Masih Berlangganan Ring Back Tone?

Gambar di ambil dari sini

Tiba-tiba saya teringat dengan Pasya – Ungu dan beberapa artis Indonesia yang lain yang beberapa waktu lalu memprotes keputusan pemerintah untuk menghentikan sementara semua layanan SMS dan konten premium termasuk layanan RBT di semua operator telekomunikasi di Indonesia. Saya bergegas googling terkait dampak keputusan pemerintah ini dan mendapatkan berita di Detikinet.com akan menurunya pengguna RBT sampai susut sebanyak 88%. Beritanya dapat dibaca di Pelanggan Ringback tone susut 88%. Kekhawatiran Pasya dan kawan-kawan ternyata terbukti.

Terlepas dari banyak kabar miring tentang beberapa content provider dan operator yang curang dalam menggaet konten premium termasuk pelanggan Ring Back Tone ini, keengganan pelanggan untuk mendaftar ulang layanan Ring Back Tone setelah dihentikan sementara barangkali memang bisa diartikan bahwa sebenarnya saat ini sudah tidak banyak orang yang suka menggunakan RBT.

Saya sendiri dulu pernah mengaktivasi layanan Ring Back Tone, atau yang oleh operator yang saya langgani disebut Nada Sambung Pribadi. Tetapi kemudian saya tidak memperpanjang layanan RBT pada nomor seluler saya karena merasa RBT tidak banyak bermanfaat.

Kenapa? Karena lama kelamaan orang yang menelepon saya makin sedikit. Saya pun makin jarang menggunakan ponsel saya untuk menelepon, kecuali untuk urusan-urusan urgen. Jadi apa gunanya bila RBT tidak ada yang pernah atau jarang didengarkan. 🙂

Menurut saya seiring mempopulernya smart phone, ponsel saat ini sudah berubah fungsi. Kemampuan menelepon bisa jadi malah kelak berubah menjadi fitur tambahan. 😀 Nyatanya saat ini orang lebih sering menggunakan ponsel untuk texting. Bukan SMS, melainkan email, facebook, twitter, office apps, social games dan lain-lain.

Mungkin ada yang punya prediksi bisnis Ring Back Tone untuk 2 atau 3 tahun ke depan?

Kalau selama ini oleh bisnis Ring Back Tone, industri rekaman Indonesia tertolong oleh keterpurukan akibat maraknya teknologi pembajakan digital, maka mulai sekarang harus dipikirkan solusi kreatif ketika pelan-pelan trend Ring Back Tone sudah ditinggalkan orang.

Industri musik sebagai industri kreatif tidak hanya menggunakan proses kreatif dalam mencipta konten (musik), tetapi termasuk kreatif dalam menjual konten (musik) itu sendiri. 🙂

 

Iklan

8 thoughts on “Masih Berlangganan Ring Back Tone?

  1. Saya malah sudah lupa kapan terakhir yang namanya RBT menyantol di ponsel saya. Mungkin dua tahun yang lalu, itupun karena dibawa kartu perdana yang baru saya beli. Dan akhirnya saya lupa, kapan hilangnya :D.

    Saya sih suka saja dengarnya, tapi kadang karena tidak sering – seperti yang Pak Jarwadi bilang – ya sia-sia juga kan.

  2. “Kemampuan menelepon bisa jadi malah kelak berubah menjadi fitur tambahan”

    Hahaha ngakak baca ini (LOL)

    Ane pernah langganan RBT, tapi cuma 1 bulan habis itu langsung di off. Yang menikmati lagunya bukan kita sih #dikeplak

  3. Ping-balik: RING BACK TONE (RBT) SEBAGAI PENDAPATAN BESAR BAGI MUSISI INDONESIA - Menuju Keluarga yang Sakinah

  4. Kalau industri musik Indonesia menggantungkan masa depan di RBT, masa depannya ya jelas suram.

    Siapa sih yang masih menggunakan voice call? Jalur komunikasi yg lebih disukai kan SMS & BBM. Voice cuma untuk emergency dan pacaran (pacaran pun akan semakin banyak menggunakan data service daripada voice)

    Ujung-ujungnya pemusik hanya akan hidup dari live performance. Ini baik atau buruk? Yah, tergantung pendapat siapa yang ditanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s