapa saat sebelum maghrib tiba. Beberapa panggung, dari 6 panggung pertunjukan yang tersedia, yang didesain dengan tata luar ruang tanpa atap (cap less outdoor stage) harus dihentikan. Peralatan musik baik yang akustik maupun elektrik, apalagi sound system set tidak pernah ramah dengan air dan hujan.

Apa yang bisa dilakukan oleh semua orang pada saat itu adalah hujan segera reda barang sejenak, satu atau dua jam. Mereka dan saya menunggu dibawah lindungan teras-teras rumah penduduk desa wisata Brayut, dibalik bayung atau … dan kemudian saya yang bosan berdiri di teras rumah segera berbegas untuk membeli mantel plastik hujan seperti yang saya lihat dikenakan oleh orang-orang. Rupanya di salah satu stand di lingkungan pertunjukan jazz ada yang menjual mantel hujan.

Dengan pakaian setengah basah, selepas maghrib di salah satu rumah penduduk, saya ingin menghangatkan diri dengan makanan-makanan khas yang banyak dijual. Bukanya saya terlalu pilih-pilih, mencari makan itu sulit. Masalahnya adalah kebanyakan stand makanan penuh. Bisa dibayangkan ketika puluhan ribu pengunjung ngayogjazz ingin mengamankan diri sambil makan di stand-stand makanan. Sampai akhirnya saya mendapatkan kursi basah di Warung Budaya Tembi yang turut meramaikan Ngayogjazz2012. Lumayan kursi basah, daripada melewatkan berjam-jam dengan berdiri.

Saya menghela dingin malam hujan itu dengan Bakmi Goreng Jawa, Bakmi Jawa Godog yang sebenarnya ingin saya pesan sudah habis. Tidak apa-apa, bakwi goreng jawa sama lezatnya. Meskipun ketika sudah terlanjur pesan, saya agak menyesal, kenapa saya tidak memesan Tongseng Manuk Emprit. Bukan kenapa-kenapa, hanya Tongseng Manuk Emprit itu tidak bisa dibeli di sembarang warung makan, lain halnya dengan bakmi goreng yang banyak dijual dimana-mana.

Tidak mungkin berlama-lama di Warung Makan Budaya Tembi, harus tahu diri karena yang ingin makan tidak hanya saya, masih banyak antrian di belakang saya. Saya segera menuju Panggung Caping dengan tetap membawa harapan agar hujan segera reda.

Saya menuju ke teras rumah limasan tidak jauh dari Panggung Caping untuk berteduh. Ada banyak orang di teras rumah Jawa ini. Ada banyak orang yang masih ingin menonton. Dari beberapa orang di teras itu kemudian saya kenali merupakan artis-artis senior Kampanyo. Penampilan mereka sebenarnya yang paling ingin saya tonton. Saya melewatkan beberapa waktu untuk berbincang-bincang dengan mereka. Sampai akhirnya hujan yang tidak segera reda dan panggung yang terlihat semakin tidak memungkinkan untuk pentas membuat mereka untuk memilih pulang saja.

Ah, saya pun sebaiknya segera pulang saja. Dengan rasa berat. Di pintu masuk sekaligus pintu keluar saya pandangi sekali lagi tulisan selamat datang ini. Sampai akhirnya saya benar-benar angkat kaki dari desa Brayut. …

Foto-foto lebih banyak bisa dilihat di Album Google+ saya di:

Album Ngayogjazz 2012

 

Senja Itu … (ya seperti ini)

Belum cukup puas menyesap teh manis di mug bermotif hijau kesayangan, warna sekeliling teras yang mendadak berubah jingga membuat saya terperangah. Mug itu segera saya letakkan. Saya terburu beranjak, bergegas menuju tempat terbuka tidak jauh dari rumah. Jingga itu membuat saya tidak peduli lagi tubuh saya basah oleh hujan.

Dan dalam beberapa jurus kemudian tweet-tweet berikut muncul di timeline saya:

Bagi saya sesuatu itu  merupakan perpaduan warna jingga, senja, bau basah tanah habis hujan dan segelas teh. Itu sepuluh tahun yang lalu. Kalau sekarang ditambahkan twitter.

Dan tidak jarang bahagia itu datang mendadak dan dalam bentuk yang terlalu sederhana, hehe 😀

Traffic Blog Mulai Naik Lagi

Bila memang benar-benar mempunyai darah blogger, apalah artinya trafik tinggi. Hehehe. Kalau ini jelas lebay banget. Benar. Meskipun saya belum pernah mendapatkan keuntungan uang dari tinggi rendahnya trafik di blog ini, namun beberapa waktu lalu saya sempat kaget dengan menurun drastisnya trafik blog ini.

Trafik menurun sampai setengahnya setelah saya mengganti domain blog ini dari sebelumnya jarwadi.wordpress.com menjadi jarwadi.me. Tapi tidak apa-apa. Domain name baru adalah keinginan saya, sebuah pilihan. Saat itu saya mengatakan kepada diri sendiri, kalau memang tulus, jumlah kunjungan sedikit pun seharusnya tidak membuat saya patah hati. Tetap sharing sebagaimana biasanya.

Saya tetap menulis apa saja seperti biasanya. Biasa-biasa saja. Saya tidak memaksakan diri untuk memaksakan mengembalikan trafik blog. Saya tidak kalap nyepam kemana-mana. Saya tidak berdarah-darah bermain-main SEO, ya karena saya memang mengerti SEO tetapi tidak jago trik-trik SEO. Saya lebih suka blog saya tumbuh secara organik dan biasa-biasa saja.

Dan hari ini saya melihat statistik di dashbord saya. Rupanya trafik blog saya mulai merangkak sejak minggu ke-6 mengenakan nama domain baru, dan benar-benar pulih pada minggu ke-8. yay 😀

 

 

Rebutan itu Menyenangkan

Seberapa menyenangkan suatu barang tidak selalu tergantung seberapa mahal barang itu. Tidak selalu tergantung seberapa banyak kenyamaman yang bisa didapatkan dari menggunakan suatu barang tertentu. Memang tidak usah dipertanyakan siapa yang tidak akan senang memiliki barang yang tidak semua orang bisa memiliki karena tidak semua orang sanggup membelinya.

Mendapatkan suatu benda/barang yang biasa-biasa saja pun ternyata bisa menyenangkan. Yah, dengan bagaimana cara mendapatkan barang itu.

Seperti tadi pagi. Saya merasa senang hanya karena mendapatkan sebuah kaos dengan cara memperebutkan kemenangan di suatu kuis di twitter. Sekali lagi bukan kaos yang mahal, kaos yang biasa-biasa saja. Kaos yang sebenarnya bisa saya dapatkan dengan cara yang lebih mudah.

Rebutan itu menyenangkan. 😀

Google Chromebook

Beberapa waktu yang lalu, sudah agak lama, saya membaca kabar tentang sistem operasi yang sedang dikembangkan oleh Google. Sistem Operasi itu adalah Google Chrome OS. Saat itu saya kalau tidak salah beberapa waktu setelah Google mengeluarkan Google Chrome Web Browser. Web Browser yang saat ini telah menjadi sangat sukses dan digunakan sangat banyak orang pengguna internet.

Terkait Google Chrome OS sendiri saat itu saya tidak begitu memperhatikan, apalagi mengikuti perkembangannya. Dari apa yang saya baca saat itu, apa yang saya ingat apa yang membuat Google Chrome berbeda dengan Operating System seperti Linux, Mac OS, Windows, BSD, Unix, dan lain-lain, adalah konsep cloud yang diusungnya. Google Chrome OS hanya menawarkan fungsi kernel, dan terpenting adalah web browser (Google Chrome browser). Semua aplikasi dikehendaki merupakan web based, termasuk konsep cloud storage, dan tentu saja kemudian akan dikembangkan everything on the cloud. hehe

Apa yang menarik dari OS seperti ini? Jawab saya sendiri tentu tidak terlalu menarik. Saya langsung membayangkan ketersediaan koneksi internet di lingkungan dimana saya tinggal saat ini dan koneksi di Indonesia pada umumnya. Koneksi yang ya begitulah.

Nah, beberapa waktu yang lalu ketika saya menghadiri Google Day di Balai Kartini – Jakarta adalah kali pertama saya mencicipi Google Chromebook yang tentu saja ber Google Chrome OS.

Saya lupa apa persisnya tipe Chromebook yang saya coba. Yang jelas sangat ingat logo Samsung di Chromebook itu.

Pertama kali mencoba tentu saja hal-hal fisik yang saya rasakan, yaitu apa yang ada langsung di hadapan saya. Mulai dari layar Chromebook, touchpad yang lega sampai keyboard yang menurut saya nyaman. Kemudian saya mencoba-coba menggunakan web browser. Untuk membuka Facebook dan Google+, hehehe. Youtube, Chromebook memutar video di youtube dengan lancar. Ya iyalah secara koneksi internet saat itu pasti sudah disiapkan sehandal-handalnya oleh Google di ajang yang digunakan untuk memamerkan dirinya. 😀 Dan beberapa web apps yang lain saya coba.

Sudah. Sebegitu saja. Saya segera meninggalkan booth Google Chromebook untuk berpindah mencoba hal-hal lain di sana, hehehe.

Google Chromebook kembali saya dengar heboh ketika beberapa waktu lalu meluncurkan produk baru buatan Samsung, yaitu Samsung Chromebook. Webnya di sini. Saking hebohnya saat itu muncul banyak sekali pujian orang akan Samsung Chromebook ini. Meski saya sendiri tidak selalu mengerti arti puja puji ini.

Kehebohan Samsung Google Chromebook yang belum mereda, kemarin saya membaca kehadiran Acer C7 Chromebook yang sudah bisa dibeli melalui Google Play. Pikir saya ini apa-apaan. Google melempar produk Chromebooknya pada saat berbarengan dengan heboh Windows 8. Baiklah kalau Google memang bermaksud menghadang Micosoft. hehe

Foto diambil dari sini.

Harga US $ 249 yang ditempelkan pada Chromebook ini bahkan membuat saya kepengen. Meski saya tidak tahu pasti akan saya pakai untuk apa bila mempunyai gadget ini. Ya kalau memenuhi nafsu ngoprek sih, pasti. 😀

Selamat Hari Pahlawan

Hari Pahlawan jatuh pada hari ini. Dan saya tahu hari ini adalah hari pahlawan juga pada pagi hari ini. Melalui apa yang dituliskan oleh orang-orang yang saya ikuti di jejaring sosial. Andai tidak ada orang yang menyinggung tentang hari pahlawan di jejaring sosial, mungkin saya belum tahu sekaranglah hari pahlawan seharusnya diperingati. Barangkali ini bagusnya jejaring sosial bagi saya, hehehe.

Membaca-baca ucapan selamat dan harapan-harapan yang dituliskan orang-orang di jejaring sosial, timbul satu pertanyaan. Sebenarnya pahlawan itu apa? Sukarno – Hatta resmi sebagai pahlawan nasional tentu tidak perlu dipertanyakan kenapa. Pertanyaannya mungkin apa kriteria seseorang layak disebut pahlawan. Apakah ayah ibu yang sampai sekarang memperjuangkan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya bisa disebut pahlawan? Apakah seorang pengusaha yang memberikan kesempatan pencarian nafkah untuk karyawannya bisa disebut pahlawan?

Apakah tepat spanduk yang bertuliskan “Selamat Datang Para Pahlawan Devisa” untuk menyambut rombongan TKI dari luar negeri?

Sampai saya googling dan menemukan definisi pahlawan menurut Undang-Undang. Hehehe. Seolah ini terdengar kaku, tetapi menurut saya cukup memberikan gambaran tentang arti pahlawan.

Definisi Pahlawan menurut UU no 20/2009

“Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia

Kalau apa yang saya tangkap dari defini diatas, yang bisa disebut pahlawan adalah orang yang sudah meninggal. Dan mungkin karena itu saya belum pernah mendengar ada upacara penyematan gelar kepahlawanan untuk orang-orang hebat yang berjasa hebat untuk negeri ini. 🙂 Semua pahlawan, sepengetahuan saya, mendapatkan gelar itu setelah beliau-beliau meninggal.

Benar demikian? Bila salah tolong dikoreksi. 🙂

Selamat Hari Pahlawan, semoga amal ibadah para pahlawan diterima di sisi -Nya dan para penerus bangsa bisa melanjutkan perjuangan yang belum selesai.

Saya ingin suatu ketika ada masanya, ketika kata “Indonesia” disebut di situ semangat semua orang menyala dengan kebanggaan akan keindonesiaannya. 🙂

Bahasa Indonesia, Mau Dibawa ke Mana?

Ada yang tahu, kapan bulan Bahasa Indonesia. Benar bagi yang menjawab bulan Oktober. Bulan lalu. Bagi yang tidak tahu bulan bahasa jatuh pada bulan apa, itu persis dengan saya. Saya juga tidak tahu sampai saya kemarin membaca sebuah artikel di suatu koran dinding.

Sebuah artikel berjudul “Bahasa Indonesia, Mau Dibawa Kemana?” ini berusaha mengingatkan kita semua tentang arti penting sebuah bahasa, terutama Bahasa Indonesia. Artikel yang bertujuan bagus untuk mengingatkan “Bahasa Indonesia” ini entah apakah mendapatkan perhatian dari pembaca atau tidak sehingga pesannya tersampaikan. Namun setidaknya artikel ini telah berhasil menarik perhatian saya.

Harapan saya mudah-mudahan niat baik ini mendapat sambutan lebih banyak di tengah-tengah ketidakpedulian banyak orang terhadap bahasa nasional kita. Entah diakui atau tidak kepedulian terhadap bahasa, bulan bahasa sekalipun tidak menggaung seperti pada jaman saya masih duduk di sekolah menengah dahulu. Barangkali hal itu terjadi karena semakin rumitnya persoalan hidup di negara ini sehingga permasalahan bahasa ditempatkan dalam skala prioritas yang rendah, bisa dikesampingkan dulu, karena toh tidak akan mempengaruhi apa makan siang kita nanti. 😀

Dan untuk artikel ini sendiri, sebagai turut peduli saya terhadap bahasa, saya sedikit mengoreksi penulisan kata “Kemana”, yang seharusnya “Ke Mana”. Penulisan judul yang benar menurut saya adalah yang saya gunakan untuk memberi judul tulisan ini. 🙂

Downgrade Ubuntu, Dari 12.10 ke 12.04

Beberapa waktu yang lalu, tepat bersamaan dengan hari peluncuran Ubuntu 12.10 Quantal Quetzal saya segera mengunduhnya untuk mengganti instalasi Ubuntu 11.1o Natty Narwhall di laptop. Karena suatu hal saya melompati keluaran Ubuntu 12.04 Precise Pangolin. Kalau tidak salah pada saat keluarnya Precise Pangolin saya sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan sehingga melewatkannya.

Proses instalasi Quantal Quetzal sendiri lancar-lancar saja. Sampai akhirnya ketika segala sesuatunya sudah saya install, termasuk 3rd party plugin dan apps yang saya perlukan sehari-hari, saya mendapati realease Ubuntu 12.10 ini cukup berat saya jalankan di laptop yang hanya berprocessor Inter Core 2 Duo T 5500 dengan RAM juga hanya 2 giga.

Membaca banyak komentar teman-teman pengguna Ubuntu di jejaring sosial pun kebanyakan mengatakan versi 12.10 ini relatif berat.

Sampai akhirnya pada pagi hari ini saya memutuskan untuk downgrade ke Ubuntu 12.04 LTE. Harapan saya versi ini, versi yang sempat saya langkahi ini ringan dan lancar dijalankan di mesin jadul saya.

Posting ini saya buat sambil menunggu proses pengunduhan Ubuntu 12.04 Precise Pangoline berjalan. Unduhan baru mendapatkan sekitar 58%. Masih berapa lama harus saya lewatkan untuk menunggu proses download dengan kecepatan koneksi 2 mbps ini. hehehe

Air Galon Memang Lebih Sehat dari Wedhang Teh?

Beberapa hari yang lalu, saya merasa geli membaca sebuah obrolan di jejaring sosial Facebook.  Apa yang diobrolkan adalah kebijakan seorang kepala instansi pendidikan dimana teman saya bekerja. Kebijakan yang ditindaklanjuti dengan Surat Pemberitahuan itu adalah kebijakan untuk menggantikan fasilitas “wedhang teh” kepada setiap karyawan setiap hari dengan air galon.

Dalam Surat Pemberitahuan itu juga dijelaskan agar semua karyawan membawa peralatan minum sendiri seperti gelas, mug, dan sejenisnya sesuai kebutuhan, kemudian merawat sendiri peralatan minum itu. Dan bagi yang membutuhkan teh, kopi, gula dan lain-lain agar menyediakan sendiri.

Apa alasan kebijakan seperti itu, karena alasan meningkatkan taraf kesehatan. hehe. Apa air galon yang tidak bermerk lebih sehat dari wedhang teh yang dibuat dengan air sumur/PAM di Gunungkidul yang umumnya berkapur? Adakah yang pernah membuat komparasi hegienitas air sumur di Gunungkidul, air ledeng PAM Gunungkidul, Air Mineral/Galon tidak bermerk, Air Mineral Galon merk A, B, C, D hehe. 😀

Yang jelas tidak memanfaatkan fasilitas air galon + dispenser tanpa fasilitas gelas/mug dan lain-lain akan sangat merepotkan. Mungkin saja dengan cara begini akan meningkatkan omset kafetaria di lingkungan institusi itu, mengingat lebih sedikit orang yang mau repot-repot hanya untuk minum. 🙂