Lebaran sebentar lagi. Ibu – ibu bekerja bakti. Iya, jalan – jalan di desa dibersihkan agar nyaman dilalui para pejalan. Sebagaimana puasa Ramadhan memberi kesempatan kepada umat untuk membersihkan diri dan menemukan jalan terang menuju Ridha -Nya
Bulan: September 2010
Jum’at Tanpa Listrik #korbanpln
Sampai pukul 12:00 WIB tadi tidak terdengar suara khotbah jum’at dari pengeras – pengeras suara baik di masjid di kampung saya maupun di desa – desa tetangga. Tidak biasanya. Seingat saya ini yang pertama terjadi selama paling tidak 10 tahun terakhir. Dan secara kebetulan juga terjadi pada Jum’at di bulan Ramadhan yang agung ini.
Kematian listrik sedang mewabah di desa saya dan desa – desa sekitar. Desa – desa berpenduduk sebagian besar Muslim yang mana kaum pria diwajibkan menunaikan shalat Jum’at. Yang mana pria – pria itu memerlukan panggilan adzan dari masjid yang berpengeras suara mengandalkan catu listrik PLN untuk menerus keraskan suara muadzin.
Pemadaman listrik ini sejak kemarin memang sudah terjadi selama beberapa jam untuk perawatan jaringan distribusi. Yaitu rabas – rabas atau pemangkasan dahan – dahan dan ranting yang mengganggu jaringan udara. Perawatan seperti ini saya tahu juga penting dan vital. Bila tidak dilakukan bisa menyebabkan kerusakan yang bisa memerlukan waktu lebih lama untuk perbaikan.
Hanya saja kenapa alokasi waktu perawatan jaringan ini dilakukan juga pada hari Jum’at. Apakah PLN tidak punya ahli untuk memberikan pertimbangan sosio kultural sehingga bisa mempertemukan banyak kepentingan. Atau memang PLN ndableg akan hal ini. Eeeeh tapi, benar ngga ya kalau pemadaman kali ini karena adanya perawatan jaringan dan bukan karena benar – benar terjadi kerusakan?
***
Meski terlambat saya tadi masih bisa mendengar inti khotbah Jum’at, yaitu berkenaan dengan ziarah kubur. Saya pikir khotib sangat tepat dalam memilih tema. Di desa dimana saya tinggal, iedhul fitri
Identik dengan berziarah. Perantau yang sedang berkesempatan mudik biasanya memanfaatkan waktu untuk berziarah ke kubur para orang tua dan leluhur.
Nikmat Ramadhan & Tidur
Kita telah banyak mendengar bagaimana Rasul Muhammad SAW bersedih pada hari – hari akhir pada bulan Ramadhan. Idealnya kita juga bisa ber-I’tiba nabi, dengan memberikan apa yang terbaik di hari – hari menjelang kepergian tamu agung, Ramadhan. Bukan malah sebaliknya, menginginkan Ramadhan berganti syawal dan mengelu-elukan pesta pora berlebaran. Meski ini normal sebagai orang Indonesia. Atau mungkin di negara lain akan mendapati ketidaksabaran orang – orang yang ingin segera ber- Iedhul Fitri.
Kalau saya berhitung betapa banyak nikmat Ramadhan yang tidak bisa dinikmati setelah syawal datang tentu akan ketemu pada angka – angka berdigit banyak. Diantaranya adalah nikmat berbuka, bertaraweh, makan sahur dan lain – lain banyak sekali. Tapi menurut saya yang paling istimewa adalah nikmat tidur siang.
Betapa tidak. Hanya ketika puasa Ramadhan maka saya bisa tidur siang berjam-jam dengan tanpa merasa berdosa dan penyesalan. Tidur siang orang berpuasa dihitung ibadah. Istimewanya bulan Ramadhan. Baru tidur saja diperhitungkan sebagai amal ibadah, apalagi kalau kebajikan yang lain. Pasti pahalanya dilipat gandakan.
Kembali (ke) tidur itu ibadah. Tidur memang bermanfaat untuk mencegah orang melakukan perbuatan keji dan dosa. Utamanya dosa yang kecil – kecil seperti bergunjing, mendownload mp3 secara ilegal dan lain – lain. Ini sih bagi orang yang berkualitas iman pas – pasan seperti saya. Kalau yang sudah berkualitas unggul pasti dikeseharianya sudah bersih tidak melakukan hal – hal tidak terpuji ini. Dan tantangan bagi mereka adalah melakukan tindakan – tindakan yang lebih kongkrit daripada tidurnya orang kebanyakan.
Pernah suatu ketika dalam diskusi dengan seorang teman, bahwa dalam Islam itu berprinsip mendahulukan mencegah hal Mudharat daripada mengejar Maslahat. Saya pikir ini selaras dengan tidur yang akan mengurangi potensi berbuat mudharat bagi saya dan orang dengan iman yang masih perlu di upgrage atau kalau perlu di re-code.
Kesimpulanya, semakin lama saya tidur maka semakin sedikit ke-mudharat-an yang akan terjadi di dunia.
Pertanyaannya, apakah tidur dicacah sebagai amal ibadah hanya pada bulan Ramadhan saja?
[Posting dibuat dengan aplikasi WordPress for Blackberry 1.4.2 yang baru saja diinstall]
Gadget untuk kepuasan atau produktifitas
Lebih banyak orang membeli smartphone atau gadget sebagai pemenuhan kepuasan dibanding untuk peningkatan produktifitas kerja. Eh, jangan cepat – cepat dipercaya. Itu kesimpulan yang saya buat dengan se-ngawur – ngawurnya.
Melanjutkan kengawuran saya, biasanya early adopter untuk gadget, smartphone dan smart device sejenis adalah geek, atau freak, baru kemudian mereka yang suka buat gaya – gayaan dan terakhir adalah mereka yang benar – benar memerlukan. Tapi barangkali dua yang terakhir bisa dibalik urutannya.
Pengamatan saya dari milis milis, seperti Android user, Blackberry User, Apple iphone dan lain – lain terutama akan membuat saya semakin pede dengan kengawuran ini. Banyak sekali diskusi tentang bagaimana mereka meng upgrade system operasi, menambahkan update dengan rajin, membuat modifikasi, jail – breaking dan lain – lain. Entah berapa kali dalam setahun mereka melakukan melakukanya. Malah barangkali ada yang dua kali atau lebih dalam satu bulan.
Bagaimana dengan anda?
[Posting ini saya buat sambil menunggu download Operating System buat gadget tercinta]
update :
Nah sekarang saya sudah selesai upgrade blackberry jadul yang saya pakai sehari – hari dengan Willy Boy 7.2 dan sedang ingin merasakan apa perbedaan dengan OS 5.0.0.822 official
