Mencicipi Facebook Graph Search

Beberapa waktu yang lalu, entah kapan persisnya, saya melamar ke Facebook agar diberi kesempatan mencoba fitur beta Facebook, yaitu Graph Search. Dan pada pagi ini lamaran saya terjawab.

Sekarang saya sedang mencoba-coba Graph Search. Coba lihat sehebat apa Graph Search ini. Seberapa bagus Graph Search berdamai dengan privacy, atau benar beberapa orang yang mengritik keberadaan Graph Search sebagai privacy invasion.

Takziyah

Sebuah kabar mengejutkan datang pada sekitar pukul tujuh hari Jum’at kemarin. Seorang teman baik saya meninggal dunia.

Masih antara percaya dan tidak percaya, saya spontan mengucapkan Innalilahi wa ina ilaihi ra’jiun. Semua datang dan berpulang semata atas kehendak Allah SWT. Kematian tidak pernah bisa orang-orang ketahui kapan akan datang menghampiri. Bisa tahun depan, lusa atau nanti, siap atau tidak siap.

Seorang kawan baik saya itu kesehariannya baik-baik saja. Bahkan beberapa hari sebelum berpulang. Selalu datang kepada teman-temannya membawa kesahajaan dan humor-humor ringan yang menyegarkan. Bekerja seperti biasa. Pagi harinya ia pun seperti biasa mengantarkan dagangan milik istrinya ke warung.

Namun begitu ia pulang dan sarapan bersama keluarga, ajal menjemput. Seorang teman saya itu “keselek”. Dan mendadak tubuhnya lemah. Oleh keluarga dan para tetangga, teman baik saya itu dilarikan ke Rumah Sakit . Sayangnya, Allah telah menentukan takdir yang lain. Teman saya itu meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit.

Yah, Orang bisa meniggal kapan saja. Makhluk bisa mati kapan saja. Sesuai kehendak -Nya. Tidak ada yang bisa menghalangi, tidak ada yang bisa menunda, tidak ada yang bisa mempercepat. Tidak ada yang bisa memilih meninggal dengan cara apa. Ada yang meninggal semudah tiba-tiba seperti teman baik saya itu. Ada yang melewati proses sakit panjang menuju ajal.

Paragraf sebelum ini merupakan peringatan untuk diri saya sendiri. Peringatan yang hanya mudah didengar ketika saya sedang ber-takziyah. …

Suka Menyalahgunakan

Kita sering mendengar kabar penyalahgunaan drug yang menimbulkan banyak petaka bagi manusia. Sebenarnya bukan hanya drug saja yang orang sering salah gunakan. Orang senang mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan permasalahan. Jalan pintas yang sebenarnya sama sekali tidak menyelesaikan, malah-malah menimbulkan masalah baru yang lebih rumit.

Rumput-rumput di pinggir jalan dan di jalan yang tiap hari saya lalui pada pagi tadi terlihat semua menguning secara tidak wajar. Rumput menguning bukan karena kekeringan kurang air. Sekarang sedang pada cuaca curah hujan tinggi. Semua rumput di jalan menguning itu karena ulah manusia. Manusia sengaja menyemprotkan herbisida ke rumput-rumput itu. Herbisida itu saudaranya Insektisida. Kalau Insektisida adalah racun pemberantas serangga. Sedangkan Herbisida adalah obat untuk mengendalikan gulma pada tanaman.

Kali ini manusia menyalahgunakan penggunaan herbisida untuk membunuh rumput-rumput di jalan-jalan desa. Penyemprotan herbisida dianggap oleh manusia sebagai solusi untuk membersihkan jalan-jalan dari rumput secara cepat dan praktis. Dianggapnya lebih baik dari bekerja bakti membersihkan rumput dengan cara menyiangi.

Apa yang saya ceritakan ini hanya salah satu contoh penyalahgunaan teknologi pertanian saja. Contoh lain adalah penggunaan insektisida untuk mencari ikan di sungai atau di kolam. Banyak orang yang sengaja meracuni sungai agar ikan-ikan terkapar dan mudah ditangkap tanpa berpikir bahwa sebenarnya racun insektisida itu akan meracuni si penangkap ikan itu sendiri dalam jangka panjang maupun pendek, belum kerusakan alam dan ancaman kepunahan biota sungai dan kolam sampai kerusakan ekosistem.

Konektor mini USB di Ponsel Rusak Lagi

Untuk yang kedua kalinya, beberapa waktu yang lalu konektor minu USB di ponsel jadul saya (blackberry bold) rusak. Kerusakan konektor mini USB itu menyusahkan ketika saya perlu mentranfer data ke komputer. Mentranfer data ini tidak terlalu harus dengan kabel karena menggunakan bluethooth atau wi-fi pun mudah dilakukan. Nah karena dari colokan mini USB ini sekaligus buat charger jelas menjadi masalah rutin yang menyebalkan tiap kali baterai minta diisi ulang.

Saya pikir mengganti konektor mini USB di ponsel bukan masalah sulit. Di toko terdekat saya bisa membeli konektor ini seharga Rp 15.000,- cukup murah. Untuk kemudian saya memasang konektor ini. Masalah pun selesai. Ponsel bisa di-charge dengan normal lagi.

Namun hanya dalam beberapa hari konektor yang baru saya ganti itu rusak lagi. Hawduh. Sebegini jelekkah kualitas spare part/komponen yang dijual di toko-toko onderdil. Sekarang saya mendapati ponsel saya dengan masalah yang sama. Susah di-charge. Saya tahu solusinya mudah, tinggal ganti saja koneksi USB. Hanya yang membuat malas adalah saya harus ke toko lagi, membongkar ponsel, memanaskan soldir/blower untuk memasang part. Sebenarnya ini saya suka melakukannya. Yang membuat saya enggan sebenarnya keraguan saya akan kualitas spare part. Sia-sia bila saya melakukan itu semua hanya bisa untuk dipakai beberapa hari saja. ūüė¶

Angin Kencang dan Pohon Tumbang

Desember sampai pertengahan Januari ini cuaca di desa dimana saya tinggal hanya menyisakan beberapa hari saja dengan cuaca cerah. Selebihnya mendung, hujan dan hujan lebat. Bahkan mulai kemarin malam dibuat dramatis oleh angin kencang. Situasi seperti ini tidak hanya terjadi di desa dimana saya tinggal ya? Apa yang saya baca di twitter dan facebook, angin kencang terjadi dimana-mana di banyak tempat.

Saya tidak tahu itu jenis angin kencang apa. Yang jelas angin yang mulai bertiup kencang sejak tengah malam kemarin (hari Rabu malam) sampai kemarin petang telah merobohkan banyak pepohonan di lingkungan tinggal. Tentu saja pepohonan yang tumbang itu banyak yang menimpa rumah, kandang-kandang serta tanaman. Celakanya lagi pepohonan tumbang itu juga menimpa jaringan listrik. Jadi listrik yang mati karena kerusakan jaringan kabel menjadikan petang kemarin terasa sangat mencekam. Suasana mencekam sedikit berkurang setelah sekitar jam 8 malam petugas PLN berhasil mengatasi masalah jaringan.

Angin kencang yang menyertai musim hujan seperti kemarin, mudah-mudahan angin kencang ini tidak berkepanjangan, bukan terjadi untuk yang pertama kalinya. Beberapa tahun yang lalu juga pernah terjadi. Angin kencang sebagai “ketentuan alam” yang belum banyak mengerti tentu tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali masyarakat berusaha meminimalkan kerusakan akibat angin dan segera memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan.

Seperti kemarin warga di desa dimana saya tinggal segera menyingkirkan pepohonan yang tumbang dan segera memperbaiki atap-atap rumah yang rusak tertimpa pohon. Atap rumah yang bocor tentu saja harus diperbaiki segera. Akan tidak nyaman sekali air hujan menerobos masuk rumah melalui bocoran atap.

memangkas_pohon

memangkas_pohon_2

 

 

5 cm, Petualangan Visual yang Ciamik

Keindahan Mahameru yang menantang yang terintip dari teaser trailer di atas-lah yang membuat saya terdorong ke ruang nonton 1 Studio 21 Ambarukmo Plaza kemarin petang. Harapan saya tidak berlebihan. Saya tidak mengharapkan diri saya hanyut dalam sebuah drama, ataupun menginginkan kelelakian saya tertantang terdobrak agar bersemangat lagi mendaki. Saya hanya ingin memanjakan mata dengan keseksian alam di atas awan di puncak gunung Semeru. Itu saja.

Sebelum menonton film ini saya pun tidak membaca-baca banyak review mengenai 5 cm seperti halnya saya lakukan ketika saya akan menonton film dalam arti yang sebenarnya.

Dan Rizal Mantovani, sutradara 5 cm, menyajikan sinematografi ciamik yang berhasil menjawab ekspektasi visual saya akan bagaimana seharusnya kemegahan Mahameru diproyeksikan di atas layar bioskop. Saya menikmati visual sejak perjalanan naik kereta ekonomi yang berangkat dari stasiun Senen sampai tentu saja puncak Mahameru. Ranu Kumbolo juga jangan lewat saja.

Bagaimana mengenai akting, alur cerita, emosi dan konflik yang dibangun di sepanjang 5 cm? Maaf saya sedang tidak ingin membahasnya. Saya telah memutuskan untuk melupakan hal ini ketika saya tahu bahwa perjalan ke Mahameru merupakan kejutan yang dibuat oleh Genta untuk kelima sahabatnya. Kecuali Genta tidak ada yang tahu kemana Riani, Ian, Zafran, Dinda, Arial menuju, anehnya begitu mereka tiba di kaki Semeru kenapa semuanya sudah mengenakan gear bermerk The North Face. Memang gear seperti ini bisa dibeli secara eceran di Stasiun Kereta di Malang sana? Bisa menangkap maksud saya, bukan? hehehe

5 cm menurut saya cocok sebagai teman untuk memanjakan diri menghabiskan waktu di akhir pekan atau untuk sejenak melepas penat rutinitas. Jangan terlalu diambil serius. Nikmati saja sambil makan pop corn atau ngobrol bisik-bisik dengan teman nonton Anda. Ah tapi saya kemarin lupa tidak membawa pop corn ke ruang nonton.

 

 

Ukuran Foto di Google+

Saat ini saya sedang suka mengunggah foto-foto ponsel saya Google+. Saya suka mengunggah foto-foto dari ponsel beberapa saat setelah memotret. Saya tidak menggunakan komputer untuk melalukanya, kecuali bila terpaksa. Saya mengunggah langsung dengan aplikasi Google+, terutama di ponsel Android saya.

Permasalahannya Google+ App di ponsel Android saya seringkali ngaco. Foto-foto seringkali diperkecil ke ukuran yang sangat tidak manusiawi. Bagaimana tidak jengkel bila foto seukuran 5 megapixel dikerempengkan menjadi 640 480, lebih parah lagi 320 240px. Lebih jengkel lagi dengan Google+ apps for Android saya belum tahu caranya untuk melihat berapa ukuran foto yang sedang saya lihat.

Pagi ini saya mendapatkan foto yang saya unggah kemarin ternyata dikerempengkan. Saya kecewa dan mengunggah ulang foto itu. Naasnya foto yang saya unggah dengan Google+ apps for Android hasilnya sama kerempengnya.

Saya mencoba cara lain. Berhubung saya tidak membawa kabel data, saya mengirimkan foto dari ponsel ke email agar saya bisa mengunggah foto itu dengan komputer. Saya menggunakan fitur share dari Gmail saya untuk mengunggahnya ke Google+.

Saya lihat di sini ada yang berbeda dengan ukuran foto yang saya bagikan ke Google+ melewati Gmail. Foto diunggah dalam resolusi yang bagus, yaitu 2560 x 1920 pixels. Sedangkan bila saya mengunggahnya dengan fasilitas pengunggah di Google+ web sendiri setiap foto akan diperkecil menjadi 2048 x 1536 pixels.

Hmmm …