Wedang Asele

Begitu mendengar ada nama minuman bernama Wedang Asele di kota Solo, semalam saya langsung penasaran mencoba minuman ini. Apalagi segala puji oleh seorang teman saya Miss Lusi, diberikan kepada minuman yang hanya ada di Solo ini. Apalagi Miss Lusi dengan segala ketajirannya siap mentraktir kami kulineran malam ini.

Tidak sulit untuk menjangkau tempat Wedang Asele di kota Solo ini. Bukan karena letak tempatnya, tetapi Miss Lusi yang hafal fasih tiap tikungan menuju sudut kuliner kota.

Wedang Asele

Wedang Asele

Untuk urusan kuliner malam ini, Miss Lusi -lah wiki -nya. Jadi saya, Miss Antik, Miss Dian tinggal terima beres dan enaknya saja.

Malam harinya, acara kuliner masih berlanjut. Kira-kira jam 11 malam, kami diajak menuju Galabo. Sayang. kebanyakan tempat di sana sudah mulai kukut. Padahal konon Galabo buka sampai jam 1 dini hari.

Tidak apa-apa, destinasi kuliner berikutnya adalah Bakmi Jawa Pak Dul di depan kecamatan Pasar Kliwon Solo.

Bakmi Godhog Pak Doel

Bakmi Godhog Pak Doel

Oh, iya, ini geng kulineran tadi malam:

Rombongan sirkus jogja segera meluncur...

Rombongan sirkus jogja segera meluncur…

 

User Interface

Beberapa saat yang lalu, seorang teman masuk ke ruangan saya. Ia ingin melihat monitor Samsung yang saya pakai. Saya bingung apa maksud dia ingin melihat monitor Samsung sampai ia mengatakan ingin tahu dimana letak tombol power. Lebih lanjut ia menceritakan sejak semalam ia jengkel menemukan tombol power di monitor Samsung yang baru saja ia beli kemarin siang. Ia gagal menyalakan monitor barunya. 😀

Karena saya pikir monitor Samsung di ruang saya berbeda dengan yang baru saja dia beli, solusi tercepat menurut saya adalah dengan saya ke rumahnya membantu menyalakan monitor baru tersebut. Dan benar dugaan saya. Letak tombol power monitor berbeda dengan yang ada di meja saya. Monitor milik teman saya ini bertombol power yang terletak di tengah bawah, di bawah tulisan Samsung. Saya juga tidak langsung bisa menemukan melainkan beberapa saat menelisik tubuh monitor Samsung ini. Sedangkan tombol power di monitor yang saya pakai terletak di sebelah kanan bawah.

Sebenarnya, agar bisa ditemukan secara cepat, dimana sebaiknya tombol power diletakan? Menurut saya tombol power harus mudah dijangkau dan temukan secara cepat, tanpa mengesampingkan aestetiknya.

Kasus seorang teman yang kesulitan menghidupkan monitor karena kesulitan menemukan tombol power itu bisa dijawab dengan tepat, karena ia malas membaca buku manual atau quick start guide. Tetapi siapa sih yang mau cape-cape membaca user manual hanya untuk menyalakan sebuah monitor.

Tantangan dalam mendesain user interface sebuah produk!

 

Menggambar Sket Wajah

Saya sering kali dibuat terpesona oleh orang-orang yang jago membuat sket wajah orang. Mereka bisa melakukanya dengan cepat, dalam waktu yang sangat singkat. Mungkin mereka sengaja melakukanya dalam waktu sesingkat mungkin untuk menciptakan impresi di orang yang disket wajahnya itu.

Dulu orang membuat sket di atas kertas. Dengan tool yang sederhana, pensil atau pen, atau ballpoint biasa. Tiap goresan umumnya dibuat sekali jadi. Tidak elok kiranya bila mereka menggunakan penghapus untuk penyuntingan. 😀

Kini orang membuat sket tidak hanya di atas kertas. Mereka menggunakan tablet, atau komputer yang terinstall software image editing tentu saja. Nah, secara teknis ketika menggunakan tablet dan software di komputer, editing dalam membuat sket tentu menjadi hal mudah. Tapi bagi mereka terlalu banyak editing bukanlah pilihan.

Mungkin pertanyaanya, enakan mana membuat sket di atas kertas dan di atas tablet/layar komputer? Suka-suka si pembuat sket sih.

Sebagai orang yang tidak punya bakat menggambar, semalam saya iseng membuat sket wajah saya sendiri. Untuk lebih mudahnya, saya memilih menggunakan software. Saya menggunakan GIMP 2.8 di laptop Ubuntu saya.

Cara yang saya gunakan sebenarnya lebih kampungan dari orang pada umumnya. Kalau mereka dengan cara melihat wajah atau foto orang kemudian mulai menggambarnya. Yang saya lakukan dengan GIMP adalah menaruh foto pada satu layer, kemudian saya mulai membuat path dan garis-garis pada layer baru yang saya letakan di atas layer foto. Editing, tentu saja saya lakukan. 😀 Karena saya pemula, saya tidak malu untuk menghapus dan menyesuaikan garis-garis yang menurut saya tidak proporsional.

Sket sederhana ini semalam saya selesaikan dalam waktu yang cukup lama. Satu jam lebih. 😀 Tidak apa-apa, saya kan pemula. Selalu ada maaf untuk pemula kan. hehehe!

Beli Majalah Cetak

Majalah Tarbawi dan Djaka Lodang

Majalah Tarbawi dan Djaka Lodang

Sepulang dari mini market pada siang tadi, saya spontan mampir ke kios penjual koran di pasar Playen. Yang membuat saya spontan ingin mampir adalah wajah mas pemilik kios itu yang masih terasa akrab. Seperti dulu. Ketika saya masih rajin membeli bacaan informasi dari kios miliknya.

Dan saya pun kemudian membeli dua majalah. Majalah Tarbawi yang dulu hampir tiap edisi dari tahun 1999 sampai 2003 an tidak terlewatkan. Harga majalah Tarbawi sekarang sudah Rp 11.000,-. Seingat saya, dulu terakhir kali membeli majalah ini di kios yang sama masih berharga di kisaran Rp 5.000,-. Wajar sih sebenarnya naik dua kali lipat. Karena sudah selisih waktu hampir 10 tahun.

Majalah yang satunya adalah Djaka Lodang. Saya membeli majalah ini karena saat ini bacaan berbahasa Jawa di internet masih sangat minim. Saya bermaksud memperbanyak bacaan berbahasa Jawa agar kemampuan berbahasa Jawa saya tetap terjaga. Syukur-syukur bisa ada peningkatan. Rencananya saya ingin membaca Djaka Lodang secara rutin.

Mudah-mudahan saya tidak hanya suka membeli majalah. Semoga saya ada kesempatan dan kemauan untuk membacanya. 🙂

Nonton Pasar Malam di Alun – Alun Pemda Gunungkidul

Sepanjang hidup, saya baru beberapa kali nonton pasar malam. Jadi jangan heran bila saya masih terheran-heran melihat interaksi dan kehidupan sosial di pasar malam.

Video di atas saya rekam pada malam minggu yang lalu dengan handycam seadanya, tanpa perencanaan dan dalam waktu yang tergesa-gesa. Yang penting ada gambar. Nah dari gambar-gambar yang seadanya itu pula dalam waktu yang tidak kalah tergesa saya edit sekenanya.

Lain kali semoga saya mempunyai mood yang lebih baik untuk merekam kehidupan malam di pasar malam. 🙂

Warna-Warni

Mainan itu harus warna-warni. Warna-warni cerah tentu saja. Kalau warna-warni suram bisa-bisa malah menimbulkan efek murung dan galau. hehe

Dari warna-warninya gambar berikut memperkenalkan diri sebagai mainan pula.

Coba kalau saya punya mainan ini. Seberapa bagus kira-kira bisa menghalau kegalauan. hehehe