Cerita Pagi Seorang Siswi Difabel …

Saya tadi pagi satu angkot Kobutri dengan seorang anak difabel yang berangkat ke sekolah SLB setingkat SD. Anak difabel ini mempunyai masalah dengan lisan. Orang Jawa menyebutnya bisu. Saya tahu karena saya sudah sering satu angkot dengan anak siswi ini. Tiap pagi anak ini berangkat ke sekolah naik angkot dari Paliyan. SLB dimana dia bersekolah terletak di desa Bogor kecamatan Playen. Sejauh kira – kira 13 km.

Untuk menempuh jarak yang menurut saya cukup jauh bagi anak seusianya, siswi difabel ini tidak diantar oleh orang tua/keluarganya. Ia lebih sering berangkat naik angkot sendirian. Kadang ia berangkat bareng dengan teman difabel satu SLB yang sama – sama dari Paliyan, tapi berbeda desa. Kalau tidak salah, temannya yang sesama difabel itu berasal dari desa Karang Asem.

Bersekolah di kecamatan yang berbeda, dengan jarak yang cukup jauh pula, bagi anak seusianya, apalagi difabel, tentu  bukan hal mudah.

Seperti yang saya lihat ia alami pagi tadi. Si Pak Sopir yang sedang heboh berebut penumpang demi kejar setoran lupa kalau ia harus menurunkan siswi difabel ini di tempat pemberhentian di depan Gereja Bogor. Saya melihat bagaimana dengan kesal, siswi difabel dengan masalah lisan ini berusaha berteriak menghentikan laju angkot. Akhirnya Pak Sopir menghentikan laju Angkot di tempat yang lebih jauh dari seharusnya.

Kali ini nampaknya keberuntungan sedang tidak berpihak pada si difabel. Ia harus menyeberang jalan sendiran dan berjalan lebih jauh dari biasanya menuju sekolahnya yang terletak cukup jauh dari jalan utama yang dilalui angkot.

Kalau ia sedang cukup beruntung menaiki angkot bersopir manusia yang memiliki cukup empati. Dia akan dibantu menyeberang jalan. Atau diantar sampai ke pintu gerbang sekolah yang terletak tidak dekat jalan utama.

Jangan tanya dimana fungsi negara dalam menyediakan hak-hak publik bagi difabel

Ruang Untuk Difabel di Hati Orang Jogja

Saya baru saja melihat pemandangan bagus yang terjadi mulai di shelter TransJogja Terminal Giwangan. Seorang difabel, tuna netra diantar laki laki mengenakan seragam warna biru DLLAJ Dinas Perhubungan memasuki shelter dari pintu keluar. Bukan dari pintu masuk yang ada ticketing gate -nya. Petugas shelter trasJogja buru buru dengan ramah menanyakan kemana bapak bapak difable itu akan menuju dan menerima pembayaran ongkos bis transjogja. Pak Tuna Netra dipersilakan dan dibantu duduk di kursi yang kosong di dalam Halte. Kemudian penumpang lain mempersilakan Pak Difable dengan dibantu, menaiki bus dan duduk di kursi. Beberapa saat kemudian seorang ibu – ibu penumpang lain yang duduk di samping pak difable menyapa dan segera terjadi cakap – cakap akrab. Pemandangan ini ditutup dengan petugas trasJogja membantu pak Tuna Netra turun di shelter tujuan.

Estafet empati ini akan diteruskan oleh petugas shelter dan orang – orang Jogja berikutnya yang akan ditemui pak Difable. Ya begitulah orang – orang jogja berperilaku terhadap sesama. Aweh tetulung marang sapodo – podo. Perlindungan hak dan kesetaraan bagi difable. Meskipun sering kali kursi – kursi di Bus transJogja penuh sampai penumpang berdiri bergelantungan, masih ada cukup luas ruang bagi Difable di hati orang – orang Jogja.