Nonton Di Belakang Layar

Wayang : Di Belakang Layar

Wayang : Di Belakang Layar

Tanpa rencana tanpa dinyana, (sebenarnya saya sudah akan tidur tetapi diampiri oleh teman-teman) semalam saya menonton pergelaran Wayang Kulit/Wayang Purwa. Yang diselenggarakan di Balai Dusun di Kampung sebelah, Dusun Karangmojo A. Yang dibabar oleh Ki Dalang Suko Cermo Menggolo. Dengan lakon: Tambak Bendhung. Ini merupakan cerita Ramayana. Ngomong-ngomong lakon Raden Rama – Dewi Sinta saat ini sudah jarang dilayarkan di dunia pewayangan. Kalah populer dengan cerita-cerita Pandawa di kisah Mahabarata.

Saya tidak akan menceritakan kembali lakon yang dibawakan Ki Dhalang Suko tadi malam. Ada satu hal kecil yang mungkin sudah tergeser dari menonton wayang.

Menonton wayang sejak jaman dulu bisa dilakukan dari dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang, arah pandang yang umum digunakan banyak orang adalah dari depan. Dari sudut dimana semua kemewahan dan gebyar terlihat. Mulai dari waranggana yang berdandan menor, para penabuh gamelan wiaga, pakaian ki dhalang sampai pada kerlap-kerlip dan pernik wayang.

Wayang: Bendhung Tambak

Wayang:  Tambak Bendhung

Sementara di belakang layar biasanya duduk-duduk para pinisepuhan, para orang tua yang menyimak pergelaran wayang. Biasanya penonton di belakang layar ini adalah mereka yang sudah cukup makan garam dan berderajat pengetahuan lebih. Mereka melihat wayang yang sesungguhnya adalah bayang-bayang. Dan saya perhatikan semalam saya tidak menemukan duduk para pinisepuhan seperti yang saya temui pada jaman dulu, sekitar tahun 1990-an.

Hmmmm.

Saya pun semalam tidak menonton sampai ngebyar, sampai pagi. Saya segera menghangatkan diri dengan membeli wedang ronde.

Wedang Ronde di Peyayangan

Wedang Ronde di Peyayangan

Kemudian pulang.

Mas Bagong dan Karya Wayang

Diantara teman – teman sebaya, Mas Bagong adalah salah satu teman sekaligus saudara saya yang meneguhkan hati untuk setia tinggal di kampung halaman. Dia adalah teman penting yang saling menguatkan untuk melawan godaan untuk mencicipi germelap kehidupan ibukota. Berbeda dengan saya dan kebanyakan pemuda – pemuda seusia, Mas Bagong memilih jalan hidupnya untuk sepenuhnya didedikasikan pada seni dan budaya. Dia adalah seniman serba bisa mulai dari seni musik campur sari, karawitan jawa, seni rupa, sampai kepedulian pada budaya adi luhung, Wayang.

Dari Wayang
Dari Wayang

Sudah selama dua tahun Mas Bagong mengajak kita semua untuk meng apresiasi dan mengagumi budaya kebanggaan bangsa ini. Mas Bagong menatah wayang, merupai (mengecatnya), kemudian menyungging. Melalui wayang mas Bagong mengajak kita semua untuk lebih jauh belajar dari kehidupan dan kebijaksanaan. Membicarakan kebijaksanaan wayang rasanya saya tidak cukup pantas bahkan untuk menuliskan satu kalimat saja. Durung gaduk kuping.

Mulanya Wayang – wayang karya Mas Bagong di tugar oleh teman – teman dan sahabatnya, tentu dengan pengganti lelah dan seberapa untuk membeli kulit sapi/kerbau, cat dan perlengkapan membuat wayang. Hingga saat ini mas Bagong telah mengirimkan wayang yang ditatahnya ke daerah lain memenuhi pesanan. Dari mulut ke mulutlah orang – orang mengenal kualitas seni dari wayang tatahan mas Bagong ini.

Bila anda ingin mengenal lebih dekat akan Wayang dan Kawicaksanan Jawa, silahkan mengirim email ke saya, nanti akan saya sampaikan kepada beliau. Juga saya akan senang hati membantu anda apabila tertarik untuk mengkoleksi Wayang Kulit buatan mas Bagong.