Paliyan: Data Asal Asalan Untuk e-KTP

Kali ini saya bermaksud membagikan pengalaman saya sendiri mengikuti proses pembuatan e-KTP di kecamatan Paliyan kabupaten Gunungkidul.

Undangan untuk foto e-KTP, pemindaian sidik jari, pemindaian retina mata dan pemindaian tanda tangan atas nama KK ayah saya kami terima kemarin sore. Sesuai undangan kami sekeluarga dan warga dusun Karangmojo B lainnya sampai di kator kecamatan Paliyan pada kira-kira pukul 8 pagi.

Antrian Pembuatan eKTP di Paliyan

Di kantor kecamatan Paliyan rupanya para tetangga saya sudah mengantri. Karena antrian yang panjang dan satu  dari dua set alat pembuatan eKTP rusak, maka sampai pada kira-kira jam 13:00 WIB baru sampai pada giliran keluarga saya -saya dan adik- untuk mengikuti rangkaian pengambilan vas foto, pemindaian sidik jari dan retina serta pengambilan tanda tangan.

Proses itu kami lalui dengan cepat dan lancar. Alhamdulillah jari-jari tangan saya tidak terhambat kapalen dan mata tidak punya masalah katarak. 😀

Selain satu set alat pembuatan eKTP yang rusak ada masalah lain yang tidak kalah penting. Masalah itu adalah banyak data individu pada undangan eKTP yang salah. Kesalahan itu diantaranya adalah tanggal lahir, alamat dan bahkan jenis kelamin. Hesti, cewe tetangga saya terpaksa harus pulang karena didata berkelamin laki-laki. Baca lebih lanjut

Denah Sentra Kerajinan Gunungkidul di Siyono

Setelah Pasar Hewan yang tersohor di seantero Gunungkidul itu dipindahkan ke tempat baru di Logandeng, kini kawasan di sekitar Bundaran Siyono hampir tidak pernah dijumpai kerumunan yang njawani seperti dulu.

Tapi jangan salah. Di lokasi yang telah ditinggalkan para blanthik itu kini sedang dibangun Sentra Kerajinan Gunungkidul. Infrastruktur kawasan Siyono yang terbilang bagus saat ini dipandang cocok untuk men-display karya tangan-tangan terampil bakat-bakat Gunungkidul. Baca lebih lanjut

Deklarasi ASEAN Blogger

1. We, the ASEAN bloggers, gathered in Bali, on 16th November 2011, aligned with the 19th ASEAN Summit,  acknowledge the role and contributions of social media for the establishment of ASEAN Community 2015.

2. We, the ASEAN bloggers, aspire to seek the freedom of expressions among us as enshrined in Universal Declaration of Human Rights.

3. We, the ASEAN bloggers, in the spirit of partnership and solidarity among the family of people from ASEAN countries, independent of political influence, are determined to use social media in the development of ASEAN’s political, economic, and social-cultural potentials with the aim to promote understanding among ASEAN people.

4. We, the ASEAN bloggers, are determined to develop cooperation in all fields under ASEAN’s One Vision, One Identity, and One Community.

5. We, the ASEAN bloggers, are committed to ethical and positive demeanor, respectful of the rights of authors attached to articles, photos, and videos, and other creative products.

6. We, the ASEAN bloggers commit to:

a. Declare the 16th November as the ASEAN Bloggers’ Day.

b. Develop communication platforms, both at the national and the sub-regional levels, taking into account the interest of people participation in the rural areas of ASEAN countries.

c. Organize future activities to encourage closer contact among bloggers.

d. Mandate the Indonesian ASEAN Blogger Community President to coordinate and communicate to all their counterparts from ASEAN countries regarding development and progress achieved in accordance with the Declaration.

7. We, the ASEAN bloggers, encourage all bloggers to join our efforts in making this Declaration a reality.

Declared in Bali, 16th November 2011.

Copy paste dari blog Mas Iman Brotoseno di sini. Adalah deklarasi ASEAN blogger yang dibuat dalam waktu yang sangat singkat, padat dan persiapan yang terbatas di Museum Pasifika Nusa Dua Bali di Konferensi ASEAN Blogger pada tanggal 16 November 2011.

Sebelumnya, tidak terbayang bagi saya akan dihasilkan sebuah naskah deklarasi dalam waktu yang sesingkat itu. Saya belum mempunyai gambaran apa-apa pada saat diundang. Poin-poin diskusi baru saya ketahui ketika siang itu saya tergabung dalam  kelompok diskusi C yang dipandu oleh Herman Saksono. Seorang teman blogger dari Yogyakarta.

Dari poin-poin diskusi yang oleh panitia ditentukan berbeda-beda untuk masing-masing kelompok diskusi. Ada tiga kelompok diskusi A, B, C. Yang hasilnya kemudian diplenokan. Baca lebih lanjut

Penipuan Lewat Telepon Makin Nekad

Kemarin sore, saya ditelpon oleh seseorang dengan nomor 082148023694. Penelepon itu memberi saya kabar kalau mobil Opel Blazer warna biru milik saya sedang terkena masalah dan ditahan di Polsek Jakarta Utara.

Ngaco banget. Sepeda ontel saja saya tidak punya, apalagi Blazer warna biru. Lagian saya tidak tinggal di Jakarta. Saya ingin menyudahi telepon seseorang yang jelas-jalas ngawur yang saya yakini sebagai penipu itu dengan mengatakan kalau saya tidak punya mobil itu dan saya akan segera menutup telepon. Namun si penelepon itu tetep ngotot dan berusaha meyakinkan kalau itu mobil saya. Males melayani penipu, saya langsung menutup telepon.

Hanya berselang satu hari, sore ini ada telepon tipu-tipu lagi. Telepon dari 082166195811. Bukan di ponsel saya lagi. Lebih buruknya telepon tipu-tipu ini ke nomor ponsel simbok. Untungnya, sayalah yang mengangkat telpon itu. Si Penipu kali ini mengabarkan kalau adik laki-laki saya sedang kena masalah dan berurusan dengan kantor polisi.

Saya langsung membentak penelepon ini sebagai penipu. Sama seperti penelepon tipu-tipu kemarin sore, penelepon ini tetep ngotot kalau dia tidak menipu dan adik laki-laki saya sedang di kantor polisi beneran dan dia menelepon karena dimintai bantuan oleh adik saya. Males melayani, telepon langsung saya tutup.

Saya tidak habis pikir bila telepon ini diangkat oleh simbok dan simbok sedang dalam keadaan cape. Hmmm! Bagaimana saya tidak akan misuh-misuh dengan penipu-penipu yang makin hari makin nekad seperti ini.

Kalau sudah makin sering terjadi kasus kejahatan lewat ponsel seperti ini, kapan pemerintah akan membuat aturan yang jelas terkait kepemilikan nomor ponsel. Terutama untuk kepemilikan nomor prabayar. 😐

 

Disemutin Semut

Sebel banget ya kalau minuman manis yang kita taruh di meja tiba-tiba sudah dikerumuni oleh semut. Seperti teh manis saya pagi ini. Belum seberapa yang saya minum sudah digilir oleh kerumunan semut.

Sejak beberapa hari ini, bila menaruh makanan atau minuman manis di meja saya akan lekas membuat semut-semut berkumpul. Padahal sebelumnya jarang sekali kedatangan kawanan semut. Kali karena sudah musim turun hujan. Jadi semut yang semula bermarkas di halaman dan pekarangan bermigrasi ke rumah hunian karena takut terendam air.

Saya pernah mendengar, kalau membaca ulasan yang detil sih belum pernah, katanya membunuh semut-semut itu dilarang oleh agama yang saya anut. Padahal bila tidak sengaja meminum atau memakan minuman atau makanan yang bersemut itu sudah berapa banyak semut yang terbunuh. Kasian. 😦

Saya juga belum tahu bagaimana cara yang efektif untuk menghalau semut-semut yang beraneka jenis itu. Ada yang kecil-kecil dan berjalan pelan, ada yang gede-gede, ada yang bila menggigit menyebabkan bentol-bentol dan iritasi kulit, dan bermacam-macam lainnya.

Ada ide cara mencegah semut tanpa membunuhnya?

Susilo Bambang Yudhoyono

Di posting saya kali, saya sedang tidak akan mengritik apalagi memuja-muji pak beye, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Saya akan menuliskan arti kata Susilo Bambang Yudhoyono menurut Bahasa Hindi. Bahasanya negeri Ramayana Mahabara. Bahasanya orang-orang India di seberang sana.

  • Susilo, dari kata Susil, yang berarti: good behave
  • Bambang: … (tidak tahu, atau kata tidak terdapat dalam kosakata Bahasa Hindi
  • Yudhoyono, dari kata Yudh, yang berarti: fight for something worth

Dari mana saya tahu Bahasa Hindi? Saya tidak sedang mengikuti kelas Bahasa Hindi. Menerjemahkan beberapa nama orang, terutama nama orang yang diambil dari Bahasa Jawa, ke dalam Bahasa Hindi ini muncul dalam ngobrol-ngobrol saya dengan seorang representative ASEAN Blogger dari Cambodia. Representative itu bernama Anirudh, bernama lengkap Anirudh Singh Bathi. Dia memegang passport India dan memang berasal dari India.

Kembali berbicara tentang arti nama orang, Anirudh sendiri berarti: one it started, it doesn’t stop atau unstoppable. Untungnya Anirudh tidak tahu apa arti nama saya. Saya sendiri saja tidak tahu apa artinya sebuah nama pemberian orang tua ini. hehe Baca lebih lanjut

Belajar Thai English di ASEAN Blogger

Adalah Wason. Seorang pria berpenampilan kalem yang duduk satu kursi dengan saya dalam bus yang mengantarkan dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali menuju Hotel Pop Haris dimana peserta ASEAN Blogger Conference menginap.

Saya tidak mengenal Wason sebelumnya. Saya hanya sedikit menyapa ketika tiba di bandara dengan wajah nampak ragu, dan lelah dengan koper bawaannya setelah menempuh waktu terbang dari negaranya,  dan belum punya ide akan bunga kamboja yang dikalungkan pada setiap peserta ASEAN Blogger yang baru tiba di bandara sebagai ungkapan selamat datang.

Dibalik penampilanya yang kalem, kemudian baru saya ketahui, sebenarnya Wason adalah pria yang ramah dan penuh penasaran. Dia memulai mengajak saya berbicara dan lebih ngobrol-ngobrol. Dia penasaran dengan gambar-gambar dan poster di sepanjang jalan yang dilalui bus –secara bulan ini di Bali sedang berlangsung banyak konferensi, dengan patung-patung di beberapa perempatan jalan,  termasuk ketika ia keheranan melihat sebuah poster yang mencantumkan nomor ponsel dengan digit yang menurut dia panjang sekali. Di negaranya ponsel hanya 7 digit. Di sini nomor ponsel sepanjang 12 digit.

Lebih dari itu, Wason juga mengajak saya ngobrol tentang kebebasan berbiacara di Indonesia, terutama kebebasan berbicara di internet, undang-undang yang mengatur penyampaian pendapat dan hal-hal terkait. Saya sedikit berbicara tentang UU ITE yang memuat pasal deflamasi/pencemaran nama baik yang banyak diprotes blogger dan onliner Indonesia, kasus Prita Mulyasari dan lain-lain.

Wason pun menceritakan tentang menyebut sesuatu yang buruk atas Raja Thai, apapun adalah pelanggaran hukum. Tidak ada kritik untuk Raja dan pemerintahan. Onliner harus berhati-hati bila tidak ingin dipenjarakan. Termasuk Wason menceritakan tentang blogging dan trend social media di Thailand.

Sampai di sini barangkali Anda mengira ngobrol-ngobrol saya dengan Wason itu lancar-lancar saja.

Kenyataannya tidak demikian. Masalah sudah terjadi ketika di dalam bis kami berkenalan nama. Ketika saya tanya nama, saya tidak jelas kata apa yang dikatakanya. Telinga saya mendengarnya sebagai sesuatu semacam Hua thou. Dia pun agak susah menyebut nama saya, Jarwadi. Mengulang-ulang menyebut nama ternyata tidak menyelesaikan masalah.

Anda tau apa ide saya? Saya menuliskan nama saya di ponsel saya dan menunjukan ke dia. Dan di ponsel saya menuliskan namanya berdasarkan apa yang saya dengar. Oh ternyata saya salah mengetik namanya. Dia pun menuliskan ‘Wason’ di ponsel.

Nah, cara seperti ini yang kami gunakan sepanjang ngobrol panjang yang intinya saya tuliskan pada paragraf-paragraf terdahulu. Bila telinga saya kurang jeli maka saya akan mengkonfirmasinya dengan kalimat yang saya tuliskan pada ponsel. Hal serupa dilakukan oleh Wason. “Chating” seperti ini tidak perlu koneksi internet. Cukup Wason melihat ponsel saya. Saya melihat ponsel Wason. hehehe

Sampai sekarang saya masih menyimpan “file text” yang berisi apa yang saya katakan pada Wason. Andai Wason masih menyimpannya akan sangat memorable bila bisa saling bertukar file text untuk dapat membaca kembali offline text chat itu. 🙂

Lesson Learned:

Kalau saya saat ini hanya mengenal dan mempelajari United State English, Australia English dan United Kingdom English, itu saja belum cukup. Saya juga perlu belajar Thai English dan varian dari Asia English lainnya. Ngobrol-ngobrol dengan Mr Wason ini mengingatkan saya akan lucu-lucu penuh kocak di film remaja Thailand yang saya tonton beberapa tahun lalu yaitu Crazy Little Things Called Love dan Sucksheed.

Nah, saya harus mulai dengan lebih banyak menonton film Thai agar terbiasa dengan Thai English. Jadi bila suatu saat Mr Wason mengundang saya ke Pattaya beach di Thailand sana, saya tidak lagi terkendala Thai English pronounce. 😀

Penasaran dengan Mr Wason. Lihat foto berikut: Baca lebih lanjut