Instagram Tidak Jalan di Samsung Galaxy Young

Begitu kehadiran Instagram for Android heboh sejak beberapa hari, pagi ini saya ikut dalam penasaran mencoba Instagram di Samsung Galaxy Young. (Operating System masih bawaan, yaitu 2.3.6)

Saya menginstall Instagram dari Google Play. Proses instalasi berjalan lancar, login lancar, melihat foto-foto Instagram yang di-upload orang-orang lancar.

Permasalahanya, saya tidak bisa memberikan efek-efek Instagram di baik foto yang diambil langsung dari Camera maupun untuk foto-foto yang ada di gallery.Tiap kali saya menerapkan efek apapun, hasilnya hanya sebuah image/gambar hitam gelap mutlak. Saya berusaha mencari masalah kenapa efek instagram tidak bisa diterapkan. Sampai install ulang dan hard reboot handset.

Pertanyaan saya: Apakah perlu minimum system requirement untuk menginstall Instagram for Android? Masalah seperti ini rupanya tidak terjadi ketika dicoba pada Samsung Galaxy yang berspesifikasi hardware lebih tinggi. Saya belum mencoba menginstallnya di handset Android lain dengan OS dan hardware yang setara dengan Galaxy Young sih πŸ™‚

h. Atau karena masih ada issu/bug di Instagram for Android ini. Ada yang tau masalah ini?

 

 

Desa Grogol : Lomba Desa

Minggu sore, bapak ketua RT di lingkungan saya tinggal mengantarkan undangan untuk bapak saya. Intinya melalui undangan itu, Pemerintah Desa Grogol menghendaki bapak untuk menghadiri acara Penilaian Lomba Desa di Balai Desa Grogol yang berlangsung pada hari Senin 2 April 2012. Miyanto, tetangga saya, mendapatkan undangan yang sama. Baik bapak maupun Miyanto bukanlah siapa-siapa, bukan perangkat desa, bukan pula pemegang kepengurusan apapun di desa. Singkat kata bapak dan Miyanto (dan warga yang lain) diperlukan kehadiranya di Balai Desa sebagai penggembira. πŸ˜€

Lomba Desa Grogol

Lomba Desa Grogol

Foto oleh Agung Thet

Meskipun akhirnya baik Bapak maupun Miyanto tidak hadir ke Balai Desa. Bukan bermaksud mbalelo. Permasalahannya adalah apa relevansi ‘penggembira’ dengan penilaian lomba. Β Gayeng regeng?

Sentiman Terhadap Lomba Desa

Sentiman Terhadap Lomba Desa

Pertanyaan yang diposting di dinding group facebook teman-teman di desa, Konco Ndeso, Β ini adalah salah satu dari banyak diskusi baik offline maupun online terkait masih relevankah format Lomba Desa seperti yang diikuti oleh Desa Grogol tercinta sekarang ini dalam mengukur pembangunan dan pertumbuhan desa. Meminjam kata satire, Lomba Desa apa Lomba Bethek? Pembangunannya atau seremonialnya?

Saya melihat munculnya pertanyaan dan diskusi semacam ini sangat wajar. Dan arahnya positif. Dari sini paling tidak bisa digunakan sebagai indikator untuk melihat arah pertumbuhan pola pikir, terutama pemuda-pemudi di Desa Grogol.

Sebuah pertanyaan “Apa manfaatnya?” merupakan hal yang alamiah ketika kita harus mengeluarkan uang (kenyataanya ada banyak iuran baik itu yang dipungut langsung dari KK maupun pungutan dari dana kas kelompok), waktu tenaga (untuk bekerja bakti, memperbaiki pagar, sarana umum secara dadakan dan meluangkan waktu sebagai penggembira di Balai Desa pada hari H -nya) dan kondisi psikologis yang memanas karena rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi. (kenyataanya meskipun harga BBM belum jadi naik, tetapi harga-harga kebutuhan masyarakat mendahului naik)

Seorang tetangga saya yang berprofesi sebagai buruh tani, yang kebetulan menjanda, suatu kali mengeluhkan pekarangannya yang cukup luas yang dikelilingi jalan. Ia pusing dengan uang yang harus ia belanjakan untuk membeli bambu untuk gapit pagar yang jumlahnya tidak sedikit, dan masih harus membayar tenaga kerja untuk menyelesaikan bethek yang bukan jenis pekerjaan wanita.

Ala Indonesia memang apa-apa serba mendadak. Infrastruktur, sarana dan prasarana dipersiapkan ‘dalam rangka’ Penilaian Lomba Desa. Ibu Rumah Tangga tetangga saya berhari-hari lemburan mengerjakan kelengkapan dan buku administrasi kegiatan di lingkungan dimana saya tinggal. Bisa dibayangkan bila buku keuangan, dokumentasi, notulen rapat, dan sejenisnya dikerjakan lembur demi nilai. Saya tidak mengatakan mereka memanipulasikan lhooo, hehehe Β Dan lain-lain, dll dll.

Dalam hal ini saya lihat yang menjadi permasalahan adalah format Lomba Desa yang digunakan yang sepintas dari kejauhan terlihat sebagai warisan saklek dari jaman Orde Baru. πŸ˜€

Saya punya angan-angan seperti ini:

  • Dalam suatu periode Lomba Desa, Desa itu dipertandingkan dengan desa-desa lain dalam satu kecamatan atau desa-desa yang bertetangga. Misalnya Desa Grogol, Desa Plembutan, Desa Pampang, Desa Karang Asem.
  • Penilaiannya, sebaiknya penilaiannya dilakukan dalam satu tahun atau dalam 6 bulan. Bukan satu hari seperti model yang digunakan sekarang.
  • Apa yang dinilai, bisa diantaranya adalah tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan perangkat desa (instrumen dan indikatornya merupakan masalah teknis yang bisa didiskusikan bersama), pertumbuhan pendidikan, pertumbuhan perekonomian, tingkat pengembalian kredit, keamanan lingkungan, pelayanan kesehatan, indeks korupsi, dan lain-lain. Olah raga, kesenian, budaya, kehidupan beragama bisa dimasukan kedalam penilaian.
  • Apa lagi … ? (silakan ditambahkan)

Inti dari ide saya ini adalah bagaimana Lomba Desa bisa memberi manfaat sebaik-baiknya bagi masyarakat. Makin baik manfaat kegiatan Lomba Desa bagi masyarakat otomatis akan meningkatkan partisipasi dan dukungan dari elemen masyarakat tanpa rasa ngowel dan keterpaksaan.

Lomba Desa bukanlah selalu identik menang kalah dan bubar cangak gulung tenda begitu penilaian lomba selesai dibacakan. πŸ™‚

Melamun Ketika Sedang Makan

Sariawan di bibir kiri bawah saya sudah sembuh. Sariawan yang termasuk agak lama menemani hidup saya. Bukan sariawan yang disebabkan kekurangan vitamin C. Sariawan ini akibat tergigit gigi saya sendiri ketika makan. Bagaimana bisa? Bisa saja. Bukan karena saya makan sambil berbicara. Melainkan makan sambil terlalu anteng, terlalu diam. Sariawan ini bisa lama karena belum sembuh sariawan ini, peristiwa bibir tergigit terulang lagi. hehe. Sampai ujung-ujungnya ya dibantu dengan asupan vitamin C sintetis. πŸ˜€

Saya jadi senyum senyum seorang teringat bapak penjual soto langganan saya beberapa Minggu yang lalu. Beliau menegur ketika saya sedang makan di warung soto milik beliau. “Mas, kalau makan soto jangan sambil melamun.” tegur penjual soto itu. Saya tetap terdiam sampai beberapa saat sebelum tersenyum kecut menjawab “Wah, seniman harus banyak melamun, pak. Pencarian inspirasi”, “Memang kamu seniman apa?”, “Fotografer termasuk seniman, kan?”, “Oh, pantesan! Spesialis menfoto-foto orang gila ya!” Memang bapak-bapak penjual soto itu pernah melihat saya mengejar orang gila demi sekumpulan jepretan foto.

“Iya pak, lihat di handphone saya ini juga ada banyak foto-foto bapak lhoooh” tukas saya. Sambil terbahak-bahak bapak penjual soto itu, “Sempruuuul”.

Apa yang saya sadari aneh, lebih seringnya sih tidak saya sadari, beberapa tahun terakhir ini saya sering tiba-tiba menemukan sesuatu ketika sedang makan. Entah itu ide-ide baru, ide untuk merangkai ide-ide yang random menjadi rangkaian ide yang lebih logis, atau benang merah ketika saya dihadapkan keterpaksaan untuk mengurai benang kusut.

Ini saya rasakan ada baiknya sekaligus menjadi masalah tersendiri. Saya pernah ditegur oleh teman-teman saya ketika sedang lunch mereka menemukan saya ndomblog dan tidak nyambung diajak ngobrol. πŸ˜€ Kalau sedang parah, saya bisa tidak hanya ndomblong ketika sedang makan, tetapi juga ketika sedang berjalan atau mengendari kendaraan. Lebih gawat lagi hal ini bisa mengganggu kekhusukan dalam shalat.

Alih-alih, ketika sariawan di bibir sembuh, sekarang gantian tumbuh dua jerawat. Satu di pipi kanan bawah. Satunya lagi di bawah mata kanan. Kalau ini kali akibat malas cuci muka sebelum tidur. πŸ˜€

April Mob

Siapa sih yang tidak tahu bohong-bohongan yang marak tiap tanggal 1 April. Atau keren disebut sebagai April Mob. Bukan serius membohongi sih, hanya untuk lucu-lucuan. Namanya lucu-lucuan, ada yang bikin orang tertawa ketiwi, ada yang bikin orang yang dibohongi marah-marah tidak karuan.

Seperti yang sudah terjadi sepanjang hari ini di twitter, banyak orang-orang marah-marah dengan kontes RT (adu banyak me-retweet suatu tweet) dengan hadiah iPad. Belakangan diketahui sebagai Mob belaka. Yang lucu seperti dibawah ini:

Hihi, beginilah kadang men-follow anak-anak muda di twitter. πŸ™‚

April Mob tidak hanya dijadikan oleh anak-anak muda dan orang-orang yang selo sedang tidak punya kerjaan. Google biasanya juga turut merayakan April Mob dengan Goodle Doodle -nya. Namun saya lihat tadi Google belum memasang Doodle April Fool. Mungkin besok. Sekarang di Amerika sana belum tanggal 1 April.

Sebenarnya apa dan sejak kapan sih April Mob. Rujukan pertama tentu wikipeda. Lihat di:Β http://en.wikipedia.org/wiki/April_Fools%27_Day