Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

  1. “Pergunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu
  2. “Pergunakan masa luangmu sebelum datang masa sibukmu“.
  3. “Pergunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu“.
  4. “Pergunakanlah waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu”.
  5. “Pergunakan hidupmu sebelum datang matimu”.

Hadits  diriwayatkan Imam Hakim dalam kitab al-Mustadrak.

Sumber : http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=638&Itemid=30

Bebaskan ibu Prita Mulyasari

Awalnya saya tidak tahu menahu tentang kasus ini ketika diundang oleh Tika Banget untuk mengikuti cause di Facebook untuk dukungan kepada Prita Mulyasari yang ditahan pihak penegak hukum karena dituduhan pencemaran nama baik kepada RS Omni Internasional dengan email keluan yang dia kirimkan.

 

Ada banyak faedah dari rasa sakit

Sama seperti orang lain, saya tidak suka merasakan sakit. Sakit itu rasa lebih dekat dengan susah dan sedih. Mungkin hanya Silas si Albino yang menikmati rasa sakit dan suka menyiksa diri.

Lepas dari semua ketidaksukaan saya akan sakit. Sakit tidak sepenuhnya buruk. Dalam banyak hal rasa sakit membantu manusia untuk bertahan hidup. Misalnya, kita bisa tau kalau sedang sakit mag bila merasakan perut sakit nyeri. Dada terasa sakit karena ada masalah jantung atau paru – paru. Kita bisa tiba tiba mati tanpa melakukan apa apa tanpa rasa sakit datang sebagai fungsi peringatan dini.

Rasa sakit itu juga memainkan peran sosial manusia. Rasa sakit itu dekat dengan empati. Dan kepekaan atas derita sesama.

*posting saya buat dengan m.wordpress.com dari Sony Ericsson k810i

Kasih seorang Ibu …

Kalau ditanya tentang makanan Favorit, maka dengan tanpa ragu akan saya jawab dengan semua makanan yang dimasak oleh simbok.  Simbok selalu tahu bagaimana cara mengolah makanan yang cocok untuk selera saya. Jangan Lombok dan  Sayur Lodeh olahan simbok yang maknyuuuus selalu membuat liur ini meler dan membuat saya tidak betah tinggal di tanah kembara lebih lama dan kangen setengah mati untuk ingin segera pulang ketika meninggalkan rumah selama waktu beberapa hari saja. Spesial untuk saya, Simbok merupakan koki terhebat sepanjang masa. Sebagai Juru Masak, menurut lidah saya, simbok lebih baik dari koki koki di restoran sekalipun. Walaupun selera ini kerap kali kesengsem dengan menu suatu restoran akan tetapi saya tidak pernah datang ke resto yang sama selama lebih dari tujuh hari berturut turut, boleh jadi karena alasan kesehatan dompet, namun rasanya lidah ini mudah sekali dibuat bosan.

Tidak terhitung sudah berapa piring porsi  makanan yang saya lahab sampai seumuran saya yang telah lebih dari seperempat abad sekarang ini, entah berapa banyak gelas minuman dan entah entah barantah camilan dan lain lain. Kata seorang teman yang merantau di Jakarta sebagai buruh bangunan, dia harus merogoh kocek sekitaran Rp 7.000,- untuk sekali makan asal kenyang nasi warteg. Bila sehari perlu makan tiga kali, kemudian angka angka itu dihitung nominalnya selama sebulan, selama setahun, sepuluh tahun atau dua sudah berapa banyak duit yang perlu dibayarkan untuk urusan perut dan menyambung nyawa. Untungnya, saya tidak perlu sakit kepala untuk urusan sakit perut ini. Tidak peduli entah berapa piring yang saya lahap untuk selera lidah dan urusan mengisi perut dengan bahan bakar yang sesuai, simbok, sedari dulu, sekarang dan mungkin sampai kapan kapan selalu menggratiskan untuk saya.

Kalau dipikir pikir, masalah makan gratis yang kalau dihitung dengan rumus matematika sekalipun hanya akan mendapatkan angka angka yang segede bagong, dan kalau semisal disuruh mengganti juga saya tidak ada duit, semua urusan makan dan minum gratis tersebut belum ada sak kuku ireng nya, begitu kata orang Jawa. Maksudnya kebaikan si mama jauh lebih banyak dan penting dari sekedar urusan makan dan minum.

Saya tidak ingat kapan persisnya si bayi jarwadi lahir dari rahim ke pangkuan simbok. Tapi konon tidak sekarang saja saya menjadi beban orang tua, khususnya ibu. Sebelum terlahir kemuka bumi pun, Jarwadi yang masih orok sudah membebani si ibu selama sembilan bulan sepuluh hari sampai akhirnya si bayi sujar menjadi terkaget kaget dan lupa segalanya setelah lahir coer ke muka bumi. Sejak hari penting itulah seorang wanita kampung memulai memainkan peran baru sebagai seorang ibu. Menyandang panggilan baru dan berjuang atas NAMA IBU.

Saya termasuk orang yang tidak pernah percaya akan cinta sejati. Satu satunya cinta yang pernah ada bagi saya adalah cinta seorang ibu. Hanya seorang ibulah yang bisa melakukan apa saja demi cinta. Hanya seorang ibulah yang bisa memandikan sang anak, mengganti popok, menyuapi, meneteki dan segala tetek bengeknya dengan atas nama cinta. Kalau jalan terpanjang yang ada dipulau Jawa adalah Jalan Anyer Panarukan maka kasih sayang seorang ibu pasti lebih panjang lagi, begitu kata orang – orang.

Tugas mulia seorang ibu adalah mendidik anaknya. Membelalakan mata si Jarwadi lebih lebar untuk lebih banyak melihat dunia, tidak bosan bosan untuk menetah supaya lekas bisa berjalan, mengecup kening dan merangsang bibir bibir supaya bisa mengeja kata kata, memberi nutrisi yang baik, beberapa kali kunjungan dokter karena si Jarwadi kecil yang sering sakit sakitan dan sebangsanya telah dengan baik dilakukan simbok.

Berat sekali ya tugas seorang ibu. Kalau ada anak nakal biasanya pertanyaan yang keluar akan “Badung banget neh kampret, Siapa sih simboknya?”, “Idiiih bego banget kamu jadi boncel, emang dirumah tidak pernah disuruh belajar sama ibu kamu?”, “Niiiih anak jorok banget, dirumah punya Ibu ngga seh?”. Tidak terhitung pertanyaan dan kata kata orang yang menonjok hati seorang ibu dalam dalam. Tidak kebayang kalau orang orang ini diajak berganti peran untuk memainkan figur seorang ibu.

Begitu berat tugas dan tantangan seorang ibu. Di lingkungan tempat saya tinggal, peran dan tanggung jawab seorang ibu lebih berat lagi. Selain menjaga peranya sebagai gelandang depan dalam membesarkan dan mendidik anak anak supaya menjadi *orang*.

Baca lebih lanjut

Kapan Menikah?

Usia saya 28 tahun. Status TM. Tidak Menikah. Meskipun dari teman teman SD saya masih ada beberapa yang tidak Menikah, tetapi besok sore salah seorang teman SD saya akan sudah menikah. Dia adalah Suban. Selamat Menikah saja buat Suban. Kemudian urutan terdekat setelah Suban, saya menduka adalah Andi. Karena kabar-kabarnya dia sedang mengurus Surat Numpang Nikah.

Selama ini saya meyakini bahwa diantara teman dan geng, saya akan berada di antrian terakhir di pintu gerbang pernikahan. Dan kelihatanya keyakinan saya tersebut akan menjadi kenyataan, walaupun saya tidak sengaja mengusahakanya. Manipulasi adalah cara yang tidak saya sukai, kecuali kalau terpaksa.

Di lingkungan tempat saya hidup, menikah adalah status. Teman saya pernah berkata, menikah adalah sebuah gerbang. Entah apa yang dia maksudkan, sampai hari ini saya tidak pernah tahu.

Karena sebuah status, orang yang tidak menikah seperti saya mendapat tekanan sosial yang sangat besar. Selalu muncul pertanyaan, “Kapan Menikah”? Kalau Agus Ringgo menjawab, “maybe yes maybe no“. Kalau Adang Sudarman menjawab, “wah belum ada yang cocok”. Kalau Dini Restuti menjawab, “wah belum ada waktu”. Maka saya akan menjawab, “tidak ada perempuan yang suka pada saya”.

Saya suka dengan jawaban yang saya berikan. Jawaban ini tidak pernah diduga oleh siapa pun. Sehingga orang yang mendengar akan kaget dan tanpa sadar secepat mungkin menggunakan topeng empati. Maka kata-kata penghiburan untuk mengangkat semangat dan membuang sikap pesimis dari diri saya meluncur dengan merdu. Kata-kata mereka seperti musik jazz di telinga saya. Kadang enak didengar tapi saya tidak pernah bisa mencerna.

Banyak orang menasihati saya agar tidak pesimis. Dia menambahkan bahwa “elo kurangnya apa sih, pendirian kuat, fisik proporsional, wajah cute, dari keluarga baik-baik, pendidikan meyakinkan. Ya memang tidak ada yang kurang dari diri saya. Yang kurang hanyalah tidak ada perempuan yang suka pada saya?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keputusan saya untuk tidak menikah. Menurut saya kalau menanggapi kata orang, yang ada hanya serba salah. Kapan serba benarnya ya?  Bukan hanya orang tidak menikah saja yang mendapatkan tekanan sosial besar. Orang yang sudah menikah pun tetap mendapat tekanan sosial yang besar. Contohnya Aswinto, teman seperburuhan saya.  “Kapan punya momongan?”. Selanjutnya “Kapan si ucok punya adik?”. Dan terus seterusnya tanpa berkesudahan. Begitulah deraan orang-orang yang keputusanya datang dari tekanan sosial. (baca : orang lain)

 

f(wati) :=>[FaberCastle > Conello]

Pernah ngga membayangkan kalau orang gendeng menuliskan persamaan. Hasilnya pasti persamaan gendeng juga, malah persamaan “edan”. Judul posting ini adalah contoh persamaan edan. Siapa lagi penulisnya kalau bukan penulis blog ini yang lagi gendeng. Seberapapun Gendengnya yang pasti saya “mencatat” persamaan ini setidaknya di blog ini. (juga)

Pagi tadi sehabis jogging. Wati “adik” saya. Anak dari Bibi, maksudnya anaknya adiknya bapak saya datang ke rumah. Mencari saya? Saya ingat bahwa beberapa waktu yang lalu menjanjikan es krim bila dia meraih juara kelas. Pasti ini acaranya adalah mengagih janji … Dia sekarang duduk di kelas V Sekolah Dasar dan meraih juara II.

Selamat Deh …

Baca lebih lanjut

Ingaaaaaaaaaaat …

Jangan sampai hal hal kecil merusak hal hal besar dalam hidupmu

… Meminta maaf kepada diri sendiri

… kemudian memberinya.

… kemudian

… berusaha memaafkan dia.

… (melupakan dia)

… menghela nafas panjang.

Menata hati.

Menguatkan diri.

Melangkahkan kaki, Menjejak dibumi, kemudian Terbang ke Langit