
ASUS VivoBook S14 (S433)
Pertanyaannya adalah seberapa mampu ASUS VivoBook S14 (S433) menjawab ekspektasi Gen-Z?

ASUS VivoBook S14 (S433)
Pertanyaannya adalah seberapa mampu ASUS VivoBook S14 (S433) menjawab ekspektasi Gen-Z?
Ramadan kali ini kita menjalankan ibadah puasa dalam situasi yang sama sekali berbeda. Dalam situasi pandemi yang menuntut kita untuk selalu terus di rumah demi kebaikan bersama. Tidak ada shalat tarawih berjamaah di masjid-masjid, tidak ada ngabuburit, tidak ada sekedar jogging – jogging gemes menjelang buka puasa, dan yang bikin kangen adalah tidak ada acara buka bersama bareng berbagai komunitas.
Beruntung pekan lalu saya mendapat undangan Buka Puasa Virtual Bareng FWD melalui Zoom Meeting yang diselenggarakan pada 8 Mei 2020. Buka puasa virtual berarti berbuka puasa benerannya di rumah masing-masing. Bertemu teman berbuka puasanya? Bisa saling menatap wajah teman-teman kita sih. Melalui video conference di aplikasi Zoom.

Mata mudah berair, terasa pedih, dan merasa kesulitan ketika membaca teks baik di layar monitor komputer mapun dilayar smartphone membuat siang itu saya cukup panik. Saya khawatir apakah mata saya mengalami gangguan serius seperti mata minus atau karena mata saya terkena gangguan sebagai efek samping obat anti inflamasi yang saya gunakan dalam beberapa bulan terakahir.
Sebagai orang yang sehari-hari harus bekerja di depan monitor komputer, mata yang kurang / tidak sehat bagi saya merupakan masalah. Itulah mengapa saat ini saya berusaha mengambil tindakan pertolongan pertama.
Bila saat itu pertolongan pertama tidak cukup membantu maka mau tidak mau saya harus berkunjung ke dokter spesialis mata. Tetapi langsung ke dokter spesialis mata rasanya bukan pilihan, belum memungkinkan.
Saya mendapat semacam kabar bahwa banyak dokter yang tidak membuka praktek di tengah pandemi Covid-19 ini. Saya pun banyak membaca himbauan agar menghindari fasilitas layanan kesehatan, termasuk dokter praktek untuk mencegah terkontaminasi virus nCov v2 yang sangat menular itu. Baca lebih lanjut

Untuk digunakan sehari-hari sebenarnya desain seperti apa laptop yang saya sukai? Silahkan bila Anda mengatakan saya ababil, galauan atau moody. 😀 Sejujurnya saya selalu mengagumi laptop – laptop dengan desain yang elegan dan classic. Itulah mengapa sehari – hari saya lebih banyak menggunakan lini notebook ASUS Zenbook yang terkenal dengan concentric circle di bagian belakang layar, penggunaan warna – warna yang classic yang membalut kemapuan yang powerful, serta desain body tipis dan minimalis.
Pada kesempatan yang berbeda saya menginginkan diri untuk tampil lebih ekspresif. Menjadi ekspresif saya merasa merupakan cara untuk mengeksplorasi sisi kreatif yang ada di dalam diri. Saya tidak tahu apakah ini watak natural seorang saya atau karena saya sehari – hari lebih banyak bergaul dengan anak-anak muda. Sehingga usia psikologis saya pun menjadi turut lebih muda. 😀
Tampil secara kekinian seolah telah menjadi sisi lain dari hidup saya. Saya suka tampil dengan warna – warna yang volt dan ekspresif. Saya suka keluar dari zona nyaman dengan tampil menggunakan laptop yang berdesain lebih berwarna. Seperti ketertarikan saya terhadap laptop Asus VivoBook S14 S433 ini. Sebuah laptop yang “tampil amat bersemangat” dengan berbagai pilihan warna sekaligus berkemampuan tidak jauh berbeda dengan seri Zenbook yang saya idolakan. Baca lebih lanjut

Kejadian salah obat yang menimpa ayah saya beberapa tahun membuat kami trauma. Betapa tidak ketika pada tengah malam membutuhkan pertolongan cepat di fasilitas layanan kesehatan (faskes) karena diare yang parah, ternyata bagian farmasi/ apotik di faskes tersebut malah memberikan beberapa jenis obat yang salah satunya adalah amboxol (obat batuk). Padahal tidak ada gejala batuk yang menyertai diare yang diderita oleh ayah saya. Peristiwa selengkapnya bisa dibaca di tulisan lama saya di sini.
Semenjak peristiwa tersebut kami semakin berhati – hati dengan setiap layanan kesehatan yang kami gunakan sekaligus membuat kami sadar bahwa kesalahan tak disengaja selalu mungkin terjadi. Di fasilitas layanan kesehatan (faskes) kesalahan tak disengaja itu bisa berupa salah pemberian obat seperti kasus yang saya ceritakan di atas dan kesalahan atau kekurang akuratan diagnosa. Baca lebih lanjut
Osteoporosis secara harfiah diterjemahkan sebagai kondisi tulang yang menjadi tipis, rapuh, keropos, dan mudah patah akibat berkurangnya massa tulang dalam jangka waktu yang lama.
Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Gizi Departemen Kesehatan RI pada 2005 meluncurkan hasil analisa data risiko Osteoporosis yang dilakukan di 16 wilayah di Indonesia.
Analisa itu menunjukkan prevalensi osteopenia (osteoporosis dini) mencapai 41,7% dan prevalensi osteoporosis mencapai 10,3%. Hal ini berarti 2 dari 5 penduduk Indonesia memiliki risiko terkena osteoporosis, yang mana 41,2% dari keseluruhan sampel berusia kurang dari 55 tahun terdeteksi menderita osteopenia.
Singkat kata risiko pengeroposan tulang atau osteoporosis tidak hanya ancaman bagi para lansia, melainkan juga bagi generasi berusia produktif seperti kita.
Memang sebagai penggiat olahraga lari kita diuntungkan dengan aktivitas fisik dan latihan beban yang sudah kita lakukan secara rutin. Aktivitas latihan yang terbukti membantu memperlambat penurunan kepadatan tulang seiring bertambahnya usia. Namun demikian tetap saja kita harus mewaspadai sejumlah penyebab ostoeporosis yang lain seperti: diet yang buruk, gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, dan kecenderungan genetik.
Paul Chamberlain, Nutrition and Education Director di Solgar, mengatakan pentingnya makan dengan diet yang tepat untuk mencegah osteoporosis di usia tua: Nutrisi yang buruk adalah faktor utama dalam peningkatan risiko terkena osteoporosis.
Berikut ini adalah nutrisi utama yang dianjurkan oleh Paul Chamberlain agar terhindar dari peningkatan resiko osteoporosis :
1/ Kalsium
Kalsium sangat penting karena tubuh membutuhkan kalsium untuk banyak sekali proses, termasuk dibutuhkan oleh fungsi sitem syaraf. Ini berarti bahwa ketika tubuh mengalami kekurangan protein, tubuh akan mengambil kalsium dari tulang kita.

Chamberlain menjelaskan, bila asupan makanan kekurangan kalsium maka tubuh akan melepaskan hormon yang akan menstimulasi apa yang disebut rearsorbsi kalsium dari tulang –memecah tulang untuk melepaskan kembali ke sistem peredaran darah untuk menjaga apa yang disebut: calcium homoeostasis. Baca lebih lanjut

Bagi para penyuka olahraga lari, masa – masa phisical distancing atau #DiRumahSaja atau #StayHome merupakan masa – masa yang tidak mudah. Betapa tidak. Bila sebelumnya kita terbiasa menikmati berolahraga di jalan raya, di taman, di stadion dan di tempat – tempat terbuka publik lainnya, kini kita harus bisa menyesuaikan diri.
Misal kita mengganti olahraga lari luar ruang dengan indoor workout, spinning, treadmill, berlari statis, dan atau berlari di ruang atau halaman pribadi yang terbatas. Bagi saya pribadi dan mungkin banyak orang lain apa yang diperlukan adalah beradaptasi untuk mengatasi kebosanan ketika harus dihadapkan dengan situasi yang monoton dan sendirian pula.
Sebenarnya tidak ada yang lebih bisa membantu kita untuk melawan kebosanan ketika harus berolahraga sendirian di tempat yang itu-itu saja kecuali niat yang teguh dan kecintaan yang besar terhadap aktivitas olahraga lari. Baca lebih lanjut


Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah event komunitas, salah seorang teman saya bertanya mengapa saya tidak lagi mengenakan sportwatch. “Jam Garmin saya rusak”, jawab saya singkat.
Mendengar jawaban saya singkat, kawan saya itu menyarankan sebuah brand sportwatch. Coros. Brand yang namanya saja baru saya dengar pertama kali dari rekomendasinya, apalagi melihatnya, saya belum pernah.
Andai kawan saya yang menyarankan itu mengenakan sportwatch Coros yang dimaksud mungkin saya bisa langsung melihat-lihat, mencoba mengenakannya, mempelajari fitur-fiturnya. Siapa tahu saya cocok menggunakannya sebagai pengganti jam rusak yang pernah memberi saya kenyamanan dan training log selama sekitar 2 tahun.
Bagi siapapun yang sudah terjebak dalam sebuah environmet teknologi, termasuk saya, berganti merk sebuah sportwatch tentu bukanlah hal yang mudah. Kalau berganti dari satu tipe ke tipe yang lain, apalagi tipe yang lebih high end, tentu saya akan senang – senang saja.
Di tengah kewaspadaan penuh akan wabah Covid-19 di Indonesia, ASUS meluncurkan serangkaian produk laptop gaming. Salah satu jajaran laptop gaming itu adalah laptop ROG yang menggunakan processor 10th Gen Intel Core H-series. Tidak tanggung-tanggung sisi grafis ROG jenis ini menggunakan nVidia GeForce RTX Super.
Ini seolah ingin mencuri momentum pada saat kabanyakan kita lebih banyak tinggal di rumah sebagai wujud dari gerakan Work From Home/Stay at Home untuk membatasi penyebaran wabah. Sebagai seorang gamer baik yang pro maupun musiman mungkin ini akan menjadi penawaran menarik.
Berikut ini kita simak press release yang baru saja saya terima:
ASUS mengumumkan jajaran laptop gaming ROG terbaru yang menggunakan prosesor 10th Gen Intel® Core™ H-series. Tidak hanya versi refresh, ASUS juga menghadirkan model baru yang mendefinisikan ulang sebuah laptop gaming serta laptop untuk para content creator. Prosesor 10th Generation Intel® Core™ tidak hadir sendirian karena laptop gaming ROG terbaru kali ini juga ditenagai oleh chip grafis NVIDIA® GeForce® RTX SUPER™ serta teknologi pendinginan baru yang inovatif.
Jajaran laptop gaming ROG terbaru terdiri dari Zephyrus Duo, laptop gaming pertama dengan ROG ScreenPad Plus, serta lini Zephyrus S, M, dan G yang kini semakin portabel dan powerful. Untuk gamer penggemar eSports, ROG Strix SCAR terbaru kini kembali hadir dengan dukungan chip grafis hingga GeForce RTX 2080 SUPER serta layar 300Hz. Selain itu, terdapat pula Strix G15 Electro Punk dengan tampilan baru yang penuh gaya.

Jajaran laptop gaming ROG terbaru tidak hanya sekadar tampil dengan prosesor dan chip grafis terkini, tetapi juga dengan berbagai teknologi terkini yang akan menjadi standar baru industri. Mulai dari teknologi pendingin menggunakan liquid metal, penggunaan RAM DDR4 berkecepatan tinggi, serta layar kencang, semuanya merupakan terobosan dan inovasi agar gamer dapat menikmati game dengan kualitas dan performa terbaik tanpa kompromi.
Prosesor Next-gen dan Chip Grafis SUPER
Hadir dengan konfigurasi hingga 8 core, prosesor 10th Gen Intel® Core™ H-series dirancang untuk beban kerja tinggi mulai dari bermain game hingga pembuatan konten. Prosesor Intel memiliki reputasi yang sangat baik berkat clock speed-nya yang tinggi, dan kali ini prosesor 10th Generation Intel® Core™ H-series hadir dengan kecepatan pemrosesan terbaik, yaitu hingga 5,3GHz berkat teknologi Turbo Boost. Dipadukan dengan RAM DDR4 berkecepatan 3200MHz, jajaran laptop ROG terbaru dipastikan hadir dengan performa yang lebih baik dibandingkan pendahulunya. Baca lebih lanjut

Ini mungkin pekan kedua atau ketiga kita menjalani masa-masa phisical distancing yang berat guna membatasi penyebaran virus corona yang mengakibatkan wabah Covid-19 di seluruh penjuru dunia. Usaha untuk tetap berada di rumah dan membatasi kontak fisik dengan orang – orang mendorong kita untuk melakukan banyak penyesuaian terhadap kebiasaan dan pola hidup.
Sebagai penghobi olahraga lari atau pelari rekreasional tentu kita paham bahwa menjalankan program latihan bukan lagi menjadi prioritas. Selain karena semua lomba lari di berbagai negara ditunda dan atau dibatalkan, tetap menjalankan program latihan berat justru kontra produktif dengan tujuan yang paling esensial dalam setiap olahraga yaitu menjadi bugar dan sehat.
Karena dalam taraf intensitas yang berat suatu jenis latihan mengakibatkan penurunan kekebalan tubuh secara sementara yang memberi celah masuk virus dan bakteri menyerang tubuh. Bila kita pernah mendengar istilah “Open Window” atau “J Window”, itulah yang terjadi sehabis kita menjelankan latihan intensitas berat.
Tidak lagi menjalankan suatu program latihan kemudian bisa jadi menjadi alasan kita para pelari rekreasional untuk menanggalkan sportwatch yang biasanya ia kenakan setiap hari untuk memantau kemajuan program latihan. Tetap memakai sportwatch bisa jadi mereka pikir tidak praktis mengingat jam jenis ini perlu diisi ulang baterenya setiap periode waktu tertentu sampai alasan berupa rasa bersalah meninggalkan olahraga dalam waktu berpekan-pekan.