Berprasangka Baik

Agar kita selamat. Agar hal buruk tidak menimpa kita. Sejak kecil kita dibesarkan agar selalu berhati-hati dan waspada. Kita berhati-hati dan waspada untuk menghindari mara bahaya. Menghindari kejahatan sampai mencegah agar orang lain tidak berbuat jahat sehingga merugikan kita.

Tidak ada yang salah dengan berhati-hati. Tidak ada yang salah dengan waspada kepada orang lain baik yang tidak kita kenal maupun orang yang baru saja kita kenal. Karena kenyataannya memang sudah banyak terjadi seseorang menjadi korban kejahatan orang yang tidak kita kenal. Sebenarnya kejahatan bisa juga datang dari orang yang sudah kita kenal baik.

Dimanapun seorang teman saya selalu waspada dan hati-hati ketika menaruh atau membawa barang-barangnya. Teman saya ini tidak ingin ketika dia sedikit terlena maka orang-orang lain yang jahat akan mengganggu barang-barangnya. Teman saya tidak pernah merasa nyaman meninggalkan, katakanlah sepatu dan sandal di luar masjid ketika sedang shalat, tidak merasa aman meninggalkan tas di ruang tunggu, dan di tempat-tempat lain.

Pengalaman kehilangannya berkali-kalilah yang mengajarkan sikap kehati-hatian dan kewaspadaan ini. Sampai dalam taraf tertentu teman saya ini menjadi apriori dan paranoid.

Agak berbeda dengan saya. Teman saya itu heran ketika saya tenang-tenang saja meninggalkan tas di ruang tunggu untuk misalnya saya tinggal ke toilet, ketika saya meninggalkan rumah tanpa mengunci pintu dan lain-lain. Akan lebih mengherankan lagi bila teman saya itu melihat saya beberapa waktu lalu yang meninggalkan smartphone saya di charging room di Ambarukmo Plaza dimana di tempat itu banyak anak-anak ABG yang sedang nge-charge ponsel mereka. Saya hanya mengatakan kepada mereka kalau saya nitip smartphone saya sebentar karena saya akan ke toilet.

Dalam hal ini saya berusaha percaya dengan anak-anak ABG yang tidak saya kenal itu. Saya berprasangka baik. Dan ketika saya balik ke ruang itu, smartphone saya masih pada tempatnya.

Ekstra hati-hati seorang teman saya itu merupakan kebiasaan baik yang akan sulit saya tiru. Didikan pengalaman dipertemukan dengan orang-orang baik selama ini lebih mendorong saya untuk berprasangka baik kepada kebanyakan orang. Masih ingat dengan posting lama saya di sini?

Memang antara berprasangka baik, apriori dan paranoid harus dikomposisikan secara pas.Pertanyaanya apa formula untuk mengkomposisikannya? 🙂

Iklan

5 thoughts on “Berprasangka Baik

  1. KAlau sudah dititpkan harusnya percaya aja, asal ditipkan di tempat yg benar (tempat penitipan barang) kalau emmang hilang ya diurus baik2, kalau penyelesaian bertele-tele ya tulis di blog 🙂

  2. biasanya saya meninggalkan sepatu/sandal saat di masjid dengan prasangka baik tanpa dititipkan, saat saya kembali, sepatu/sandal itu tetap ada di tempatnya. tak kurang suatu apa.
    suatu ketika, ada sedikit was-was saat meninggalkan sepasang sepatu. lha kok, pas kembali kok ya kejadian … sepatu itu ikut yang lebih membutuhkan daripada saya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s