TV di rumah keluarga saya saat ini sudah berusia satu tahun lebih. Alhamdulillah belum rusak. Dan tiap hari masih menyuguhkan tontonan tentang banyak hal.
Untuk diketahui selama hampir sepuluh tahun sebelumnya di rumah keluarga kami tidak punya TV.
Rupanya selain memberi suguhan tontonan. TV di rumah kami ini memberikan suatu pelajaran yang sama sekali baru bagi keluarga, terutama bagi simbok saya. Saya katakan terutama bagi simbok karena simboklah yang mantap mengatakan berkali-kali kesimpulan dari hampir tiap hari menonton TV selama satu tahun lebih.
“Tidak ada orang baik di Indonesia” Simbok melanjutkan: Di Indonesia itu isinya orang-orang jahat, dimana-mana orang korupsi, pencuri, hukum tidak adil, cantik-cantik tapi berbohong di bawah sumpah, kecelakaan tiap hari terjadi, kemiskinan terjadi dimana-mana, anak-anak tidak benar-benar sekolah, kekerasan antar agama, pemerkosaan, … apa lagi. 😦
Kalau dipikir-pikir benar ngga sih kata simbok “Tidak ada orang baik di Indonesia”. Atau yang benar begini “Tidak ada orang baik di TV-TV Indonesia” Kalaupun sulit sekali mencari orang-orang baik, setidaknya saya pernah punya dan menuliskan sedikit cerita orang baik di sini.
Some people want it to happen, some wish it would happen, others make it happen. –Michael Jordan
Hari ini saya ingin menuliskan sebuah ucapan “Selamat Ulang Tahun Jordan“. 17 Februari 2012 merupakan ulang tahun ke 49 Michael Jordan. Bila kiamat tidak jatuh pada tahun ini, tepat setahun lagi Jordan akan merayakan ulang tahun emas.
Saya tahu Jordan hari ini tidak akan membaca ucapan selamat yang saya tulis ini. Besok dan lusa pun pasti ucapan ini tetap menjadi bagian dari tak terbilang ucapan yang mengalir dari penjuru-penjuru dunia untuk Jordan yang tidak akan pernah sempat ia baca. 🙂
This isn’t why I don’t make any wishes to him, but because he already made them all, instead. 🙂
Akui saja kalau saya bukanlah orang yang bisa dengan mudah untuk menjaga konsistensi. Saya adalah tipe orang yang mudah memulai banyak hal baru, mudah menjalin hubungan dengan orang-orang baru dalam pergaulan. Masalahnya adalah untuk merawat dan meneruskan apa yang pernah saya mulai.
Masalah konsistensi saya memang tidak mudah terlihat oleh banyak orang. Saya tidak pernah terlalu cepat bosan. Namun saya juga tidak betah-betah amat lama bertahan. Saya umumnya masih tegar bertahan ketika banyak orang sudah jatuh. Namun saya bukanlah bagian dari orang-orang pilihan yang tetap betah berdiri memanen buah manis konsistensi yang telah dipelihara.
Umumnya saya tidak betah melanjutkan apa yang saya mulai itu bukan karena permasalahan pelik yang tak terpecahkan. Namun kebanyakan karena bosan dan jenuh. Bosan dan jenuh.
Beberapa tahun terakhir saya mulai merasakan tentang ketidakmampuan menjaga apa yang telah saya mulai untuk jangka waktu yang lama itu tidak baik. Saya harus melakukan sesuatu. Saya akan menambahkan tag onepostaday2012 pada posting ini. 🙂
One Post 2012 ini merupakan kelanjutan One Post 2011 saya. Alhamdulillah belum bosan. Sebelumnya saya pernah mengikuti gerakan #365shots di sini. Walaupun baru bertahan kurang setahun dan sekarang terbengkelai. Mencoba baca Qur’an satu juz per hari juga pernah. Sangat sulit dan hanya bertahan pada bulan puasa.
Sebenarnya saya ingin membaca Qur’an setiap hari sebagaimana One Post A Day yang sudah bisa saya jalankan sejauh ini sebagai bagian penguatan konsistensi dan spiritualitas. Mungkin terlalu berat untuk satu juz per hari. Namun setidaknya saya harus memulai dengan satu ruku’ per hari, atau satu ayat per hari. Kalau satu ayat per hari nanti bisa diberi tag oneverseaday, one verse a day. hehehe!
Pertanyaannya barangkali: Kapan memulai? Dari sekarang atau menunggu momentum yang kuat dan tepat? Sejauh mana momentum yang tepat berarti bagi konsistensi? 🙂
Menurut Badai, komposer yang lagu-lagu ciptaannya dinyanyikan oleh Krispatih, ya iyalah secara dia adalah pendiri grup band itu, lagu yang bagus terletak pada kekuatan liriknya. Lagu yang liriknya mengena. Lagu yang bahkan bisa menggambarkan suasana hati yang sedang sedih secara indah.
Krispatih dan Badai bagi saya merupakan bagian dari sebuah peristiwa kebetulan, hehe. Kebetulan saya mendengar omongan Badai ini pada suatu acara di MetroTV yang dipandu oleh Yovie Widiyanto. Saya lupa nama acaranya. Intinya acara itu sedang membahas tentang lagu bagus.
Pendapat lain tentang definisi lagu bagus berasal dari nara sumber yang beken pada era 80-an sampai 90-an, yaitu Fariz Rustam Munaf (Fariz RM) yang nge-top dengan Barcelona -nya. Agak berbeda dengan Badai yang puitis, Fariz mengaku lebih mudah menuangkan perasaannya dalam rangkaian melodi. Jadi lagu bagusnya Fariz RM tentu saja yang melodic, yang kuat secara musikal.
Hmmm. Saya penikmat musik yang tidak bisa menyanyikan lagu dan atau bermain musik. Jadi sebagai penikmat lagu, apa definisi saya tentang lagu bagus?
Sulit bagi saya untuk menjelaskan lagu bagus itu yang seperti apa, karena pada kenyataanya saya suka beberapa lagu yang liriknya cukup bagus yang diiringi musik yang tidak bagus-bagus amat. Sekaligus menikmati lagu-lagu yang musiknya bagus tetapi arti liriknya saja saya tidak tahu. Yang terakhir ini banyak terjadi ketika saya mulai suka lagu bukan berbahasa Indonesia ketika bahasa Inggris saya belum bagus.
Ada lagu yang saya suka karena musiknya, saya dengarkan berulang-ulang dengan riang, setelah tahu liriknya ternyata itu lagu syahdu sedih, dan sebaliknya.
Jaman dulu mencari lirik lagu tidak semudah mengetikan di google seperti sekarang. Kaset-kaset tape lagu barat tidak selalu menyertakan lirik lagu pada sampul kaset.
Kalau contoh lagu bagus versi saya tentu saja mudah menuliskan di sini. Katakanlah Puspa Indah Taman Hati ciptaan Guruh Soekarno Putra yang dinyanyikan oleh Chrisye. Restoe Boemi nya Dewa 19. Hampir semua lagu yang diciptakan oleh James Horner saya suka. Juga lagu-lagu ciptaan Clint Eastwood.
Namun seingat saya, telinga saya bisa mulai terbuka dengan sebuah lagu yang baru pertama kali terdengar adalah karena melodinya, karena musiknya sedang selaras dengan perasaan saya saat itu. Setelah telinga terbuka dan melodi sedikit demi sedikit mengalir masuk, biasanya saya mulai menyimak. Permainan kata-kata di liriknya apakah cukup membuat saya terpesona. Apakah cerita yang dikisahkan pada lirik itu “cukup mengena”?
Kadang-kadang tapi jarang langka, saya menyukai sebuah lagu karena teman saya ada yang suka duluan, kemudian memperdengarkan kesukaanya akan lagu itu dari sudut pandang dia. Baik dari bagaimana lagu itu “sangat teman saya banget” atau karena misteri jenius yang tersembunyi pada permainan dibalik musik lagu itu.
Lagu-lagu yang jenius biasanya malah baik lirik maupun musiknya sama sekali tidak mengimpresi saya pada “pandangan” pertama. Rasa suka mulai masuk pelan-pelan melalui perulangan. Atau moment yang tiba-tiba terjadi. Sejujurnya saya kesulitan langsung menyukai sesuatu, namun ketika saya terlanjur menyukai biasanya akan susah melepaskanya dari ikatan emosi di dalam diri. 😀
Nah, sekarang saya akan mencoba mendengarkan lagu ciptaan Badai ini:
Umumnya saya menunaikan ibadah sarapan pada sekitar jam setengah enam, jam 05:30 wib. Baru kemudian mandi alakadarnya, ganti pakaian dan meninggalkan rumah pada sekitar jam enam lebih sedikit. Kalau lagi males ya paling-paling sehabis makan pagi, terus cuci muka, berpakaian dan meninggalkan rumah.
Mengenai sarapan ini, saya berusaha rutin melakukannya, meski tetep ada tapi ketika saya tidak bisa sarapan pagi. Misalnya itu ketika ada kerjaan yang harus saya selesaikan pagi-pagi dan membuat saya terpaksa menunda sarapan. Umumnya karena lupa waktu. Kalau sarapan sudah ditunda, artinya saya tidak bisa sarapan di rumah. Artinya saya harus sarapan di mana saja. 😀
Tapi yang lain adalah ketika saya merasa sedang liburan. Kalau sedang merasa perlu istirahat libur biasanya saya akan sarapan semaunya. Lebih ngaret dari biasanya. 😀
Bila saya masih beruntung bisa sarapan di rumah, biasanya saya akan bersarapan dengan makanan yang mengandung karbo dan protein. Tetapi yang terpenting adalah jenis makanan yang mudah dicerna. Makanan yang saya hindari adalah makanan pedas, terlalu manis, berlemak tinggi, berasam, dan sejenisnya. Saya merasa perlu berhati-hati dengan makan pagi ini sebenarnya setelah saya terkena maag beberapa tahun lalu dan sampai sekarang terkadang masih menggejala.
Karena maag itu pula saya sekarang sudah tidak minum susu berlemak, teh, kopi dan sejenisnya berbarengan dengan waktu sarapan. Saya mengganti semuanya dengan air jernih saja.
Terkait dengan waktu sarapan, pagi ini saya menyempatkan googling. Saya penasaran sebenarnya kapan waktu yang baik untuk sarapan. Walaupun saya tetap mengira kalau waktu terbaik sarapan itu personal, tergantung kebiasaan, mungkin. Ada teman-teman saya yang terbiasa sarapan pada jam sembilan sampai sepuluh pagi. Namun dari beberapa bacaan di internet pagi ini saya mendapatkan waktu sarapan itu seyogyanya pada satu jam setelah bangun tidur.