Pindahan Photo Blog dari Posterous ke WordPress

Pekan lalu saya mendapatkan kabar akan tutupnya layanan blog Posterous. Posterous akan tutup pada tanggal 30 April 2013. Tentu saja ini kabar mengejutkan sekaligus kabar biasa-biasa saja yang mengikuti dibelinya Posterous oleh Twitter beberapa bulan yang lalu. Terutama bagi saya, ini sekaligus kabar menyedihkan. Saya mempercayakan photo blog saya ke Posterous sejak tahun 2010. Atau sudah 3 tahun, phew.

Selama itu tentu saja sudah banyak sekali konten/foto yang saya posting di sana. Bukan foto-foto bagus yang artistik. Foto-foto biasa-biasa saja yang hampir semuanya saya ambil dengan ponsel yang tiap hari saya bawa kemana-mana. Namun merupakan foto-foto yang bagi saya sangat berarti. Foto-foto itu merupakan rekaman dari pengalaman sehari-hari. Foto-foto yang merupakan potret dari sudut pandang saya dalam melihat sesuatu.

Tidak ingin semua itu hilang sia-sia, maka saya tidak membuang waktu. Mumpung koneksi internet sedang bagus, maka kemarin pagi saya men-download semua konten saya di Posterous. Sekaligus ingin meng-hosting-nya lagi ke layanan blog yang saya pikir akan berumur panjang, pilihan saya memang kalau tidak WordPress.com ya Blogspot.com.

Namun proses download konten itu tidak bisa secepat yang saya harapkan.

Saya mengklik tombol backup pada jam 08:17 am; pukul 06:22 pm download link baru muncul. Selama itu saya harus menunggu. Proses download konten sebesar 146 MB sendiri tidak terlalu lama. Hanya beberapa menit.

Dan akhirnya pada pagi ini saya baru bisa memutuskan untuk membuat photoblog di WordPress.com. Sekaligus membuat dan meng-upload semua konten dari posterous. Sangat mudah dan cepat. Kesemuanya berlangsung dalam beberapa menit saja. Blog baru ini masih polos, belum saya kostumisasi macam-macam. Apa yang terpenting adalah pengamanan konten dulu. hehehe

Photoblog baru saya beralamat http://matacacing.wordpress.com

 

Sariawan

Sudah hampir seminggu ini rasa perih dan nyeri mendera rongga mulut saya. Tepatnya terjadi di rongga mulut sebelah diri. Di sebelah gigi geraham. Ada semacam luka. Sariawan. Begitu orang-orang menyebut jenis luka yang sering kali terasa memilukan ini.

Beberapa waktu lalu sariawan seperti ini sudah terjadi di letak yang hampir sama dengan yang terjadi saat ini. Sariawan sebelumnya rasa sakitnya menghilang dalam beberapa hari. Kalau tidak salah sekitar 3 hari.

Untuk sariawan kali ini belum juga kunjung menghilang pada pagi hari ini. Padahal seingat saya hari ini merupakan hari keempat sejak saya merasakan gejalanya. Memang saya tidak mengobati luka sariawan ini secara khusus meskipun rasa sakitnya sampai membuat kening berkerut dan badan menjadi demam. Saya hanya berusaha sering-sering membersihkan mulut saya baik dengan lebih sering menggosok gigi dan kumur-kumur dengan cairan antiseptik seperti Listerin.

Saya ingin luka sariawan ini sembuh dengan sendirinya, tanpa obat, bila saya kuat tentu saja. Tetapi ketika tadi pagi saya merasakan perih agak berlebih dan melihat luka sariawan melalui cermin, ada semacam luka sariawan baru akan muncul. Hawduh. Kalau sudah begini haruskah saya menggunakan obat sariawan. Apa sih obat sariawan yang aman sekaligus mustajab? ๐Ÿ™‚

Jaman Dulu Hidup Lebih Mudah?

penak jamanku

Entah saya mau mengakui entah tidak, itu tidak penting, posting saya kali ini terinspirasi posting mas Donny Verdian di sini. Dibilang nyontek juga tidak apa-apa. Kenyataannya memang demikian.

Tetapi saya tidak akan sedalam DV dalam mengomentari gambar seperti di atas yang menjadi stiker yang dipasang di angkot-angkot dan gambar yang ditatokan di bokong truk-truk pengangkut barang. Saya hanya ingin sedikit mengomentari gambar yang banyak menggambarkan ungkapan “orang jawa” kebanyakan yang sering saya dengar sejak dulu sampai sekarang.

Bagi saya ungkapan yang mau disampaikan dalam gambar bertuliskan, “Piye Kabare? Uenak jamanku to..” dan tulisan-tulisan lain sejenis merupakan simbol pesimisme yang banyak melanda setidaknya orang-orang yang mudah saya jumpai.

Golek etungan luwih gampang jaman mbiyen“. “Saiki usaha apa-apa sarwa angel, jamane sansaya susah ๐Ÿ˜ฆ” Kalimat ini juga mudah sekali terdengar dari orang-orang di sekitar saya. Terutama oleh para orang tua. Mungkin ungkapan pesimis anak muda sekarang agak berbeda. Meski saya tidak mengatakan pemuda sekarang lebih tidak pesimis.

Tidak puas dengan kalimat itu, orang-orang lebih jauh mengungkapkan dengan kalimat, “Luwih penak jaman Pak Harto mbiyen..

Sebagai pemuda yang turut berdemonstrasi menuntuk lengsernya rezim Soeharto pada tahun 1998 tentu saja ini merupakan kalimat yang memilukan. Untuk kemudian saya berpikir bahwa pergantian rezim ternyata tidak akan serta merta megubah apa pun pada orang-orang pesimis.

Saya sangat ingat seorang bapak-bapak mengucapkan kalimatย “Golek etungan luwih gampang jaman mbiyen“. “Saiki usaha apa-apa sarwa angel, jamane san saya susah ๐Ÿ˜ฆ” Ia mengucapkan pada sekitar tahun 1996, sebelum pergantian rezim. Bapak-bapak ini tidak pernah jelas menyebutkan kapan jaman ia merasakan gampang nggolek etungan sehingga ia tidak mengeluh.

Kemudian apa benar apa yang dikatakan orang bahwa sekarang nggolek etungan lebih sulit? Karena kenyataannya bahkan saya lihat taraf hidup bahkan bapak-bapak yang saya sebut itu sekarang lebih baik dibanding jaman Pak Harto. Ia telah mempunyai kendaraan sendiri, akses sarana kesehatan yang lebih baik, akses sarana komunikasi yang lebih baik, pendidikan untuk anak cucunya, dan lain-lain.

Pesimisme. Saya tahu itu bukan masalah bapak-bapak itu sendiri, tetapi saya kira sebuah pesimisme sosial kalau saya boleh menyebutnya. Indikatornya ya maraknya gambar diatas distikerkan dimana-mana dan ditatokan di bokong-bokong truk-truk barang.

Bila optimisme dan optimisme kolektif ย itu penting, kemudian apa sekarang penyebaran virus pesimisme itu begitu kuatnya di masyararakat. Barangkali butuh suatu social engineering untuk mengkontruksi masyarakat yang lebih optimis, hehehe

Rectoverso, Film atau Sandiwara Radio?

rectoverso

Gambar diambil dari Kofindo di sini.

Saya termasuk orang yang mempercayai bagus tidaknya sebuah film sangat ditentukan oleh imajinasi, idealisme, kreatifitas dan kepiawaian sutradara. Kemampuan olah peran yang superb pemeran paling bintang, ide cerita dan penulisan naskah yang tajam dan beralur pun tidak akan serta merta membuat film bagus bila jatuh ke tangan sutradara yang kurang tepat. Itulah mengapa saya lebih nge-fan dengan sutradara-sutradara bahkan kurang mengenali aktor/aktris suatu film.

Apalagi bila menterjemahkan suatu cerita yang sebelumnya diperuntukan sebagai bahan bacaan. (baca: novel, cerpen, dll) Tidak banyak sutradara yang berhasil menerjemahkan bacaan ke format audio visual di layar bioskop. Beberapa tahun belakangan ini, di perfilman Indonesia, terjemahan bacaan ke format audio visual yang cukup bagus, sepanjang yang saya ingat adalah Sang Penari (terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk) dan Laskar Pelangi yang diangkat dari novel yang berjudul sama.

Rectoverso, saya rasakan belum menjadi mampu menerjemahkan cerpen-cerpen karya Dewi Lestari ke layar bioskop. Keberaniannya membawa konsep Omnibus dengan mengkomposisikan 5 dari cerpen terpilih (dari 11 cerpen Dee dalam Rectoverso) memang layak dipuji. Masih jarang sineas Indonesia yang mengusung konsep ini. Tetapi keberanian ini belum diikuti dengan kreatifitas editing/penyuntingan dan penulisan naskah yang sesuai. Transisi antar scene cerita terasa maksa. Saya mengira sebelumnya setiap satu naskah cerita dibuat dengan belum mempertimbangkan naskah cerita yang diangkat dari cerpen lainnya dalam film ini. Kemudian ide penyuntingan baru datang belakangan.

Rectoverso mengangkat cerpen Malaikat Juga Tahu, Firasat, Curhat Buat Sahabat, Hanya Isyarat dan Cicak-Cicak di Dinding.

Bagi saya, dari kelimanya, hanya Malaikat Juga Tahu yang cukup merebut perhatian saya. Olah peran bagus baik Lukman Sardi sebagai Abang dan Dewi Irawan sebagai bunda mampu mengisi ruang visual dengan karakternya yang kuat. Its OK, bila cerita dalam Malaikat Juga Tahu secara teknis lebih mudah “dilayar lebarkan” dengan bahkan sedikit kreatifitas, sementara keempat lainnya memerlukan kreatifitas lebih. Bukankah kreatifitas itu jantungnya orang-orang berkesenian.

Malaikat Juga Tahu bukan tanpa cela. Ada adegan yang menurut saya terasa maksa dan membuat saya nyengir tertawa, yaitu adegan malam hari di kebun belakang dimana Abang dan Leila menghitung bintang. hihihi.

Film yang bagus menurut saya adalah ketika visual, tempo, suara, kata-kata dan semua aspeknya bercerita saling melengkapi. Film tidak hanya bercerita dengan kalimat dan kata-kata sebagaimana novel atau bacaan. Film tidak hanya bercerita dengan mulut yang berbicara seperti halnya sandiwara radio. Terus terang saya kurang suka dengan Rectoverso karena lebih banyak menggurui dengan segudang filosofi yang diucapkan oleh pergerakan lidah, bibir dan rongga mulut.ย Rectoverso mempunyai gaya menuturi yang mengingatkan saya akan film CIN(T)A. (2009)

Saya ingin menonton film Rectoverso bukan sandiwara radio berjudul Rectoverso, hihihi

Masjid/Mushala di Mall

Masjid baru di Ambarukmo Plaza

Masjid baru di Ambarukmo Plaza

Ini adalah masjid baru di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta. Tutup terpal berwarna biru itu menunjukkan kalau masjid ini belum sepenuhnya selesai dibangun. Masjid ini dibangun untuk menggantikan masjid lama yang sama-sama terletak di lantai paling atas mall ini.ย Dua minggu sebelumnya saya masih shalat di bangunan Masjid lama di mall ini.

Keberadaan Masjid/Mushala yang memadai di suatu mall ย bagi saya sangat penting. Saya tidak akan bisa nyaman untuk berlama-lama di suatu mall/gedung yang hanya untuk mengerjakan shalat saja tidak mudah dan tidak nyaman. Saya tidak akan meninggalkan shalat apalagi hanya karena ke mall.

Ambarukmo Plaza, setahu saya, adalah salah satu dari sangat sedikit mall yang cukup memperhatikan hal ini. Mall yang memperhatikan kebutuhan orang untuk beribadah/shalat memang sangat sedikit.

Mungkin asumsi para pengelola mall, tujuan orang-orang ke mall adalah untuk bersenang-senang. Sehingga karena sangat senangnya mereka akan melupakan shalat. Dan hanya orang-orang tertentu saja, yang jumlahnya sangat sedikit, yang akan membela kebutuhan shalat mereka.

Maka tidak masalah ketika di kebanyakan mall, mushala hanya disediakan di ruang-ruang sempit yang untuk menujunya harus melewati lorong-lorong dan berseliweran selang-selang AC. Sudah sedekimian maklumnya orang sehingga bisa maklum bila mushala ada di basement di dekat parkiran dan tempat-tempat lain yang tidak strategis.

Agak ironis memang bila kita mendapatkan di suatu mall, tempat shalat/mushala yang lebih buruk dan lebih tidak nyaman dibandingkan toilet.

Menurut Anda mall mana yang pernah Anda jumpai mempunyai fasilitas shalat yang bagus dan mana yang menyediakan fasilitas shalat paling buruk?

Berprasangka Baik

Agar kita selamat. Agar hal buruk tidak menimpa kita.ย Sejak kecil kita dibesarkan agar selalu berhati-hati dan waspada. Kita berhati-hati dan waspada untuk menghindari mara bahaya. Menghindari kejahatan sampai mencegah agar orang lain tidak berbuat jahat sehingga merugikan kita.

Tidak ada yang salah dengan berhati-hati. Tidak ada yang salah dengan waspada kepada orang lain baik yang tidak kita kenal maupun orang yang baru saja kita kenal. Karena kenyataannya memang sudah banyak terjadi seseorang menjadi korban kejahatan orang yang tidak kita kenal. Sebenarnya kejahatan bisa juga datang dari orang yang sudah kita kenal baik.

Dimanapun seorang teman saya selalu waspada dan hati-hati ketika menaruh atau membawa barang-barangnya. Teman saya ini tidak ingin ketika dia sedikit terlena maka orang-orang lain yang jahat akan mengganggu barang-barangnya. Teman saya tidak pernah merasa nyaman meninggalkan, katakanlah sepatu dan sandal di luar masjid ketika sedang shalat, tidak merasa aman meninggalkan tas di ruang tunggu, dan di tempat-tempat lain.

Pengalaman kehilangannya berkali-kalilah yang mengajarkan sikap kehati-hatian dan kewaspadaan ini. Sampai dalam taraf tertentu teman saya ini menjadi apriori dan paranoid.

Agak berbeda dengan saya. Teman saya itu heran ketika saya tenang-tenang saja meninggalkan tas di ruang tunggu untuk misalnya saya tinggal ke toilet, ketika saya meninggalkan rumah tanpa mengunci pintu dan lain-lain. Akan lebih mengherankan lagi bila teman saya itu melihat saya beberapa waktu lalu yang meninggalkan smartphone saya di charging room di Ambarukmo Plaza dimana di tempat itu banyak anak-anak ABG yang sedang nge-charge ponsel mereka. Saya hanya mengatakan kepada mereka kalau saya nitip smartphone saya sebentar karena saya akan ke toilet.

Dalam hal ini saya berusaha percaya dengan anak-anak ABG yang tidak saya kenal itu. Saya berprasangka baik. Dan ketika saya balik ke ruang itu, smartphone saya masih pada tempatnya.

Ekstra hati-hati seorang teman saya itu merupakan kebiasaan baik yang akan sulit saya tiru. Didikan pengalaman dipertemukan dengan orang-orang baik selama ini lebih mendorong saya untuk berprasangka baik kepada kebanyakan orang. Masih ingat dengan posting lama saya di sini?

Memang antara berprasangka baik, apriori dan paranoid harus dikomposisikan secara pas.Pertanyaanya apa formula untuk mengkomposisikannya? ๐Ÿ™‚

Gedung Serbaguna di Siyono. Sudah Jadikah?

Gedung Serbaguna

Gedung Serbaguna

Gedung Serbaguna. Begitu bangunan gagah berwarna hijau ini dinamai. Terletak di Siyono – Gunungkidul. Tempat yang dulunya merupakan pasar hewan legendaris, Pasar Hewan Siyono.

Bangunan ini mulai dibuat sejak tahun 2011. Saya pernah mempostingnya di sini. Dari gedung yang kelihatan masih baru, gedung yang direncanakan akan dipergunakan sebagai Sentra Kerajinan Gunungkidul ย ini muncul pertanyaan: Sudah jadikah?

Sosialisasi Komunitas ASEAN 2015 di Kabutapen Bantul

Kita masih punya waktu 34 bulan untuk mempersiapkan diri menuju Komunitas ASEAN 2015. Demikian yang ditegaskan oleh Bapak Dr Ben Perkasa Drajat (Direktur Sekdilu Pusdiklat Kementrian Luar Negeri) dalam memberikan pengantar sosialisasi Komunitas ASEAN yang diadakan di lingkungan Pemkab Bantul pada Kamis, 14 Februari 2013 kemarin.ย 34 bulan merupakan waktu yang singkat untuk mempersiapkan diri. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dan mendapatkan respon yang sesuai oleh bahkan sampai di tingkat kabupaten dan masyarakat.

Kehadiran komunitas ASEAN diyakini akan membawa banyak manfaat. Manfaat itu tentu saja hanya bisa dinikmati oleh siapa saja yang siap. Pak Ben memberikan analogi yang bagus. ASEAN adalah sebuah keluarga. Sedangkan negara-negara anggotanya adalah sesama saudara. Bila masing-masing saudara di dalam anggota keluarga itu mempunyai kesiapan yang berbeda-beda, apalagi ada yang sama sekali tidak siap, maka persaingan yang tidak sehat seperti kecemburuan akan mudah terjadi. Di sini ditekankan agar bangsa kita jangan sampai menjadi ‘anggota’ ASEAN yang kurang siap itu.

Dalam Sosialisasi ASEAN yang dilaksanakan di Gedung Utama Lantai 3 Pemkab Bantul, Pemerintah Kabupaten Bantul tidak hanya mengundang dinas-dinas di lingkungan kabupaten Bantul, melainkan mengundang banyak perwakilan UKM di lingkungan kabupaten Bantul. Seperti yang telah kita ketahui, UKM di Bantul terutama sekor seni dan kerajinan merupakan penyumbang ekspor terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta. UKM berada di garda depan dalam percaturan ekonomi baik di tingkat ASEAN, regional dan global. Pemkab ingin berbagi wawasan dengan UKM terkait Komunitas ASEAN 2015.

Siapa pun tidak ingin UKM yang selama ini menjadi pemain pasar ekspor kelak karena kekurangsiapan justru turun panggung menjadi penonton.

Pak Ben, dalam sesi diskusi menjelaskan, bahwa tugas umum pemerintah saat ini untuk memperkuat kesiapan ekonomi Indonesia setidaknya ada 3 hal. Menyelesaikan masalah korupsi yang menyebabkan biaya tinggi (1), menyediakan infrastruktur untuk membuka konektifitas dan mengurangi bottle neck di berbagai akses (2) dan menyederhanakan birokrasi yang berliku serta menyesuaikan regulasi dengan kebutuhan jaman dan perkembangan teknologi. (3).

Dr Ben Perkasa Drajat memberikan Pengantar Sosialisasi Komunitas ASEAN 2015

Sambutan dari Bapak Dr. H. Sumarno (Wakil Bupati Bantul)

Sambutan dari Bapak Dr. H. Sumarno (Wakil Bupati Bantul)

Peserta Sosialisasi Komunitas ASEAN 2015

Peserta Sosialisasi Komunitas ASEAN 2015

Gedung Utama Pemerintah Kabupaten Bantul

Gedung Utama Pemerintah Kabupaten Bantul

Selain Sosialisasi Komunitas ASEAN 2015 itu, selain materi sosialisasi dan partisipasi UKM, ada satu hal yang saya pikir menarik. Menurut undangan yang saya terima, acara ini dimulai pada pukul 09:00 WIB. Registrasi pada pukul 08:30 – 09:00 WIB. Ketika saya memasuki ruangan sekitar 10 menit sebelum acara dimulai semua kursi undangan hampir terisi penuh dan acara dimulai pada waktunya. Ini satu dari peristiwa jarang ketika suatu birokrasi menyelenggarakan suatu acara. Boleh dong saya menyimpulkan jam karet sudah disingkirkan dari birokrasi pemerintah kabupaten Bantul.

Saya sendiri dalam acara ini diundang dalam kapasitas saya sebagai blogger. ๐Ÿ™‚

Selamat Pagi

Kedua foto ini saya potret tadi pagi. Di suatu langit di antara jalan di depan rumah saya sampai jalan raya dimana saya akan menunggu angkot.

Bila pada pagi hari langit menunjukkan cuaca cerah, seharusnya mood sepanjang hari akan lebih baik. Pertanyaan untuk diri saya sendiri adalah apakah sampai hampir menjelang siang ini saya lebih produktif dari kemarin. Pertanyaan yang susah dijawab oleh diri saya sendiri.

Semangat. ๐Ÿ™‚